
"Tentu saja ini buat safety. Sebagai seorang gadis cantik yang terakreditasi, banyak pria pasti akan menggangguku. Aku tidak mungkin dengan mudahnya tertipu dengan pria bakotan seperti mereka jika bukan berniat mengerjainya habis-habisan. Sudahlah, jangan banyak bicara. Ayo, kita keluar dari sini! Kau mau ikut aku atau tetap di sini? Kalau nggak mau ikut ya sudah. Aku tidak perlu repot mengurus lelaki lemah sepertimu!" ajak Jessica sambil sesekali menoleh ke belakang di mana kedua penculik itu tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk panggilan alam.
Setelah kedua penculik tampak mondar mandir ke kamar mandi, Jessica dengan segera menarik tangan bocah pria di sampingnya, juga mengambil kembali tas, dan mengendap-endap melangkah ke luar.
“Kita mau ke mana?” tanya si bocah pria dengan tangan yang masih di pegang Jessica yang setengah berlari keluar dari rumah tua tersebut. Keduanya akhirnya berhasil melarikan diri karena tidak lagi di awasi. Sayangnya, tempat itu cukup sepi.
“Tentu saja kabur, Bodoh! Apa kau tidak mau pulang pada keluargamu?”
Bocah pria hanya terdiam sambil terus menatap langkah Jessica yang hanya memerlihatkan punggungnya, juga rambut panjang yang tergerai berkibar indah tertiup angin di tengah cahaya jingga langit senja ketika keduanya menyusuri jalan.
Sejujurnya ada rasa sedih di dalam hatinya jika harus berpisah dengan gadis manis di depannya. Dia bahkan lebih rela diculik oleh mereka, asalkan bisa tetap bersama gadis di depannya, daripada harus kembali ke rumah yang membosankan. Di mana hanya ada kakeknya yang menyebalkan itu.
Para penculik membawa mereka ke tempat yang cukup jauh dari pemukiman warga. Meskipun ada banyak rumah yang berjajar di sana, tetapi lebih mirip dengan bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan.
Jessica terus menarik tangan bocah pria tersebut untuk berlari dan keduanya baru berhenti setelah Jessica merasa napasnya habis. Mereka sudah cukup jauh melarikan diri dari tempat sebelumnya. “Berhenti,” ujar Jessica dengan deru napas tak beraturan dan terengah-engah.
Mereka baru saja selesai makan, tetapi sudah berlari cukup jauh. Bisa-bisa makanan yang menumpuk di dalam perut tercampur aduk nanti. Gadis kecil itu bahkan merebahkan diri di aspal sambil menatap cahaya senja yang jarang dilihat sebelumnya.
“Apa kau lelah?” tanya sang bocah pria sambil menatap lekat Jessica dengan tangan mereka masih saling berpegangan. Entah ke berapa senyum yang terukir di wajah kecilnya sejak seharian bersama Jessica. Padahal sebelumnya anak tersebut tak pernah menunjukkan ekspresi sama sekali, baik dari segi, suka, tertarik, bahagia, marah, atau sedih. Wajah kecilnya tak pernah bisa menggambarkan semua itu. Namun, berbeda dengan kali ini. Ada rasa hangat yang seketika menyeruak di saat bersama Jessica.
“Jangan banyak tanya! Kakiku pegal. rasanya sudah ingin mati saja,,” gerutu Jessica. Sialnya matahari semakin menurun dan berganti dengan cahaya bulan, bisa-bisa ibunya mengamuk nanti kalau dia tidak segera pulang. Meskipun Jessica tahu mungkin sang ibu sudah dalam perjalanan menjemputnya, tetapi dia tidak bisa meninggalkan bocah pria ini sendirian di sini.
“Mau aku gendong?” Sebuah kalimat singkat yang keluar dari mulut bocah laki-laki di sampingnya membuat Jessica seketika menatap tajam.
Usia keduanya mungkin hanya berbeda sedikit, tetapi tampaknya bocah itu juga punya sedikit pemikiran seperti orang dewasa. “Apa ini seperti drama romantis yang biasanya ditonton oleh ibu,” batin Jessica.
“Ayo!” Tanpa banyak berbicara, bocah laki-laki tersebut berjongkok di depan Jessica dan menyerahkan punggungnya.
“Apa kamu yakin? Aku sangat berat. Aku tidak ingin besok ada berita bocah laki-laki mati karena kelelahan menggendong gadis cantik," ujar Jessica setengah memiringkan kepala melihat ekspresi pria di depannya.
__ADS_1
“Ayo cepat! Aku kuat. Jangan meremehkan tubuh kecil ini,” ucap si anak laki-aki sambil menepuk bahunya sendiri sebagai tanda memersilakan.
“Itu baru namanya pria. Kenapa tidak menawarkan sejak tadi.” Tanpa membuang waktu, Jessica langsung naik begitu saja ke punggung bocah pria yang hampir saja terjerembab karena dia terlalu keras menghantamnya.
Biasanya hanya ada kedua kakaknya yang menggendong Jessica seperti ini. Selain itu, hanya ada orang dewasa yang memang suka menggendong anak kecil. Keduanya kembali melangkah menyusuri jalanan yang tampak mulai gelap itu.
Mereka layaknya sepasang kekasih remaja saat ini. Sang bocah pria menggendong Jessica di punggungnya, sedangkan tas ransel miliknya dia letakkan di depan dadanya. Meskipun ada rasa berat bagi bocah seusianya, tetapi dia mencoba melangkah sepelan mungkin agar mereka bisa lebih lama bersama.
Semakin jauh mereka berjalan hingga setelah dirasa cukup ramai barulah Jessi meminta diturunkan karena rasa kasihan. “Turunkan aku di sini!”
