
Pertarungan sengit antara Jessi dan pembunuh membuat kewalahan kedua belah pihak. Tenaga mereka sama-sama terkuras habis akibat bertarung begitu lama. Menyerang, menangkis, menendang, dan menghindar terus dilakukan pria dan wanita itu demi menjatuhkan lawannya.
Terlalu fokus dengan pertarungan membuat mereka lengah, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Keadaan tak terduga menyebabkan keduanya terkesiap tanpa bisa menghindar.
Suara orang tertabrak oleh mobil dengan keras terdengar begitu jelas di telinga Jessi. Apakah ini akhir hidupnya? Dia terkejut ketika tubuh itu melambung di udara, tetapi entah mengapa ia tidak merasakan sakitnya.
Sesaat kemudian, Jessi membuka matanya. Dia terkejut karena sudah berada di balik sebuah pohon bersama seseorang.
"T!" Wanita itu terkejut melihat anak buah Nichlah yang menyelamatkannya dari tabrakan. Jessi memang pernah melihat T sekali, ketika dia mengambil mayat di markas atas perintah Nich saat itu.
"Ya, Nyonya."
"Kau mengikutiku?"
"Saya hanya ditugaskan oleh tuan untuk menjaga Anda dalam kondisi darurat."
"Oh Tuhan, syukurlah." Jessi merasa lega karena masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Jessi mengintip ke arah jalan, mobil itu jelas ingin menabrak mereka secara bersamaan. Terlihat pembunuh sudah tergeletak dengan tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah, mungkin dia sudah mati saat itu juga.
Sementara di ruang meeting, Nich sedang meninjau laporan-laporan jalannya proyek yang mereka kerjakan. Tiba-tiba saja, suara alarm darurat dari ponselnya berbunyi menampilkan peringatan.
Nich yang terkejut secara spontan berdiri dari posisi duduknya. "Rapat dibatalkan! Will ambil alih pekerjaanku!"
"Baik, Tuan."
Segera Nich berlari menuju area parkir, dia terus menatap posisi lokasi Jessi melalui GPS di ponsel. Alarm darurat memang akan berbunyi setiap kali T melakukan tindakan karena ini berarti wanitanya sedang berada dalam bahaya.
Pria itu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kecemasan jelas terlihat di wajah tampannya. Dia berharap T belum terlambat untuk menyelamatkan Jessi. Karena memang T diatur seperti itu agar tidak menganggu kebebasan calon istrinya itu.
Setelah beberapa saat, Nich tiba di lokasi. Terlihat seseorang tengkurap, tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Pria itu dengan panik langsung berlari mendekat, syukurlah bukan wanitanya.
"Sweety! Sweety!" Nich berteriak sambil mencari-cari calon istrinya itu.
"Aku di sini!" Mendengar jawan Jessi, Nich langsung berlari menghampirinya. Raut kecemasan terlihat sangat jelas bagi siapa pun yang melihatnya.
Nich langsung memeluk tubuh wanita itu, dia memindai setiap inchi tubuh Jessi. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja. Lihat! Wajahmu jelas terluka!" Seketika Nich menoleh tajam kepada anak buahnya, melihat sebuah sayatan di pipi Jessi membuatnya berang. "T, apa kau lupa menjalankan tugasmu hingga membuatnya seperti ini?"
"Tidak, Tuan. Saya hanya menjalankan sesuai perintah Anda untuk tidak mencampuri kesenangan Nyonya."
"Alasan." Nich mendengus kesal mendengar jawaban anak buahnya. "Kau bersihkan tempat ini!"
__ADS_1
Pria itu hanya mengangguk kaku.
"Sweety, ayo kembali! Kita bersihkan terlebih dahulu luka di wajahmu." Tanpa menunggu jawaban dari Jessi, segera Nich membopong wanitanya menuju mobilnya.
Dia tidak ingin luka itu dibiarkan berlama-lama sehingga bisa menyebabkan infeksi. Tanpa mempedulikan orang yang terluka di jalan, Nich langsung menancap gas mobilnya.
"Bagaimana kau tau aku di sini?" tanya Jessi.
"Aku akan tahu di mana pun kau berada."
"Kau menyadapku?"
Nich menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, aku hanya ingin melindungimu."
"Sejak kapan kau meminta T untuk menjagaku?"
"Ketika seorang penyusup bertopeng memasuki kamarmu malam itu."
"Penyusup bertopeng? Topeng apa?" Jessi langsung menatap pria di sampingnya dengan tajam, dia syok mendengar penyusup bertopenglah yang memasuki kamarnya malam itu.
"Topeng wajah yang membuat anak buahku tidak dapat melacak siapa dia."
"Oh my God. Apa aku sedang sial kali ini?"
Jessi mengangguk. "Aku tahu."
"Ngomong-ngomong, aku tidak bisa menyadari kehadiran anak buahmu sejak awal. Kenapa?"
