
Di suatu tempat seorang pria sedang mengatur pengemasan barang haram yang akan mereka distribusikan ke berbagai tempat. Barang-barang itu akan di kirim ke berbagai penjuru wilayah dengan cara ilegal, melalui berbagai jalur.
Mereka memonopoli seluruh perdagangan pasar gelap. Mereka adalah kelompok yang menguasai bisnis pemurnian dan distribusi segala jenis narkoba, mulai dari heroin, kokain, ganja, sampai methamphetamine. Mereka menjual berbagai macam senjata pada kartel-kartel kecil yang sepaham dengannya. Mereka juga melakukan bisnis jual beli manusia, prostitusi anak di bawah umur dan juga penjualan organ-organ tubuh manusia.
Korban-korban mereka biasanya adalah orang-orang yang ingin disingkirkan oleh keluarganya sendiri. Jadi, mengurangi konsekuensi mereka untuk berurusan dengan pihak kepolisian.
Beberapa anggota berlari mendekati pemimpin kelompok mereka dengan membawa sebuah kotak. "Tuan, gawat!"
"Apa yang terjadi?"
"Pengiriman kita gagal?" Orang itu berbicara dengan hati-hati karena pemimpin mereka tidak akan pernah menerima kegagalan.
"Apa maksudmu!" Sorot matanya menyipit memastikan perkataan anak buahnya.
"Pengiriman kita dari Pelabuhan Hitam gagal, Tuan! Hanya ini yang tersisa." Pria itu menyerahkan sebuah kotak ke depan pemimpinnya.
"Buka!" Pria itu langsung membuka paksa kotak yang di gembok tersebut.
Dia membukanya dengan perlahan-lahan. Terlihat kepala tanpa tubuh salah satu anggotanya dengan mata yang terpejam. Dia adalah orang yang biasa menangani pengiriman barang.
Brak.
Dia melemparkan kotak itu dengan bola mata yang melebar. "Siapa yang berani bermacam-macam denganku, hah?!"
Kemarahan pria itu memuncak, sudah lama tidak ada orang yang berani mengusik ketenangannya. Para anggota yang melihat kemurkaan tuannya hanya bisa menundukkan kepalanya, berharap masih memiliki nyawa untuk keesokan harinya.
"Ka-kami tidak tahu, Tuan! Ketika kami tiba di lokasi hanya ini yang tersisa dengan satu kontainer yang terbakar." Orang itu melaporkan dengan badan yang bergetar. "Kendaraan pengangkutan juga hilang, tetapi kami tidak dapat melacaknya."
Jleb!
Pria itu melemparkan sebilah pisau tepat di kepala anak buahnya, dia limbung tewas seketika dengan bersimbah darah.
Kemarahannya sungguh diambang batas, kerugian yang dia terima bukanlah sedikit dalam satu kali pengiriman. Apa lagi berisi para wanita, yang merupakan hasil terbesar setelah distribusi narkoba.
Seorang lelaki memasuki ruangan tersebut. Melihat mayat seorang anak buah yang tergeletak dan juga kemarahan di wajah adiknya, dia pun mendekat.
"Apa yang terjadi Johny?"
__ADS_1
Ya. Pria tersebut adalah Johny Messis, pemimpin klan Virgoun yang paling berkuasa di jajaran para mafia.
"Kita mengalami kerugian di Pelabuhan Hitam," ujarnya.
Pria itu lantas menuangkan whiskey ke dalam dua gelas, lalu meletakkan es batu ke dalamnya, dan menyerahkan kepada Johny. "Sepertinya kamu mendapatkan lawan sekarang!"
Johny meneguk whiskey pemberian kakaknya hingga tandas. "Dia berani bermain-main denganku."
"Apa tidak ada satu pun yang orang yang menangkap kejadian di sana?" Pria itu bertanya pada anak buah yang lain.
"Tidak, Tuan. Ketika kami tiba di sana, sudah tidak ada bukti apapun yang tertinggal. Bahkan pekerja dermaga yang bukan anggota kita juga ikut menghilang."
"Apa di sana tidak ada satu pun kamera yang merekam aksinya?" Pria itu mulai berpikir, kelompok mana yang kira-kira berhasil menggagalkan rencananya.
"Tidak ada, Tuan. Seluruh cctv jalan menuju pelabuhan tidak ada yang menangkap kejadian di sana. Ketika kendaraan pengangkutan itu keluar area pelabuhan, cctv juga tidak merekam kejadiannya."
