
Setelah semua urusan selesai John pergi ke rumah Jane untuk mencari orang yang dimaksud Damien. Pandangan pria itu mengedar ke segala arah di mana rumah sederhana hanya tersisa asap kecil dan abu yang beterbangan.
Hanya ada sunyi serta sepi di malam yang hampir menjelang pagi itu. Sungguh pamannya sudah bertindak sangat keterlaluan saat berusaha mencelakai Jane hanya demi menjadikannya istri. "Untung aku tidak suka menikah," gumam John sambil terus menyusuri area rumah.
"Stella!" Pria tersebut berteriak memanggil nama adik Jane. Padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana rupanya. "Stella, di mana kamu!"
John terus mencari-cari di tengah cahaya bulan. Tak ada penerangan karena memang jarak antar rumah cukup berjauhan. "Stella!" Dia terus melangkah menuju bagian belakang, di mana seharusnya hanya ada kebun dan ladang. "Stella!"
Tak jauh dari tempat John berdiri, dia melihat sebuah pohon dengan seorang wanita yang meringkuk di baliknya. "Stella," panggil pria itu lirih sambil melangkah mendekati pohon tersebut.
"Stella." Tangan John meraih bahu wanita tersebut dengan waspada. Hingga dia berteriak cukup keras ketika perempuan tersebut menoleh ke arahnya. "Arg! Setan!"
Rambut panjang dan kusut menjuntai ke depan menutup wajah gadis itu karena sebelumnya dia sudah tertidur di bawah pohon tersebut. "Hei! Siapa yang kamu sebut setan, hah?" teriak Stella sambil menyibakkan rambut kusutnya.
"Ka–kau bukan setan?" tanya John yang terduduk di tanah karena terkejut sebelumnya.
Gadis itu menggeleng kecil, membuat John menghela napas lega. "Apa kamu, Stella?"
"Iya."
"Ikut aku cepat!" Tanpa membuang waktu, John segera menarik tangan wanita tersebut. Namun, karena terlalu lama berada di bawah pohon membuat Stella kesulitan untuk berdiri.
"Awh." Gadis itu terjerembab di saat hendak melangkah pergi, membuat John segera mendekati Stella yang menundukkan kepala sambil memegang kakinya tersebut.
"Apa kamu terluka?" tanya John menelisik setiap bagian tubuh Stella yang kotor penuh dengan debu hitam bekas pembakaran.
"Kakiku kesemutan," ucap gadis itu hingga membuat John bernapas lega.
__ADS_1
"Ayo!" Tanpa membuang waktu, John membawa tubuh Stella, menggendong ala brydal style menuju mobilnya terparkir.
Stella hanya bisa mengalungkan tangan di leher pria tersebut sambil menikmati setiap inchi postur wajah yang terbilang lumayan tampan itu. Cahaya remang sekaligus embusan angin malam mengibarkan bulu mata dan menggoyangkan rambut gondrong pria tersebut.
Namun, sesaat kemudian, barulah Stella menyadari jika dia tidak mengenal pria itu. "Siapa kamu? Apa kamu ingin menculikku?"
"Jangan sembarangan bicara! Jane memintaku menjemputmu," ucap John sambil melirik sedikit gadis di gendongannya tersebut.
"Di mana Kak Jane? Apa dia baik-baik saja?"
"Di rumah sakit. Aku akan membawamu ke sana, sekarang duduklah dengan tenang!" John meletakkan Stella di kursi sebelah kemudi, lantas dia sendiri melangkah berputar untuk mengemudikan mobil tersebut.
Mereka pun bergegas melaju perlahan menyusuri jalan desa dan menuju rumah sakit di mana Jane dibawa oleh Damien.
____________________
Hanya ada satu rumah sakit besar dengan fasilitas cukup memadai di daerah tersebut, dan itu juga merupakan tempat di mana Jane dahulu dirawat. Dokter hanya bisa menggelengkan kepala di kala membaca catatan medis wanita yang kini berbaring di ranjang tersebut.
