Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS195. Janji Ghifar pada Fira


__ADS_3

"Jangan lakuin lagi, Fir! Aku janji, tak hiraukan kau lagi. Maaf aku sibuk, tapi kesibukan aku beralasan. Aku pengen nyukupin kebutuhan bayi kita kelak, aku tak tega liat bayi kita udah tersiksa dalam kandungan." ini adalah kesekian kalinya, Fira mencoba mengakhiri hidupnya.


Wanita hamil itu amat frustasi, kala mendapat kabar buruk dari orang tuanya. Sedangkan dirinya tak bisa untuk pulang ke orang tuanya, karena perutnya membesar tanpa tali pernikahan. Itu aib terbesar baginya, ia tak mau orang yang mengenalnya mengetahui hal ini.


Ditambah lagi, seseorang yang ia ganduli sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Namun, ketusnya selalu menusuk hati Fira. Ghifar selalu melarang Fira untuk pulang ke provinsi mereka.


"Aku pengen pulang, Bang." Fira tergugu dalam pelukan Ghifar.


"Ya gimana??? Aku tak bisa nurutin yang satu ini. Kan aku udah janji, aku bakal tanggung jawab buat bayi kita. Kau tau aku tak pengen suasana bertambah buruk di sana. Mohon pengertiannya untuk kesehatan keluarga aku di sana. Cukup masalah aku kemarin, yang bikin kekeluargaan keluarga aku kurang sehat. Aku tak mau kekeluargaan aku tambah merenggang, karena fakta satu ini." ini kesekian kalinya Ghifar melarang Fira untuk pulang.


Entah apa alasan di balik larangannya, tetapi ia selalu berjanji untuk bertanggung jawab atas Mikheyla sejak dalam kandungan ibunya.


"Key, Key. Kalau kau tak mirip ma aku, udah aku cemplungin ke sungai kau." Ghifar menggerutu sembari terkekeh seorang diri, ketika sedang mengocok susu dalam dot milik Mikheyla.


Gadis kecil bermata bulat itu, memang sekilas mirip dengan neneknya. Hanya bentuk mata, yang membedakan Mikheyla dan Adinda. Kulit kuning langsat yang bersih, juga begitu sama persis dengan kulit neneknya. Ditambah lagi mulut berisiknya, seperti warisan yang Adinda turunkan pada cucunya.


"Bi...." panggil Mikheyla, saat Ghifar sudah kembali ke kamar Ghava.


"Bi... Bi... Papa..." Mikheyla merengek kembali, Ghifar dibuat kesal sendiri dengan rengekan manja Mikheyla.


"Nih susunya, Key bobo sini." Ghifar berjalan ke arah ranjang, lalu menaruh botol susu itu di atas ranjang.


Ia ingin Mikheyla menurutinya, lalu terlelap di atas tempat tidur Ghava.

__ADS_1


"Nyon..." Mikheyla menunjuk botol susu yang Ghifar gletakan di atas tempat tidur Ghava.


"Sana Keynya, bobo." Ghava membantu keponakannya untuk bangun dari duduknya.


Mikheyla berjalan ke arah ranjang, dengan rengekan risihnya. Wajarnya anak rewel ketika tengah tidak enak badan, tetapi itu membuat sang ayah muda merasa kesal. Pasalnya Mikheyla ia didik sebagai anak yang mandiri. Ia jarang menggendong-gendong Mikheyla, membiarkan Mikheyla melangkah dengan kakinya sendiri.


Namun, saat berada di rumah ini. Mikheyla selalu digendong oleh Givan. Kemanapun Mikheyla dibawa pergi, Givan selalu memanjakannya dan menggendongnya.


Hanya saat makan saja, Ghifar menggendong anak itu. Ia ingin Mikheyla tumbuh, menjadi anak yang tidak menyusahkan orang-orang disekitarnya.


"Papa... Mama.. Mama, Pa." mata Mikheyla berair, ia mulai mengenyot dot susunya. Tetapi, mulutnya selalu memanggil ibunya. Ia baru merasakan kehilangan ibunya untuk pertama kalinya. Karena, saat di Bali. Mikheyla selalu diurus oleh ibunya, Ghifar hanya memenuhi kebutuhan untuk Mikheyla. Meski tak jarang, dirinya sendiri turun tangan untuk mendidik Mikheyla.


"Iya, nanti Papah telpon mamahnya. Key bobo dulu, Key mesti sembuh kalau mau ketemu mamah." itu hanya kalimat penenang untuk Mikheyla.


