
"Bang... Jagain aku." Giska menahan tangan kakaknya, setelah Givan menyelimuti tubuhnya untuk tidur.
"Key lagi sakit, Abang mumet betul." Givan duduk di tepian tempat tidur, dengan punggungnya bersandar pada kepala ranjang.
"Ada suara bang Ghifar nenangin Key." Givan hanya mengangguk, ia pun mendengar dengan jelas suara Ghifar yang tengah mengalunkan lagu islami.
"Ya udah, kau tidur." Givan merapihkan anak rambut Giska, yang menutupi wajah manisnya.
Kenangan Givan berputar kembali, saat dirinya tengah melindungi adik-adiknya dulu. Ia begitu merasa paling tangguh, saat semua adiknya berlindung di belakang tubuhnya.
"Terkoyak nanti wajah aku." rengek Ghava, ia menangis tertahan. Melihat dua anjing bertubuh besar, dengan bulu yang lebat tengah memperhatikan mereka dengan lidah menjulur.
"Telinga aku bisa lepas, Pang. Kau pernah dengar kan berita itu di TV? Yang kakek-kakek telinganya dimakan anjing." tambah Ghifar, ia selalu menarik-narik ujung kaos yang kakaknya kenakan.
"Bercecer nanti darah aku, Bang. Aku takut." Ghavi sudah tersedu-sedu dalam tangisnya. Ia berusaha untuk menyelip di antara Ghifar dan Ghava yang berebut punggung kakaknya.
"Bang..." Giska merengek, anak usia tiga tahun itu ikut paniknya saja saat kakak-kakaknya saling melindungi diri masing-masing.
"Sini, Dek." Givan menarik lengan adiknya, agar ia bersembunyi tepat di balik punggungnya. Givan lebih khawatir pada si kecil Giska, ia begitu lambat berlari. Ia khawatir Giska yang diterkam binatang bertaring tersebut.
Mereka semua amat takut, pada binatang yang najis menurut agamanya tersebut. Hanya mendengar gonggongannya saja, mereka sudah gemetaran hebat.
"Hush...." Givan mencoba mengusir bintang yang menghadang jalannya tersebut.
"Makanya dengerin coba, main di lapangan aja. Jangan masuk-masuk ke ladang. Baru anjing yang kita temui, belum luwak, ular, biawak, bisa tercaca-caca mati membiru kita." Givan kembali menasehati adik-adiknya yang susah diatur.
"Itu, Bang. Ghava ajak." Ghifar melaporkan biang kerok dari ide buruk tersebut.
"Mana ada?! Kau itu, Vi." Ghava mengelak, ia melempar kesalahannya pada Ghavi.
"Kon aku, Bang. Giska lari ke ladang duluan. Aku kejer dia, takut masuk irigasi." kesalahan berpindah tangan pada Giska.
"Bukan aku, Bang hai. Aku ikut aja." anak yang paling kecil tersebut mengelak.
Givan seperti penggembala kambing, yang menjaga kambing-kambingnya dari terkaman serigala.
"Awas-awas." Givan mencoba melepaskan cekalan adik-adiknya pada pakaiannya.
__ADS_1
Ia berjongkok untuk mengambil beberapa batu. Ia mengingat saat ayah sambungnya mengusir anjing, dengan cara melemparinya dengan bebatuan.
Gog..... Gog, gog....
Gonggongan bersahutan dari kedua anjing itu, saat Givan melemparinya dengan batu-batu kecil.
"Batu yang agak besar aja, Bang. Biar mati dia." ujar Ghifar, yang mengikuti pergerakan kakaknya yang berjongkok. Semua adik-adiknya pun berjongkok, mereka mengikuti segala sesuatu dari kakaknya.
"Kau aja kah yang Abang lempar? Kau kan besar." bola mata Ghifar terbuka lebar, ia menggeleng cepat saat kakaknya mengatakan hal itu.
"Jangan aku, Bang. Aku berkah keluarga." ucapnya dengan menarik kembali baju kakaknya.
"Jadi siapa yang beban keluarga? Dilempar aja kah buat makan anjing?" tangis mereka berseru bersama, mereka menggelengkan kepalanya karena takut dengan ucapan kakaknya.
Givan terkekeh geli, adik-adiknya begitu heboh ketika menangis.
Hingga kedua anjing itu melarikan diri, anjing itu menganggap tangisan anak-anak itu adalah ancaman untuknya.
"Kenapa tak nangis bareng dari tadi aja? Anjing pun kebisingan dengar tangis kalian." Givan bangkit, ia segera menggiring adik-adiknya ke arah irigasi yang berada di paling kiri ladang tersebut.
Ia pernah diberi pengertian oleh ayah sambungnya. Jika tersesat di ladang, maka ikuti saluran irigasi. Berjalan melawan arus air yang mengalir, maka jalan keluarnya pasti terlihat.
