
Berbeda halnya dengan Mario yang sedang dalam masa pendekatan dengan Anna dan berusaha menemui kedua orang tua wanita itu, atau Jessi yang tengah kembali berbulan madu bersama suaminya hingga tak bisa dihubungi.
Maurer di kediaman Light yang awalnya ingin bersantai ria dan bebas dari pekerjaan kini harus menahan acara rebahannya karena sang kakak yang menghilang lengkap dengan sekretarisnya menghubungi agar menggantikan pekerjaan. Padahal, asistennya juga tidak masuk bekerja hari ini. Sungguh situasi yang menyebalkan setelah sekian lama kakaknyalah yang selalu bergumul dengan pekerjaan.
Akan tetapi, ada rasa lega juga. Nyatanya Mario lebih bisa berpikir positif dalam hal cinta dan mau membuka hatinya. Tidak seperti Maurer yang enggan memulai atau membayangkan sebuah hubungan, apalagi keluarga. Mungkin jika boleh memilih, Maurer akan mengadopsi anak saja agar tak perlu menikah. Karena tidak semua wanita tangguh seperti Jessi, jadi bisa mendapatkan sosok sesempurna Nicholas, atau wanita seberani Olivia yang sanggup melawan traumanya. Sementara itu, Maurer hanyalah sosok yang memiliki penyakit jantung, hanya bisa menyusahkan dan siap mati kapan saja seperti sang ibu.
“Sialan, kenapa mereka selalu meninggalkan pekerjaan sulit padaku.” Bahkan untuk melihat jadwal Mario selanjutnya dia harus repot-repot meretas jadwal pada sistem yang ada pada sekretaris maupun asistennya itu. Di mana hal yang selanjutnya harus dia kerjakan adalah mengecek bagian Light Resort.
Sejenak Maurer menghela napas panjang. “Siang-siang begini harus mengecek resort, semakin menyebalkan saja.”
Meskipun menggerutu tak karuan, nyatanya Maurer tetap melakukan hal itu. Dia lantas keluar dari kamar dan bergerak menuju Light Resort sendirian dengan menggunakan mobilnya yang jaraknya tak seberapa.
Sebelumnya Laura sudah berpesan jika Jessi dan Nicholas tidak akan bisa dihubungi tiga hari ke depan. Sementara itu, triplets dibawa Laura dan Michael ke kediaman Bannerick agar tidak kerepotan nantinya. Lagi pula di sana ada lebih banyak pelayan yang bisa merawat mereka, sedangkan di kediaman Light terlalu banyak anak buah yang sibuk berlalu lalang karena urusan pekerjaan maupun latihan.
Maurer mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju resort. Menjadi bawahan Jessi memang harus terbiasa siap jika diperlukan menggantikan pekerjaan orang lain. Mereka dituntut untuk multitalenta, karena tidak ada yang membeda-bedakan dan memang harus saling membantu satu sama lain.
Setibanya di resort, Maurer langsung bergerak menuju tempat yang sedang dibangun. Light Resort memang sedang gencar-gencarnya dalam tahap perkembangan karena banyaknya penyewa kamar maupun villa yang membludak sebab Light Casino yang semakin ramai pengunjung dari turis berbagai belahan dunia.
Di saat tengah berjalan menyusuri setiap tempat, tidak sengaja Maurer melihat seorang wanita dengan alat kebersihan tampak begitu pucat. Tanpa ragu Maurer mendekatinya dan menahan tubuh yang hampir limbung di jalan itu. “Anda baik-baik saja? Kalau sakit kenapa nekat bekerja?” tanya Maurer di saat melihat wajah pucat pasi salah satu tenaga kebersihan itu.
“Saya baik-baik saja, Nona.”
“Jangan banyak bicara!” Sejenak Maurer menoleh ke kanan dan kiri di mana terlihat ada satu rekannya yang juga masih bekerja di sudut lain. “Hei! kau,” tunjuk Maurer pada wanita itu.
“Saya, Nona?” tanyanya bingung menunjuk diri sendiri sambil menoleh ke sana ke mari.
“Iya, cepat ke sini!” Dengan segera wanita itu berlari mendekati Maurer yang masih menahan tubuh wanita tersebut. “Bawa dia ke ruang kesehatan!”
__ADS_1
“Tapi pekerjaan kami, Nona?” ujar wanita yang tengah sakit itu karena khawatir akan dipecat.
“Biar nanti orang lain yang mengerjakannya. Apa kalian mau Nyonya Jessi murka melihat pekerjanya sekarat seperti ini? Apalagi kalau nanti kalian mati di sini dan bergetayangan. Merugikan tempat saja,” tegas Maurer mengancam pekerja tersebut agar mau istirahat.
“Baiklah, Nona.” Keduanya hendak melangkah pergi sambil mendorong troli alat kebersihan dengan susah payah.
“Tinggalkan benda itu di sini! Biar nanti aku yang membawanya ke ruang kebersihan,” ujar Maurer karena kasihan melihat mereka kesusahan.
“Terima kasih, Nona,” seru keduanya secara bersamaan. Mereka pun pergi meninggalkan Maurer seorang diri. Dia pun lantas mendorong troli tersebut ke sisi lain bersamanya.
Di sisi lain, Ben yang mengantarkan Nata ke villa VIP di Light Resort tampak menatap persekitaran tempat yang disewa sepupu dari mendiang istrinya itu.
