
Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan Nich dengan sindiran pedasnya. Sepasang suami istri masih belum berbaikan seperti biasa. Jessi pun enggan juga menampakkan senyum cantiknya.
"Sweety, apa kau masih cemburu?"
Mereka duduk di kursi bersebelahan, Jessi langsung menatap tajam ke arah suaminya karena emosi yang masih melanda jiwanya. "Siapa bilang aku cemburu?" Wanita tersebut memutar malas bola mata sambil membuang wajah ke arah lain, tak lupa pula bibir mengerucut hingga membuat sang suami merasa gemas dibuatnya.
Seakan tak habis akal Nich pun menunduk, mendekat ke perut istrinya sambil mengelus lembut kandungan Jessi. "Sayang, sepertinya Mommy kalian sedang merajuk. Daddy harus gimana dong?"
Nich berbicara seakam menceritakan keluh kesahnya kepada bayi dalam kandungan sang istri. Jessi yang melihat hal itu untuk pertama kali seketika tersenyum karena tak tahan melihat tingkah suaminya. "Mereka masih kecil, Nich. Belum bisa mendengar curhatanmu."
"Siapa bilang belum bisa? Dokter bahkan menyarankan agar kita mulai berbicara pada mereka sejak masih dalam kandungan." Nich tersenyum melihat istrinya yang terlihat sudah lebih baik.
Dia memang menanyakan banyak hal kepada dokter kandungan tentang kehamilan karena Nich tidak ingin melewatkan momen terbaik ketika menjadi calon ayah. Pria tersebut bahkan membaca banyak artikel ibu hamil agar bisa menjadi suami siaga setiap saat.
Bukan tanpa alasan semua ini dia lakukan. Akan tetapi, Nich ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya dan selalu ada di kala wanita tersebut membutuhkannya. Begitu pula dengan calon buah hati mereka.
"Kalau begitu mandilah!" ujar Jessi ketus sambil mendorong tubuh suaminya.
"Mandi?" Nich mengernyitkan dahi lantas mencium aroma dirinya sendiri. "Aku masih wangi, kok! Kenapa harus mandi?"
"Aroma wanita sialan itu melekat di tubuhmu, Nich! Perutku mual sampai rasanya ususku mau keluar!"
Nich hanya bisa membelalakkan mata mendengar kalimat absurd yang keluar dari mulut istrinya itu. Dia pun menunduk pasrah dan tetap melebarkan senyum menghadapi ibu hamil tersebut.
"Iya, iya, aku mandi. Istirahatlah dulu di dalam kau pasti lelah datang kemari sendirian." Nich hendak memapah tubuh istrinya menuju kamar khusus di ruang tersebut, tetapi dengan cepat wanita itu menepis tangannya.
"Aku bisa jalan sendiri!" Jessi mengerucutkan bibir sambil melangkah menuju kamar, sedangkan Nich hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah istrinya yang semakin aneh. Apalagi ketika sedang cemburu seperti itu
Tanpa banyak kata, dia pun menuruti permintaan sang istri untuk mandi. Setelah beberapa saat Nich keluar dengan berbalut handuk di pinggangnya. Di atas ranjang Jessi menatap tajam ke arah pria tersebut dengan tangan yang masih memegang ponselnya.
__ADS_1
Wanita itu lantas mendekat dan mengendus setiap inchi bagian tubuh sang suami. "Nich apa kau hanya menyiram tubuhmu dengan air? Kenapa baunya masih melekat di tubuhmu?" Jessi mendengus kesal layaknya ibu-ibu yang belum mendapatkan uang jatah bulanan.
Sementara itu, Nich hanya bisa mengendus harus tubuhnya sendiri yang bahkan masih menyisakan busa di belakang telinganya. "Wangi, kok!"
"Pokoknya aku nggak mau tahu, pergi mandi lagi!" Jessi mendorong tubuh suaminya agar kembali ke kamar mandi.
"Tapi, Sayang—"
"Nggak ada tapi-tapian! Cepat mandi!" Jessi sungguh lain dari biasanya, sedangkan Nich hanya bisa mengikuti permintaannya dan kembali mandi. Meskipun sebelumnya pria itu sudah cukup lama membersihkan diri. Namun, sebagai wujud kecintaannya dia hanya bisa menuruti permintaan ibu hamil tersebut.
