Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Suami Kedua


__ADS_3

Jessi bergerak menuju gedung Bannerick Group dengan mobilnya kali ini. Dia tidak ingin usaha untuk merias diri selama dua jam hancur diterpa angin jika mengendarai motor.


Setibanya di sana, seperti biasa Jessi melangkah menuju resepsionis. Walaupun dia adalah istri dari pemilik perusahaan ini, tetapi tetap menjaga aturan, dan tidak bertindak seenaknya.


Sepanjang kaki melangkah, banyak mata yang menatap terpesona kepadanya. Penampilan cantik dan feminim saat ini bertolak belakang dengan sebelumnya. Rambut yang dibuat sedikit bergelombang dipadu gaun seksi membelah kaki, ditambah sepatu hak tinggi membuat wanita tersebut mampu menghipnotis setiap orang yang melihatnya.


Bahkan resepsionis sampai ternganga karena terkesima. Dia laksana Dewi Afrodit yang menjelma menjadi manusia, membuat para wanita iri dengan kecantikan dan lelehan senyumnya.


Jessi menggerakkan tangan di depan wajah karyawan yang selalu menyambutnya tersebut.


"Hello, permisi!"


Tidak ada respons balasan dari sang resepsionis setelah Jessi memanggilnya beberapa kali. Dia terpaksa menggebrak meja di depan karyawan tersebut dengan keras.


Resepsionis yang tersadar dari lamunannya lantas menyapa dengan canggung. "Nyonya Muda."


"Apa yang sedang kau lihat hingga membuat air liurmu mengalir begitu deras?" Wanita itu lantas menunduk mencari kaca, mengusap mulutnya yang dikatakan berliur oleh Jessi. Namun nihil, tidak ada apa pun di sana karena sejatinya sang nyonya muda hanya mengerjainya saja.


Dia tidak menyangka jika Nyonya Muda Bannerick ketika berpenampilan feminim mampu membius mata setiap insan yang melihatnya. Seandainya, Jessi berpenampilan seperti ini setiap hari, bisa dipastikan jika Tuan Muda Nicholas akan lebih sering absen datang ke kantor.


"Apa, Nyonya Muda ingin mengunjungi Tuan Nich?"


Jessi mengangguk. "Bagaimana menurutmu penampilanku hari ini, cantik tidak?" Dia berputar di depan sang resepsionis. Gaun indah merekah berkibar layaknya bunga mekar karena gerakannya. Menirukan wanita sosialita yang sedang memamerkan kecantikan.


"Sangat cantik, Nyonya Muda. Bahkan aktris ternama akan gagal debut jika Anda naik panggung." Resepsionis memuji apa adanya karena memang Jessi terlihat sangat mempesona dan cantik hari ini.


"Kau itu bisa saja, ini aku berikan padamu!" Jessi melepaskan sebuah gelang cantik dari tangannya dan memberikan kepada sang resepsionis yang sudah berani mengutarakan pendapat. "Kalau begitu aku akan menemui suamiku lebih dulu."

__ADS_1


"Nyonya Muda, benarkah ini?" Resepsionis masih tak percaya dengan apa yang dia terima. Tangannya bergetar ketika Jessi meletakkan sebuah gelang indah mahal di telapak tangan kecilnya. Tidak menyangka hanya karena sebuah ucapan pujian akan mendapatkan sesuatu yang begitu berharga.


Namun, tanpa menjawab Jessi sudah berlalu pergi dan hanya melambaikan tangan di balik punggungnya dan melangkah menuju ruangan suaminya. Ketika berada tepat di depan pintu wanita itu mendengar sang suami tengah berdiskusi dengan beberapa orang. Wanita tersebut mengetuk pintu, lalu masuk begitu saja.


Di dalam ruangan Nich yang melihat kedatangan istrinya dengan tampilan cantik yang berbeda langsung berdiri dari duduknya. Dia terkejut melihat Jessi begitu menawan kali ini.


"Sweety, kenapa kau kemari?" Nich melangkah mendekat untuk memeluk istrinya. Menghirup aroma wangi segar yang mampu menenangkannya selama ini.


"Apa aku tidak boleh mengunjungimu, Suamiku?" Sejenak mereka masih berpelukan, tanpa menghiraukan ketiga orang yang masih berada di ruangan itu.


Pasangan suami istri yang merasa dunia hanyalah milik berdua, sehingga mengumbar kemesraan di mana-mana.


Di kursi dua orang pria beda usia masih duduk dan menyaksikan drama romantis sepasang suami istri tersebut. Mereka adalah klien yang sedang menjalankan proyek bersama Bannerick Group.


Jessi memiringkan kepala ketika melihat seorang pemuda bersama pria paruh baya yang tadi duduk bersama suaminya. Mata wanita tersebut langsung melebar memancarkan binar kekaguman melihat keindahan wajah di depannya.


