
"Abi yang buat Umi pergi. Abi yang buat abang Ken jadi anak yang pendiam. Abi yang buat abang Ken, jadi anak yang tak acuh sama Abi. Karena Abi, karena Abi yang tak sengaja memberi kenangan buruk sama abang kau." ucap Haris, setelah menceritakan tentang kepergian Sukma dulu.
Kinasya yang terbawa perasaan, akan cerita ayahnya. Mengusap ujung matanya, kemudian menarik air yang keluar dari dalam hidungnya.
"Jangan susulin ibu kau. Umi ibu kau, Abi ayah kau. Kita orang tua kau. Abi pun tak pernah nuntut apa pun kan dari Kin?" ujar Haris dengan membingkai wajah anaknya, dengan pandangannya matanya yang tertunduk untuk melihat wajah anaknya.
Kinasya mengangguk, tanpa disangka ia memeluk pinggang ayahnya kembali.
"Abi jangan kek gitu. Nanti Abi sama siapa, kalau bunda kabur macam Umi?" tutur Kinasya kemudian.
"Bunda... Bunda lagi susulin Abi ke sini sama Langi. Abi udah minta maaf sama bunda. Kita liburan yuk beberapa hari di S*bang, Abi, Kin, bunda sama Langi." tukas Haris, agar rumah tangganya dengan istrinya tak berantakan. Lebih tepatnya, agar kekeluargaan mereka kuat. Dengan kehangatan dan keharmonisan di dalamnya.
"Aku tak diajak...." suara menurun Sukma, yang tengah memainkan jemari tangannya sendiri.
Suasana mencair, saat Sukma memasang wajah murungnya.
"Kau abis ke M*dan sama Ahya. Mertua kau berisik menantu lupa daratan, kau kira kita tak tau?" tandas Adi membuat mereka semua menyumbangkan tawanya.
Sukma merasa malu sendiri, ia menutup wajahnya dengan kerudungnya.
"Aku tak ikut, Bi. Aku di sini aja, nanti aku cari kerjaan di sini." putus Kinasya, yang membuat suasana hening.
"Liburan, Kin. Abi tak jemput Kin, kita cuma liburan aja." jelas Haris yang sudah menduduki tempatnya semula.
Kinasya tetap menggeleng menolak, "Aku tak ikut, Bi. Biar Abi, bunda sama Langi aja. Aku pengen ngerasain kabut di sini, aku pengen ngerasain susahnya cari keringat di udara dingin." keputusan anak itu rupanya sudah tidak bisa diubah sama sekali.
"Ya udah. Malam nanti Abi ambil penerbangan buat ke S*bang, keknya tak lama lagi bunda sampek ke S*bang." tutur Haris.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka, mengenai profesi Kinasya. Kinasya kembali menolak, saat Haris mengatakan akan mencarikan pekerjaan untuk anaknya di kota ini. Anak mandiri yang suka merawat tubuhnya tersebut, rupanya ingin benar-benar berusaha untuk hidupnya sendiri. Ia pun menjanjikan pada Adi dan Adinda, agar dirinya mengontrak lepas dirinya sudah mendapat penghasilan kembali.
~
~
~
Satu bulan setelah Haris pamit dari kediaman rumah Adi. Kini penghujung tahun tengah Adi rayakan bersama keluarganya. Giska pun ikut serta, ia sampai meninggalkan sejenak laptop yang tengah ia gunakan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
__ADS_1
"Mas...." rengek Canda dengan wajah memelasnya.
Givan menoleh ke arah wanita yang ia nafkahi, kemudian susunan kayu bakar ia tinggalkan begitu saja.
"Apa, Sayang?" sahut Givan dengan senyum yang memikat.
Canda menutupi wajahnya karena malu, padahal keluarga besar suaminya terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Tak mau sate aku, seafood bakar aja." ungkap Canda dengan bibir mengerucut.
Givan membuang nafasnya, kemudian ia menggaruk tengkuknya.
"Tak ada, Adek. Beli di mana harusnya?" sahut Givan kemudian.
Bibirnya semakin menyerupai paruh burung kicau, kemudian ia langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Apa sih? Dimarahin mamah kah? Biasanya anteng mainan HP, rebahan, makan kripik pedas. Keluar-keluar, jadi curiga gue." ucap Givan, dengan mengusap-usap lengan istrinya.
"Tak, aku bosan. Pengen manja-manja, pengen disayang-sayang." sahutnya dengan nada yang sudah dihafal oleh Givan. Mendayu-dayu, dengan menunjukkan sisi feminimnya.
