Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Adik Jackson


__ADS_3

Beberapa hari menjalani perawatan sambil membayangkan ketiga janinnya berkembang membuat kondisi Jessi pulih dengan cepat. Siang ini dirinya sudah diperbolehkan pulang, tetapi harus hati-hati menjaga kandungannya karena sebelumnya dia pernah mengalami keguguran.


Suara keributan di luar membuat Jessi menjadi penasaran. "Ada apa di luar, Sayang?" tanyanya kepada Nich di sampingnya.


"Tunggu sebentar! Aku lihat dulu!" Nich lantas melangkah keluar ruangan, terlihat di sana ada Jackson serta ibunya yang berteriak histeris. "Ada apa ini?"


"Tuan, Tuan aku mohon selamatkan putraku!" Wanita tua tersebut langsung memeluk kaki Nich ketika melihatnya, membuat pria tersebut menatap ke arah Jackson.


"Ibu, aku putramu. Aku sudah di sini." Jackson berusaha untuk melepaskan ibunya yang memeluk kaki Nich dengan erat.


Wanita tersebut sudah seperti itu sejak sadarkan diri. Dia bahkan tidak mengenali Jackson atau siapa pun dan selalu berteriak 'bunuh aku' atau 'selamatkan putraku' layaknya orang kehilangan kewarasan.


"Nyonya, tenanglah! Aku akan menyelamatkan putramu. Sekarang mari kita masuk dulu!" Nich merendahkan tubuhnya untuk meraih tubuh wanita tua yang menangis tersebut dengan lembut. Sejenak dia seperti ragu, tetapi menuruti apa yang diperintahkan Nich.


Mereka bertiga lantas memasuki ruang perawatan Jessi dan membawa wanita itu duduk secara perlahan. "Sekarang ceritakan masalahmu secara perlahan!"


Meskipun dokter sudah mendiagnosis wanita itu mengalami gangguan mental, tetapi bukan suatu hal yang salah jika mendengarkan pernyataannya. Apa lagi dia disekap oleh Jerry Morning selama dua puluh lima tahu.


Kehadiran Jackson dan ibunya membuat Jessi mendekat ke arah suaminya. Menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi hingga wanita itu terlihat ketakutan.


"Tuan, Nyonya. Selamatkan putraku!" Jessi dan Nich saling berpandangan, bukankah putra wanita tersebut adalah Jackson. Namun, mereka menanyakan maksudnya terlebih dahulu.


"Putramu? Jackson?" Wanita itu menggeleng cepat, tubuhnya bahkan bergetar hingga buliran hangat mulai berkumpul di pelupuk matanya dan langsung berteriak dengan keras. "Argh, jangan sakiti putraku! Aku mohon selamatkan dia! Bunuh saja aku, tapi bebaskan dia."


Suara teriakan menggema dengan keras memenuhi ruangan. Wanita tersebut berteriak histeris sambil meronta-ronta, membuat Jackson langsung memeluknya erat dari belakang agar tidak melukai orang lain ataupun dirinya sendiri karena sebelumnya sang ibu sudah mencoba bunuh diri.


"Tenanglah atau aku tidak akan menyelamatkan putramu!" Suara tegas Jessi berhasil membuat wanita tersebut terdiam seketika dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Benarkah kau akan menyelamatkannya!"


"Katakan di mana dia?" Jessi menatap lekat ke arah mata wanita tersebut dengan kesungguhan. Dia sudah pernah menangani Olivia yang sebelumnya juga mengalami hal serupa. Maka bukan hal sulit bagi wanita tersebut untuk mengetahui apa maksud ibu Jackson.


"Dia di samping pria itu. Lelaki jahat yang selalu menyiksa dengan berbagai macam cara, putraku bahkan tidak bisa mengenaliku karenanya." Wanita tersebut menunduk sambil memegang dadanya yang terasa sesak, mengingat saat-saat di mana putranya dianiaya jika tidak menurut.


"Maksudmu Jerry Morning." Wanita itu mengangguk, membuat Jessi mengepalkan erat kedua tangannya. Lagi-lagi pria itu menyiksa orang tak bersalah demi kepentingannya sendiri. "Siapa namanya?"


"Dion." Semua orang membelalakkan mata mendengar jawaban wanita itu, bagaimana bisa Dion adalah putranya jika pria itu bahkan terlihat berusia hampir sama dengan Jackson.


"Kau yakin?" tanya Jessi lagi.


"Aku mohon tolong dia! Putraku pasti sangat kesakitan setiap malam." Wanita tersebut bahkan merendahkan diri agar orang-orang di depannya mau menyelamatkan putranya.


