
Jackson yang diberi waktu untuk mencari ibu dan istrinya melangkah pergi, meninggalkan kedua insan yang akan beradu otak. Dia melangkah seorang diri menyusuri setiap tempat di kediaman ini.
Sesuai dengan prediksi Jessi sebelumnya, Jerry mungkin meletakkan mereka di ruang terbuka yang berbahaya karena pria itu berbeda dengan penjahat amatiran dan sangat pandai memanfaatkan keadaan.
"Di mana mereka?" Jackson terus menerus mencari, tetapi ada yang aneh dengan kediaman ini. Tidak ada seorang pengawal pun yang berjaga di sekitar sini.
Pandangan Jackson mengedar ke seluruh penjuru, tempat ini lebih seperti sebuah kastil daripada kediaman. Dia sadar di kejauhan ada seseorang yang mengikutinya. Mungkin orang suruhan Jerry.
Tanpa memedulikan orang itu, Jackson terus melangkah menyusuri setiap sudut tempat-tempat di luar kediaman itu. "Alice! Ibu!" Dia berteriak memanggil keduanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
(Gambaran kediaman Jerry supaya kalian lebih enak dalam berimajinasi)
Cukup lama dia mencari, hingga membuatnya hampir putus asa dan mengacak-acak rambut. Pria tersebut mendongakkan kepala, lantas terlihatlah dua orang yang dicari berada di ketinggian atap kerucut bangunan dengan posisi terikat.
"Alice, Ibu!" Jackson segera berlari, mencari jalan untuk masuk ke dalam bangunan itu dengan begitu paniknya. Dia mendobrak pintu masuk dengan sekuat tenaga.
Jessi masih berada di posisi paling depan bangunan ini, sedangkan Jackson mencari hingga bagian belakang, jika sampai terjadi sesuatu dengan salah satu dari mereka. Entah apa yang bisa dilakukan.
Jackson terus berlari menaiki tangga, dengan terengah-engah karena banyaknya anak tangga yang harus dilalui. Detak jantungnya bahkan lima kali lebih cepat dari detik waktu yang berjalan.
Setibanya di bagian atap, angin mulai berembus kencang. Suasana di pinggir pantai dan ketinggian tebing menyambut kedatangannya dengan permusuhan. Jackson langsung berlari ke bagian tepi bangunan tersebut, berpikir bagaimana cara menyelamatkan kedua orang yang diikat saling berhubungan tersebut.
Ibu dan istrinya digelantungkan menggunakan sebuah tali, di ujung lancip atap kerucut yang cukup tinggi. Mereka saling berseberangan kalau terjatuh tidak akan ada keberuntungan karena posisi keduanya mengarah ke lautan lepas. Bahkan jika angin berembus kencang dua orang itu bisa saja terjun bebas dari atap.
Kebimbangan mulai merasuk dalam diri Jackson, bagaimana dia bisa memilih untuk menyelamatkan salah satu di antara keduanya. Jika pria tersebut menyelamatkan Alice, ibunya akan terjun bebas ke bawah. Begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?"
Dia melihat, tali yang mengikat keduanya bahkan tidak kokoh. Jackson berusaha untuk menyadarkan keduanya terlebih dahulu dengan berteriak. "Alice, Ibu. Sadarlah!"
"Alice, Ibu!" Tak lama kemudian Alice mulai mengerjapkan mata, setelah merasa seseorang memanggil namanya. Dia meronta-ronta karena ikatan kuat di tubuhnya dan posisi yang berada di udara. "Diamlah, kalian bisa jatuh!"
Suara seorang pria membuat Alice mengedarkan pandangan, dengan mulut yang diikat, dia tidak bisa mengatakan apa pun. Wanita itu mencoba untuk berbicara kepada suaminya, tetapi suaranya tertahan akibat ikatan kain di mulutnya.
"Diam! Tenang aku akan membantu kalian berdua. Jangan bergerak!" Alice hanya bisa mengangguk menatap ke arah suaminya yang berada di bawah.
Sesaat kemudian, Jackson kembali berteriak. "Ibu, Ibu, bangunlah!" Untuk sesaat Alice terkesiap mendengar suaminya menyebut seorang wanita dengan sebutan ibu.