“Kenapa tidak menginap di hotel saja?” tanya Ben sambil meletakan salah satu koper di tempatnya.
“Bibi bilang dia ingin tinggal di tempat yang sejuk, dan dari yang aku tahu tempat ini cukup populer. Hanya saja jumlah villa yang mereka sewakan terbatas, beruntung aku masih dapat satu. Kalau tidak kami mungkin harus tinggal di gubuk-gubuk kecil itu,” ujar Nata membanggakan dirinya.
Resort yang dihadirkan memang bernuansa tradisional yang terbuat dari kayu. Namun, Villanya yang hanya ada beberapa bangunan itu jelas memberikan fasilitas yang cukup mewah. Dengan kondisi yang seperti ini, pantas saja nama mereka kini menjadi pengusaha yang cukup terkenal di kalangan bisnis dengan pasar mereka sendiri.
“Ya sudah kalau begitu istirahatlah! Aku akan kembali dulu ke rumah sakit. Rey pasti menungguku.” Ben berniat membiarkan Nata beristirahat dan hendak melangkah pergi.
Akan tetapi, wanita tersebut tiba-tiba saja memeluk Ben dengan sangat erat dari belakang. “Ben, apa kau belum bisa melupakan Coco? Paman dan Bibi sudah mengikhlaskannya, tapi kenapa kau tak kunjung membuka hatimu?”
Tanpa membuang waktu Ben langsung melepaskan kedua tangan yang bertaut di perutnya itu. Namun, pria itu hanya terdiam beberapa saat tanpa menjawab pertanyaan sepupu mendiang istrinya tersebut. Bayangan di mana dia pertama kali jatuh cinta pada Coco kembali hadir di pikirannya. Senyum wanita yang baru nikahi tiga tahun lamanya dan harus pergi karena melahirkan Rey menghasilkan luka tersendiri di hati Ben.
“Bukan masalah ikhlas atau tidak. Aku hanya belum menemukan orang yang tepat yang bisa menerima Rey,” jawab Ben dengan jujur karena selama ini tidak ada satu pun wanita yang sanggup bertahan dengan kenakalan Rey. Bahkan pengasuhnya sekalipun.
“Bagaimana denganku? Apa kau juga tidak mau mempertimbangkan aku sebagai Mama untuk Rey? Kami sudah dekat sejak dulu. Dia pasti tidak akan menolak jika kita bersama.” Nata mengungkapkan pendapatnya tanpa basa basi. Bukan karena wanita tersebut tidak tahu malu, tetapi sudah lama dia menyukai Ben, sayangnya pria itu malah mencintai sepupunya sendiri.
__ADS_1
Bahkan setelah kematian Coco, Ben masih tidak bisa melihatnya. Padahal enam tahun sudah berlalu begitu saja. Sayangnya Ben masih juga tak membalas cintanya.
“Aku harap kau tak pernah membahas hal ini lagi. Aku tidak ingin hubungan keluarga kita renggang karena hal yang tak pasti.” Ben hendak kembali melanjutkan langkahnya, tetapi kembali dihentikan oleh kalimat Nata.
“Apa kau sudah jatuh hati pada si Maurer itu?” tuduh Nata pada Benmengngat nagaimana Rey sanngat membanggakannya tadi.
“Ini semua tidak ada hubungannya dengan dia.”
“Tapi Paman dan Bibi sudah setuju jika aku menggantikan Coco. Kau tidak mungkin bisa bersamanya, Bibi pasti tidak akan tinggal diam dan mengambil Rey darimu.”
Sejenak Ben tertawa kecil mendengar penuturan Nata. “Apa kau sedang mencoba mengancamku? Jika aku ingin menikah, aku dan Reylah yang menjadi komponen utama dalam keluarga itu. Bukan Papa atau pun Mama. Jadi tak perlu lah kau memprovokasi mereka agar ikut campur dalam urusan keluargaku. Sebaiknya kamu segera istirahat, sepertinya kau terlalu lelah.” Tanpa menunggu jawaban Nata, Ben langsung menutup pintu villa tersebut dengan cukup kuat dan keluar dengan perasaan tak menentu.
Hanya kebimbangan yang kini berkecamuk dalam diri Ben. Bukan saja karena dia merasa berkhianat pada mendiang sang istri kalau sampai menikah lagi. Akan tetapi, terlalu sulit baginya untuk membuka hati bagi wanita lain.
Dia melangkah enggan tegas keluar dari area resort tersebut. Namun, tak sengaja berpapasan dengan sosok yang dikenalnya dari arah lain tanah mendorong troli alat kebersihan.
“Maurer,” sapa Ben pada Maurer yang tengah meletakkan benda tersebut ditempatnya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ben sedikit bingung.
Meskipun kediaman Light tak jauh dari sini, tetapi kan ini resortnya bukan kediamannya. Tidak mungkin kan gadis itu harus bekerja di dua tempat sekaligus.
“Bekerja. Apalagi,” jawab Maurer santai tanpa menutupi sedikitpun alasannya datang.
“Tapi, apa kau petugas kebersihan di sini?” tanya Ben lagi memastikan apa yang dia lihat.
“Petugas kebersihan?” Sejenak Maurer hanya mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Ben. Lalu dia menoleh pada troli yang tadi di dorongnya. “Oh, itu ….”
Belum sempat Maurer menjawab seorang wanita sudah memutus obrolan keduanya. “Jadi ini yang namanya, Maurer?”
__ADS_1
To Be Continue..