
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan. Mobil yang menjemput sang Nona kecil tampak mulai memasuki pelataran kediaman Light. Sayangnya sang gadis sudah terlelap karena hari sudah cukup larut malam. Lagi pula tidak ada satu pun yang tahu apa yang sudah dialami.
Mario menggendong si kecil masuk kediaman disambut dengan Ayahnya yang memerlihatkan wajah khawatir. "Berikan padaku!" Pinta Nicholas yang langsung mengambil alih putrinya.
Wajah kotor penuh debu dengan seragam tampak tak karuan dan bau asam keringat menjadikan gadis tersebut tak terlihat seperti keturunan keluarga kaya. Malah lebih mirip gelandangan yang baru saja ditemukan di pinggir jalan.
Jesslyn hanya bisa berkacak pinggang sambil mencebikkan bibir melihat tingkah suaminya yang berlebihan dalam mengkhawatirkan iblis kecil itu. Bahkan berlalu pergi tanpa menoleh kepadanya dan membawa Jessica menuju kamar.
"Cih, dasar pria tak berperasaan. Tadi saja memarahiku habis-habisan. Sekarang malah mengabaikanku. Iblis kecil itu juga, pulang-pulang malam molor. Membuatku tidak tega saja kalau mau memarahinya," gerutu Jessi melihat punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Nyonya," sapa Mario pada Jessi.
"Di mana kalian menemukannya?" tanya Jessi tanpa basa-basi dan kembali duduk melihat anak buahnya tersebut.
"Di jalan raya cukup jauh dari tempat mereka, Nyonya," jawab Mario jujur karena memang menemukan Jessica sudah cukup jauh dari tempat penculikan.
Jesslyn hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan penculiknya?" tanya Jessi lagi.
"Ketika kami tiba di rumah itu mereka sudah tewas, Nyonya," lapor Mario dengan hati-hati.
"Apa?" Jessi sontak terkejut dengan deru napas tak beraturan melihat ke arah kamar Jessica di atas. Meskipun dia membebaskan anaknya untuk berbuat jahil. Akan tetapi, bukan berarti mengajarkan membunuh manusia di usianya yang masih terlalu dini. Hal itu bisa memengaruhi kondisi perkembangan anaknya nanti jika sampai hal seperti itu di biarkan.
Seakan mengetahui kekhawatiran Jesslyn. Mario lantas memerlihatkan beberapa foto yang di ambilnya tadi ketika melihat mayat si penculik. "Nyonya, mereka sepertinya tewas karena overdosis racun tikus." Mario menyerahkan ponselnya pada Jessi membuat wanita tersebut menatap lekat gambar dua orang pria dengan perut mengembung dan busa di mulutnya yang sudah membiru.
"Apa Jessica yang melakukannya?" tanya Jesslyn dengan bergetar dan berharap bukan putrinya pelakunya.
__ADS_1
"Sepertinya bukan, Nyonya. Karena sebelum menemukannya, sepertinya mereka sudah menculik seorang bocah lainnya, dan mungkin Nona Kecil sudah membantunya pulang ketika kami tiba."
Jesslyn tidak bisa berkata hal lain selain bernapas lega. Setidaknya putrinya bukanlah seorang pembunuh seperti itu. Meskipun sangat jahil, tetapi Jessica adalah sosok yang tidak tegaan. Dia saja banyak berandai-andai dan merasa bersalah di saat Jayden membunuh burung-burung kakeknya pagi tadi. Bagaimana mungkin Jessi kecil mampu membunuh manusia di saat menepuk nyamuk yang menggigit pipinya saja tidak tega.
"Ya sudah kalau begitu. Kau bisa kembali sekarang. Kasihan Anna sendirian. Terima kasih sudah membawa pulang Jessica dengan selamat," ucap Jessi dengan napas lega.
"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu."
Jesslyn hanya mengangguk kecil melihat kepergian Mario. Dalam hati wanita tersebut bertanya-tanya siapakah gerangan bocah yang bersama Jessica seharian ini.
Tak ingin terlalu menduga-duga, dia pun melangkah menuju kamar putrinya menyusul sang suami. Setibanya di sana, tampak Nicholas baru saja selesai membersihkan tubuh dan mengganti baju sang putri yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Tahanlah amarahmu, Sweety! Kasihan Jessica terlalu lelah. Lihatlah! Bahkan kakinya sampai bengkak, sepertinya dia berlari terlalu jauh."
Kalimat Nicholas hanya bisa dijawab anggukan oleh Jesslyn. Dia menatap kaki sang putri yang memang tampak bengkak dan merah. Perlahan Jessi menyelimuti tubuh sang putri dan mengecup dahinya cukup lama. "Semoga benar bukan kamu yang mampu membunuh mereka, Sayang," batin Jessi sambil memejamkan mata ketika mendaratkan kecupan itu. "Ayo kita istirahat juga!" Ajak Jesslyn pada suaminya, tetapi melangkah pergi tanpa menunggunya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Sweety?" Nicholas langsung duduk di ranjang sebelah sang istri dan menjadikan pundaknya sebagai sandaran bagi Jesslyn.
