
Matahari kian memerah, meredupkan sinar terang berganti cahaya kemerahan yang menyatu dengan awan. Senja indah juga cerah, tak menampakkan mendung seakan mendukung rindu yang terkungkung dalam hati seorang pria. Hasrat untuk bertemu membuat Damien segera menyelesaikan pekerjaan agar dapat menemui sang pujaan hati yang kini jauh di mata.
Damien bernapas lega di kala dokumen terakhir sudah berhasil ditandatangani setelah dia meninjaunya sepanjang hari. "Akhirnya selesai," ucapnya pada diri sendiri sambil membereskan berkas-berkas di atas meja dan melebarkan senyum indah di wajahnya.
Dia segera berdiri dari posisinya dan mengancingkan kembali butang yang tadi ditanggalkan demi kenyamanan. Damien lantas melihat kembali foto wanita di layar ponselnya sebelum memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku, lalu melangkah keluar dengan hati yang berbunga. Hanya butuh beberapa waktu perjalanan agar pria tersebut bisa bertemu dengan Jane yang selama beberapa hari ini dia rindukan.
"Mian!" panggil Dove ketika melihat Damien akhirnya keluar dari ruangannya setelah seharian tak keluar. "Kamu sudah mau pulang?"
"Iya, semua dokumen sudah clear mejaku, besok kalau aku datang terlambat kau bisa mengambilnya." Damien hendak melangkah pergi setelah memberi pesan kepada asistennya, tetapi Dove kembali memanggil sebelum pria itu beranjak.
"Mian, bolehkah aku—" Belum sempat Dove berucap Damien sudah mendahuluinya.
"Maaf ,ya, Dove. Aku buru-buru!" Damien memotong kalimat Dove terlebih dahulu sebelum wanita tersebut menyelesaikan ucapannya. Dia melangkah dengan tergesa-gesa sambil melihat jam di pergelangan tangan karena khawatir akan tiba di desa terlalu malam.
Sebelumnya dia sudah bertanya pada Jessi di mana Jane sekarang tinggal dan Damien sudah memperkirakan butuh waktu sekitar dua jam dari tempatnya saat ini, untuk sampai ke desa tersebut, jika jalanan lancar serta tak ada hambatan. Harap wanita itu mau menerima kehadirannya karena kini Damien memutuskan mengejar cintanya bagaimana pun jalan yang harus ditempuhnya.
Sementara itu, Dove hanya bisa menghela napas kasar dengan hati yang kecewa sambil menyambar tas di mejanya setelah melihat kepergian pria tersebut tanpa menoleh kembali ke arahnya. Lagi-lagi Damien menolak untuk mengantarnya pulang dengan berbagai alasan. Padahal rumah mereka melalui jalan satu arah karena wanita tersebut pindah ke kawasan yang sama dengan pria itu setelah ekonominya membaik.
"Kapan kau akan membuka hatimu untukku, Mi," gumam Dove dengan langkah lesu meninggalkan meja kerjanya untuk pulang.
Seandainya pria itu tahu betapa Dove sangat menyukainya mungkin semua tak akan seperti ini. Akan tetapi, mustahil baginya sebagai perempuan untuk mengejar pria. Terlebih lagi Damien adalah tipikal orang yang risih dengan wanita yang selalu menggoda. Hal itu pula yang membuat Dove bertindak halus, sambil berharap pria itu mau meliriknya.
Namun, jika hal itu diperlukan Dove akan melakukannya. Sudah terlalu lama dia menunggu, mustahil jika Damien tidak memiliki sedikit pun perasaan padanya. Mungkin dia hanya perlu menyatakan lebih dulu baru pria itu akan menerimanya, pikir Dove.
__ADS_1
__________________________
Di sisi lain, seorang pria tengah memikirkan bagaimana cara mendapatkan wanita yang baru dilihat siang tadi agar segera menjadi istrinya. Meskipun Broto sudah memiliki sembilan istri yang menyebar di desa tersebut, tetapi matanya seakan tak puas jika sudah melihat wanita cantik lainnya.
