
Hari berlalu begitu cepat, hingga tak terasa tiga malam sudah Jessi dan Nich menghabiskan bulan madu dadakan bersama. Kini keduanya kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
Jessi akan memulai penyelidikannya. Berdasarkan informasi dari Maria, jika dia menggali lagi peristiwa tiga puluh tahun lalu, sudah pasti kejadian sama seperti Samuel dan detektif swasta akan menimpa dirinya. Membuat dalang sesungguhnya memunculkan kembali batang hidungnya.
Kini Jessi, Jackson, George, Olivia, Maria, Patricia, dan Alex tengah berada di sebuah ruang untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan informasi sekecil apa pun yang mereka miliki.
Sebuah papan detektif tersedia di ruangan tersebut, untuk mencari kemungkinan orang-orang yang saling terhubung dengan kejadian masa itu. Mengusut kembali peristiwa sejak tiga puluh tahun yang lalu, di mana semuanya berawal dari keluarga Alexander.
"Kita mulai dari informasi terbaru," ujar Jessi.
Suasana tegang begitu terasa di ruangan tersebut. Bukan tanpa alasan, tetapi karena aura mendominasi yang dimiliki Jessi begitu kuat. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan selalu menghadapi setiap masalah dengan santai. Namun, kini rasanya sangat berbeda. Jessi memperlihatkan sorot mata yang tajam khas pembalasan dendam.
"Bibi Maria, bagaimana Paman Samuel meninggal?"
"Dia mengalami tabrak lari dengan sebuah truk box yang cukup besar di malam setelah Samuel mengubah kasus kami."
Jessi mengetuk-ngetuk pena di tangan ke atas meja, pikirannya mencoba berpikir keras kali ini. Suara ketukan tersebut tanpa sadar menimbulkan ketegangan pada mereka yang mendengarnya di ruangan tersebut. Gerakan cepat Jessi memainkan benda itu menimbulkan rasa ngeri layaknya sebuah melodi jumpscare ketika menonton sebuah film horor.
Hingga gerakan tangan itu berhenti karena sebuah pemikiran dalam otaknya. "Paman Samuel meninggal dalam kecelakaan yang diatur oleh mereka, sedangkan sebelumnya dia sudah memperingatkan tim kalian untuk menghentikan penyelidikan. Oleh karena itu, dia pasti sudah menyembunyikan berkas yang dimiliki di suatu tempat demi keamanan timnya."
Maria dan yang lain mengangguk setuju. "Apa, kau tahu di mana kira-kira Paman Samuel menyembunyikan berkas itu, Bibi?"
Sejenak Maria berpikir. "Jika berkas itu ada di kantor mungkin sudah menjadi abu, Nona sebab Firma Hukum tempat kami bekerja mengalami kebakaran hebat setelah kematian Samuel. Untuk itu, tim membubarkan diri karena sudah tidak ada lagi kemungkinan bagi kami melanjutkan kembali apa yang sudah dikerjakan sebelumnya."
"Apa kalian tidak memiliki rumah sebelum?"
Maria menggeleng. "Kami hanya menyewa sebuah rumah sederhana, dan bisa saya pastikan tidak ada sesuatu yang penting di sana. Akan tetapi, jika hal itu ada, sudah pasti barang tersebut jatuh ke tangan mereka karena Tom Evening membeli rumah tersebut untuk mendesak saya menikahinya."
"Shitt, kenapa mereka cerdik sekali?" Jessi merasa buntu, informasi dari satu orang saja tidak akan cukup untuk menjawab semua pertanyaannya. Seandainya saja, dia bisa memanggil kembali roh, sudah pasti Samuel bisa menjawab teka-teki ini.
"Paman Alex, bagaimana dengan Detektif Swasta yang kau sewa saat itu?"
"Kami berniat untuk bertemu saat itu, tetapi aku yang berada di Negara X hanya bisa menemuinya keesokan hari. Tapi, ketika aku tiba di bandara malah mendengar berita kecelakaan Detektif Pannacotta."
