Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Korban Brian Selanjutnya


__ADS_3

"Aku sebagai rakyat yang baik pasti akan menyumbangkan suara untuknya nanti." Selly tersenyum sangat lebar, jika mampu mengambil hati pria di depannya bukankah dia akan menjadi menantu seorang Presiden. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat wanita tersebut melambung tinggi.


Namun, tidak dengan Brian. Dia yang melihat wanita itu begitu antusias hanya menyunggingkan senyum jahat.


Semua wanita memang sama saja, materialistis kecuali, wanitaku.


"Oh, maaf, Tuan Brian. Aku lupa menawarkan, apa kau ingin minum sesuatu?"


"Terserah kau saja, Nona."


"Baiklah, tunggu sebentar!" Wanita itu beranjak dari posisinya, pergi ke dapur untuk mengambil segelas minuman dan beberapa makanan ringan. Dia kembali meletakkan di atas meja di depan Brian. "Silakan, Tuan. Aku hanya ada ini."


"Terima kasih, Nona."


"Kalau begitu nikmatilah waktumu! Aku akan mandi sebentar, tubuhku penuh dengan keringat." Pria itu mengangguk menampilkan wajah polosnya dengan baik.


Selly mencoba untuk memberikan kode kepada Brian, dia berjalan dengan begitu menggoda iman. Jika saja yang berada di apartemen ini adalah Johny atau yang lainnya, sudah pasti mereka akan tergoda dengan tubuh gitar spanyol milik Selly.


Namun, tidak dengan Brian. Dia membiarkannya hal itu untuk beberapa saat, hingga wanita tersebut menghilang dari pandangannya. Lalu, mulai beranjak dari kursi menuju kamar Selly dengan membawa gelas minuman di tangannya.


Ketika membuka kamar milik wanita itu pintunya tidak dikunci. Bukankah Selly terlalu sengaja. Brian kembali melangkah menyusuri setiap sudut kamar wanita itu, memeriksa apakah ada CCTV atau sejenisnya di dalam ruang ini.


Merasa sudah aman, dia berjalan mendekat ke arah kamar mandi. Suara gemericik air terdengar begitu jelas di sana, ketika Brian mencoba untuk membuka pintu, lagi-lagi tidak dikunci. Terlihat seorang wanita tengah berdiri di dalam bilik mandi kaca dengan kondisi tanpa busana.


Bukan terkejut atau malu, Selly malah menatapnya dengan menyunggingkan senyum nakal. Memperlihatkan setiap jengkal tubuh yang padat dan berisi. Menggoda iman setiap lelaki yang menatapnya dan tetap melanjutkan aksi mandinya, seolah Brian tidak ada di sana.


Brian berjalan mendekat ke bilik kaca tersebut dengan senyum nakal di wajah dan ekspresi mesumnya, ikut berada di bawah guyuran air shower. Pria itu memeluk tubuh Selly dari belakang yang tidak tertutupi kain sama sekali.


"Kau sangat seksi." Brian berbisik dengan sensasional di telinga Selly membuat wanita tersebut melambung tinggi. Jika dia bisa mendapatkan tubuh pria di belakangnya, pasti masa depannya akan cerah.


"Brian." Suaranya begitu menggoda, wanita itu mulai merasakan getaran yang aneh ketika tangan Brian meraba perutnya, lalu secara perlahan turun ke bawah. Pria tersebut memasukkan jari ke dalam jurang jahanam milik Selly membuat wanita itu mengeluarkan auman eksotis khas.


Dengan kasar Brian mendorong wanita tersebut hingga membentur dinding, membalikkan tubuh sampai mereka berhadapan. Selly tidak curiga dengan tindakan Brian, dia hanya berpikir jika pria di depannya sudah tergoda.


Brian lantas mencium bibir Selly, menyesap lidah wanita tersebut hingga masuk ke rongga mulutnya. Namun, sedetik kemudian wanita itu mulai meronta-ronta, memukul dada bidang lelaki di depannya. Pria tersebut menggigit lidahnya sekuat tenaga. "Brian, sakit. Tidak bisakah kau sedikit lembut!"


"Apa kau ingin aku melakukannya secara perlahan?" Sebuah seringai iblis muncul di wajah Brian. Banyak setan yang berbisik memenuhi pikirannya, meminta untuk segera mengeksekusi wanita di depannya.

__ADS_1


"Sesuai maumu, aku akan melakukannya secara perlahan." Brian kembali meraba tubuh Selly, tetapi bukan dengan tangannya. Melainkan dengan cincin berduri yang di pasang terbalik di jarinya.


Hal tersebut membuat sang wanita meringis kesakitan, tubuhnya terluka akibat cincin berduri Brian. Darah mulai mengalir bersamaan dengan guyuran air. "Brian, apa yang kau lakukan? Sakit!"


Selly mencoba untuk memberontak tetapi Brian semakin beringas, dia mengambil sebuah belati di kantongnya dan meletakkan di leher wanita tersebut. "Tenanglah, Sayang! Ini tidak akan sakit."


"Kau gila, Brian. Kau pria gila!"


Pria tersebut tertawa dengan keras. Layaknya seorang iblis yang berhasil memakan korban. "Aku hanya membantu pemerintah mengurangi kepadatan penduduk, yang hanya berisikan wanita busuk sepertimu!"


Tanpa membuang waktu lagi Brian menusukkan belatinya di salah satu mata wanita tersebut, membuat Selly berteriak kesakitan. Setelahnya dia keluar dari bilik mandi dan menutupnya, mengubah suhu air yang mengalir itu menjadi panas.


