Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mak Comblang


__ADS_3

Setelah puas mencoba baju pengantin untuk Olivia. Ketiga wanita beda usia tersebut lantas bergerak menuju Light Resto. Namun, di tengah jalan Jessi melihat seorang wanita yang tak asing baginya sedang duduk di halte sambil memukul betisnya sendiri.


 "Berhenti!" ujar Jessi tiba-tiba mengejutkan Maurer. 


"Ada apa, Nyonya?" tanya Maurer dengan heran. 


"Ada mainan baru. Olivia, bawa gadis itu kemari!" tunjuk Jessi pada seorang wanita duduk seorang diri di halte dengan pakaian hitam putih itu. 


Tak lama kemudian, kedua wanita tersebut pun masuk ke mobil dengan tatapannya yang tak biasa. "N–nyonya," ucapnya tergagap tak percaya melihat sang ibu hamil semalam yang ternyata memanggilnya. 


"Hai." Jessi malah melambaikan tangan dengan santai melihat keterkejutan di wajah wanita itu. "Masuklah!" 


Dengan perasaan sedikit was-was wanita itu tampak enggan untuk masuk ke mobil. Bagaimana jika nantinya aku tak selamat? Mampus aku? Batinnya bergejolak. 


Seakan mengerti apa yang membuat wanita itu membeku sesaat, Jessi lanjung saja menarik tangannya ke dalam hingga dia terjerembab di sampingnya. "Jalan!" 


Mobil kembali melaju dengan empat wanita di dalamnya. Di hati wanita tersebut sangat waspada, bahkan buliran keringat sebesar biji selasih sudah mulai mengembang di dahinya yang selebar lapangan golf. 


"Apa kau takut padaku?" tanya Jessi dengan santai. 


Pertanyaan macam apa itu, tentu saja dia takut. Wanita tersebut mengira ibu hamil di sampingnya adalah istri sang mantan kekasih yang menuntut balas. Bagaimana bisa dia tidak takut pada Jessi. 


Namun, tampaknya wanita tersebut mengontrol mampu emosi dengan baik. Lagi pula dia bukan berniat menjadi seorang pelakor. Hanya saja pria itu memang selalu saja mengejarnya. Bahkan setelah dia keluar dari pekerjaannya. 


"Tidak, Nyonya. Saya tidak salah di sini!" Dia mencoba untuk tetap tenang dan tak ingin membuat keributan terlebih dulu. "Lagipula saya dan dia sudah—"

__ADS_1


"Aku minta maaf untuk semalam," ucap Jessi memotong kalimat wanita di sampingnya. Keduanya saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Maurer dan Olivia hanya bisa mendengarkan, tetapi tak menyahut sama sekali karena memang itu bukan urusan mereka. 


Sebuah senyuman tampak terlukis indah di wajah ibu hamil tersebut dengan aura keibuannya. Menyebabkan wanita di hadapannya hanya bisa terdiam menanti kalimat selanjutnya. 


"Sebenarnya aku bukan wanita dari priamu itu. Hanya saja dia berniat buruk dengan temannya dan berencana menidurimu sambil live agar seluruh dunia tahu siapa dirimu." Jessi sedikit melebihkan perkataannya seperti harga sembako yang sedang naik-naiknya. Meskipun pada kenyataan tak sepenuhnya bohong karena memang mereka berencana merusak nama baik gadis itu. 


"Maksud Anda?" 


"Selama ini memang dia tak pernah menyukaimu dengan tulus. Hanya ada taruhan antara dia dan temannya yang pernah kau tolak." 


Sebuah bukannya marah, tetapi malah sebuah senyum kecil tampak berkembang di wajah wanita itu. "Terima kasih atas bantuan Anda. Sebenarnya kami sama-sama bersembunyi di balik topeng. Dia dengan cinta palsu untuk membalas dendam temannya dan saya pun sama, hanya demi menguras uangnya. Miris sekali nasib saya." 


"Bagus itu." Sentak Jessi membuat ketiga wanita di sana terkejut seketika. "Ah, beruntungnya. Aku pikir kau gadis bodoh yang mudah tertipu pada bujuk rayunya. Kalau begitu maaf sudah memutuskan atm berjalanmu." 


