
Di Barrack Corp beberapa hari sudah nyatanya Jessi menyelesaikan semua masalah itu. Damien yang awalnya berniat izin pergi tiga hari, ternyata sepasang suami istri tersebut lebih lama dalam memadu kasih. Bahkan hanya menghubungi untuk mengabari dan tak dapat dihubungi lagi setelahnya.
Seminggu sudah mereka belum kembali, membuat sang adik hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah kedua kakaknya. Dia paling malas berurusan dengan perusahaan, tetapi di sini malah disiksa dan harus membereskan semua masalah itu.
Kebocoran informasi telah diusut, bahkan pihak yang bersangkutan pun telah ditangani melalui jalur hukum dan tidak ada kata maaf jika Jessi yang mengatur semuanya. Sementar itu, Dove di hari setelah diberikan petuah oleh Jessi langsung menyerahkan surat pengunduran dirinya dan menghilang entah ke mana.
Hal itu tentu saja membuat Jessi sedikit bingung. Apa kata-katanya sungguh dicerna wanita tersebut atau dia bertindak lain. Akan tetapi, tidak ada berita tentang wanita yang bunuh diri karena cintanya ditolak beberapa hari ini.
"Apa kau tahu yang terjadi pada Dove? Seperti ada sesuatu yang aku lewatkan saat ini?" tanya Jessi pada Rahmat di depannya yang menyerahkan sebuah dokumen.
"Em, ibunya sakit keras, Nyonya. Dia tidak ada kabar karena harus menjaganya," jawab Rahmat dengan hati-hati mengingat kemarahan sebelumnya Jessi kalau sampai dia salah menjawab.
__ADS_1
Meskipun pria itu bar-bar pada Dove, nyatanya nyalinya seketika menciut jika berhadapan dengan Jessi. Namun, meskipun Dove sudah tidak bekerja di sini lagi, keduanya tetap berhubungan baik. Bahkan tak jarang pria tersebut ikut menjaga ibunya Dove sepulang kerja atau sekedar mengantarkan makanan.
"Jika kau menyukainya kenapa tidak diungkapkan?" Jessi meletakkan pena di samping dokumen dan menyerahkan benda tersebut pada Rahmat.
Pria itu hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama mendengar kalimat Jessi, dia mengambil dokumen dan memeluknya seakan hal itu adalah kekasihnya. "Apa terlihat jelas, Nyonya?"
Jessi dengan cepat menganggukkan kepalanya sambil mencebik. "Sebagai seorang pria seharusnya kau lebih berani dalam mengungkapkan perasaanmu. Jangan jadi menyebalkan seperti Damien, terlalu banyak berpikir dan hampir kehilangan Jane. Kau mau menjadi perjaka tua seperti Damien atau Paman Alex? Ya, meskipun sekarang kakakku sudah tidak perjaka lagi."
"Tapi, bagaimana kalau dia menolak saya, Nyonya?" Meskipun memberikan perhatian lebih pada Dove. Nyatanya wanita itu tak melihat ketulusannya dan hanya fokus untuk mencintai Damien.
"Mungkin bayi Anda akan lahir seperti Mario Teguh, Nyonya," jawab Rahmat asal.
__ADS_1
"Mario Teguh?" Jessi hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar nama tokoh yang baru saja dia dengar.
"Ekhem." Rahmat berdeham sementara sebelum mengubah suara layaknya tokoh favoritnya tersebut.
"Pelajaran pertama dalam mencintai adalah memberi dengan ikhlas tanpa pernah mengharap suatu apa pun. Proses merekonstruksi selalu dimulai dengan menghancurkan bagian yang akan diperbaiki, termasuk hubungan percintaan," ucap Rahmat menirukan gaya Mario Teguh, tetapi malah terdengar lucu bagi Jessi yang baru saja melihatnya.
Dia tertawa renyah layaknya bayi mendapatkan cilukba ketika mendengar ucapan Rahmat yang sungguh menghibur baginya. "Lagi lagi."
"Cinta itu tak cukup hanya dideklarasikan, tetapi butuh juga yang namanya perjuangan. Aku tak hanya mencintai kamu. Aku mencintai kita, saat aku dan kamu menjadi kita. Aku mencintai kebersamaan kita." Kalimat yang keluar dari mulut Rahmat ketika mengatakan kutipan nasehat yang biasanya dilayangkan oleh Mario Teguh membuat Jessi tertawa riang bahkan sudut matanya berair karena hal itu.
Dia hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala mendengar suara Rahmat yang dibuat-buat. Hingga suara pintu ruangan dibuka dengan sangat keras membuat keduanya terkesiap untuk sesaat.
__ADS_1
"Apa kau baru saja menyatakan cinta pada istriku, hah?" teriak Nicholas yang baru saja sampai di tempat tersebut setelah melalui perjalanan panjang karena merindukan istrinya.
TO be Continue…