Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Keluarga Kim Dae Ho ( Part. 4 )


__ADS_3

Nich yang sudah tiba di Negara K dengan segera bergerak menuju apartemen yang di tempati Jessi dan yang lainnya.


Dia tidak akan mengulur waktu kali ini. Pria itu akan mengajak Jessi menikah terlebih dahulu di sini, sebelum mereka kembali ke Negara N. Nich tidak ingin kehadiran Brian membuat Jessi goyah dengan pernikahan mereka.


Setibanya di area apartemen pria itu langsung saja masuk ke dalam karena kata sandi untuk kunci pintu sudah diberitahukan oleh T sebelumnya. Ketika memasuki bagian dalam, suasana terlihat begitu sepi. Tempat termewah tentu saja dengan fasilitas hunian yang luas.


Nich menyusuri setiap sudut apartemen itu dengan hati-hati, langkah kaki pria tersebut seperti udara yang tak dapat di dengar oleh siapapun. Senyum terukir di wajah tampan nan mempesona tatkala melihat seorang wanita tengah berdiri di area balkon, mengintai sasaran dengan teropong di tangannya.


Jessi yang masih fokus menatap kediaman Kim Dae Ho. Tidak sadar ketika Nich berjalan mendekat ke arahnya. Hingga pria itu mengeluarkan suara berbisik di telingnya. "Apa yang sedang kau lakukan, Sweety?"


"Nich." Jessi yang terkejut seketika melepaskan teropong di tangannya. Namun, dengan segera di tangkap oleh Nicholas.


"Apa kau sudah melupakanku, Sweety?" Nich mengeluarkan raut wajah manjanya dengan mengerucutkan bibir.


Melihat ekspresi Jessi membuat Nich menyunggingkan kembali senyum manisnya, sedangkan wanita di depannya masih belum tersadar dari rasa terkejut dan tetap menganga menatap pria di belakangnya. "Apa aku berhalusinasi karena kurang tidur?"


Nich memeluk calon istrinya dari belakang, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Namun, wanitanya malah berpikir bahwa dia hanyalah halusinasi. "Aku merindukanmu, Sayang."


"Nich, ini sungguh kau?" Pria itu mengangguk di pundaknya. Membuat Jessi memutar tubuh agar mereka saling berhadapan, lalu memeluk tubuh kekar tersebut. "Aa, syukurlah kau datang!"


"Apa kau merindukanku, Sweety?"


"Tidak! Aku sedang butuh personil." Seketika Nich melepaskan pelukannya.


"Kau sungguh wanita yang kejam." Nich meletakkan bokongnya di kursi yang tersedia di balkon. "Apa yang sudah kau dapatkan selama di sini, Sweety?"


"Bukankah kau sudah tahu semuanya? Anak buahmu yang mengerjakan banyak hal untukku."


"Apa mereka terlalu sulit untuk dihadapi hingga kau berlama-lama di sini, Sweety?"


"Bukan sulit, tetapi nyawa Mario mungkin dalam bahaya kali ini." Jessi menurunkan teropong dan meletakkan di meja. "Mereka sama kejamnya dengan kelompok mafia yang menculik Angelina."


Jessi meletakkan bokongnya di sebelah Nich, membuat pria itu mengalungkan tangan kanan di bahunya. "Apa rencanamu selanjutnya?"


"Kebusukan mereka terlalu banyak. Aku akan mengeluarkan Mario dan Kim Dae Ho terlebih dahulu." Jessi menggeser duduknya menjadi berhadapan dengan Nich. "Tapi, R bilang rumah itu terlalu berbahaya untuk dimasuki. Jadi, bagaimana caraku membawa mereka keluar?"

__ADS_1


"Biarkan T, R, X, dan Y yang membawa mereka keluar dari sana! Kau cukup memberikan perintah di sini, Sweety."


Wanita itu mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Nich. "X, Y? Kau membawa spesies seperti itu lagi kemari?"


Nich hanya mengangguk. "Mereka tidak akan terpengaruh dengan racun yang ada di kediaman itu, dengan begitu kau dan yang lain tetap aman dan Mario bisa dibawa keluar."


Jessi bertepuk tangan mendengar penuturan Nich. "Kau memang luar biasa, Nich!"


"Cih ... apa kau baru menyadari kalau aku ini pria yang mengagumkan, Sweety?"


"Ya ya ya, kau memang hebat dalam hal kepercayaan diri." Jessi meletakkan kepalanya di sandaran kursi. "Kira-kira apa cara yang tepat untuk membalas mereka?"


