
"Apa yang kalian lakukan?!" Suara teriakan seorang wanita menghentikan langkah Jessi.
"Cepat pergi!" Jessi mendorong Jackson agar segera membawa sang pasien keluar dari rumah sakit laknat itu.
"Tapi, Nona. Bagaimana dengan Anda?" Jackson enggan untuk pergi, dia adalah anak buah Jessi, bagaimana bisa meninggalkan majikannya sendirian menghadapi beberapa orang yang mulai mendekat.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit lain! Aku akan meminta bantuan kepada Maurer. Ingat kau harus membawanya dengan selamat!" Jessi mendorong Jackson agar segera pergi dari tempat itu, lantas menghubungi Maurer melalui earpiece di telinganya. "Kirim yang lain kemari!"
"Sudah, Nona."
Maurer dan yang lainnya memang menunggu di mobil untuk mengawasi jika mereka berdua gagal keluar diam-diam. Awalnya, Jessi mengira akan mudah membawa wanita itu pergi tanpa menciptakan keributan.
Namun, siapa sangka, ternyata pihak musuh sudah mengantisipasinya dengan alarm yang terdengar begitu keras. Kini, Jessi hanya perlu mengulur waktu agar mereka tidak mengikuti Jackson dan menunggu anak buah lainnya tiba.
"Kau menculik pasien kami?" Wanita itu mendekat dengan dan mengeluarkan pistol, lantas menodongkan ke arah Jessi.
Sebuah seringai mengejek tergambar jelas di wajah cantik Jessi. "Sudah kuduga, kau bukanlah perawat biasa." Dia melangkah dengan cepat, membuat para perawat gadungan itu terkesiap dengan tindakannya.
Seorang perawat yang sepertinya adalah pemimpin kelompok mereka mulai menarik pelatuk pistol di tangannya. Namun, dengan segera Jessi mampu menghindari peluru yang melesat ke arahnya begitu cepat, hingga tembakannya meleset mengenai dinding.
Dia mempercepat laju langkahnya dengan berlari. "Kau membuatku marah!" Segera Jessi menumpukan salah satu kakinya di dinding samping, hingga mampu melayang di udara.
Secepat kilat mengeluarkan belati kesayangannya dan mengarahkan lemparan ke arah wanita tersebut. Tanpa aba-aba, benda tersebut melesat lebih cepat daripada sebuah peluru, lalu mendarat tepat di dahi wanita tersebut.
Sang perawat gadungan langsung limbung di lantai dengan darah yang keluar dari kepalanya yang terluka dan secara santai Jessi mencabut kembali belati itu dari dahinya.
Melihat pemimpin mereka tewas hanya dalam sekejap mata ketiga perawat lainnya terkesiap. "Serang!" Mereka mulai mengeroyok Jessi tanpa menunggu waktu.
Satu pukulan tangan berhasil Jessi hindari dengan membungkukkan tubuhnya, sebuah tendangan dari depan sanggup dilewati saat memutar tubuh bagian atasnya. Namun, seorang perawat segera menendangnya dari belakang hingga membuat wanita tersebut tersungkur di lantai.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan segera Jessi berguling sehingga tidak larut dalam kekalahannya. "Cuih." Dia meludah tepat di depan ketiga wanita tersebut tanpa mengurangi seringai di wajahnya. "Hanya seperti ini kemampuan kalian!"
Ketiga wanita tersebut saling berpandangan, tak menyangka jika Jessi sangat meremehkan mereka. Lorong sempit dan terbatas menjadi hambatan pertarungan kali ini, sehingga membuat ketiganya kesulitan untuk bergerak bersamaan.
Awalnya mereka hanya ingin melakukan pertarungan fisik demi menjaga situasi rumah sakit yang memiliki banyak pasien di dalamnya. Namun, ternyata Jessi tidak mudah dikalahkan hanya dengan beladiri saja.
Seorang wanita berniat mengambil pistol di balik tubuhnya, tapi secepat kilat Jessi melemparkan Skuriken tepat di matanya, hingga membuat darah memercik dari bola mata tersebut dan perawat langsung jatuh terkulai tak berdaya seperti pemimpinnya sebelumnya.
"Lihat! Kalian masih ingin bermain-main?" Jessi terkekeh dengan nada bercandanya, seperti biasa. Pertarungan ini layaknya sebuah permainan baginya, tetapi kedua wanita itu ikut tersenyum dengan tatapan mata tajam.