"Apa, Tuan keluarganya?" tanya dokter tersebut melihat ke arah Damien.
"Iya."
"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar!"
Sejenak Damien mengernyitkan dahi, tetapi sedetik kemudian pria itu mengangguk dan mengikuti langkah sang dokter menuju ruangannya. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang serius hingga membuat dokter sampai mengajak berbicara empat mata.
Rasa khawatir seketika menyeruak di dalam jiwa. Bukankah Jane hanya terluka sedikit, tetapi mengapa dokter mengeluarkan ekspresi tak terbaca. Hingga beberapa saat kemudian, dokter pun memersilakan Damien untuk duduk ketika sudah tiba.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya, Tuan. Dari catatan medis sebelumnya Nona Jane pernah di rawat di sini dan disarankan untuk melakukan tindakan operasi. Apa sudah dilakukan di rumah sakit lainnya?" tanya sang dokter ketika melihat catatan medis terakhir Jane di rumah sakit ini dan cukup lama wanita itu baru kembali ke sini lagi.
"Operasi?" Damien seketika menautkan kedua alis mendengar penuturan dokter. Selama di negara N Jane hanya pernah dirawat sekali dan itu saat bersamanya. "Apa ada sesuatu yang buruk, Dok?"
"Sebelumnya Nona Jane didiagnosa mengalami tumor craniopharyngioma. Biasanya hal ini terjadi pada anak kecil dan orang tua. Tapi, tak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa dan Nona Jane salah satunya. Karena tumor jinak cenderung lambat perkembangannya dan terbilang masih kecil. Dokter sebelumnya sudah menyarankan tindakan operasi. Tapi, Nona Jane menolak saat itu."
Damien hanya bisa mematung di tempatnya mendengar penjelasan dokter yang layaknya sambaran petir bagi pria itu. Tak cukup Jane terluka karena ledakan beberapa bulan lalu, nyatanya dia kembali harus menderita seorang diri dan bodohnya, Damien tidak mengetahui hal itu.
"Apa itu sangat berbahaya?" Damien hanya bisa menatap dengan penuh harap kepada sang dokter dan beruntungnya dokter itu tersenyum.
"Sebenarnya tumor jinak bisa disembuhkan dengan operasi, terapi, dan pola hidup sehat. Hanya saja 'kan akar dari tumor itu sendiri harus diangkat terlebih dahulu agar tidak menjalar ke organ tubuh lainnya, terutama mata," jelas dokter.
"Mata?"
"Iya, Tuan. Tumor jinak biasanya diketahui setelah menyebar cukup lama, tapi beruntung kondisi Nona Jane bisa diketahui sejak dini." Sejenak Damien bernapas lega mendengar penuturan dokter. Setidaknya nyawa Jane tidak berada dalam bahaya dan belum terlambat untuk diobati. "Hanya saja jika dibiarkan begitu saja akan mengganggu penglihatan bahkan menyebabkan kebutaan."
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Damien ketika dokter terus menjelaskan.
Dia hanya mendengarkan setiap kalimat dengan rasa nyeri di hati dan rasa bersalah yang semakin menggunung.
Apalah arti cinta dalam hatinya, jika tidaK tahu orang yang dicintai bahkan menderita seorang diri selama ini. Nyatanya dia hanyalah seorang pria bodoh yang tak tahu bagaimana cara membuat wanita itu mau berbagi masalah dan berkeluh kesah padanya.
Setelah mendengar banyak penjelasan dari dokter, Damien pun melangkah keluar ruang dengan suasana hati yang masih kecewa pada dirinya sendiri. Meskipun dokter mengatakan hal itu tidak merenggut nyawanya, tetapi hanya membayangkan Jane menderita sendirian membuat pria tersebut memukul dinding berulang kali.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya pada diri sendiri. "Argh!" Dia mengacak rambut dengan kasar dan hanyut dalam penyesalan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Damien kembali ke kamar perawatan Jane.
To Be Continue…
__ADS_1