"Sayang, bagaimana menurutmu jika penculiknya tewas karena overdosis racun?" tanya Jessi sambil menatap suaminya yang malah tersenyum lembut.
"Kamu mengenal putrimu lebih dari aku sebagai seorang ibu. Apa yang dia suka dan tidak suka meskipun kamu selalu marah padanya, kamu lebih paham dibandingkan siapa pun? Apa kamu percaya jika Jessica tega membunuh?" Bukan menjawab Nicholas malah berbalik bertanya. Sejatinya seorang ibu memanglah manusia yang paling memahami anaknya. Semakin sering marahnya seorang ibu, bukan karena dia membenci buah hati, tetapi lebih pada rasa khawatir akan masa depan dan kebahagiaan mereka.
"Jessica tidak mungkin melakukan hal itu," jawab Jessi yakin dan semakin dalam memeluk tubuh suaminya.
"Kalau begitu kenapa ragu? Kura harus percaya putri kita tidak akan mengecewakan orang tuanya meskipun dengan caranya sendiri. Jangan menuduhkan sesuatu yang belum pasti dan malah membuat mereka kecewa karena sebagai orang tua kita tidak memercayainya. Sekarang tidurlah! Besok kita tanyakan langsung pada Jessica," ucap Nicholas dengan lembut sambil merebahkan tubuh istrinya.
__ADS_1
Meskipun keduanya sempat bertengkar tadi. Bukan karena mereka berselisih pendapat, tetapi tidak adanya sang buah hati di hadapannya yang menjadikan keduanya melampiaskan kekhawatiran pada pasangannya.
Keduanya pun memilih untuk merajut mimpi dan terlelap di bawah temaram remang ruangan. Lebih baik menanyakan hal yang mengganjal di hati besok pada yang bersangkutan daripada hanya menduga-duga serta menjadi prasangka.
Di sisi lain, seorang bocah pria baru saja kembali ke rumahnya. Tempat membosankan yang menjadi satu-satunya rumah di mana dia bisa pulang. "Aku pulang," ucapnya sambil membuka pintu yang tak dikunci itu.
"Brandon, dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya seorang wanita yang menjadi bibinya selama ini.
"Bibi Rosa, kenapa, Bibi ada di sini?" Bukannya menjawab Brandon malah berbalik bertanya pada Bibinya.
"Seharusnya kamu itu menjawab. Bukan malah berbalik tanya pada, Bibi. Sekarang jawab dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Apa kamu tidak tahu, Kakekmu hampir jantungan karena risau mencarimu?" Rosa berceloteh ria karena mengkhawatirkan keponakannya, tetapi Brandon hanya mengerlingkan mata mendengar ocehan bibinya yang selalu merusak gendang telinga.
"Aku habis main dengan temanku," jawab Brandon singkat dan langsung berlalu pergi begitu saja.
"Hei! Kamu pikir Bibimu ini bodoh? Gurumu bahkan mengabarkan kalau kamu tidak masuk sekolah hari ini. Jadi, bagaimana bisa kamu bermain dengan temanmu?" teriak Rosa tampak kesulitan menghadapi tingkah Brandon yang diam-diam menghanyutkan.
Selama ini, di sekolah saja Brandon bahkan tidak memiliki seorang pun teman. Dia sangat introvert dan membatasi diri dalam pergaulan. Hal tersebut pula yang membuat Rosa lebih memerhatikan perkembangan keponakannya tersebut. Akan tetapi, sepertinya sosok Brandon memanglah terlalu tertutup, bahkan bagi keluarganya sendiri.
"Dari pada mengurusi kehidupan bocah kecil seperti aku. Lebih baik Bibi carilah pria di luar sana untuk dijadikan suami dan menikah lalu memiliki anak. Jadi, Bibi hanya perlu mengkhawatirkan buah hatimu dan bukan anak yang tak memiliki orang tua sepertiku!" Tanpa menunggu jawaban Bibinya, Brandon langsung menutup pintu kamar dengan cukup keras. Hingga Rosa hanya bisa tercengang dengan setiap kalimat panjang yang baru saja keluar dari mulut kecil itu.
"Sejak kapan Brandon jadi banyak bicara?" ujar Rosa bermonolog pada dirinya sendiri. Beruntungnya sang ayah sudah terlelap tadi setelah minum obat karena dia yang berkata akan menunggu Brandon pulang.
Di dalam kamar Brandon langsung meletakkan tasnya di atas meja belajar dan merebahkan diri di ranjang kecilnya. Sebuah seringai terlihat jelas di wajah bocah kecil tersebut mengingat para penculik yang pasti sudah mati saat ini.
Jika Jessica terang-terangan memerlihatkan caranya meletakkan bubuk pencahar di makanan. Akan tetapi, berbeda dengan Brandon yang menaburkan racun tikus tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Jessica.
__ADS_1
"Je," ucap Brandon sambil menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan kembali gadis kecil cantik yang berhasil mencuri hatinya itu. Meskipun dia hanya tahu 'Je' adalah namanya.
To Be Continue..