Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Secercah Harapan


__ADS_3

Jessi dan Nich melihat di bagaian bawah patung terdapat tiga buah angka, dengan simbol bunga teratai di atasnya. Keduanya saling berpandangan sambil mengerutkan kening, memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Apakah itu hanya sebuah angka dan simbol? Ataukah petunjuk bagi pencarian mereka?


"Angka apa ini, Sweety?" tanya Nicholas.


"Entahlah." Jessi menggeleng kecil, memikirkan kemungkinan yang mungkin tersembunyi di dalamnya.


Jika hanya terlihat seperti ini dan ditemukan oleh orang lain, mungkin mereka akan berpikir itu hanyalah angka biasa. Namun, yang membuat Jessi heran adalah simbol bunga teratai di atasnya.


Bunga teratai dengan bentuk simbol seperti kalung yang diberikan oleh ibunya. Jika itu juga terdapat di patung ini, mungkinkah semuanya hanya kebetulan semata.


"Patung Themis adalah simbol keadilan, sesuai dengan pekerjaan ayah. Tapi, bunga teratai yang terukir di sini?" Sejenak Jessi menghentikan kalimatnya untuk berpikir. "Sayang, kenapa ayah juga mengukir bunga teratai di di sini?"


Dia menatap wajah suaminya dengan lekat, seakan meminta jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya. Namun, sang suami malah menarik tangannya, melangkah keluar dari ruangan itu. "Kita pastikan dulu di patung yang lain! Hari itu aku ada melihat patung Themis di ruang kerja ayah."


Mereka melangkah turun kembali, menuju ruang kerja David yang berada di lantai satu dengan hati-hati. Setibanya di ruangan tersebut, kedua orang itu kembali mengedarkan pandangannya. Menelusuri di mana patung Themis yang lainnya.


"Di sini!" Nicholas menemukan kembali sebuah patung yang tergeletak di lantai. Tanpa membuang waktu, dia mengusap noda di benda tersebut dengan cara yang sama. Hingga tak lama kemudian, sebuah simbol dan angka kembali terlihat di bagian bawahnya.


"Sweety, ini." Mereka menyandingkan kedua patung yang berbeda posisi tersebut.


Keduanya sama-sama memegang tinggi sebuah timbangan. Namun, pedang yang dibawanya berbeda bentuk. Salah satu terlihat lancip dan tajam mengarah ke bawah, sedangkan lainnya berbentuk tumpul di ujung serta menjulang ke atas. Padahal seharusnya, pedang itu bermata dua sama, sehingga menyimbolkan keadilan dalam sebuah peradilan.


Pedang tajam ke bawah, berarti hukum itu tidak adil. Mereka menyakiti kalangan masyarakat menengah ke bawah, sedangkan tumpul menjulang ke atas, dimaksudkan bahwa kaum elit diberikan keringanan dalam sebuah peradilan.


Bagian bawah kedua patung tersebut lantas di sandingkan, bertuliskan enam angka dengan dua bunga teratai yang sama di atasnya.


"Kita tanya Paman Alex." Jessi langsung menarik tangan suaminya keluar rumah tersebut dengan segera, sambil membawa kedua patung itu di tangannya.


_______________


Di sisi lain, seorang pria paruh baya juga sedang menikmati acara libur di rumahnya. Namun, bukan bersantai ria, melainkan meresahkan apa yang terjadi sebelumnya. Sumber penghasilan bermata dua sudah diketahui oleh orang lain. Hal itu tentu saja membuatnya risau, sehingga meminta anjing pesuruhnya untuk menyelidiki masalah tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kau dapatkan?" Jerry menatap lekat seorang pria di depannya. Orang yang telah dibesarkan layaknya seekor anjing penurut akan segala perintahnya.


"Ini, Tuan." Sebuah tangkapan gambar Jessi dan Jackson ketika di rumah sakit diberikan kepada tuannya. Entah bagaimana pria itu mendapatkannya, tetapi dia memiliki kinerja yang bahkan lebih baik dari Johny. Oleh sebab itulah, pria tersebut tetap dipertahankan di samping Jerry, menjadi mata-matanya.


Sebuah senyum smrik tersungging di wajah keriput itu, melihat seorang pria dengan paras yang sama dengan seseorang. Jackson–putra Detektif Pannacotta masih hidup.


Dia meremas foto tersebut hingga hancur dengan sorot mata tajam dan senyum mengerikan. "Beraninya Barron menipuku!"


Ya, saat itu dia mendapatkan kabar dari Barron jika keluarga Pannacotta sudah dihabisi semua. Untungnya, Jerry masih menyimpan seseorang yang ternyata bisa di manfaatkan di waktu seperti ini.


Jerry menatap pria di depannya dengan lekat, anjing yang dibesarkan kini telah tumbuh dewasa. Namun, berseberangan dengan orang tuanya. Dia bukan pekerja di bidang hukum atau kepolisian seperti ayahnya sebelumnya.


Pria tersebut adalah adik kandung Jackson yang masih berada di dalam perut saat itu. Namun, Jerry berhasil mendidiknya tanpa mengerti asal-usulnya. Tidak menyangka jika bayi dalam kandungan tersebut akan sangat berguna di saat seperti ini.


