
"Anu, Bang… dia itu…" ucap Ghifar menggantung.
"Aku Canda, Bang." ungkap Canda, yang membuat Kenandra dan Giska tertawa puas. Ghifar langsung menepuk jidatnya sendiri, mendengar Canda menyebut ayahnya dengan sebutan bang.
"Dia papah aku, papah Adi tadi yang dihebohin bocil tadi." jelas Ghifar dengan wajah tertekannya.
Canda langsung melebarkan matanya, kemudian memasang senyum kudanya pada Adi.
"Maaf… Pah." ujar Canda begitu canggung.
"Ya… lupain aja." sahut Adi terdengar malas.
"Soalnya masih muda banget, aku kira tadi kakaknya mas Ghifar." balas Canda, yang membuat semua orang beralih memandang Adi.
"Ya lah… istrinya muda, jadi kebawa muda." ucap Adi begitu sombong.
Sahutannya barusan, membuat para muda-mudi tersebut tertawa kecil. Tak lama kemudian, datang Adinda dengan nampan di atas tangannya. Juga kedua anak balita, yang berjalan mengekorinya.
"Ishhh, mantap kali Wak… Mamah cantik kali." puji Kenandra, saat Adinda tengah memindahkan menyajikan minuman berembun tersebut.
Adinda memonyongkan bibirnya, lalu duduk di sebelah suaminya.
"Salim kek apa?! Mamah cantik kali, mamah cantik kali. Mamah tau, kau pasti ada maunya juga!" ucap Adinda dengan melirik Kenandra.
Kenandra langsung bangkit, kemudian mencium tangan ibu angkatnya. Berlanjut dengan Riska dan Canda.
"Udah mateng, Mak?" tanya Ghifar dengan memperhatikan ibunya, yang tengah memandang Canda dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Adinda mengangguk, "Udah. Sana ajak makan semuanya." pinta Adinda, dengan langsung disegerakan oleh Ghifar.
Lalu mereka semua berjalan beriringan, menuju ke ruang makan rumah tersebut. Setelah Adinda memastikan anak-anak tengah menyantap makanannya. Ia langsung menyuarakan suaranya pada suaminya, yang tengah mengawasi kedua anak balitanya yang tengah bermain ponsel tersebut.
"Bang… siapa tadi yang di sebelah Riska?" tanya Adinda dengan menyenggol lengan suaminya.
Adi menoleh sekilas pada istrinya, "Adek tau Riska?" sahut Adi, sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
"Tau… Ken kalau ada masalah sama pacarnya, suka chat ke aku." balas Adinda yang diangguki oleh Adi.
"Tadi katanya barang bawaannya Ghifar. Namanya Canda, tak tau betulan namanya itu, atau cuma nama ledekan aja." jelas Adi, yang menarik atensi penuh dari istrinya.
"Sebetulnya pernah ada bilang sih. Kin waktu itu cerita lewat telepon. Katanya…..
"Mah… tau belum Ghifar liburan ke Bali, sama perempuan yang gilain dia?" ucap Kinasya, sesaat setelah panggilan tersambung.
"Namanya Canda, dari gerak-geriknya dia kek suka sama Ghifar. Kata bang Ken juga, Canda ini lagi sengaja deketin Ghifar. Malam tadi ke Bali, Mah. Ghifar bawa baju tiga stel, sampek pagi tadi dibelanjakan sama Canda." jawab Kinasya, yang membuat Adinda tak percaya.
"Ya ampun, bocah tuh. Terus gimana lagi, Kin?" sahut Adinda, dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Tadi aku ke kamar Canda, liat Canda lagi ditindihin Ghifar. Dicekal tangannya, dia diem aja, mukanya juga tak panik tak apa." jelas Kinasya yang membuat Adinda mengerutkan keningnya.
"Kau pun ada di Bali, Kin? Ghifar agamanya kuat, masa iya main tindih-tindih perempuan aja?" dari suaranya, Adinda terdengar tak percaya mendengar cerita anak angkatnya.
"Iya, aku, bang Ken, pacarnya, Ghifar sama Canda. Ngakunya sih dapat door prize, tapi tak tau pasti juga. Keknya dia ngarang deh, yang penting bisa liburan bareng Ghifar. Aku kan sering tuh ngobrol-ngobrol sama Canda, dia ini dari keluarga kaya. Jadi tuh… keluarganya ini punya peternakan sapi yang sukses di Jawa. Mulai dari sapi lokal, sapi luar, sapi Bali, sapi Madura, karbau bule, terus kerbau biasa juga ada." ungkap Kinasya yang membuat Adinda manggut-manggut.
