
Maya dan ibunya segera membawa Broto ke rumah sakit, sedangkan Jane dan beberapa warga lainnya bergerak menuju peternakan Juragan Broto beserta Damien juga John.
Setibanya di sana, Jane langsung mengambil sebuah parang yang di letakkan di perkakas para pekerja. Dia pun langsung memotong tali semua sapi. "Bagikan sapi-sapi ini kepada semua semua warga, setiap orang ambil satu!" ujar Jane yang terus membebaskan sapi dari kandangnya.
Para penjaga peternakan hendak menghentikan wanita itu, tetapi John segera menghalangi. "Biarkan dia berbuat apa pun!"
"Tapi, Tuan. Bagaimana kalau Juragan Broto sampai tahu?" Tentu saja pekerja tersebut takut jika pak tua itu akan memarahinya jika membiarkan para hewan dibebaskan oleh Jane, sedangkan dulu saja ketika seekor sapi terkena penyakit dan berakhir mati, malah para pekerja yang harus mengganti rugi karena dianggap tidak becus dalam bekerja.
"Aku yang akan tanggung jawab nantinya. Kau ikuti saja perintah wanita itu," ujar John meyakinkan pekerja tersebut.
Para warga yang awalnya ragu langsung berbondong-bondong mengambil tali sapi satu satu dan menarik hewan tersebut keluar dari tempatnya. Entah berapa banyak ekor sapi yang Jane bebaskan serta dibagikan pada para warga, hingga semua penghuni kampung berkumpul demi mendapatkan sapi gratis tersebut.
Setelah puas membebaskan sapi-sapi tersebut Jane lantas melangkah menuju tempat penyimpanan jerami. Tanpa membuang waktu wanita tersebut menyebarkan jerami di berbagai tempat dan membakar tumpukan jerami setelah semua hewannya di keluarkan.
Para pekerja peternakan hanya bisa menyaksikan amarah Jane. Satu-satunya warga baru yang mampu memangkas kesombongan Juragan Broto hingga ke akarnya. Awalnya mereka takut, jika tindakan tersebut akan dituntut oleh Pengacara John, tetapi ternyata pria itu malah membiarkannya begitu saja.
"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya, rumahku harus kembali seperti semula. Jika sampai Pamanmu itu berulah lagi, jangan salahkan aku mengambil nyawanya sebagai ganti!" ancam Jane kepada John.
Mau tak mau pria itu hanya bisa mengangguk patuh, Jane hanya ingin hidup tenang. Namun, tak menyangka malah hampir dibunuh hidup-hidup oleh pamannya sendiri dan dengan bodohnya, dia tidak mengetahui hal itu.
"Maafkan semua tindakan Paman Broto para warga sekalian." John membungkuk cukup lama karena malu akan tindakan Pamannya. "Saya berjanji akan memberikan kalian keadilan yang pantas dan siapa pun yang sebelumnya ditindas boleh datang ke tempat saya jika ingin melaporkan. Sapi-sapi itu, anggaplah sebagai ganti rugi kalian."
Mereka pun bersorak ria ketika sang pengacara sudah berbicara. Siapa yang tak suka jika diberikan seekor sapi sebagai kompensasi. Dalam hati mereka berterima kasih atas kehadiran Jane sebagai penegak keadilan di desa tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona, Tuan," ucap para warga silih berganti sebelum akhirnya beranjak pergi dan tak ada satu pun orang yang berniat memadamkan kobaran api yang membakar peternakan kandang kosong milik Juragan Broto tersebut.
Tak terasa luka di pinggang Jane sudah dibiarkan cukup lama tanpa satu orang pun yang tahu. Cahaya malam dan tak adanya lampu terang membuat wajah pucat wanita tersebut tak terlihat. Dia limbung karena lemas setelah membalas semua perbuatan Juragan Broto.
Belum sempat wanita itu jatuh ke tanah, Damien sudah lebih dulu menangkap tubuhnya. "Jane," panggil pria tersebut sambil mengguncang tubuh Jane.
"Stella." Hanya itu kalimat terakhir yang Jane katakan sebelum akhirnya tak sadarkan diri di pelukan Damien.