Perlahan Givan memindahkan tangan Giska, lalu ia bangkit dari tempat tidur. Langkahnya begitu pelan, agar suaranya tak mengusik tidur Giska.
Saat ia keluar dari kamar Giska. Pemandangan istrinya terlelap di sofa, terlihat di depan matanya. Kemudian ia melirik Ghifar dan Ghavi, ia mengernyitkan dahinya karena tak melihat Mikheyla di tangan mereka.
"Key mana?" Givan berjalan menghampiri istrinya, ia berniat memindahkan istrinya ke kamar.
"Di atas, di bawa Ghava." ternyata Ghifar tengah menunggu mie rebus, yang tengah dibuatkan oleh seorang perempuan hamil.
"Mau, Bang?" Ghifar menawari semangkuk mie yang sudah berada di tangannya.
"Boleh." Givan mengangkat tubuh istrinya, lalu berjalan ke kamar.
"Aku pakek cabai, Mbok." ujar Ghavi, ia tersenyum ramah pada Tika. Wajah Tika terlihat dari seberang meja bar.
Ghifar mentertawakan Tika yang dipanggil mbok. Sebutan itu memang sudah lumrah di Bali. Namun, Ghifar teringat akan arti sebutan mbok di kota C. Itu adalah sebutan untuk nenek yang sudah sepuh.
__ADS_1
"Panggil nama aja. Abang geli dengernya." ucap Ghifar bersama dengan tawanya.
"Siapa sih namanya? Abang tak pernah kenalkan ke aku." sisi iseng Ghavi keluar.
Laki-laki yang tekun bekerja tersebut, selalu pura-pura tidak mengerti saat ada seorang lawan jenisnya yang terang-terangan tengah berusaha mendekatinya. Ia pura-pura bodoh, agar konsentrasinya tidak terusik dengan bentuk wanita. Ia belum bisa berkomitmen, ia menyadari itu dan ia menghindari itu. Ia ingin menjadi nilai plus sebagai anak, di mata orang tuanya.
"Awas, tukang ghosting." celetuk Givan, saat dirinya muncul kembali dari dalam kamar.
Ghifar sampai tersedak kuah pedas, ia tak tahan menahan tawanya.
"Ya masa, kakak ipar sendiri di ghosting. Ngaco aja Abang ini." elak Ghavi, dengan tersenyum manis.
"Nyatanya begitu. Aira cerita, kau tukang ghosting. Kalau perempuan kau udah tergila-gila, kau pindah tempat tongkrongan." bocor Givan, membuat Ghavi jadi bahan gurauan mereka.
"Aku tak begitu lah, Bang. Kata aku sendiri sih ngehindar, bukan ghosting itu betina." jelas Ghavi dengan tersenyum malu.
"Pura-pura kau!" timpal Ghifar melirik pada Ghavi sekilas.
"Hmmm, tak percaya. Nanti, nanti... Kalau aku main perempuan. Bisa ditegur macam bang Ghava. Lebih-lebih, takut perempuannya ngandung, diminta tanggung jawab aku. Soalnya aku sadar diri nih, Bang. Aku tak bisa nahan syahwat aku, apa lagi kalau perempuannya manut. Cerita ke papah, dikasih gambaran bahwa perempuan itu rasanya sama. Ya udah, aku mutusin nanti aja main perempuannya. Rencana sih... Minta dikenali gitu kan, terus ajak nikah. Apa itu namanya kek gitu, Bang?" jelas Ghavi kemudian.
Givan dan Ghavi saling memandang, rasa kantuk mereka hilang karena aroma mie instan.
"Itikaf kah?" ujar Ghifar dengan menoleh ke belakang, ke arah Ghavi yang tengah menantikan mie instannya.
"Bukan lah! Itikaf sih berdiam di masjid. Itu loh... Hmmm... Ikhtiar." Givan menambah kacau kata yang tengah ia cari.
"Weeehhhh, bukan lah. Apa itulah pokoknya." Ghavi menolak usulan kata dari kakaknya.
Tawa mereka saling menyambung, sampai akhirnya masing-masing mendapatkan mie instannya.
Ghifar yang selesai lebih awal, langsung mencuci mangkuk kotornya. Kemudian ia berniat naik ke lantai atas, untuk melanjutkan tidurnya. Suasana sepi, rengekan Mikheyla pun sudah tak terdengar lagi, menandakan Mikheyla sudah terlelap di alam mimpinya.
"Tunggu, Far. Abang mau ajak ngomong kalian." Ghifar menggantungkan kakinya di anak tangga kedua, ia menoleh mendengar ucapan kakaknya.
"Gimana, Bang?" Ghifar turun kembali, ia berjalan kembali ke ruang keluarga itu.
......................
__ADS_1
Kasih tau ke Ghavi apa yang bener 😆 itikaf salah, ikhtiar lebih salah lagi 😅