Dia langsung mendorong tubuh Nich dalam pelukannya, dan tanpa meminta izin Jessi langsung duduk di sebelah pemuda tersebut karena terpesona dengan ketampanan yang dimiliki. Tanpa sadar, seakan terhipnotis wanita itu meletakkan kedua tangan di pipi pria di depannya, serta mengelus wajah seperti sebuah porselen.


Tindakan Jessi sukses membuat wajah Nich merah padam layaknya kepiting rebus. Rasa cemburu meluap membuat napasnya memburu, tajam kilatan matanya melihat pemuda di depan seakan musuh yang siap untuk diserang. Dia tidak menyangka sang istri akan terang-terangan memuji ketampanan pria yang bahkan usianya terpaut sangat jauh dari mereka.


"Sweety, apa yang kau lakukan?" Nich menarik tangan Jessi yang berada di pipi pria tersebut agar fokus menyentuh wajahnya dengan mengerucutkan bibir.


Namun sayang, wanita itu berbalik badan lagi dan meletakkan kembali kedua tangan di pipi pria tersebut. Sementara kedua orang yang melihat perdebatan sepasang suami istri hanya terdiam membatu dengan irama jantung berdegup kencang. Bagaimana tidak? Raut kecemburuan terlihat jelas di wajah Nicholas, setiap ekspresinya menunjukkan permusuhan dan tidak bersahabat seperti sebelumnya.


Di sisi lain, Willy yang berdiri di samping mereka hanya menahan tawa melihat tontonan gratis di depannya. Pertengkaran sepasang suami istri yang merebutkan pria muda brondong, bahkan pemuda itu tidak tahu apa-apa, tetapi tampaknya akan menjadi korban pertikaian mereka.


"Kau sangat tampan. Bagaimana kalau aku bawa pulang? Akan aku jadikan kau suami keduaku nanti." Jessi berbicara dengan nada bercandanya.

__ADS_1


Namun, Willy sontak tertawa terbahak-bahak, sedangkan pemuda dan ayahnya mulai berkeringat dingin melihat wajah berang Nicholas. Perkataan absurd Jessi sukses membuat bulu roma mereka merinding seketika. Bagaimana bisa seorang wanita bercanda seperti itu di depan Nicholas Bannerick?


Nich langsung menatap tajam Willy, membuat pria tersebut diam seketika, menutup mulut dengan kedua tangannya. Sementara sang suami yang tak ingin melihat tingkah konyol istrinya lebih jauh lagi, langsung membopong wanita tersebut ke kamar pribadi di balik ruangannya.


"Will, batalkan proyek kali ini dan tanggung semua ganti rugi mereka sesuai kontrak!" Nich melangkah tegas meninggalkan ketiga pria yang masih tercengang di sana.


Ganti rugi pembatalan kontrak bukanlah jumlah yang sedikit. Terlebih lagi mereka sudah banyak mengeluarkan dana sebelumnya. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh Willy, dia hanyalah seorang asisten. Menuruti perintah Nich adalah tugas utamanya.


Jessi berada di gedongan sang suami tidak mau diam, dan terus meronta-ronta dengan tangan yang mengulur pada pemuda tampan tersebut.


"Aku masih ingin melihatnya, Sayang. Aku ingin menjadikannya suami keduaku dan kau suami pertamaku." Jessi masih mengucapkan kalimat konyol tanpa henti. Entah apa yang merasuki wanita itu, hingga menjadikannya genit dan jauh berbeda dengan sebelumnya.


Tanpa sadar jika dia sudah membangunkan seorang singa lapar. Jessi malah terus berceloteh tentang pria muda tersebut, membuat Nich merasa mulai panas, dan geram dengan pujian sang istri kepada pria lain.


Dia meletakkan sang istri di ranjang dengan kasar, setelah itu duduk di sebuah kursi, yang berada tak jauh ranjang tersebut.


"Sekarang katakan tujuanmu berdandan dan memakai pakaian seperti itu hari ini!" Nich bersedekap, dia tidak menyangka istrinya akan terlihat begitu cantik hari ini. Bahkan datang tanpa dia minta.


Namun, yang membuatnya kecewa dia malah memuji pria lain di depannya yang bahkan jauh lebih muda darinya. Sebenarnya Nich tahu istrinya tidak mungkin bersungguh-sungguh dan melakukan hal buruk terang-terangan di depannya seperti itu. Akan tetapi, tetap saja rasa cemburu menyeruak menyulut emosi yang terpendam dalam jiwanya.


Jessi yang melihat wajah merah padam dan tegang sang suami, lantas turun dari ranjang dan berusaha meredakan amarah Nich. Dia lupa tujuannya datang kemari sebelumnya adalah untuk mengunjungi suaminya.


"Sayang, aku berdandan seperti ini untukmu. Apa kau tidak suka melihatku cantik?" Jessi berpose menggoda, membuat Nicholas menelan air liurnya sendiri karena hal tersebut.


"Bukan suka atau tidak suka. Tapi, kau sudah berani menggoda pria lain tepat di depan mataku!"


To Be Continue..

__ADS_1


Jessi now.



__ADS_2