"Terus Ghifar kek mana tanggapannya?" ujar Adinda kemudian.
__ADS_1
"Ghifar sih biasa aja. Ghifar resenya sama aku, sama Aca juga. Kalau ngisengin aku sama Aca tak tanggung-tanggung, aku aja pernah diciumnya. Segala ngajakin nikah, tapi aku tau keknya dia cuma ngomong di mulut aja." tutur Kinasya, yang membuat Adinda kembali mengerutkan keningnya.
"Masa sih? Dia tak pernah kek gitu, sekalipun sama Ahya itu. Sama Giska paling, dia kek gitu. Sama Icut aja, dia tak pernah terlalu dekat. Padahal saudara, bareng serumah dari kecil." tukas Adinda kemudian.
"Yaa… aku sih cuma cerita aja, Mah. Kan aku diminta Mamah buat jadi mata-mata Ghifar. Aku pasti jagain kok, Mah. Memang bukan keluarga aku, tapi aku ngerasanya dia udah macam keluarga." ucap Kinasya, yang membuat Adinda tersenyum di seberang sana.
"Tolong bantu Ghifar, dirantau orang macam itu. Karena dia juga salah satu abang tertua, yang jadi contoh adik-adiknya." sahut Adinda yang membuat Kinasya, membayangkan rupa seseorang yang ia panggil mamah tersebut. Karena sudah cukup lama, mereka belum pernah berjumpa kembali.
"Ya, Mah. Nanti kalau memang dia udah bener-bener butuh pekerjaan, aku bakal required dia di resto bunda. Kan sekarang, aku sama bang Ken dikasih tanggung jawab itu." balas Kinasya, ia teringat kembali akan usaha yang keluarganya miliki. Tepatnya milik ibu sambungnya. Karena seiring berjalannya waktu, bisnis biji kopi ayahnya terbengkalai tanpa pengurus.
"Ya, tak apa jadikan pelayan atau koki. Dia pandai masak juga, soalnya sering bantu Mamah di sini." ujar Adinda kemudian.
"Siap, Mah. Udah dulu ya, aku mau keluar jalan-jalan dulu." tutur Kinasya yang langsung diiyakan oleh Adinda.
"Tadi Kin juga ada bilang, pas Abang rangkul nemuin Adek itu. Katanya penerbangan, oleh-oleh juga dibelikan Canda. Dia kira Ghifar betul-betul orang tak punya kali ya?" ucap Adi, setelah mendengar cerita istrinya.
"Mungkin. Tapi biarin aja deh, Ghifar pasti paham apa yang harus dilakukannya. Kita fokus dulu ke Icut, kasian dia tambah kurus. Padahal udah trimester kedua, bayinya udah mulai besar. Ghava sama Ghavi juga kita belum bisa akuri, pusing kalau anak-anak berantem satu sama lain begitu." sahut Adinda, dengan menyandarkan punggungnya.
"Ya udah Adek istirahat, capek kan tadi masak banyak? Biar Abang yang urus anak-anak, Abang jadi pengangguran kalau jauh dari ladang kek gini." balas Adi dengan tersenyum lebar pada istrinya, lalu tangannya terulur untuk menyelipkan rambut istrinya yang keluar dari jilbabnya.
"Aku mau jalan-jalan, Bang. Pengen nge-Mall, terus nyalon, pengen ganti model rambut sama ganti warna rambut juga." ungkap Adinda, dengan mulai bermanja-manja pada suaminya.
"Ada yang mau jagain dua bungsu tak ya, Dek? Abang pengen ke bioskop, berdua sama Adek." sahut Adi, dengan mengusap paha istrinya.
"Nanti kalau Givan balik sama Ai, suruh jagain dua bangsu. Abang ikut jalan-jalan sama aku, kita jalan-jalan berduaan." balas Adinda, dengan tersenyum lebar.
"Ke mana memang Givan sama Ai tadi?" tanya Adi, dengan menggeser posisi duduknya. Membuat Adinda menegakkan punggungnya, karena sandarannya yang menjauh.
__ADS_1
......................