"Bawa Dion kemari!" perintah Jessi dengan sorot mata tajam.


"Tapi, Nona." Jackson bingung dengan apa yang ingin dilakukan Jessi, apalagi situasi saat ini. Ibunya sedang mengalami gangguan mental, bagaimana jika semua itu hanyalah hasil dari pikirannya saja.


"Baik, Nona." Jackson hendak membawa ibunya ke kamar terlebih dahulu, tetapi wanita itu langsung mendekat ke arah Jessi.


"Aku mohon, Nona. Jangan sakiti putraku! Dia tidak bersalah." Sebuah senyum mengembang di wajah Jessi sambil memegang pundak wanita tersebut.


"Aku tahu, sekarang beristirahat lah. Biarkan aku menyelamatkan putramu terlebih dahulu!"


"Terima kasih, Nona."


Mereka pun bergegas pergi meninggalkan ruangan, sedangkan Nich menatap istrinya dengan lembut. "Apa ada sesuatu yang kau ketahui, Sweety?"

__ADS_1


Jessi hanya mengangguk sambil menggenggam tangan suaminya. "Aku pikir ada yang salah dengan anggota Virgoun. Mereka bergerak layaknya robot ketika Jerry berbicara, bahkan Johny pun seperti itu kecuali, Brian. Tapi, kita tidak tahu ada apa dengan mereka."


Nich hanya mengangguk, mengingat waktu penyerangan memang saat itu lebih seperti perang antara robot dengan robot, bukan manusia. "Bukankah Dion adalah pengkhianat?"


Wanita tersebut hanya menggeleng kecil. "Sejak awal aku curiga ada yang salah dengannya karena bisa menghubungi anak buah George di Pulau Ceria untuk Emily. Padahal tidak ada satu pun orang yang tahu jika itu adalah markas mafia, kecuali pimpinan mereka."


"Maksudmu?" Nich mengernyitkan dahi mendengar penjelasan istrinya.


"Ish, menyebalkan. Sejak bekerja di bawahku George meminta izin untuk tidak lagi berurusan dengan pembunuh bayaran dan narkoba karena hasil dari bodyguard dan penjualan senjata sudah lebih dari cukup. Mereka ingin hidup lebih baik. Jadi, aku menghapus semua jejak kejahatan mereka. Bagaimana bisa Dion dengan mudah membantu Emily?" Jessi mendengus kesal mentap suaminya. Kehamilan membuat mood-nya cepat sekali berubah.


"Menurutku memang sejak awal Dion adalah mata-mata khusus Jerry Morning yang diselipkan untuk mengawasi semua orang, termasuk keluarga Barron, Johny, Brian, dan aku. Pria itu sungguh licik."


Dahulu Jessi meletakkan chip di lengan Dion untuk berjaga-jaga dan benar saja. Maurer melaporkan benda itu hilang di tubuhnya, berarti ada orang yang mengetahui tentang benda tersebut dan mengeluarkannya agar tidak terlacak.


Tak lama kemudian, Jackson dan George datang membawa Dion yang pingsan ke hadapan Jessi dan Nich setelah membawanya dari markas. Mereka pun memanggil Dokter Hendrick agar memeriksa seluruh tubuh Dion baik luar maupun dalam.


Benar saja, terjadi sesuatu dengan Dion yang membuatnya kehilangan kendali diri. Dia hanya mendengarkan apa yang di perintahkan oleh Jerry Morning karena itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Jessi.


Sejenak Dokter Hendrick mengembuskan napas kasar, lalu memerlihatkan hasil pemeriksaan CT Scan. "Lihat ini!"


"Apa itu?"


"Ada benda asing di kepalanya yang memengaruhi cara kerja serta berpikirnya." Dokter Hendrick sendiri bingung bagaimana menjelaskan karena hal ini baru pertama kali terjadi dan jelas benda itu bersifat ilegal jika ditanam pada tubuh manusia.


"Maksudmu." Jessi meminta penjelasan lebih, sedangkan yang lainnya tetap memerhatikan dengan saksama.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjelaskan seperti apa cara kerjanya. Tapi, pengaruhnya bisa membuat kehilangan kendali diri dan juga memori. Jika benda itu tidak diambil, mungkin nyawanya tidak akan bertahan lama karena memang itu efek sampingnya. Kalau ambil dia akan kehilangan seluruh memori, layaknya bayi baru lahir. Namun, kemungkinan terburuk pria itu bisa mengalami cacat otak. Pilihan ada di tangan kalian."


To Be Continue....


__ADS_2