
"Rey, tidak mau kembali ke dalam sana sendirian. Tidak ada Mama apalagi adik bayi." Untuk sejenak bocah itu terdiam, hingga sesaat kemudian, dia malah memukul-mukul kepalanya. "Semua gara-gara Rey, kalau saja Mama tidak melahirkan Rey. Pasti Mama—" Belum sempat Rey menyelesaikan kalimatnya Maurer sudah lebih dulu memeluk erat bocah kecil itu dengan satu tangannya. Ada rasa nyeri di hati melihat seorang anak menyalahkan diri sendiri atas keadaan yang tak ada siapapun menginginkannya bernasib seperti itu.
"Usht, usht, usht, Rey tenang ya! Ada Aunty di sini," ucap Maurer sambil mengelus punggung Rey dengan lembut.
Sementara itu, Ben yang mendengar teriakan memilukan putranya untuk pertama kali hanya bisa diam terpaku. Selama ini dia selalu acuh dan hanya fokus pada pekerjaan. Dia mengira jika anaknya baik-baik saja. Namun, nyatanya Rey memiliki luka tersendiri di hatinya, sama seperti halnya dia yang masih berusaha mengikhlaskan hal itu.
"Sayang, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu. Apa Papa pernah mengajarimu menyalahkan diri sendiri?" tanya Ben di saat mendengar putranya mengatakan hal yang bahkan tak pernah keluar dari mulutnya.
Mama Rey memang meninggal setelah melahirkan Rey karena mengalami pendarahan hebat. Namun, Ben tak pernah menyalahkan si kecil atas nasib keluarga mereka. Hanya saja kesibukan dalam bekerja memang membuatnya kurang perhatian pada sang putra. Dia menyibukkan diri karena rasa kehilangan atas kematian istrinya, tetapi hal yang tak pernah Ben tahu adalah putranya mengalami hal serupa.
Sayangnya, seorang wanita yang mengasuh Rey selama satu tahun terakhir tampak menatap tajam ke arah Rey, hingga bocah itu hanya bisa mendelik di balik tubuh Maurer. Sesaat kemudian, bocah itu pun pingsan dalam dekapannya. "Rey, Rey, Rey." Maurer berusaha mengguncang tubuh lemas itu. Meskipun baru beberapa menit mengenal, nyatanya kekhawatiran dalam diri Maurer bukanlah sebuah sandiwara.
"Awas!" Ben langsung mengambil tubuh Rey dari dekapan Maurer, hingga tak sengaja gadis itu pun terduduk di atas rumput taman karena keseimbangan yang tak terkendali.
Maurer hanya bisa menatap iba kepergian Rey yang semakin jauh dalam dekapan pria itu. "Sialan! Dasar Ayah Laknat! Untung Ayahmu tidak seperti itu Jay," umpat Maurer sambil mencoba berdiri dan kembali menimang Jayden yang mulai bisa tertawa mendengar ocehan Maurer sejak tadi.
Sesaat kemudian, dering notifikasi di ponsel Maurer dari Jessi yang mengatakan semuanya sudah selesai membuatnya hendak beranjak dari taman itu. Namun, sedetik kemudian dia melihat bola Rey yang masih ada di bawah kursi taman membuat hatinya sedikit nyeri.
Maurer juga tumbuh tanpa seorang ibu. Dia pun sama-sama memiliki penyakit yang harus dinikmati sejak dini. Hanya saja, ada Mario yang selalu menyayanginya. Meskipun sang ayah juga hanya sebelas dua belas sikapnya dengan ayah Rey. 'Miris,' batin Maurer mengambil bola tersebut dan melangkah pergi untuk mengambil mobil.
Maurer menjemput Jessi dan Nenek Amber di tempat di mana keduanya telah menunggu, sedangkan Jayden, tentu saja duduk di car seat. Setelah semua urusan selesai, Maurer pun mengemudikan mobil menuju kediaman Light.
Sepanjang perjalanan, dia tak bisa berhenti memikirkan Rey. Ada rasa penasaran di hatinya mengingat bocah seusia itu bisa berkata demikian. Apalagi pertanyaan orang yang mengaku sebagai ayahnya tadi yang juga tampak syok mendengar penuturan putranya. Jadi, dari mana Rey bisa memiliki pemikiran seperti itu.
Berulang kali Maurer menggeleng kecil di sela lamunannya. Hal itu tentu saja disadari Jessi di belakang. "Kau kenapa?"