"Bukan masalah, Nyonya. Lagipula semua itu sudah tak ada artinya lagi." Dia menatap ke luar kaca dengan tatapan sendu, entah apa yang sedang mengganggu pikiran wanita tersebut. Hanya saja tampaknya dia memang tengah membutuhkan biaya untuk suatu hal dan Jessi melihat kegundahan hatinya. 


Wanita tersebut hanya mengangguk kecil. "Ibuku memintaku untuk keluar dari tempat itu. Tapi, kami membutuhkan biaya jika ingin bertahan hidup. Jadi, aku harus tetap mencari pekerjaan." 


"Kalau begitu bekerja padaku saja." Jessi tampak gembira menawarkan hal itu, tetapi siapa yang tahu pikiran ibu hamil yang satu itu. Pasti ada setitik keburukan yang akan dia selipkan di sela bantuannya. "Tapi, apa kau bisa merayu seorang pria?" 


Kebahagiaan di awal sirna sudah dari wajah wanita itu, dia tampak heran dengan ibu hamil di sampingnya. "Apa Anda menyuruh saya menjadi pelakor? Maaf, saya tidak minat untuk hal itu."


"Ish, siapa juga yang memintamu jadi pelakor." Jessi mencebikkan bibir, sedangkan dua anak buahnya di depan saling berpandangan mengisyaratkan bahasa tubuh. Dalam hati keduanya bertanya-tanya, siapakah kali ini yang akan menjadi sasaran bumil gila itu. 


"Jadi?"

__ADS_1


"Rayulah anak buahku! Nanti aku akan membayarmu dua kali lipat kalau selama masa kau bekerja dan ampau besar jika kalian sama-sama jatuh cinta." Jessi tampak begitu girang membayangkan anak buahnya satu per satu bisa berumah tangga. Entah apa yang terjadi, sepertinya kehamilan membawa hormon mak comblang dalam jiwa Jessi. 


"Kenapa saya harus merayu anak buah Anda? Apa dia bakotan?" 


"Sembarangan kalau bicara. Dia punya ketampanan di bawah suamiku. Tapi, seperti cukup bodoh dalam hal cinta, yang dia tahu hanya kerja, kerja, kerja, dan kerja. Membosankan sekali setiap datang selalu membicarakan pekerjaan." Sejenak Jessi menghentikan kalimatnya untuk menoleh pada Maurer. "Maurer, apa kau keberatan memiliki kakak ipar sepertinya?" 


"Jadi, Nyonya ingin menjadi biro jodoh untuk Kak Mario?" Maurer tampak terkejut ketika ditanya seperti itu. Dia sendiri memang tak pernah melihat kakaknya itu berpacaran apalagi membayangkan pernikahan. 


"Tentu saja iya. Kau pikir aku menyuruhnya merayu George? Bisa-bisa Olivia mati gantung diri nanti," ketus Jessi melirik sinis pada Olivia. 


Sementara itu, yang disindir hanya bisa berdecak kecil sambil menggerutu. "Nyonya, sangat menyebalkan!" 


"Bagaimana?" tanya Jessi lagi pada Maurer. 


"Kalau itu saya terserah mereka saja, Nyonya. Hati manusia tak ada yang tahu bagaimana akhirnya. Asal jangan menggunakan cara licik saja untuk tidur dengannya! Jika dia melakukan hal itu, saya sendiri yang membunuhnya!" 


Wanita di samping Jessi tampak menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Apa dia baru saja masuk ke dalam lingkup orang gila yang kaya. Entah mengapa jantungnya berpacu cukup cepat berada di antara perbincangan ketiga wanita itu. 


"Kita ke Light Holdings," ujar Jessi pada Maurer yang segera berputar jalan. "Nanti kau lihat dulu targetmu. Bisa kau putuskan setelah melihatnya nanti, apakah bersedia merayu atau hanya mengambil pekerjaannya saja. Keputusan tetap ada di tanganmu. Aku tidak akan memaksa."


"Terima kasih, Nyonya."


"Jessi," ucapnya sambil mengulurkan tangan. 


"Anna." Wanita di sampingnya membalas uluran tangan tersebut dan memperkenalkan diri juga. 

__ADS_1


Entah mengapa ada getaran aneh dalam diri Jessi melihat Anna. Seperti memang dia mengharapkan jika nantinya wanita itu benar-benar jatuh cinta pada Mario, begitu pula sebaliknya. 


To Be Continue...


__ADS_2