"Cari tahu semua hal tentang mantan istri Brian!" Perlahan Jerry mengambil sebuah foto di dalam laci, menuliskan pesan kecil di belakangnya. Lalu, dimasukkan ke dalam amplop cokelat. "Berikan ini pada pria digambar itu secara rahasia!"


Dia menerima amplop tersebut, membungkuk hormat lantas pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wajah datar hasil dari didikan Jerry menjadikannya robot berbentuk manusia. Tanpa hati, perasaan, ekspresi, bahkan pikiran karena otaknya sudah diatur untuk menuruti semua perintah Jerry Morning seorang.


"Kalian bermain-main dengan orang yang salah!" Pandangan Jerry menajam dengan mata membola karena emosi yang bergelora. Hari baiknya telah berakhir, awal pertempuran baru akan dimulai.


Jerry lantas mengambil ponsel di atas meja untuk menghubungi seseorang, hingga beberapa saat kemudian, mulai terdengar suara di ujung sambungan.


"Iya, Tuan." Terdengar jawaban dari seorang wanita di sana.


"Bagaimana kondisi wanita itu?" tanya Jerry.


"Masih sama seperti sebelumnya, Tuan."


Pria itu mengangguk. "Tetap jaga seperti biasa. Jangan biarkan dia mati sebelum waktunya. Dia kartu As yang akan kugunakan nantinya."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Sambungan telepon lantas di matikan. Tawa jahat mulai menggelar memenuhi seluruh ruang. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan berguna untuk saat ini.


________________


Lain Jerry, lain pula dengan Jessi. Mereka pergi ke apartemen Damien, setelah kembali dari mengunjungi rumah lama keluarga Alexander karena Paman Alex selama di Negara N hanya berdiam diri di tempat kakaknya saja.


Risau akan keselamatan kedua keponakannya, membuat pria yang sudah mulai berumur itu memilih mengawasi dari kejauhan. Wajah kembarnya sangat mirip dengan David bisa memancing musuh untuk mengenalinya, sedangkan dia sendiri belum tahu pasti siapa musuh saudaranya tersebut.


Sepasang suami istri itu mengunjungi Alex dengan membawa dua patung Themis. Mereka duduk bertiga di ruang tamu apartemen tersebut karena Damien masih mengurus proyek yang sedang berjalan.


"Paman Alex, apa Paman tahu maksud dari susunan angka di sini?" Jessi mengulurkan kedua patung tersebut kepada Alex.


Kedua tangan Alex menerima benda itu, lalu menyipitkan mata menatap jajaran angka yang terdapat di bagian bawah patung. Dia berusaha untuk mengingat keenam angka tersebut. Bukan tanggal kelahiran salah satu keluarga Alexander. Tidak juga tanggal pernikahannya.


Berulang kali pria itu membolak-balikkan patung dan berpikir untuk waktu yang cukup lama.


"Ah, aku ingat. Ini adalah tanggal di mana ayahmu pertama kali bekerja sebagai Jaksa Eksekutor." Alex sangat mengingat akan hari itu karena waktunya bertepatan dengan saat di mana saudaranya melamar sang pujaan hati–Samantha. Juga merupakan hari patah hati bagi dirinya sendiri.


Misi saudara kembarnya adalah memberantas kejahatan para pejabat. Untuk itulah dia sampai dijuluki Dewa Keadilan bagi masyarakat karena mampu menolak iming-iming suap dari para penjahat negara.


"Apa ayah mengukirnya di sini hanya untuk kenangan?" Jessi mulai menundukkan kepala, merasa penemuannya mungkin hanya akan berakhir buntu kembali.


Namun, hal tak diduga adalah sang paman menggelengkan kepala. "Ini bukan hanya sebuah kenangan."


"Maksud, Paman?" Seketika Jessi menatap sang paman dengan binar harapan di mata indahnya.


"Dia selalu menyimpan dokumen penting di safe deposit box sebuah bank. Aku pernah mencari, tapi tidak tahu bank mana yang ayahmu gunakan. Lagi pula butuh sandi untuk membukanya." Alex kembali menyerahkan patung tersebut kepada keponakannya. "Mungkin dengan ini kalian bisa mencari dan menemukan sedikit petunjuk atas kejadian masa lalu."


Layanan Safe Deposit Box (SDB) adalah jasa penyewaan kotak penyimpanan harta atau surat-surat berharga yang dirancang secara khusus dari bahan baja dan ditempatkan dalam ruang khasanah yang kokoh dan tahan api untuk menjaga keamanan barang yang disimpan dan memberikan rasa aman bagi penggunanya.


Biasanya barang yang disimpan di dalam SDB adalah barang yang bernilai tinggi di mana pemiliknya merasa tidak aman untuk menyimpannya di rumah.

__ADS_1


Tiga puluh tahun yang lalu tidaklah ada penyimpanan data yang seperti sekarang. Semua masih manual dan dikerjakan oleh manusia, termasuk dokumen serta penyimpanannya. Jadi, kertas-kertas berkas tersebut mungkin masih berada di suatu tempat. Menunggu pemiliknya datang untuk kembali pulang.


To Be Continue....


__ADS_2