Pria itu memutar gelasnya, membuat sebuah pusaran di dalamnya. "Lawanmu cukup menarik, dia bekerja sangat rapi sampai kita tidak menemukan jejaknya."
"Ya, dan jika aku menemukannya aku pasti akan menjadikannya mainan utamaku!" Johny menggenggam erat gelas di tangannya harga dirinya terasa diijak dengan kegagalan ini.
"Lebih baik kau pikirkan dulu alasan yang akan kau berikan pada tua bangka itu!" Lelaki itu menepuk bahu Johny, lantas melangkahkan kakinya keluar dari gudang itu.
Setelah membantai keluarga Peanut dan keluarga Cheese, mereka membentuk kembali kelompok yang tersisa dengan nama Virgoun. Usaha yang awalnya milik Belzeebub, kini dikuasai oleh dirinya sendiri. Tidak perlu lagi berbagi hasil dengan keluarga lainnya.
Namun, dia masih memantau satu-satunya keluarga Peanut yang tersisa. Dia tidak ingin George berhasil membangun kekuatannya kembali, untuk itu lah dia rela membayar mahal mata-mata di sana.
Pyaarrr.
Johny melemparkan gelasnya di lantai. Dia adalah orang yang serakah, dan kerugian yang dia terima tidaklah sedikit. "Aku pasti akan menemukanmu!"
"Cari tau sampai dapat segala hal yang berhubungan dengan kejadian itu!" Johny memerintahkan tangan kanan di sampingnya.
"Baik, Tuan." Pria itu pergi meninggalkan bosnya.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Sial, sial, sial." Johny mengumpat marah sambil memukul meja di depannya.
__ADS_1
Di sisi lain, setelah meninggalkan Johny sang kakak pergi ke sebuah lapangan golf yang luas untuk menemui seorang pria paruh baya yang sudah lama menjadi ayah angkat mereka.
"Ayah," sapanya.
"Apa terjadi sesuatu?" Pria paruh baya itu memegang stick golf dengan kedua tangannya bersiap untuk memukul bolanya.
"Hanya kegagalan di misi Johny."
Tuk.
Suara ujung stick berbenturan dengan bola golf.
"Dia sangat tidak terbiasa dengan kegagalan, dan mudah emosi." Mereka berjalan menyusuri area lapangan golf, mendekati bola yang menggelinding.
"Ya, dia memang sedikit ceroboh." Pria itu lantas memanggil seorang caddy untuk memberikannya stick golf juga.
Caddy memberinya sebuah stick, dia mengambilnya dan mengayunkan ke arah bola.
Tuk. Dalam sekali pukulan bola masuk ke dalam salah satu lubang hole.
"Hole in one. Kau memang yang terbaik." Pria tua itu menganggukkan kepalanya, mengakui kemampuan pria muda di sampingnya.
"Semua berkat ajaran Ayah. Aku hanya melakukan semampuku." Mereka berjalan menuju buggy car.
"Apa kau tidak ingin menjadi pemimpin Virgoun?"
"Tidak. Biarkan Johny saja yang memimpinnya, aku akan mendampinginya di balik layar." Mereka duduk di bagian belakang kemudi.
"Sayang sekali kau tidak menginginkan tahta mafia, padahal pontensimu melebihi ayah kandungmu Marcopolo." Pria paruh baya itu menepuk pundak lelaki muda itu.
"Bukankah aku lebih mirip sepertimu, Ayah! Suka bermain api di balik layar." Sorot matanya berubah mengatakan itu, dia bukan sedang memuji, tetapi lebih tepatnya menyindir.
"Hahaha, kau memang pantas menjadi penerusku!"
Mereka saling tertawa layaknya ayah dan anak yang saling menyayangi. Namun, sebenarnya mereka saling mewaspadai.
Mereka adalah jenis orang yang sama. Sama-sama pandai memanfaatkan situasi dan kondisi pihak lain untuk dirinya sendiri. Mereka juga bukanlah pria normal pada umumnya. Jadi, mereka tidak memiliki kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh musuh untuk menjatuhkan mereka. Bagi mereka apa yang diinginkan haruslah menjadi miliknya, dan segala rencana juga harus sesuai dengan kemauannya.
__ADS_1
TBC.