Apakah kini Jackson sedang diletakkan di antara dua pilihan oleh Jerry. Tanpa sadar segala pikiran mulai berkecamuk dalam diri Alice. Suaminya sudah terlalu menderita akibat ulah keluarga Night dan Morning. Bagaimana bisa dia membiarkan sang suami kembali kehilangan ibunya.
"Egh, Egh." Alice mencoba untuk berteriak agar suaminya menoleh ke arahnya.
Sejenak Jackson mulai mengembuskan napas terlebih dahulu untuk menetralkan perasaannya. "Tenang, kau bisa menyelamatkan keduanya!" Dia berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Ibunya masih belum sadar, sedangkan Alice sudah bisa bergerak. Mungkin lebih baik melepaskan ikatan istrinya terlebih dahulu dan membiarkan dirinya menggantikan posisi untuk mengimbangi berat ibunya dengan menahan tali.
Merasa hanya memiliki pilihan itu, Jackson pun mulai melangkah menaiki bagian atap dengan hati-hati. Jika salah melangkah dia sendiri bisa terjatuh kapan saja. Berulang kali pria tersebut mengambil napas terlebih dahulu, hingga akhirnya bisa sampai di posisi istrinya.
"Tenang, Sayang! Aku di sini." Jackson mencoba untuk membuka kain yang diikat di mulut istrinya dengan hati-hati. "Kau masih bisa bergerak?"
Alice mengangguk, sambil menahan air mata karena ketakutan yang melanda. "Tenang, Sayang! Aku mohon jangan menangis!" Jackson lebih dulu mencoba untuk menenangkan sang istri karena akan lebih sulit jika mereka tidak bisa bekerja sama.
Sesaat kemudian, melihat Alice sudah mulai tenang barulah Jackson membicarakan rencananya. "Sayang, aku akan menggantikanmu di sini. Kau harus hati-hati dan berusaha untuk turun! Di seberang tali ini, tergantung Ibu yang masih belum sadarkan diri. Kumohon kau harus turun dengan selamat!" Pria itu memegang pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu?" tanya Alice.
"Setelah menggantikanmu, aku akan melangkah ke seberang. Jadi, kita bisa menyelamatkan Ibu. Kau paham?" Sang istri hanya bisa mengangguk.
Segera Jackson melepaskan tali di tangan dan kaki istrinya terlebih dahulu agar dia bisa berpegangan pada bagian atap di belakangnya.
"Sudah siap?"
"Siap." Alice manatap wajah suaminya yang terlihat begitu tegang, dia harus kuat dan berani demi perjuangan Jackson.
Perlahan Jackson terlebih dulu membelitkan tali di atas Alice ke tangannya agar ketika dia melepaskan istrinya, bisa langsung menahan tubuh sang ibu.
Lalu, dengan hati-hati mulai membuka ikatan di tubuh Alice dan membelitkan di badannya. "Kau harus turun dengan selamat!"
"Kau juga." Dengan tangan bergetar dan jantung yang berdetak kencang, perlahan Alice mulai melangkah ke samping terlebih dahulu. Mencari posisi aman kalau pun dia akan terjatuh. Demi perjuangan suaminya, rasa takut harus ditekan jauh-jauh olehnya. Bukan waktu yang tepat untuk menjadi wanita yang lemah saat ini.
Sementara itu, Jackson yang melihat istrinya sudah berada di posisi aman kembali mengembuskan napas perlahan. Kali ini nyawa sang ibu dan dirinya sendiri yang menjadi taruhan jika sampai gagal.
"Berkati aku, Tuhan." Perlahan Jackson mulai melangkah menuju seberang atap. Angin kencang yang berembus membuat langkahnya terkadang tergelincir.
"Jackson!" Alice berteriak keras dari bawah ketika melihat suaminya yang sedikit tergilincir dan ibu di seberang yang tertarik naik.
"Aku baik-baik saja." Jackson menatap ke arah istrinya sambil mengangguk agar Alice tenang. Begitu pun dirinya sendiri.
Namun, hal tak terduga terjadi, seseorang di kejauhan menodongkan senjata api ke arah mereka dan menembak tepat di tali yang berada di pucuk atap kerucut itu.
"Jackson!"
__ADS_1
To Be Continue..