Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pelabuhan Putih


__ADS_3

Acara berjalan dengan lancar, tidak terjadi hal buruk di sana. Setelah selesai semua orang kembali ke urusan masing-masing.


Barron kembali ke rumah dengan raut wajah kesal, dia berulang kali memukul bagian belakang kursi mobil.


"Sial! Sial! Sial! Di mana para keparat itu?"


Supir di depan adalah asistennya. Hanya dia satu-satunya orang yang mampu bertahan dengan sikap semena-mena Barron. Meskipun, usianya sudah tak muda lagi.


"Apa terjadi sesuatu, Tuan?"


"Tidak terjadi sesuatu dan aku menginginkan sesuatu terjadi!" Kekesalan di wajah Barron bertahan hingga mereka tiba di kediaman.


Setibanya di rumah, Barron langsung meletakkan dirinya di kursi ruang keluarga. Dia melonggarkan dasinya dengan kesal.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang. "Tuan, ada kiriman?"


"Dari siapa?"


"Tuan Jackson, kurir di depan mengatakan harus Tuan sendiri yang menerimanya."


Barron langsung berdiri dari duduknya. Dia baru saja meletakkan diri sudah ada saja gangguan mengusiknya.


Dia menanda tangani surat penerimaan barang dari kurir. "Bawa masuk!"


"Baik, Tuan." Beberapa pelayan bersama-sama mengangkat kotak besar itu ke dalam rumah.


Apa kira-kira yang diberikan bocah sialan itu?


"Kalian buka!" Para pelayan mengikuti instruksi tuannya untuk membuka kotak hadiah tersebut.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat isinya, kepala manusia tanpa tubuh. Barron langsung mendekat ke arah kotak, tiga anak tahanan yang dia siapkan untuk Jackson, dikirimkan kembali padanya hanya dalam bentuk kepala.


Barron berjalan mengambil tongkat bisbol yang tersimpan di lemari kaca. Dia memukul kotak itu dengan membabi buta, layaknya orang kesetanan. Itu bukanlah hadiah, tetapi sebuah penghinaan baginya. "Jackson, Brengsek!"


******


Di sisi lain, berjalan lancarnya acara merupakan kesuksesan tersendiri bagi kediaman Light. Ditambah mereka berhasil mengagalkan rencana Barron. Sebuah pesta kecil di buat untuk merayakan hal itu. Semua orang makan malam bersama dengan penuh suka cita.


"Nona." Mario mendekat ke arah Jessi.


"Ada apa?"


Dia menyerahkan tablet kepada Jessi. Sebuah dokumen yang terlihat tidak ada sesuatu yang mencurigakan baginya. "Ada apa dengan ini?"


"Itu adalah surat izin penerimaan barang import yang dikeluarkan oleh Barron."


"Lalu."


"Sekilas mungkin tidak ada yang salah dengan hal itu karena barang untuk makanan instan juga diminati di sini."


"Jadi, di mana masalahnya?"


"Pihak penerima sungguh bergerak di bidang makanan instan, tetapi pihak pengirim .... "


"Kau tahu perusahaan ini?"


"Itu adalah perusahaan keluarga kami di Negara K, tetapi dia bergerak di bidang properti bertahun-tahun. Bagaimana bisa berubah menjadi usaha makanan instan, sedangkan ayah sangat membenci hal itu?"

__ADS_1


"Jadi, besar kemungkinan produk itu bermasalah atau perusahaan ayahmu yang terjadi masalah?"


Mario mengangguk.


"Kapan transaksi itu dilakukan?"


"Besok, Nona."


"Di mana?"


"Pelabuhan Putih."


"Kita bergerak ke sana besok dan kau cari set produk yang sama untuk kita bawa besok!"


"Baik, Nona." Mario bergegas meninggalkan acara untuk menjalankan tugas dengan mengajak beberapa bawahannya.


Sementara Jessi memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Hari yang panjang baru terlewati saat ini, tetapi esok pagi esok masih menanti untuk dia kembali beraksi.


Pagi harinya Mario sudah datang membawa sebuah Truk Engkel dengan barang yang diminta Jessi di dalamnya.


Mereka bergerak menuju Pelabuhan Putih mengendarai truk dan sebuah mobil lain agar tidak dicurigai oleh musuh. Jessi bergerak dengan tim yang utuh kali ini, ada Mario, Maurer, George, Jackson, dan juga Olivia. Dia memisahkan diri dengan mengendarai motornya.


Seperti biasa, mereka menggunakan earpiece sebagai alat komunikasi. Jessi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia akan lebih dulu melihat situasi di Pelabuhan Putih.


Setibanya di pelabuhan, Jessi berjalan sambil mengamati area sekitar. Dia berjalan di antara kontainer-kontainer besar di sana. Wanita itu lantas memukul tengkuk salah satu pekerja hingga pingsan.