"Apa yang ingin kau lakukan?" Nich menyibakkan anak rambut Jessi ke belakang telinga. Embusan angin mengibarkan bulu matanya yang lentik, terlihat begitu indah di pandangannya.


"Aku ingin memusnahkan seluruh kebun racun dan ganja itu. Ditambah dengan menggiring istri Jae Wook agar memergoki mereka di rumah itu." Jessi diam sejenak untuk berpikir. "Nich, apa kau bisa mencarikanku Crop Dusters."


"Crop Dusters." Sejenak Nich memicingkan matanya menatap Jessi. "Untuk apa?"


"Tentu saja untuk bermain."


"Aku ingin membuat barbeque dengan itu."


"Firasatku berkata buruk saat kau mengatakan hal itu." Nich berdiri dari posisinya. Pria itu berjalan menuju kamar di sebelah balkon tempat mereka bercengkrama. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah akibat perjalanan jauh di ranjang.


Jessi langsung mengikuti, mendekat ke arah Nich yang merebahkan tubuh, lalu menarik-narik tangan pria itu agar bangun dari posisinya. "Ayolah, Nich. Bantu aku cepat!"


Nich tak bergeming dari posisinya dia meletakkan tangannya di atas kepala untuk menutupi mata. "Memohonlah dengan cara yang benar!"


"Sayang, ayolah bantu aku!" Jessi mengayunkan tangan kanan Nich, membuat pria itu menyunggingkan senyum karena panggilan sayang dari calon istrinya.


"Memohonlah yang benar, Sweety! Give me a kiss, quickly. Aku butuh asupan." Nich sudah menyiapkan bibirnya, tetapi bukan ciuman yang dia dapatkan, melainkan tepukan dari telapak tangan Jessi.


"Dasar mesum!"


Hal itu, berhasil membuat pria tersebut beranjak dari tidurnya dan segera duduk di atas ranjang. "Yak?! Sweety, mengapa kau itu tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Kau tahu? Kita sudah tidak bertemu beberapa hari, tapi kau tidak mau memberiku ciuman setelah aku menyusulmu. Dasar wanita kejam!"

__ADS_1


Jessi menatap wajah pria di depannya dengan lekat dan tanpa aba-aba, secepat kilat dia mengecup bibir Nich. "Cerewet!" Setelah itu wanita tersebut melangkahkan kaki menuju balkon, meninggalkan Nich yang masih membatu karena tindakannya.


"Sayang, bisakah kau ulangi sekali lagi! Aku belum puas kalau hanya sekilas." Nich yang tersadar dari ekspresinya langsung menyusul Jessi yang kembali ke balkon.


"Kau jadi banyak maunya, Nich." Jessi kembali meneropong kediaman Kim Dae Ho.


Nich menggelengkan kepalanya. "Kau tak boleh lagi memanggilku seperti itu, Sweety! Harus dengan sebutan sayang, macam tadi!"


Pria tersebut memeluk kembali Jessi dari belakang. Menghirup aroma khas dari tubuhnya yang menenangkan. "Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?"


"Mengincar mangsa."


"Kapan kau akan menggunakan Crops Dusters itu?"


"Lusa."


"Serahkan padaku! Apa yang ingin kau lakukan dengannya?"


"Memberikan hujan pada tempat iblis itu! Aku akan menciptakan neraka sebelum ajal menjemput mereka." Jessi menurunkan teropong di tangannya, sorot mata menajam seakan siap untuk menghunus siapapun yang mengusiknya saat ini.


"Aku akan menuruti maumu."


Mereka mulai akan mulai bergerak besok. Tanaman beracun di kediaman Dae Ho membatasi ruang gerak Jessi dalam menjalankan aksinya.


Jessi sungguh harus memikirkan rencana yang matang ketika ingin menghabisi para iblis itu. Mereka tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Apalagi masih ada Mario yang keberadaannya masih hanya dalam perkiraan.


Jika mereka bergerak gegabah sejak awal mungkin posisinya akan sama dengan yang dialami oleh Mario saat ini.


TBC.


Hallo temen-temen pembaca setia.


Sebelumnya aku mau berterima kasih buat kalian yang membandingkan karya aku yang masih pemula ini dengan karya Author famous di platform ini.


Sejak awal Author sudah menjelaskan ya, kalau ada kesamaan latar, tempat, alur dan tokoh adalah murni karena ketidaksengajaan. Jadi, harap dimaklumi dan diharapkan untuk memberikan komentar yang tidak menjatuhkan semangat Author dalam berkarya.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2