Ternyata beberapa orang perawat lagi mulai berdatangan di belakang Jessi. Dia menoleh dan melihat sekelompok orang tersebut, hingga membuatnya mengumpat kesal karena anak buahnya belum juga tiba. "Sial!"
Jessi mengeluarkan sebuah Samurai Selendang yang lentur berbentuk sabuk dari pinggangnya. Kilatan pantulan cahaya langsung memantul menyilaukan mata lawan di depannya.
Mereka kembali tidak menyangka jika Jessi akan menggunakan senjata semacam itu di sini. Sementara itu, wanita tersebut memang membawa senjata ini khusus untuk kondisi di mana dia tidak bisa menggunakan pistol seperti sekarang.
Sama halnya dengan mereka yang berusaha agar tidak menggangu pasien. Jessi juga berupaya agar tidak memanggil para musuh lainnya, hingga membuatnya sulit untuk keluar dari tempat ini.
Pertarungan kembali tak terelakkan. Meskipun, suara pukulan dan gerakan mereka menggema di lorong tersebut. Namun, selama belum ada tembakan yang keluar, tidak akan memicu kedatangan musuh lain. Jika hal itu sampai terjadi, jelas karyawannya akan berada dalam bahaya.
"Ini bonus dariku!" Hanya dengan sekali tebas, dua kepala berhasil menggelinding dan terpisah dari tubuhnya.
Sementara itu, para anak buah yang berkelahi juga berhasil melumpuhkan mereka semua. "Kita pergi!" Jessi mulai melangkah keluar melalui tangga darurat. Namun, hal tak terduga kembali terjadi, terlihat di bawah sudah bergerak beberapa orang yang hendak mengepung mereka. "Sial!"
"Nona, biar kami yang mengatasi!" Jessi membiarkan para anak buah melangkah lebih dulu dan pertarungan mulai terjadi di tangga darurat tersebut.
Ruang gerak sempit menjadi kendala pertarungan mereka. Jessi hanya mengamati sambil memastikan anak buahnya baik-baik saja. Sesekali dia membantu mereka yamg lengah dari jarak jauh dengan melemparkan Shuriken di tangannya ke arah lawan.
Sambil terus bertarung langkah mereka semakin dekat dengan ujung tangga. "Cepat lari!" Jessi segera berlari bersama anak buah yang lainnya setelah mereka keluar dari kondisi tersebut.
__ADS_1
Di halaman Rumah Sakit Bahagia mobil yang berisikan Maurer dan salah satu sopir sudah menanti kedatangan mereka. Melihat Jessi berlari dengan berberapa anak buah dengan segera dia membukakan pintu sambil menodongkan senjata ke arah lawan.
"Cepat masuk!" ujar Maurer.
Belum sempat pihak lawan menarik pelatuknya, Maurer sudah lebih dulu menembaki dari jauh. Suara tembakan menggelegar di kawasan rumah sakit tersebut, membuat lebih banyak orang langsung mendekat. "Cepat!"
Satu per satu anak buah dan Jessi memasuki mobil. Setelah itu sang sopir langsung menancap pedal gas meninggalkan area rumah sakit dengan suara beberapa tembakan melesat di luar body kendaraan tersebut.
"Nona." Maurer menyerahkan sebotol mineral kepada Jessi yang masih terengah-engah karena lelah berlari cukup jauh.
"Bagaimana dengan mereka?" Jessi meneguk minuman di tangannya perlahan, dengan napas yang masih memburu naik turun akibat kelelahan.
"Jackson sudah aman!"
Jessi hanya manggut-manggut. Dia masih tidak menyangka di rumah sakit berkedok layanan publik, mampu menyediakan pengamanan seketat itu untuk pasiennya dengan perawat berkemampuan lain pula. Bisa dipastikan mereka bukanlah tenaga medis asli dan hanya mengeruk uang masyarakat.
"Bagaimana dengan karyawan itu?" Jessi kembali meneguk minuman di tangannya secara perlahan.
"Tidak baik, Nona."
"Apa?" Dia langsung menyemburkan air do dalam mulut saking terkejutnya.
To Be Continue....
Hallo teman-teman pembaca setia.
Gimana nih, udah tegang belum di part ini. Jangan lupa tinggalkan jejak, dan outhor sangat berterima kasih kepada teman-teman sekalian yang selalu setia membaca setiap episode baru Jessi.
Meskipun, gak femes, tapi Author bersyukur punya kalian.
__ADS_1
Salam sayang Rissa Audy.
Maaf kalau banyak typo bertebaran.