Suara benda terjatuh dari tangan Jackson membuat semua orang melihatnya. Pria itu membatu, dia terkejut mendengar penuturan Alex baru saja. Perubahan ekspresinya jelas ditangkap oleh mata elang Jessi.
__ADS_1
"Ada masalah, Jack?"
Pertanyaan Jessi menyadarkan Jackson dari keterkejutan. Dia kembali tersadar dan menatap nonanya. "Tidak, Nona."
Kebohongan tergambar begitu jelas di mata Jackson. Pria itu tidak mau menjelaskan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Hal tersebut tentu saja terlihat oleh Jessi. Dia sangat mengenal bagaimana sikap para anak buahnya terutama Jackson yang introvert dan sulit untuk membuka masalah pribadinya.
"Diskusi cukup sampai di sini. Kita lanjutkan besok lagi. Kalian boleh kembali!" Jessi akhirnya memilih untuk mengakhiri diskusi ini. Instingnya mengatakan jika Jackson juga berhubungan dengan hal ini. Namun, pria itu dengan segera keluar dari ruangan tanpa mengucap sepatah kata pun dan hanya membungkuk hormat kepadanya.
Jackson keluar dengan langkah gontai, pikirannya melayang entah kemana. Dunia seakan mempermainkan takdir hidup, dia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Jessi, terlebih lagi istrinya—Alice. Selama ini pria tersebut selalu menatap ke depan, dan tidak curiga dengan apa yang menimpa keluarganya. Namun, pernyataan Alex membuatnya terpukul kali ini.
Rasa sesak kembali menyeruak, pasokan udara terasa menipis di paru-parunya. Setelah keluar ruangan Jackson menuju ke halaman belakang. Menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk kembali menetralkan emosinya yang membuncah.
Tanpa dia sadari Jessi mengikutinya, dan berdiri dari jauh untuk mengawasinya. "Olivia."
"Iya, Nona."
"Bawa Alice kemari sekarang!"
"Baik, Nona." Perempuan tersebut lantas pergi meninggalkan Jessi untuk menjemput Alice. Meskipun, dia tidak tahu apa yang ada di pikiran nonanya, tetapi Olivia tidak berhak menanyakan perintah atasannya.
Tak lama kemudian, setelah kepergian Olivia, kini giliran George yang menghadap sang nona. "Nona."
"Seseorang menghubungi markas untuk menyewa pembunuh bayaran." George terlihat gugup ketika mengatakan hal tersebut. Dia berharap sang nona tidak memenggal kepalanya kali ini.
"Siapa sasaran mereka?" Jessi masih menatap Jackson dari kejauhan sambil mendengar informasi yang disampaikan oleh George.
"Itu A–anda, Nona." Seketika Jessi menoleh tajam ke arah George. Namun, sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum jahat di sudut bibir ranumnya.
"Apakah Emily yang menyewa mereka?"
"Bukan, Nona. Tapi, seorang lelaki yang menghubungi kami." Meskipun sudah terbiasa hidup di bawah perintah Jessi, tetapi George tetap ngeri ketika berhadapan langsung dengan wanita tersebut.
Apa lagi melihat sendiri bagaimana cara Jessi menghabisi para musuhnya tanpa mengedipkan mata. Ditambah pelatihan yang dia jalani selama di sini, membuat George tidak lagi memiliki kata selain 'Mengagumkan' untuk wanita tersebut.
"Cari tahu siapa pria tersebut! Turuti apa permintaan mereka dan laporkan kembali padaku!" Sorot mata tajam Jessi begitu mengkilat, seakan siap untuk menebas lawan yang akan datang.
Bukan salahku jika mengambil nyawamu kali ini. Kau sendiri yang memilih mengakhiri hidupmu.
