
Sinar matahari hangat menyelinap melalui celah dinding dan jendela yang terbuat dari kayu. Angin berembus halus membawa aroma khas air laut. Seakan menyambut pagi sepasang suami istri masih terlelap dalam tidurnya.
Dua hari sudah, Nich dan Jessi berada di resort ini hanya memadu kasih. Terbangun untuk mengisi perut dan membersihkan diri. Seakan tidak mau melepas sang istri, pria tersebut terus saja meminta haknya sebagai suami.
Perlahan dia mulai mengerjapkan mata, menatap sosok wanita cantik yang telah dimiliki seutuhnya. Calon ibu dari anak-anaknya kelak. Angin yang berembus mengibarkan bulu mata lentik istrinya, bibir ranum, dan wajah natural membuat Jessi begitu sempurna. Nich menyibakkan anak rambut sang istri ke belakang telinga.
Deburan ombak kecil dan kicauan burung camar seakan menjadi alunan melodi di pagi hari. Jessi mulai membuka mata secara perlahan, terlihat pria tampan di depannya langsung tersenyum dengan begitu indah layaknya Dewa Kematian.
"Selamat pagi, Sweety." Nich mencium kening istrinya dengan lembut, sebuah kebiasaan yang rutin dia lakukan ketika melihat netra Jessi mulai terbuka di pagi hari.
"Pagi juga, Sayang." Suara serak khas seorang wanita yang baru bangun dari mimpinya terdengar begitu menggoda, membuat pria itu semakin mengeratkan pelukan kepada Jessi. "Sayang."
"Hmm." Nich berdeham dengan menutup mata, menghirup aroma khas sang istri yang kini menjadi candu baginya.
"Apa kau tidak bekerja hari ini, Sayang?" Lirih Jessi bertanya, remuk redam sudah rasa tubuhnya akibat serangan dua hari berturut-turut dari sang suami membuat wanita itu kewalahan. Entah terbuat dari apa stamina Nich, pria tersebut seakan tak mau melepaskannya bahkan hanya untuk ke kamar mandi.
"Aku akan cuti. Mari lanjutkan bulan madu dadakan kita yang sederhana, Sweety!"
"Tapi, aku ingin keluar dari kamar. Tidak kah kau merasa kasihan pada istrimu ini, Sayang. Perutku rasanya sudah penuh dengan bibit-bibit kecebongmu." Puppy eyes kembali ditunjukkan oleh Jessi, salah satu cara ampuh ketika dia memohon sesuatu dengan Nich yang hasilnya tidak pernah gagal.
"Baiklah, nanti kita keluar menikmati suasana di sini. Ngomong-ngomong apa kau ingin berbulan madu ke Negara Lain lagi, Sweety?"
"Tidak, urusanku belum selesai. Aku masih harus menyelidiki kasus ayahku, dan yang lainnya. Kita bisa berbulan madu di lain waktu saja."
Nich mengangguk. "Aku akan membantumu."
Jessi hendak beranjak dari tempat tidur, tetapi tangan kekar sang suami kembali menahannya. Tiba-tiba tubuhnya terasa melayang karena Nich yang membopongnya menuju kamar mandi. "Kita bermain sekali dulu baru nanti boleh keluar."
"Nich, kau curang!" Jessi mengerucutkan bibir tetapi suaminya malah tersenyum. Hingga akhirnya mereka kembali menanamkan benih di kamar mandi.
__ADS_1
_______________
Tiga jam sudah mereka bertempur di kamar mandi, hingga kembali ke ranjang. Kini Jessi menikmati suasana angin semilir yang berembus mesra. Nich mengeluarkan ponsel, memanggil sang istri dari kejauhan. "Sweety!"
Ketika Jessi menoleh, dengan segera Nich mengambil gambar menggunakan ponselnya.
"Cantik."
"Apa yang kamu lakukan, Sayang?"
Nich memasukkan lagi ponsel ke dalam saku, perlahan melangkah mendekat ke arah istrinya, melingkarkan kedua tangan di tubuh Jessi. "Aku hanya mengabadikan momen cantik istriku."
Semilir angin, hangat mentari, ditambah suara kicauan burung camar membuat siang hari ini terasa indah. Dua hari menghilang melarikan diri dari pekerjaan membuat keduanya begitu menghargai waktu untuk bersama.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Sweety?" Nich menyibakkan anak rambut Jessi yang berterbangan akibat semilir angin menerpa.