"Tidak, Nyonya," jawab Maurer singkat hingga beberapa saat kemudian mobil sudah mulai memasuki pelataran kediaman Light.
Maurer kembali mengambil Jayden, dan menyerahkannya pada Patricia sejenak karena Jessi sedang membantu Nenek Amber. "Titip Jay sebentar," ucapnya lalu beranjak ke kamar tanpa mengucapkan banyak kata.
"Kenapa dia? Kayak orang kesetanan saja?" gumam Patricia sambil menimang Jay.
"Mungkin kebelet, sini biar Jay sama Mommy." Maria yang baru saja dari dapur lantas mengambil Jay dari putrinya.
Di sisi lain, Maurer yang berada di dalam kamar langsung mengambil laptopnya. Jemari lentiknya kembali menari dengan indah di atas papan ketik. Dia meretas data Bannerick Hospital untuk mencari pasien anak bernama Rey. Banyak data yang menunjukkan nama Rey, hingga akhirnya Maurer pun menemukan sebuah data Reynold Gerald, putra dari Bentley Gerald yang berusia enam tahun dan dirawat belum lama ini di rumah sakit karena diagnosis Leukemia.
"Jadi, perawat itu pengasuhnya." Sejenak Maurer mengernyitkan dahi sambil mengusap dagunya. Dia mengawasi dari CCTV lorong tempat di mana kamar Rey berada.
__ADS_1
Perawat tersebut tampak kasar pada Rey yang memegang bola. Setelah keluar dari kamar, mungkin si kecil memaksa untuk bermain karena bosan di dalam kamarnya.
Maurer pun menatap lekat bola yang dibawanya tadi. Dia lantas mengambil cutter kecil dan melubanginya, lalu mengambil sebuah kamera pengintai di laci yang bisa langsung mendengar merekam dengan jelas suara yang tangkap oleh gambar itu.
Gadis itu lantas mencoba menyambungkan apa yang dia pasang dengan ponsel miliknya. "Berhasil." Tanpa membuang waktu layaknya baru saja mendapat jackpot, Maurer segera keluarga kamar membawa bola itu dan melangkah dengan tergesa-gesa.
"Kau mau pergi?" tanya Patricia yang masih bermain bersama Jayden dan Maria.
"Main bola sebentar. Katakan pada Nyonya aku pergi dulu!" Tanpa menunggu jawaban Patricia Maurer langsung melangkah pergi, hingga Patricia dan Maria saling berpandangan keheranan.
"Sejak kapan gadis itu main bola?" tanya Maria heran.
"Iya, bukankah jantungnya lemah," jawab Patricia sambil menggeleng kecil.
Sementara itu, Maurer kembali melajukan mobilnya menuju Bannerick Hospital. Entah apa yang merasuki gadis itu, tetapi dia seperti menemukan harta karun yang harus dia jaga. Apalagi nasib mereka sama. Rasa empati sebagai sesama manusia yang hidup dalam ketidakadilan awalnya, membuat Maurer akan membantu bocah itu mendapatkan kebahagiaan seperti halnya dia sekarang.
Setibanya di rumah sakit, Maurer langsung menuju ke ruangan di mana Rey dirawat. Dia langsung mengetuk pintu perlahan dan terdengar sahutan dari dalam.
"Masuk."
Maurer masuk dan melihat wajah Ben yang datar, tetapi tampak acak adul menyapa penglihatannya pertama kali. Sementara itu, Rey yang sudah sadarkan diri tampak antusias mengetahui Maurer menemuinya. "Auty, kemari," ucap bocah itu bersemangat.
Beruntungnya Maurer tak menanggapi hal itu. Lagi pula Ben tampak hanya diam dan mengamatinya. "Permisi, maaf saya hanya ingin mengembalikan bola Rey tadi yang tertinggal di taman."
"Aunty, kemarilah!" Rey langsung memanggil Maurer yang hendak meletakkan bola di tangannya agar mendekat.
Sejenak Maurer melihat terlebih dulu respons ayah Rey. Pria itu tampak memersilakannya, mungkin karena baru pertama kali melihat senyum sang putra setelah sekian lama. Maurer pun mendekat dan meletakkan bola di tempat di mana bisa menjangkau gambar seluruh ruangan nantinya tanpa dicurigai.
"Apa kau baik-baik saja, Rey?" tanya Maurer yang kini duduk di sebelah ranjang bocah itu.
