Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mencetak Pewaris


__ADS_3

Emosi melihat tingkah para karyawan kakaknya, Jessi lantas menggebrakkan tangan ke atas meja, hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan membuat mereka seketika terlonjak karenanya. "Sepertinya kakakku hanya membayar mulut kalian dan bukan otaknya." 


Dia lantas menggeserkan tablet miliknya hingga meluncur di atas meja dan berhenti tepat di depan karyawan departemen desain. "Kalian lihat! Apa itu bisa jadi gantinya untuk produk kita? Kalian membuatku pusing saja banyak omong tapi otak tak bekerja." Jessi hanya bisa mendengus kesal sambil memijit pangkal hidungnya. 'Mengurus perusahaan sangat menyebalkan,' ucapnya dalam hati. 


Tak lama kemudian, satu per satu karyawan di ruangan itu mulai mengangguk kecil ketika bergiliran melihat apa yang sudah di gambar oleh Jessi. Desain satu set perhiasan dengan bunga teratai sebagai poin utama dan berwarna biru laut yang indah. 


Biru melambangkan kepercayaan, kesetiaan, kebijaksanaan, kepercayaan diri, kecerdasan, kepercayaan, kebenaran, dan surga. Warna biru dirasa bisa bermanfaat untuk pikiran dan tubuh manusia. 


"Aku akan mengubah makna produk kita menjadi Cinta dan Kesetiaan." Para karyawan mengangguk setuju mendengar rencana Jessi. Adik dari Damien Barrack sungguh memiliki kemampuan melebihi kakaknya, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui hal itu. 

__ADS_1


Namun, seorang wanita di samping Jessi tiba-tiba saja mencoba untuk mengemukakan pendapat. "Tapi, Nyonya. Jika kita mengubah tema kita pada desain, bagaimana dengan persetujuan Tuan Damien nantinya?" kata Dove.


Para karyawan pun kembali berbisik, bukankah keberadaan wanita itu sudah berarti menggantikan posisi Damien sementara yang sedang berhalangan hadir? pikir mereka.


Jessi tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum miring di wajahnya sambil melirik pria yang kini berdiri di sampingnya. "Kau! Apa yang sudah kakakku perintahkan sebelumnya padamu?" tunjuk Jessi pada Rahmat. 


Hal itu berhasil membuat Dove merah padam. Dia bahkan mengepalkan kedua tangan dengan rasa geram yang membuncah. Awalnya dia ingin  menunjukkan pada Damiem, jika masalah di perusahaan ini hanya dia yang bisa menyelesaikannya. Dia tidak menyangka, Damien malah menyuruh adiknya mengambil alih.


Di tambah pria itu bahkan menyerahkan hak kuasa pengambilan keputusan yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya pada adiknya. Hal itu tentu saja membuat rencananya gagal, sayangnya wanita tersebut mencoba memutar otak dan berusaha memojokkan situasi. 

__ADS_1


"Bukankah seharusnya kita menghubungi Tuan Damien dulu, Nyonya. Jika hanya Rahmat yang mendengarnya, bagaimana kalau itu semua hanyalah kebohongan dan Tuan tahu, nantinya kami yang akan menanggung akibat di saat dia murka, Nyonya." 


Jessi hanya bisa menyeringai, di kala Dove berusaha mempertanyakan kemampuannya. Selain itu, dia juga mencoba mengatakan kalau kehadirannya di sini bukanlah atas perintah Damien. Bahkan bisa saja berniat merebut perusahaan. "Apa kakakku tidak menghubungimu?" tanya Jessi sinis.


Dove hanya bisa menggeleng kecil karena memang dia tidak bisa menghubungi Damien sejak tadi. Bahkan panggilannya tidak tersambung dan dialihkan ke operator. 


"Ah, aku lupa. Dia sedang sibuk mencetak pewaris Barrack Corp untuk menggantikannya nanti. Bagaimana bisa dia memikirkan perusahaan di saat ada istri cantik di bawah kungkungannya?" Jessi hanya bisa menggeleng kecil sambil menghela napas panjang. Dia melirik reaksi Dove yang tampak sangat geram akan setiap kalimatnya saat ini. 


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2