Sejatinya, Ghifar sudah berjanji tidak akan menjemput Fira lagi. Ia membebaskan Fira, dari tanggung jawab pada anaknya. Ghifar mengambil alih Mikheyla, sebelum dirinya memutuskan untuk pulang ke provinsinya.


"Kau masih sakit, Bang." Fira sudah terbiasa, menyebut Ghifar abang. Meski laki-laki tersebut, lebih muda lima tahun dari usianya.


"Aku takut mati di daerah orang, nanti ma tak tau kuburan aku. Mana kan, kalau di sini tak ditanam lagi." Fira terkekeh, dengan mengusap lengan Ghifar yang terpasang infus.


"Kita dikuburkan sesuai agama kita lah." timpal Fira kemudian.


"Kalau balik nanti, Key kek mana Bang? Aku tak mungkin bawa Key balik ke rumah orang tua aku. Mereka tau aku gadis, bukan punya anak satu macam ini." lanjut Fira, mengingat permasalahan yang mengurung mereka tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Aku juga bingung. Nanti ma bapak kek mana kagetnya? Pasti suasana di rumah lebih buruk dari sebelum aku pergi." tambah Ghifar, dengan menatap kosong jam dinding yang terus berdetik.


"Atau gini aja. Kau baliklah satu atau dua minggu, tapi janji bakal balik lagi ke sini. Aku tak mau ditinggal berdua sama Key aja." opsi sederhana tercetus dari Fira.


Ghifar mengingat janjinya pada orang tua yang menjadi korban kecerobohannya, ia terdiam beberapa saat.


"Masalahnya... Aku punya tanggung jawab lain, Fir. Tika lagi ngandung, Yoka perawatan rumah sakit. Aku tak mungkin ingkar dari janji aku. Aku kasian sama mereka." sebelumnya Ghifar pun sudah menceritakan perihal ini pada Fira.


Fira terdiam, ia sudah tidak bisa memiliki opsi lain untuk Ghifar. Ia terpaku pada laki-laki itu, bukan karena status, tapi karena bayi mereka.


"Gini aja kah? Masalah Tika sama Yoka, biar aku omongin sama mereka. Tentang Key, gimana kalau dia ikut aku aja? Mana tau kan, keberuntungan Key, bisa ngerubah nasibnya di rumah itu. Kau paham kan maksud aku, Fir?" Ghifar sudah menganggap Fira adalah orang lain, ia tak pernah menyebutkan dek pada Fira. Itu sudah terlalu kaku untuknya.


Fira memahami maksud Ghifar. Namun, inilah yang ia takutkan. Akan rahasianya terbongkar dan dia dihakimi sepihak oleh keluarga besar Ghifar. Ia tak menginginkan hal itu.


Dari awal ia sudah pernah mencoba membunuh bayinya sendiri, agar dirinya tak terbawa masalah atas ulahnya sendiri. Apa lagi ini menyangkut keluarga besar Ghifar, Fira benar-benar sudah tidak ingin campur tangan dengan mereka.


"Nanti aku harus ngomong apa?" Fira sudah membayangkan hal yang bukan-bukan.


"Biar jadi urusan aku. Tengoklah Key sesempat kau. Key tinggal sama aku, juga dia tanggung jawab aku. Aku papahnya Key, kau paham? Usaha di Bali, biar aku cari orang buat ngurusnya. Aku balik ke daerah aku, aku sebagai anak, tetap orang tua aku tujuan aku pulang. Merantau tak ada batasnya, tapi usia orang tua aku ada batasnya Fir. Aku belum berbakti pada mereka, aku pengen ngurus mereka sama adik-adik aku yang kecil Fir. Aku pernah janji buat ngajak Gavin perang, aku pernah janji ajak Gibran liat jalan tol." Ghifar berkaca-kaca, padahal dirinya hanya membayangkan usia orang tuanya yang sudah sepuh.


"Ya udah kalau itu keputusan kau, Bang. Kita nanti cari jalan keluarnya bersama. Aku tetep belum bisa cerita ke orang tua. Mereka tau aku gadis baik-baik. Mereka tau aku anak gadis andalan mereka. Mohon ngertiin aku, Bang." Ghifar mengangguk, ia mengerti akan kehormatan perempuan itu.


"Bang... Kok bisa sih, kau punya anak tapi belum nikah?" pertanyaan polos keluar dari Ghavi.

__ADS_1


Padahal sebelumnya ia yang berbicara tidak ingin menjalin hubungan dengan perempuan terlebih dahulu, karena dirinya tidak bisa menahan syahwatnya. Tapi malah ia menjadi bingung sendiri, atas anak yang Ghifar peroleh tanpa pernikahan tersebut.


......................


__ADS_2