Rey hanya mengangguk dan tak beralih menatap wajah manis Maurer. "Di mana Jayden, Auty?"
"Dia sedang bersama Mamanya."
Melihat kelembutan dari sikap Maurer, Ben mengajak perawatnya untuk keluar dan memberi waktu keduanya berbicara. Dia melihat Maurer yang tampak canggung sehingga membiarkannya lebih leluasa dalam berbicara pada Rey. Senyum putranya pada Maurer adalah hal yang tak pernah Ben lihat selama ini.
"Kalian berbincanglah dulu. Aku ada urusan!" ujar Ben lalu mengajak pengasuh Rey pergi.
__ADS_1
"Tapi, Tuan." Awalnya pengasuh itu eggan, tetapi melihat tatapan tajam Ben dia pun hanya bisa menurut dan keluar ruangan.
Maurer dan Rey yang ditinggalkan dalam satu ruang tampak kembali bercengkrama layaknya orang yang sudah lama mengenal dengan begitu asyiknya.
"Rey, Aunty Maurer tahu apa yang sedang kau rasakan saat ini. Tapi ingat, siapapun yang mengatakan jika Mama Rey pergi karena Rey adalah salah. Rey tidak boleh mendengar itu," ucap Maurer menasehati Rey.
"Tapi, Aunty."
"Sayang, ingat kata-kata Aunty." Maurer menangkupkan kedua tangannya di pipi kecil itu. "Seorang anak lahir itu suci, dia hadir karena sebuah anugerah dari Tuhan. Aunty juga tidak memiliki Mama seperti Rey. Tapi, Aunty mempunyai kakak yang melimpahkan kasih sayang layaknya seorang Mama. Dan Rey, bisa memiliki Aunty di hati Rey." Satu telapak tangan Maurer menempel di dada bocah kecil itu.
Rasa haru seketika menyeruak di hati Rey untuk pertama kalinya. Dia merasakan kesabaran dan kasih sayang dari orang yang baru dikenalnya hanya dalam beberapa jam. Padahal selama ini Rey nakal karena berusaha mencari perhatian ayahnya. Namun, hal itu tak pernah dia dapatkan.
Rey langsung memeluk Maurer dengan erat. Bocah itu bahkan terisak di pelukan Maurer. "Cup cup. Rey 'kan jagoan. Mana ada jagoan menangis," ucap Maurer sambil mengusap lembut punggung bocah itu.
Dia hanya mengangguk dan menghapus air mata dengan segera. "Terima kasih, Aunty. Rey jagoan!"
"Sekarang, Rey harus semangat untuk sembuh. Supaya nanti bisa bermain sama Aunty. Nanti Aunty perkenalkan pada Jayden, dan dua adiknya."
"Jayden sudah punya adik?" tanya Rey dengan binar bahagia.
Maurer hanya mengangguk. "Masih ada Jonathan dan Jessica. Nanti Aunty kenalkan."
"Janji!"
"Janji." Keduanya menautkan jari kelingking bersamaan. Namun, sesaat kemudian perawat masuk dengan wajah sinisnya.
"Silakan kembali karena ini waktunya Rey istirahat!" Dia berkata tanpa basa-basi sama sekali. Dalam hatinya bergemuruh melihat Rey yang dekat dengan seorang wanita. Bisa-bisa rencana menjadi Nyonya Gerald gagal kalau hal ini sampai terus menerus berlangsung dan Ben melihat keakraban mereka nanti.
"Tapi, Rey—" Belum sempat bocah itu protes sudah mendapat tatapan tajam dari pengasuhnya.
Tentu saja hal itu ditangkap oleh Maurer. Dia lantas mengelus rambut Rey lembut. "Aunty, pulang dulu. Jangan pindahkan bola itu dari tempatnya! Aunty akan selalu mengawasi dan membantu, Rey. Okay," bisik Maurer di telinga bocah itu di sela pelukan perpisahan mereka.
Rey mengangguk paham. "Aunty pulang dulu ya." Maurer lantas melambaikan tangan beranjak hendak keluar kamar. Namun, setibanya di depan perawat tersebut, dia menghentikan kakinya tepat di atas kaki wanita itu. "Permisi!"
"Sia—" Perawat menghentikan kalimatnya karena Ben yang sudah berada di ambang pintu.
"Permisi, Tuan," ucap Maurer melangkah pergi.
__ADS_1
To Be Continue..