"Lah... Memang selama ini dipukuli? Segitu disayang, tak pernah dipaksa. Baju sampek habis di lemari, belum pada dilipat, memang Mas ada bilang? Kan tak tuh, Mas biarin aja sampek kek gunung juga." balas Givan, mencoba melepaskan pelukan istrinya. Ia merasa sedikit canggung, pada adik-adiknya yang terus mencuri pandang ke arahnya.
Givan memutar tubuhnya, kemudian memberi kedipan menggodanya pada Canda.
"Ya bagus dong, Dek. Itu tandanya kan, Mas cuek sama istri orang. Kalau capek, tinggal aja, tak usah kerjakan." tutur Givan dengan senyum teduhnya.
"Ya iya. Kalau numpuk, aku juga yang mesti kerjakan." tawa Givan pecah, berbarengan dengan dua buah mobil yang datang berbarengan.
Perhatian mereka semua teralihkan, terlebih saat melihat salah mobil-mobil tersebut dengan plat nomor kendaraan yang bukan dari daerahnya.
"E dari kota C kan? DK daerah mana?" tanya Giska, yang tengah menggendong anak Icut yang mengoceh tidak jelas.
"Mbemmm..... Mmmmhhhhh...." celotehan Hamerra dengan menunjuk dua mobil tersebut.
Pandangan Adi terlihat begitu tegang, ia seperti tengah merasakan dejavu. Saat tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam mobil turun satu persatu.
Matanya melebar sempurna, sesak menyelebungi ulu hatinya. Adinda dengan sigap, langsung berada di samping suaminya. Tatapannya tak kalah kagetnya, seperti ekspresi suaminya.
__ADS_1
Mungkin... Yang ibu Meutia dan almarhum pak Dodi merasakan hal ini. Saat rombongan Adi dan Adinda berserta anak-anaknya, sampai di kediaman ibu Meutia untuk pertama kalinya.
"A*eh nih, Bos!" seru suara anak, yang orang tua di rumah tersebut amat rindukan.
"Bit keubit mandum anghoi dihoi-dihoi la. We lam mang a a.... bababalah." mata Adinda langsung fokus, pada wanita bertudung kain putih dengan anak rambut yang mengintip di sela tudungnya. Ia baru keluar, dari samping tempat kemudi mobil berplat Dk.
"Papa.... Pa... Biiii... Biiii..." rengekan gadis kecil yang baru keluar dari mobil berplat E, yang berusaha menggapai tubuh putra pertama Adi.
Gadis kecil itu berada di gendongan seorang wanita, yang membuat mata mereka semua melotot. Apa hubungannya, kenapa ia bisa berada di sini? Pertanyaan yang terkumpul di batin masing-masing.
Shuttt.... Plakkkkk....
Sabetan kain mengenai pintu mobil putra pertama juragan kaya, putra pertama Adi terlihat murka dengan kaki jenjang yang turun begitu mulusnya.
"Maaf, Bli. Lupa-lupa...." ujarnya dengan menarik kakinya kembali.
"Sehat, Pah? Mah?" tanya seseorang, yang mengemudikan mobil berplat E tersebut.
Ia tersenyum dengan langkah lebarnya, kemudian ia meraih tangan Adi dan menciumnya. Dekapan hangat, ia rasakan dengan tepukan ringan di punggungnya. Kenandra disambut baik oleh Adi.
"Mamah Dinda, makasih udah ngurusin Kin." Kenandra langsung berpindah ke seseorang yang berdiri di samping Adi. Ia memeluk Adinda dan menempelkan pipinya pada ibu angkatnya.
"Celana kau udah betul. Tinggal tudungnya itu, Cipluk!!!" bentak Ghifar, dengan menunjuk gadis yang berkaki jenjang tadi.
"Macam aku kan, Bli?" ucap seseorang penuh yakin di balik tudung putihnya.
Ghifar memalingkan wajahnya, menoleh ke arah perempuan yang menggendong anak perempuan yang terus memanggilnya papah tersebut.
"Macam Mamah Fira lah." semua mata kembali memandang perempuan yang menggendong gadis kecil tadi.
"Maghfira?" panggil Givan lirih, Canda mendongak menatap wajah suaminya yang terlihat begitu syok tersebut.
"Fir'aun..." lirih Giska dan Icut saling memandang.
"ABANG....." pekik Adinda yang mengalihkan perhatian semua orang.
"Papah angkat...." Kinasya terlihat berlari kecil, dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya yang terguncang.
__ADS_1
"Bang.... Bang Adi...." Adinda terisak-isak, dengan.........
......................