"Jane, sadarlah!" Dengan panik pria tersebut langsung membawa Jane ke dalam mobil diikuti oleh John.
"Apa yang terjadi?"
"Kau cari Stella, aku akan membawanya ke rumah sakit." Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah Damien, dia melangkah menuju kemudi, tetapi dihentikan lagi oleh John.
"Adik Jane dan Jessi. Baiknya segera kau temukan sebelum mereka melahapmu." Tanpa menjelaskan panjang lebar, Damien bergegas memasuki mobil dan meninggalkan John yang masih berdiam diri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sejak kapan mereka memiliki adik." Pria tersebut lantas melangkah pergi menuju rumah Jane sebelum. Dia hanya mengetahui jika Jane dan Jessi adalah kakak beradik, tetapi soal Stella, John memang tidak tahu apa-apa karena ketika kembali dari Negara N, dia pergi ke negara lain terlebih dahulu untuk menjalankan tugas, sehingga tidak datang ke Negara X bersama Jane dan belum sempat John menemui wanita tersebut setelah pindah ke desa.
Di Negara lain, Jessi yang tengah bercengkrama bersama suaminya tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari salah satu mata-mata yang ditempatkan di desa tersebut. Dia hanya diizinkan untuk keluar jika keadaan sangat genting atau mendapat perintah dari Stella agar tidak ketahuan oleh Jane.
"Apa?" Jessi langsung berdiri dari posisinya ketika mendengar laporan di sambungan telepon jika rumah Jane dibakar oleh orang di desa itu. "Bagaimana kondisi Stella dan Jane?"
"Nona Stella aman, Nona Jane sedang mengusut hal itu, Nyonya," lapor seorang anak buah melalui sambungan telepon.
"Awasi terus dan jangan biarkan apapun terjadi pada mereka! Aku akan segera ke sana." Tanpa menunggu jawaban Jessi bergegas mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
"Ada apa, Sweety?" tanya Nicholas di sampingnya istrinya.
"Rumah Jane dibakar orang. Kita harus ke sana, Sayang."
"Aku akan menemanimu, bersiaplah!" Jessi dengan cepat mengangguk dan segera mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Nicholas terlebih dulu menghubungi asistennya agar menyiapkan jet pribadi segera dan setelah itu sama-sama bersiap seperti halnya sang istri.
Selama ini Jessi memang meletakkan mata-mata yang hanya diketahui oleh Stella. Kondisi Jane yang tak jujur akan penyakitnya membuat mereka khawatir jika membiarkan wanita tersebut tinggal di rumah seorang diri jika Stella tidak ada.
Bagaimanapun juga, Jane memiliki watak yang sama dengan Jessi, sama-sama keras kepala dan akan marah jika tahu urusan mereka diganggu. Namun, Jessi tetap akan datang untuk memastikan sendiri kalau kondisi mereka saat ini baik-baik saja.
"Sayang, bukankah kita harus membawakan sesuatu untuk mengunjungi Jane?" Setelah bersiap, Jessi langsung bergelayut manja di lengan suaminya sebelum berangkat.
Nich hanya bisa menghela napas halus jika sudah melihat gelagat aneh Jessi di kala meminta sesuatu yang menurutnya kali ini bukanlah hal baik. "Apa yang kau inginkan, Sweety?"
Wanita itu pun, segera membisikkan sesuatu yang membuat Nicholas seketika membelalakkan mata. Lagi-lagi Jessi menginginkan sesuatu yang absurd baginya. "Tapi, Sweety—"
"Ini permintaan Baby." Jika Jessi sudah mengerucutkan bibir sambil mengedipkan mata menggoda juga mengelus perut dan mengeluarkan ekspresi imut, sudah pasti Nich hanya bisa mengangguk kecil tanpa diizinkan untuk menolak permintaan ibu hamil. Sesuai dengan ucapan dokter, keinginan ibu adalah kemauan bayi yang harus dituruti. "Baiklah, ayo berangkat!"
To Be Continue..
Hay teman-temannya, silakan dikomen di Paragraf jika ada typo, karena Rissa kejar waktu belum sempat revisi.
Terima kasih sudah membatu mengoreksi.
__ADS_1