“Kenapa?”
“Nanti kamu tidak bisa tumbuh tinggi karena terlalu lama menggendongku. Lagi pula jalanan sudah mulai ramai.”
Bocah laki-laki tersebut akhirnya menuruti permintaan Jessica. Bukan karena dirinya takut menjadi pendek seperti katanya, tetapi memang melelahkan menggendongnya cukup jauh. Meskipun dia menahan semua keluhannya demi bersama gadis itu.
Mereka kembali melangkah untuk mencari transportasi yang bisa mengantarkan keduanya kembali ke rumah. Beruntung perut mereka sudah terisi penuh sebelum melarikan diri tadi. Jadi tak perlu lah kelaparan di tengah jalan hanya demi menempuh perjalanan jauh, bahkan waktu sudah hampir tengah malam.
“Aku menyukaimu. Nanti jika kita kembali ke rumah masing-masing aku akan mencarimu lagi,” ujar si bocah pria tanpa banyak berpikir membuat Jessica tertawa cukup keras.
“Kamu menyukaiku?” Dengan cepat bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Meskipun mulutnya tidak secerewet Jessica, tetapi dia tidak ingin mereka berpisah. “Kenapa? Karena aku cantik?” Lagi-lagi bocah laki-laki tersebut hanya mengangguk.
Jessica saat ini lebih merasa tengah berbicara dengan Jonathan. Sang kakak lelaki yang entah sudah berapa anak kecil wanita yang dirayunya dengan kata-kata seperti itu, tetapi hanya terucap di mulut saja. Jessica hanya bisa menyeringai kecil. “Sungguh pembohong ulung,” batinnya.
Tanpa menjawab bocah laki-laki di hadapannya, Jessica kembali melangkah sambil menggeleng kecil. Hingga membuat bocah laki-laki di belakang kebingungan dengan tingkah nya. “Hei! Aku serius,” teriaknya untuk pertama kali setelah sebelumnya tak pernah berbicara keras. Dia langsung berlari kecil menyusul Jessica yang semakin menjauh saja. “Kenapa kau menjauh dariku dan tidak menjawabnya?”
“Jangan banyak tanya! Karena memang tidak ada yang perlu dijawab.” Jessica seketika menatap tajam wajah bocah kecil di sampingnya itu. “Dengar ya! Kau tahu aku ini cantik? Jadi jangan harap aku mau bersamamu hanya karena kau baik dan pandai merayu. Aku terlalu berharga untuk hal itu.” Dia pun kembali melangkah setelah memberikan peringatan pada anak kecil yang bahkan belum memberitahu namanya itu.
“Jadi kamu pikir aku berbohong?”
__ADS_1
Jessica hanya bisa mencebikkan bibir saat ini. “Memangnya apa lagi kalau bukan pembohong? Jangan harap gadis manis sepertiku mau termakan rayuan murahmu hanya karena kau menggendongku berjam-jam.” Dia kembali melanjutkan langkah, tetapi langsung berhenti di saat di kejauhan melihat para anak buah ibunya sudah mulai mencari-cari ke sana kemari di tengah keramaian orang.
“Aku tidak bohong.”
“Jangan banyak bicara!” Jessica mengambil beberapa koin dan uang pecahan untuk anak laki-laki itu. “Di sana ada bus. Cepat naik bus itu saja supaya bisa cepat pulang!” saran Jessica adi saat kebetulan tidak jauh dari mereka ada sebuah halte di mana sebuah bus berhenti.
“Tapi—” Sebenarnya bocah laki-laki itu masih enggan meninggalkan Jessica sendirian, sayangnya Je malah terus mendorong tubuh kecilnya.
“Cepat. Nanti kamu ketinggalan bus," ujar Jessica tak ingin bocah itu melihat Paman Mario nanti.
“Bagaimana caranya menikahimu?” tanyanya sambil melangkah mundur mendekati halte
“Kau tahu aku ini cantik? Aku hanya pantas menikahi pria seperti ayahku," ucap Jessica setengah berteriak sambil mengibaskan rambut kanannya.
“Seperti apa Ayahmu?” teriak bocah itu lagi.
“Baik, tinggi, tampan, dan yang pasti kaya. Sudah sana cepat!” Jessica mengibaskan tangan agar bocah pria itu segera masuk bus.
“Aku akan datang padamu nanti jika dewasa dan menjadi seperti ayahmu!" teriak bocah pria itu sebelum akhirnya terpaksa menaiki bus dan naik ke kursi demi mengintip kembali Je yang masih berdiri di trotoar.
Sementara itu, setelah berhasil mengusir si bocah laki-laki. Tiba-tiba saja Mario sudah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
“Paman,” sapa Jessica sambil cengengesan dan menampakan wajah melasnya sebagai jurus andalan menghadapi orang dewasa seperti pria di hadapannya saat ini.
“Dari mana saja Anda, Nona Kecil?” tanya Mario dengan wajah datar karena seluruh kediaman Light sudah heboh mencarinya sejak sore. Apalagi sang Nicholas Bennerick yang langsung meninggalkan urusan kantornya dan marah-marah pada istrinya karena terlihat santai di saat putri mereka menghilang.
“Bermain, Paman. Sekarang Je sudah bosan. Ayo pulang!” ajak Jessica tanpa rasa bersalah dan langsung menggenggam tangan putih kekar itu menuju anak buah yang lainnya.
“Dasar gadis nakal! Apa Anda tahu, Daddymu di rumah hampir gila jika kamu tak segera kembali.” Tanpa basa-basi Mario langsung menggendong Jessica menuju mobil dan mengatakan pada semua orang yang bersamanya mencari si kecil, jika target mereka telah ditemukan.
__ADS_1
To Be Continue...