__ADS_1
George mengangguk patuh, dia undur diri melaksanakan perintah Jessi. Sementara wanita tersebut melangkah mendekati Jackson dan mencoba untuk berbicara baik-baik terlebih dahulu.
Suara tepukan di bahu membuyarkan lamunan Jackson, perasaan bimbang masih menguasai dirinya membuatnya tidak menyadari kehadiran Jessi. "Nona."
"Apa ada sesuatu yang mengusikmu?"
"Tidak, Nona."
Jessi memposisikan diri untuk duduk menekuk lutut di samping Jackson. Meskipun, pria di sebelahnya bisa menipu orang lain, tetapi tidak dengan dia. Kebohongan yang mungkin akan membuatnya merasa bersalah karena telah mengetahui hal tersebut.
"Jackson," lirih Jessi memanggil. Dia mencoba untuk berbicara layaknya seorang sahabat kali ini. "Ceritakan tentang dirimu!"
"Apa yang ingin, Nona ketahui?" Jackson ikut duduk di samping Jessi, menikmati semilir embusan angin sambil menatap para harimau dan bayi-bayinya yang mulai aktif berlarian di halaman belakang.
"Apa orang tuamu masih ada?" Pria itu hanya menggeleng. "Bagaimana dengan saudaramu?"
"Dia bahkan meninggal sebelum dilahirkan." Jackson mencoba untuk menahan rasa sesak di dada akibat kehilangan seluruh keluarganya.
Seandainya saja, dia tidak pergi saat itu, mungkin hasilnya akan berbeda dengan hari ini. Jackson akan ikut terkubur bersama keluarga kecilnya dan tidak akan hidup sebatang kara bertahun-tahun.
Pria itu menundukkan kepala, mencoba untuk menahan semuanya. Namun, perasaan kehilangan sebuah keluarga bukanlah hal yang mudah. Rasa sesak kembali menyeruak mengingat senyum manis ayah dan ibunya untuk yang terakhir kali kala itu.
Tanpa sadar buliran bening menetes di pipinya, hidup sebatang kara bertahun-tahun tanpa tahu kejadian yang sesungguhnya membuat Jakson merasa gagal sebagai seorang anak untuk kedua orang tuanya. Juga kakak bagi adik yang masih dikandung ibunya.
Dia mengusap air mata di pipi yang mengalir tanpa meminta izin terlebih dahulu. Jessi yang mendengar lirih isakan hanya bisa menepuk bahu Jackson dengan lembut. "Maaf jika pertanyaanku menyakitimu."
"Bukan apa-apa, Nona." Jackson mengusap matanya yang memerah. Tidak ada gunanya meratapi masa lalu dan cukup dengan bersyukur atas apa yang terjadi padanya sekarang. Setidaknya, kini dia sudah memiliki Alice dan Angelina sebagai keluarga kecilnya, memberikan semangat di kala duka melanda, serta Jessi yang selalu menjamin keselamatan mereka.
"Perketat penjagaan seluruh keluarga kita! Siapkan masing-masing satu orang pengawas untuk para wanita, terutama yang tidak bisa bela diri! Termasuk istrimu, Angelina, dan juga Stella."
"Baik, Nona." Jessi beranjak dari duduknya untuk mencari hawa segar. Entahlah perasaannya terasa bercampur menjadi satu ketika melihat kepedihan Jackson dan ikut merasa bersalah atas buliran air mata pria tersebut. Oleh sebab itulah, dia kembali mengalihkan pembicaraan ke tugas bagi para anggotanya.
Jessi melangkah menuju kamar untuk mengganti pakaiannya, kemudian beranjak ke garasi membawa kunci motornya. Dia menghentikan langkahnya sejenak, mengeluarkan ponsel dari sakunya guna menghubungi Olivia. "Bawa Alice ke Light Resto!"
To Be Continue...
Hallo temen-temen pembaca setia.
__ADS_1
Selamat tahun baru untuk semua.
Semoga di tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.