Sang wanita semakin berteriak histeris, siapa yang menyangka jika dia malah bertemu dengan iblis berwajah manusia. Selly berteriak kesakitan, merasakan tubuh yang melepuh akibat air panas yang mengguyur tubuhnya. Dia juga tidak bisa bergerak atau lari karena sakitnya belati yang masih menancap di matanya.


Tak lama kemudian, wanita itu mulai berhenti bergerak. Bilik mandi berubah menjadi merah, Brian mematikan airnya dan meletakkan gelas minuman itu di bawah mata yang tertusuk belati. Seringai khas iblis selalu terpancar di wajahnya. Wanita itu telah mati dengan cara yang mengenaskan.


Brian merogoh ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang. "Bereskan tikus di sini!"


Tanpa menunggu jawaban dia mematikan sambungan teleponnya. Melangkahkan kaki menuju ruang televisi untuk menunggu anak buahnya datang.


Pria tersebut duduk sambil menggoyangkan gelas darah di tangannya, menatap lekat warna merah yang terlihat begitu manis di matanya. Obsesinya pada darah segar sama besar dengan keinginan untuk memiliki Jessi. Brian menghirup bau anyir layaknya sebuah minuman terharum di dunia.


"Bereskan perempuan itu!" Brian meneguk habis isi gelas lantas bergegas meninggalkan apartemen tersebut.


Anak buahnya mengangguk patuh, dia mencari di mana sang tuan menghabisi korbannya. Lantas menemukan wanita itu tergeletak tak berdaya di bawah guyuran air yang sangat dingin.


Dia mematikan aliran air, pemandangan di depannya sungguh mengerikan. Tubuh melepuh akibat air panas lalu diguyur dengan air dingin membuat kulitnya mulai mengelupas dengan mata yang bersimbah darah bekas tusukan.


Pria tersebut sebenarnya bergindik ngeri, tapi apalah daya, dia hanya seorang bawahan yang harus menuruti perintah tuannya. Dalam hati dia berharap agar orang sekejam ini segera menemukan lawan yang sepadan.


_______________


Di sisi lain, Jessi yang baru bangun dari tidurnya mulai mengerjapkan mata. Tak terasa sinar matahari sudah begitu terik. Dia bergegas membersihkan diri dan berias karena hari ini suaminya berjanji akan membawanya ke laboratorium.



Jessi yang lebih menyukai berkendara dengan motor, membuatnya lebih sering mengenakan pakaian kasual dibandingkan feminim. Celana panjang dan jaket hitam senada dengan kuda besi menjadi kebiasaan berpakaiannya setiap hari. Meskipun, terlihat sederhana, tetapi dia merasa nyaman dengan outfitnya itu.

__ADS_1


"Cantik." Jessi bermonolog di depan cermin melihat penampilannya sendiri saat ini.


Setelah siap, dia bergegas keluar dari kamarnya, menuruni tangga hendak menuju garasi. Namun, Jessi melihat Jackson yang sudah menunggu sejak tadi di tempat para anak buah berlatih.


"Jack, ada apa kemari?" Jessi menghampiri Jackson di taman dekat garasi.


"Nona." Pria itu membungkuk hormat kepada Jessi.


"Apa Angelina dan Alice baik-baik saja?"


"Baik, Nona. Mereka sudah melakukan kegiatan seperti biasa." Jessi mengangguk paham. "Tapi, saya kemari bukan karena itu."


"Ada apa?"


"Seseorang menyelidiki kembali kematian Tom Evening."


"Tom Evening?" Jessi mengernyitkan dahinya, sedetik kemudian dia menyeringai. "Apakah itu pasangan haramnya?"


"Saya belum tahu, Nona."


"Selidiki lebih lanjut, mungkin dia akan berguna kelak. Biarkan orang itu tetap menggali lubang! Kita hanya perlu mengawasi diam-diam."


"Baik, Nona."


"Kapan-kapan ajaklah istri dan anakmu kemari! Jangan mengurungnya di rumah terus kalau sudah sehat!"


Jackson menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Baik, Nona. Akan saya sampaikan nanti."


"Bagaimana kondisi Jaguar Guard?"


"Perkembangannya cukup bagus, Nona. Holding Light pun masih berjalan normal."


"Bagus, nikmatilah tumpukan tugasmu bersama George dan Olivia, hingga Mario dan Maurer kembali! Aku pergi dulu."


"Hati-hati di jalan, Nona." Jackson membungkuk melihat kepergian Jessi, sedangkan wanita itu hanya melambai lantas menaiki motornya meninggalkan kediaman Light.


Jackson memang harus bekerja ekstra kali ini. Masalah yang datang dari para anak buah Jessi menghampiri silih berganti. Sebagai orang yang pernah berada di posisi Mario dan Maurer tentu saja dia tidak keberatan menggantikan pekerjaan yang menumpuk ini.

__ADS_1


Baginya, Jessi mungkin lebih lelah. Masalah anak buah tak ada habisnya, entah sudah berapa uang yang perempuan itu keluarkan untuk mereka. Namun, wanita tersebut tidak pernah menghitungnya. Ditambah karena dialah keluarga kecilnya bisa berkumpul kembali dengan keamanan yang terjamin. Jackson merasa bersyukur bisa bertemu dan melayani orang sebaik Jessi, yang menganggap para bawahan sebagai keluarga.


TBC.


__ADS_2