Jessi menyeretnya ke tempat sepi, lalu mengikat kedua tangan, kaki, serta menutup mulut pekerja itu dengan sapu tangan. Dia mengambil helm keselamatan juga rompi orang tersebut, lalu memakai masker dan bergerak menuju lokasi bongkar muat barang.


"Maurer." Jessi memastikan earpiece-nya terhubung dengan yang lain.


"Rekam transaksi di sana seperti biasa!"


"Baik, Nona."


*****


Di sisi lain, Johny bertransaksi menggunakan topeng wajah buatan. Setelah barang turun dari kapal dia langsung mengecek kondisi barang.


"Bagaimana?" ujar Johny.


"Ini, Tuan." Seseorang menyerahkan sebuah kemasan makanan instan.


Sekilas mungkin tidak ada yang aneh dengan kemasan tersebut, tetapi bagi mereka berbeda. Kode batang yang tertera untuk produknya dibedakan dan hanya kaum mereka yang tau. Jadi, pihak keamanan pelabuhan tidak akan mengetahui hal itu.


Johny menganggukkan kepala melihat isi di dalamnya. "Bagus, segera pindahkan ke pabrik!"


"Baik, Tuan."


Mereka memindahkan dua buah kontainer ke atas truk peti kemas. Johny tersenyum melihat barangnya mendarat dengan selamat.


Sementara Jessi yang melihat hal itu langsung memberi instruksi pada anak buahnya.


"Jack buat roda truk itu bocor di jalan sepi, ajak Olivia bersamamu!"


"Baik, Nona." Jackson langsung bergerak bersama Olivia menggunakan mobil.


"Mario ikuti mereka! Kita berkumpul di sana!"

__ADS_1


Mereka segera beranjak pergi meninggalkan pelabuhan karena kedua truk itu juga sudah bergerak mengikuti arah Johny.


Jessi dengan segera melajukan motornya mendahului kendaraan-kendaraan di depannya. Mereka berkumpul di satu titik yang sepi.


"Jack, pastikan salah satu rodanya pecah agar dia berhenti."


"Olivia, buka jaketmu! Gunakan mobil Jack dan kempeskan salah satu bannya. Setelah truk berhenti berpura-puralah meminta tolong untuk menggantinya. Aku lihat hanya ada dua orang di masing-masing truk."


"Baik, Nona."


"Kalian! Tukar barang kita dengan yang ada di kontainer itu. Aku akan mengawasi situasi."


Mereka mengangguk serentak, lalu mengambil posisi untuk siap bergerak. Mobil Mario dan Olivia sudah berada pada posisi agar mereka tidak curiga sebelumnya.


Salah satu truk mulai terlihat.


"Jack, tembak truk kedua!" ujar Jessi.


"Baik."


Tak butuh waktu lama Jack yang berada di balik sebuah pohon langsung menembak tepat ban bagian depan truk kedua.


Merasakan truk dalam kondisi tidak stabil, sopir menghentikan laju kendaraannya, terlihat dua orang turun dari sana. Mereka melihat apa yang salah dengan muatannya.


"Yah ... bannya pecah, Kang," ujar sopir


"Kita ganti segera."


Mereka hendak mengambil dongkrak dan ban serep, tetapi belum sempat melakukan tugasnya seorang wanita datang menghampiri mereka dengan tubuh sexy yang berkeringat— dialah Olivia.


"Tuan, bolehkah saya meminta tolong!" Olivia berbicara dengan napas naik turun, seperti kelelahan.


"Apa yang bisa kami bantu, Nona?"


"Itu, ban mobil saya kempes. Tapi saya tidak bisa menggantinya." Olivia mencoba untuk terlihat manja di depan mereka.


Mereka melirik satu sama lain. "Di mana?"


"Di sana." Jarinya menunjuk ke arah sebuah mobil yang terparkir di tepian jalan raya.


Merasa wanita ini senasib dengan mereka, kedua sopir itu lantas membantu Olivia mengganti ban mobil. Meninggalkan truk kontainer.


Kesempatan di depan mata, kini giliran Mario dan Jackson yang mengganti dua karton barang di dalam kontainer dengan milik mereka. Setelah itu Truk Engkel langsung beranjak pergi meninggalkan lokasi, menuju kediaman Light.


"Misi berhasil," ujar Jessi. "Jack kau tunggu Olivia."


Jessi bergegas mengendarai motornya menuju kediaman Light.


Sementara kedua sopir, setelah membantu Olivia segera kembali ke truk dan mengganti ban yang pecah. Ketika mereka sedang mengencangkan baut roda, tiba-tiba saja Johny datang menghampiri.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa lama sekali?"


"Maaf, Tuan. Bannya pecah."


"Cepat selesaikan!"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2