"Karena mereka istimewa. Suatu saat aku akan mengajakmu ke sana."
Wanita itu mencebikkan bibirnya. "Kenapa harus suatu saat?"
"Karena sekarang kita harus mengobati lukamu." Nich tersenyum tipis dia mencubit perlahan hidung Jessi, ekspresi yang ditunjukkan oleh calon istrinya saat ini sangatlah lucu baginya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, mereka tiba di sebuah mansion yang luas. Melihat kediaman itu Jessi baru ingat tujuan perjalanannya tadi.
"Nich, aku lupa mengabari mommy. Tadi dia memintaku ke LB Boutique, mommy pasti masih menunggu di sana!"
"Aku akan menghubunginya."
Nich merogoh ponsel di saku untuk menghubungi Laura. Beberapa saat kemudian, terdengar suara seorang wanita yang menjawab panggilan.
"Yes, Son."
"Mom, Jessi tidak bisa menemuimu sekarang."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dia mengalami accident di jalan."
"Apa? Bagaimana bisa? Di mana menantuku sekarang?" Suara panik Laura terdengar begitu jelas di telinga Nich.
"Aku membawanya ke mansion kita. Ya sudah, Mom. Aku akan mengobatinya lebih dulu."
"Ya sudah. Mommy akan segera pulang."
Sambungan panggilan terputus, Nich kembali mengantongi ponselnya. "Sudah tenang sekarang, Sweety? Ayo masuk, kita obati lukamu!"
Jessi mengangguk, mereka turun dari mobil dan masuk ke mansion. Seperti biasa banyak pelayan yang membungkuk menyambut dua sejoli idola semua umat.
Para pelayan ternganga melihat luka di pipi sang nyonya muda dengan darah yang mengering. Bukan ngeri atau pun takut, tetapi malah terlihat sangat keren di mata mereka.
"Ambilkan kotak obat!" perintah Nich.
"Baik, Tuan." Pelayan bergegas mengambil sebuah kotak obat dan menyerahkan pada majikannya yang sedang duduk di ruang keluarga.
Nich lantas menggunakan hand sanitizer terlebih dahulu, lalu membersihkan darah kering di pipi wanitanya dengan kapas basah. Jessi menatap lekat netra pria di depannya, dia beruntung masih selamat kali ini berkat perlindungan calon suaminya.
"Apa yang kau pikirkan, Sweety?" Nich bertanya dengan masih fokus mengoleskan krim antibiotik pada luka di pipi Jessi. Membuat wanita itu mendesis karena perih.
"Apa sakit sekali? Aku akan mencoba untuk lebih lembut." Pria itu mengoles obat sambil meniup lembut pipi wanitanya agar tidak terlalu perih.
Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat jantung Jessi berpacu dengan cepat. Apakah dia sudah jatuh cinta pada pria di depannya?
"Nich, terima kasih untuk segalanya." Jessi berkata dengan tulus, pria ini sudah melindunginya dengan sungguh-sungguh tanpa mengganggu kebebasannya.
"Berterima kasihlah dengan cara yang benar." Nich selesai menerapkan plester antiseptik untuk menutupi luka agar tidak terjadi infeksi.
Nich kembali menyusun obat-obatan kembali ke kotak. Tanpa aba-aba, Jessi menangkupkan tangan ke wajah calon suaminya. Pria itu tersentak, sorotan mata calon istrinya yang tajam menusuk hingga ke relung hati. Detak jantungnya bergetar hebat. Perlahan wanita itu memiringkan kepala, mendekatkan wajah hingga bibir mereka saling menyatu.
Mendapat serangan tak terduga dari Jessi, membuat senyum Nich mengembang di sela-sela kecupan yang mereka rasakan. Ia lalu meraik tengkuk Jessi dan memperdalam luma*an yang semakin membuatnya bergairah. Mereka saling bergumul menjelajahi setiap rongga mulut hingga semakin terbuai dengan manisnya bibir satu sama lain.
Sementara di belakang mereka, seperti biasa para pelayan berkumpul untuk mengintip keromantisan sang majikan. Tak disangka, tuan muda kutub kini telah mencair oleh seorang wanita tangguh.
Mereka merasa iri dengan sikap manis keduanya, hingga suara seseorang datang menghancurkan segalanya. Laura memasuki area mansion dengan berlari saking paniknya.
"Sayangku, menantuku. Apa kau baik-baik saja?" Melihat adegan di depannya Laura merasa mendapat lirikan tajam dari seseorang. "Oops, sepertinya Mommy datang di waktu yang salah. Kalian lanjutkan lagi saja, kalau perlu ke kamar jangan di sini!"
Laura mengedipkan satu matanya kepada Jessi lantas pergi meninggalkan lokasi, sebelum anak kutubnya mengamuk.
TBC.
__ADS_1