Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kesayangan Daddy


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasanya, seorang pria dengan setelan jas lengkap di tubuhnya berjalan sambil mendorong sebuah stroller berisikan putri tercintanya. Tiga bulan berlalu sejak kelahiran triplets, tetapi Jessica masih enggan berpisah dengan ayahnya. 


Si kecil selalu saja rewel, bahkan sampai demam jika berjauhan dari Nicholas. Mau tak mau, pria tersebut selalu membawa putrinya ke kantor maupun ke mana dia pergi layaknya hot daddy. 


Dia tidak malu melakukan semua itu, bahkan malah membuat para karyawan semakin kagum sekaligus bangga pada atasan mereka yang menjadi panutan, juga standar suami idaman. Nicholas melangkah dengan sebuah senyuman di wajah karena si kecil kebanggaannya yang senantiasa menemani. 


"Pagi, Tuan," sapa para karyawan yang dilalui oleh Nicholas. 


Pria itu hanya mengangguk dan tetap melanjutkan langkah menuju ruangannya. Tempat yang seharusnya memberikan kesan dominasi dan menunjukkan jiwa kepemimpinan. Kini berubah menjadi ruang teraman bagi si kecil. 


"Will, apa jadwalku hari ini?" tanya Nicholas pada asistennya dan langsung mengambil Jessica dari stroller untuk diletakkan di baby boks samping meja kerjanya. 


"Hari ini ada meeting dengan klien dari produk makanan bayi, Tuan," lapor Willy pada Nicholas. 


"Benarkah, kalau begitu atur pertemuannya di sini saja!" 


"Baik, Tuan." 


Setelah kelahiran bayi-bayinya, Nicholas memang tengah gencar-gencarnya berinvestasi pada produk-produk bayi. Baik dari segi perlengkapan, sampai makanan instan dan camilan para bayi. Selain dikarenakan kesadaran diri dalam memberikan nutrisi pada anak sejak usia dini itu sangat penting. Nicholas juga ingin agar anak-anak bisa tumbuh sehat melalui produk di bawah naungan Bannerick Group. 


Beberapa waktu kemudian, dua orang yang dijadwalkan bertemu hari ini sudah tiba bersama dengan Willy memasuki ruangan. "Selamat siang, Tuan Nich," sapa seorang wanita yang cukup berusia, mungkin seumuran Laura. 


"Selamat siang, Nyonya. Silakan duduk!" ujar Nicholas mempersilakan kedua wanita itu. 


Seorang wanita lainnya tampak duduk dengan hati-hati, membuat Nicholas mengernyitkan dahi melihat gerakannya seperti Jessi sebelumnya ketika baru beberapa hari melahirkan. "Apa terjadi sesuatu, Nyonya?" tanya Nicholas sambil menatap wanita itu tanpa basa-basi. 


"Ah, maaf, Tuan. Saya baru saja habis melahirkan secara caesar. Jadi sedikit hati-hati ketika duduk di tempat rendah," jawab wanita itu merasa tak enak hati karena mendapat lirikan dari atasannya. Melahirkan secara caesar memang memerlukan waktu pemulihan yang lebih jika dibandingkan dengan lahiran normal. Apalagi sebelumnya dia mengalami hal buruk pada jahitan bekas operasi sehingga diperlukan rasa hati-hati yang tinggi agar tidak terulang kembali dan malah berakibat fatal.


"Maaf, Tuan Nich. Dia baru mulai bekerja setelah cuti melahirkan sebelumnya. Jadi mungkin masih merasa sedikit sakit," ujar sang atasan memberi alasan pada calon investornya. 


Nich hanya mengangguk kecil sambil membaca berkas-berkas yang mereka bawa, sedangkan keduanya hanya bisa membeku melihat kebisuan Nicholas setelah pertanyaan terakhirnya. Sesekali asisten wanita itu mengedarkan pandangan ke segala sisi. Sungguh sebuah ruangan yang cukup berbeda dibandingkan dengan para pemimpin lainya. 


Setiap sudut benda yang dirasa berbahaya seperti ujung meja, kursi, maupun benda-benda lainnya sudah dilapisi karet atau silikon seperti di rumahnya. Di mana hal itu dilakukan demi mengantisipasi agar tidak melukai anak-anaknya. Namun, benda tersebut di ruangan seorang bos pria. Mungkin istri dan anaknya sering kemari. Pikir wanita itu. 

__ADS_1


Hingga sesaat kemudian, suara tangisan seorang bayi membuat keduanya pun terhenyak dan saling berpandangan. 