Kebanyakan istrinya dipersunting demi melunasi utang-utang keluarga, tetapi mereka tak serta merta hidup bahagia dan bergelimang harta meskipun sudah dinikahi Broto. Para wanita tersebut tetap bekerja di perkebunan maupun peternakan tanpa dibayar. Hal itu demi mengurangi utang dan pernikahan hanyalah sebuah jaminan agar tidak lari dari tanggung jawab.
Broto hanya memiliki seorang istri sah yang miliki watak tak jauh berbeda dengannya. Suka menindas rakyat kecil dan melakukan apapun demi menjadi wanita tercantik di desa.
Selain itu, keluarga tersebut juga merupakan saudara dari keluarga Pengacara John, sehingga tidak ada satu pun warga yang berani melawannya. Dengan kata lain, Broto merupakan ayah dari Maya–perempuan yang mengejar Pengacara John–dengan istri pertamanya.
Jarak rumah utama dan peternakan cukup jauh sehingga pria tersebut lebih banyak menghabiskan waktu di peternakan daripada di kediaman. Broto pun selalu menggunakan mobil untuk bepergian sembari melihat adakah wanita cantik yang terlewatkan di desa.
"Lary, menurutmu apa yang harus aku lakukan ⁰ mendapatkan seorang istri lagi," tanya Broto kepada pelayan di sampingnya.
Tugasnya adalah membantu Broto dalam menagih utang dan mengancam warga desa yang melawan Juragan Broto. Dia juga merupakan orang kepercayaan sang juragan ketika menginginkan sesuatu, terutama berhubungan dengan wanita.
"Ish, kau ini. Sepertinya warga baru itu berasal dari keluarga yang cukup berada." Sejenak Broto memikirkan kembali situasi tempat tinggal Jane tadi. Meskipun tinggal di rumah yang sederhana, tetapi ada mobil yang terparkir di sana. Hal itu membuktikan jika wanita tersebut bukan berasal dari keluarga miskin.
Namun, hal yang belum dia ketahui adalah alasan Jane pindah ke desa itu. Karena biasanya warga desa malah pindah ke kota setelah dewasa demi mencoba peruntungan dan hanya menyisakan yang tua di desa. Akan tetapi, kedua wanita muda itu tampak berbeda dan bukan berasal dari keluarga miskin seperti yang lainnya.
"Kalau begitu habiskan saja hartanya, Bos." Lary memberikan saran yang membuat Broto seketika menatap antusias ke arahnya.
"Maksudmu?"
__ADS_1
Pria tersebut lantas membisikkan sesuatu ke telinga bosnya agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh orang lain. "Apa kau gila?" teriak Broto dengan raut wajah geram dan seketika membelalakkan mata. "Bagaimana kalau dia mati?"
"Nanti, Bos menyelamatkan di saat yang tepat lah dan setelah itu menawarkan bantuan. Pasti berhasil," ujar Lary dengan bangga akan ide yang dimilikinya.
"Kau yakin ini akan berhasil?"
"Yakin, Bos."
Sejenak Broto memikirkan kembali perkataan Lary, dia adalah orang yang cenderung nekat ketika menginginkan sesuatu. Jadi, apa salahnya mencoba hal baru dalam menjerat mangsa. Lagi pula dia tidak akan rugi jika hal itu sampai gagal.
"Baiklah, lakukan malam ini. Ingat! Jangan sampai mereka mati dan pastikan menyelamatkan di waktu yang tepat!"
"Baik, Bos." Lary lantas pergi meninggalkan Broto untuk menjalankan rencana.
Sementara itu, sebuah senyum seringai iblis tergambar jelas di wajah Broto. Bayangan wanita cantik berada di bawah kungkungannya membuat pria itu bersemangat. Tak peduli apakah wanita incarannya sudah bersuami atau belum, dia hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya jadi miliknya.
"Jane, kita akan bertemu sebentar lagi," ucapnya seraya menggosokkan kedua telapak tangannya.
To Be Continue...
Hai- Hai.
Jangan lupa mampir ke novel kedua othor yang kini berjudul 'QUEEN OF CASINO'
__ADS_1