Entah berapa kali Nich harus mandi karena menuruti istrinya, hingga tangan pria itu terlihat sudah keriput barulah Jessi menghentikan kejahilannya. Dia pun membantu suaminya mengenakan pakaian, juga mengeringkan rambut. Tak terasa siang sudah berganti sore dengan begitu cepat. Namun, keduanya hanya asyik berada di dalam kamar tersebut.
"Sweety, ada apa kau menemuiku tadi? Apa Baby merindukan aku?" tanya Nich kepada sang istri yang tengah mengenakan dasi di lehernya.
"Tidak! Sepertinya mereka tahu kalau Daddynya sedang di dekati ulat bulu." Suara Jessi masih terdengar ketus membuat Nich langsung memegang dagunya dan mengecup bibir wanita tersebug secara perlahan.
Jessi menatap tajam ke arah suaminya setelah selesai memasangkan dasi. "Kalau sampai aku melihat perempuan lain di ruanganmu ini, lebih baik aku cari suami baru." Wanita tersebut lantas melangkah meninggalkan kamar menuju ruang kerja suaminya.
"Sayang, bagaimana bisa kau melakukan itu padaku?" Nich menyusul istrinya melangkah keluar dari kamar itu. Wanita tersebut kini sudah duduk di kursi kebesarannya sambil memutar-mutar benda tersebut dengan senyum yang indah.
Melihat perubahan emosi dalam diri sang istri yang terlihat begitu cepat seakan tak terjadi apa pun sebelumnya. Nich hanya bisa tersenyum menatapnya, sepertinya Jessi hanya ingin bermain-main saja di ruangan ini. Dia pun menghela napas sejenak, membiarkan istrinya bermain di kursi, sedangkan pria tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya di sofa dengan tumpukan berkas di depannya.
Cukup lama mereka saling terdiam dan asyik dengan aktivitas masing-masing, hingga Jessi pun merasa bosan dan mendekati suaminya. "Sayang."
"Hmm." Nich hanya berdeham dan tetap fokus menatap berkas di depannya.
Hal tak di duga, dengan manjanya Jessi menelusupkan kepalanya di bawah lengan pria tersebut dan menjadikan paha sang suami sebagai bantal. "Sayang aku ingin memakamkan mereka dengan layak," ujar Jessi sambil menghidup aroma maskulin suaminya.
Mendengar perkataan Jessi, Nich memilih menghentikan aktivitasnya dan memerhatikan istrinya. "Maksudmu keluargamu?"
__ADS_1
Jessi hanya mengangguk kecil. "Aku tidak ingin jiwa mereka berkeliaran jika tubuhnya tak dimakamkan."
Senyum mengembang di wajah tampan Nicholas, sambil tangannya menyibakkan anak rambut sang istri. "Lakukan apa yang kamu mau, Sweety!"
"Benarkah!" Wanita tersebut terlihat sangat antusias, tetapi sesaat kemudian dia kembali bersedih.
"Ada apa?" tanya Nich.
"Jerry Morning mati hari ini."
"Kau membunuhnya?" Jessi hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.
"Jane yang melakukannya. Tapi, dia terlihat sangat sedih." Jessi terlihat sendu mengatakan hal itu, tak lagi seantusias sebelumnya. Benar kata dokter, wanita hamil berubah suasana hatinya kapan saja.
"Lalu."
"Aku merasa kasihan pada, Sayang. Dia sudah banyak menderita karena semua ini." Nich hanya mengangguk mendengarkan setiap curahan hati sang istri di pangkuannya. Wajar saja jika Jane terluka, dia juga korban ayahnya sendiri dalam hal ini.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Nich lagi.
Jessi langsung berubah posisi dengan duduk di samping suaminya. "Ngomong-ngomong, Sayang. Apa yang kau tinggalkan padaku untuk Brian tadi?"
"Apa memangnya?" Nich hanya tersenyum kecil menggoda istrinya, tetapi wanita tersebut malah mendengus kesal karena dibuat penasaran.
"Ish, kau ini."
"Itu hanya salah satu barang yang dia simpan. Jadi, aku memintamu untuk mengembalikan padanya."
To Be Continue..
__ADS_1