"Tunggu sebentar!" ujar Nicholas yang lantas langsung berdiri serta mengambil Jessica dari baby boks di samping kursi kebesarannya. "Ush, ush, ush, kesayangan Daddy sudah bangun." 


Dengan lihainya Nicholas menenangkan sang putri, lantas mengambil botol susu yang sebelumnya sudah disiapkan sang istri. Kini triplets memang sudah bersedia meminum susu formula jika berjauhan dari ibunya. 


Jessica langsung terdiam sambil mengenyot botol susunya di gendongan Nicholas. Kedua wanita itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. 


Seorang pria tampan, gagah, dan berwibawa juga memiliki posisi yang tinggi bekerja sambil merawat bayinya. Sungguh suatu kejadian langka dan sangat jarang terjadi. Bahkan suami mereka saja enggan untuk membantu merawat bayi setelah lelah bekerja seharian. Pantas saja ada aroma khas bayi di ruangan ini. Perpaduan antara, bedak, minyak telon dan bau perlengkapan bayi lainnya.


Nicholas pun membawa Jessica dalam dekapannya sambil kembali meninjau berkas yang mereka bawa setelah anaknya kembali tenang. "Saya akan berkoordinasi dengan bagian pangan dulu nantinya tentang kandungan nilai gizi yang ada di sini. Apa kalian membawa beberapa produknya?" tanya Nicholas kembali melanjutkan pembahasan mereka. 


"Ada, Tuan." Sang asisten mengambil beberapa sampel produk bayi milik mereka yang beredar di pasaran maupun produk dengan varian baru. Lebih dari dua puluh kemasan makanan bayi ditata sedemikian rupa di atas meja. 


Namun, sedetik kemudian, suara Jessica yang buang air lengkap dengan kentutnya langsung menusuk indra penciuman beberapa orang di sana. "Ah, maaf. Sepertinya putriku sedang buang air. Permisi sebentar!" 


Tanpa malu-malu, Nicholas melangkah pergi meninggalkan dua wanita yang masih tercengang atas tindakannya ke ruang pribadi Nicholas. Dengan telaten pria tersebut membersihkan kotoran sang bayi, dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. 


Sementara itu, dua orang yang ditinggalkan bersama Willy akhirnya tak kuasa menahan rasa penasaran di dalam dada mereka. "Apa Tuan Nicholas itu duda, Tuan?" 


"Lalu istrinya?" 


"Nyonya, Jessi juga merawat kedua bayi yang lainnya. Hanya saja, kedua kakaknya seperti enggan lama-lama di kantor, sehingga hanya di saat ingin saja Nyonya Jessi ikut kemari," jawab Willy seakan memberi titik  terang atas rasa ingin tahu kedua wanita itu. 


"Mereka kembar tiga?" tanya mereka seolah tak percaya, tetapi mendapatkan anggukan dari Willy. Sungguh suatu keberuntungan yang melimpah bagi keluarga Bannerick. Sudah berasal dari keluarga kaya, memiliki keturunan langsung tiga pula, dan yang paling membuat para ibu-ibu iri adalah perhatian Nicholas sebagai seorang ayah.


Tak lama kemudian, Nicholas pun keluar bersama bayi cantiknya. Pria tersebut tampak semakin menawan ketika membawa Jessica bersamanya. "Saya rasa pembahasan kali ini cukup. Tinggalkan produk-produk itu di sini! Nanti setelah tim peneliti kami memastikan semuanya aman dan tidak bahaya bagi bayi atau ada yang perlu perbaikan, saya akan menginvestasikan sejumlah dana sesuai yang kalian ajukan nantinya. Biar asisten saya nanti mengabarkan pada kalian." 


"Baik, Tuan," ucap wanita yang menjadi atasan. 


"Oh, iya. Ngomong-ngomong berapa lama cuti melahirkan biasanya?" tanya Nicholas lagi. 


"Sembilan puluh hari, Tuan." Wanita tersebut menjawabnya dengan gugup. Entah mengapa dia merasa akan ada permintaan dari Nicholas yang merugikan pihaknya nanti.

__ADS_1


"Berapa lama cuti melahirkan di perusahaan kita, Will?" Nicholas langsung menatap asistennya tanpa menunggu lama. 


"365 hari dan tetap mendapat gaji, Tuan. Sesuai aturan pemerintah di negara ini," jawab Willy tegas karena memang seperti itulah kebijakan di Negara N bagi ibu melahirkan. 