"Sebelum aku ke Negara K, Bibi Maria pernah berkata jika ayah adalah atasan Paman Samuel ketika dia masih bekerja sebagai pegawai magang di Kejaksaan."
Nich mengernyitkan dahinya mendengar hal itu. "Paman Samuel? Siapa?"
"Dia adalah ayah kandung Patricia. Mereka dahulu menyelidiki kasus pembunuhan keluargaku secara diam-diam. Namun, Paman Samuel dibunuh oleh Tom Evening, lalu kejadiannya ditutupi oleh Barron Night." Sejenak Jessi mengembuskan napas kasar, mencoba untuk lebih terbuka tentang masalahnya kepada sang suami, dia merasa akan menghadapi sesuatu di luar batas kemampuannya kali ini.
"Detektif yang disewa Paman Alex juga kecelakaan karena hal itu. Bibi Maria dinikahi Tom demi mengawasi dan mengontrolnya. Menurutmu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, Sayang?" Jessi mendongakkan kepala menatap lekat wajah suami yang sedang memangku kepalanya.
Lembut Nich mengelus pucuk kepala istrinya, memberikan ketenangan untuk sang wanita yang hantinya tengah gundah gulana. "Siapapun yang bertanggung jawab kita pasti akan menemukannya. Aku akan selalu melindungimu, Sweety."
__ADS_1
Jessi mengangguk paham. "Menurutmu, apa yang terjadi jika kita menyelidiki ulang kasus itu, Sayang?" Wanita tersebut beranjak dari posisinya menjadi duduk di sebelah sang suami.
"Apa kau memerlukan bantuanku, Sweety?"
"Tidak, aku hanya ingin memastikan apakah mereka akan mengejarku kali ini jika kita membuka kembali kejadian tiga puluh tahun yang lalu."
Nich kembali membawa bahu istrinya agar bersandar padanya. "Lakukan apapun yang kau inginkan, Sweety! Tenanglah, aku akan selalu mendukung di belakangmu!"
Jessi sangat paham akan hal itu, pria ini sungguh mampu membuatnya nyaman dengan cara tersendiri. "Terima kasih, Suamiku Sayang." Perlahan wajah itu mendekat, mengecup dengan lembut bibir suaminya.
__________
Di sisi lain seorang wanita tengah mencari pembunuh bayaran untuk saingannya. Emily mencoba untuk menanyakan kelompok mafia yang memiliki kinerja akurat kepada teman tidurnya kali ini.
"Apa kau tahu pembunuh bayaran yang selalu berhasil dalam misinya?" Emily menyandarkan tubuh kepada pria yang kini duduk di sampingnya. Mereka baru saja selesai melakukan kegiatan panas yang rutin wanita itu lakukan ketika sedang stres.
Pria tersebut mengernyitkan dahi mendengar pernyataan Emily, dia adalah pria langganan yang selalu dihubungi ketika wanita itu membutuhkan kehangatan. "Bukankah kau bilang sepupumu adalah mafia?"
"Iya, tapi salah satu anak buahnya sudah mati di tanganku. Mustahil dia akan membantuku untuk yang kedua kali."
Sang pria menyesap cerutu di tangan kanan, sedangkan bagian kiri merengkuh tubuh polos Emily. Buliran keringat sisa pertempuran masih memenuhi kulit keduanya, kemelut asap mengepul dari bibir pria tersebut.
"Aku tahu sebuah kelompok mafia, tapi sangat sulit untuk menghubungi mereka karena lokasi markas yang tidak diketahui oleh siapapun."
"Benarkah! Jika tidak mengetahui markas, bagaimana cara untuk menghubunginya?" Emily terlihat begitu girang, berhari-hari dia sudah mencoba mencari pembunuh profesional, tetapi semua hanyalah anak buah sepupunya dan selebihnya adalah amatiran yang membuatnya ragu.
"Mereka punya cara tersendiri untuk hak itu, nanti aku akan mencari tahu untukmu." Sedetik kemudian, dia berbisik dengan nada sensual di telinga Emily. "Sekarang sebaiknya kita lanjutkan hal yang tertunda! Bukankah lelahmu sudah hilang."
Emily menyeringai menggoda, lantas bergerak menindih tubuh pria tersebut. "Aku ingin mencoba gaya baru."
__ADS_1
Sang pria langsung meletakkan cerutunya di atas asbak dan mulai mencium bibir wanita di depannya dengan lahap. Mereka pun kembali melakukan pergumulan panas yang menggairahkan bagi keduanya.
To Be Continue...