Nicholas hanya mengangguk kecil, sedangkan dua wanita di depannya tampak  menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya. Terutama wanita yang hampir paruh baya itu. Dia menyadari jika perusahaannya sudah menyalahi aturan tentang masa cuti bawahan dan memaksa para ibu yang baru melahirkan agar segera kembali bekerja.


"Saya harap, Anda mengembalikan hak cuti mereka seperti halnya sewajarnya. Apalagi kebijakan di Negara N seperti itu, kalau Anda tidak sanggup, maka tidak perlu menunggu lama. Saya akan mengundurkan niat untuk berinvestasi di perusahaan Anda."


"Saya bersedia, Tuan. Saya akan mengembalikan hak cuti mereka seperti sewajarnya," ujar wanita tersebut tanpa banyak berpikir karena memang kebijakan perusahaannyalah yang menyalahi aturan cuti wanita, dan dia akan menggunakan alasan ini untuk melawan para jajaran yang tidak setuju nantinya. 


"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, Nyonya. Sebagai seorang ibu yang bekerja, menurut Anda apa yang paling sulit bagi Anda?" tanya Nicholas lagi pada asisten wanita itu. 


Sejenak dia terdiam memikirkan perkataan Nicholas. Mendapatkan tatapan tajam dari dua orang tentu saja jantungnya berdegup cepat. Khawatit kalau nanti akhirnya dia salah menjawab dan malah menjadikan sesuatu yang buruk bagi dirinya sendiri. 


Akan tetapi, Nicholas seakan mengetahui kerisauan wanita itu. "Tidak apa-apa. Katakan saja! Ini akan saya jadikan referensi untuk perusahaan saya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan kerja sama kita." 


Ucapan Nicholas seketika mengangkat beban berat di dada atas kekhawatirannya yang berlebih. "Sebagai wanita yang berkerja delapan jam bahkan bisa jadi dua belas jam. Hal yang menyulitkan bagi kami adalah." Sejenak wanita itu menghentikan kalimatnya karena merasa keluhannya terlalu vulgar. Akan tetapi, Nicholas mengisyaratkan agar dia melanjutkan. "Hal paling sulit bagi kami adalah tidak adanya ruang khusus, juga penyimpanan khusus bagi kami perempuan yang memberikan ASI perah pada bayi kami. Jika kami melakukan hal itu di kamar mandi, tentu saja mengurangi kebersihan dan higienis dari susu itu sendiri jika nantinya diberikan pada anak kami."


Nicholas hanya manggut-manggut. Benar apa yang dikatakan wanita itu. Apalagi wanita yang menahan untuk tidak menyusui selama delapan jam lamanya pasti buah dadanya akan terasa sakit dan bengkak, seperti Jessi yang kadang mengeluhkan hal itu jika Jessica bersamanya atau kedua kakaknya dibawa Laura, yang berarti sang istri tidak mengeluarkan ASI selama mereka tidak ada. 


"Apa ada lagi?" 


"Sebenarnya, kami terkadang kebanyakan menitipkan anak kami ke penitipan bayi. Tapi, terkadang ada rasa was-was juga ketika melakukan hal itu. Karena sekarang 'kan banyak kekerasan anak usia dini," ucap wanita tersebut mengeluarkan apa yang mengganjal di hatinya sebagai seorang ibu yang bekerja. 


"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas informasinya. Senang bekerjasama dengan kalian!" Nicholas pun menjabat tangan kedua wanita tersebut, sebagai pertanda jika apa yang mereka bahas sudah tiba di penghujung pembahasan. 


Mereka pun, pamit undur diri dan melangkah pergi. Dalam hatinya merasa iri memiliki pemimpin perusahaan seperti Nicholas yang begitu mendengar suara hati bawahannya. 


Sementara itu, sepeninggal kedua wanita tersebut Nicholas mulai membahas kebijakan barunya bersama Willy. "Apa perusahaan kita juga tidak menyediakan tempat seperti itu, Will?" 


"Tidak, Tuan."


"Kalau begitu, ubah tempat meeting di lantai sepuluh menjadi area playground untuk anak-anak. Dan buat lowongan pengurus penitipan anak di perusahaan kita. Juga sediakan tempat khusus untuk ibu yang ingin memerah atau menyimpan ASI-nya." Nicholas akhirnya memberikan keputusan yang diangguki oleh sang asisten. 

__ADS_1


Dia melakukan hal itu demi kesejahteraan karyawannya. Dengan begini, mereka pun akan bekerja maksimal karena tak ada lagi kekhawatiran tentang anak-anak mereka di rumah karena pada waktu istirahat bisa mengunjungi langsung di area anak. 


To Be Continue..


__ADS_2