Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Ambil Saja


__ADS_3

Sore itu, baik Jayden maupun Jonathan pulang ke rumah seperti biasanya. Mereka disambut oleh sang ibu yang langsung celingukan mencari anak ketiganya yang lagi-lagi tak menampakkan batang hidungnya.


"Di mana adikmu, Jay?" tanya Jessi pada si sulung sambil mengambil ransel putranya itu.


"Mungkin lagi belajar kelompok di rumah temannya, Mom," ujar Jayden beralasan. Seperti biasa, ketika Jessica melarikan diri sebagai kakak baik Jayden maupun Jonathan harus bekerja sama demi melindungi adik mereka. Namun, hal itu bukanlah perkara mudah jika berbicara tentang menipu seorang Jesslyn Light. Jika saja seorang ibu mudah ditipu oleh anak-anaknya, lalu dari mana kecerdasan para anak itu berasal.


Jessi langsung memicingkan mata. "Kalian pikir Mommy akan percaya kalau bocah senakal itu belajar kelompok?" Jessi menatap tajam ke arah kedua putranya sambil berkacak pinggang. Lagi-lagi mereka berbohong demi menyembunyikan kenakalan Jessica yang tak berkesudahan. 


Bukan hanya, Jayden ataupun Jonathan. Bahkan Nicholas juga terlalu sering memanjakan Jessica. Jadilah dia gadis paling usil dengan sejuta masalah yang diciptakan setiap kali menghilang.


Keduanya pun hanya bisa tersenyum sok polos seperti halnya anak-anak pada umumnya jika ketahuan bohong. Tanpa membuang waktu, Jonathan dan Jayden langsung melirik satu sama lain dan menarik tangan sang ibu dengan jari-jari mungil mereka agar ibunya duduk di sebuah sofa.


 "Maafkan kami yang sudah berbohong, Mom," ujar Jayden yang naik ke atas sofa dan memijat pundak ibunya dan mengeluarkan senyum yang hanya di keluakan ketika ibunya marah seperti ini.


"Iya, Mom. Jangan marah-marah lagi! Nanti kerutan di wajah Mommy makin banyak," ucap Jonathan membantu kakaknya membujuk sang ibu dengan memijat bagian kaki. 


Meskipun ketiga memiliki sifat yang berbeda, tetapi mereka sangat kompak menjaga satu sama lain dan tidak saling iri atas apa yang di miliki saudaranya. Bahkan mereka cenderung mengalah, apalagi jika berurusan dengan Jessica. Dia pastinya pemenang segalanya, termasuk Nicholas yang dianggap sebagai panutan pria sempurna bagi sang putri dalam membayangkan pasangannya kelak.


Di saat seperti ini, Jessi hanya bisa menikmati pijatan relaksasi dari kedua putranya tanpa bisa berceloteh ria. "Kalian ini selalu saja membela Jessica," gerutu Jessi dengan mata terpejam.


"Dia 'kan hanya gadis kecil, Mom." Lagi-lagi Jayden  membela adiknya tersebut seperti biasa. Menjadi anak wanita di antara dua saudara laki-laki menjadikan Jessica primadona keluarga ini. Baik dari segi kecantikan yang dianggap mengalahkan ibunya, atau kenakalan yang memang tak lagi bisa dibayangkan untuk anak seusianya. Ditambah lagi mereka memiliki latar belakang orang tua seperti Jesslyn dan Nicholas. Lengkap sudah kesempurnaan ketiga kembar tidak identik beda jenis kelamin itu.

__ADS_1


"Kalian pikir, kalian berdua ini sudah dewasa?" Keduanya mengangguk serentak dengan cepat mendengar pertanyaan sang ibu. 


"Karena Jessica adik dan kami adalah kakak. Makanya kami lebih dewasa," ucap Jayden membela diri. Setidaknya Jayden dan Jonathan tidak pernah merusak barang sang ibu seperti halnya Jessica. Karena itulah mereka menganggap dirinya lebih dewasa.


"Alasan. Sudah-sudah, cepat ganti pakaian kalian lalu makan! Mommy sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian tadi." Jessi akhirnya mengakhiri sesi marah-marahnya. Lagi pula mereka hanyalah anak kecil yang sewajarnya bertingkah nakal. Meskipun mereka terkadang sedikit keterlaluan, tetapi Jessi tidak mungkin bertindak kejam pada ketiga anaknya. Sebaliknya, dia harus memiliki penjagaan ekstra tanpa diketahui anaknya demi keselamatan bersama. 


Setelah kepergian kedua putranya, seperti biasa Jessi menghubungi Mario terlebih dahulu. Meskipun dia terkesan tidak peduli dengan Jessica, tetapi sebagai orang tua tetaplah ada rasa khawatir yang mendera di saat tidak melihat sang buah hati di sekitarnya. Mereka tetaplah anak-anak yang bisa jadi incaran para musuh di belakang yang bisa saja mengancam nyawanya kapan pun.


“Hallo, Nyonya.” Suara bariton Mario mulai terdengar di ujung panggilan setelah sambungan terhubung. Biasanya jika Jessica bersama Mario di kasino atau di perusahaan, pria itu akan menghubunginya agar tidak khawatir dan mengantarkan sepulang kerja dengan kondisi sang gadis terlelap atau menjelang malam di saat Jessica sudah bosan bermain.


“Apa Jessica bersamamu?” taya Jessi tanpa basa-basi.


“Dia belum pulang. Nanti aku kabari lagi,” ujar Jessi sebelum akhirnya dia memutuskan sambungan telepon.


Begitulah yang namanya orang tua, meskipun mulutnya selalu berkata pedas pada anaknya, tetapi dia tetap mengkhawatirkan kondisi mereka jika sampai sesuatu yang buruk terjadi.


“Cari tahu di  mana posisi Jessica!” ucap Jessi pada anak buahnya di bawah didikan Maurer selama ini.


“Baik Nyonya.”


Belum sempat mereka memulai aksinya, ponsel Jessi kembali berdering dengan nomor yang di sembunyikan. Jessi memberikan isyarat pada anak buahnya agar mencari tahu posisi penghubung tersebut. 

__ADS_1


“Hallo,” ucap Jessi setelah menerima panggilan.   


“Hallo, Nyonya. Bagaimana kabar Anda hari ini? Apa Anda merasa kehilangan sesuatu yang berharga?” Suara seorang pria terdengar cukup bodoh di telinga Jessi membuatnya menyeringai kecil.


“Tidak,” jawab Jessi singkat.


“Benarkah? Bagaimana dengan putri tercinta Anda, Nyonya? Apa Anda masih belum tahu kalau dia bersama kami.” Suara tawa menggelegar dari pria tersebut tidak membuat Jessi merasa khawatir. Dia malah merasa lega karena ternyata Jessica diculik oleh orang-orang bodoh yang bahkan datanya saja sangat mudah untuk diketahui dan bukan musuh-musuh berbahaya di belakangnya. “Dengar, Nyonya! Anak Anda kami culik. Kirim tebusan sebesar lima milyar dollar. Atau gadis manis ini tidak akan pernah kembali!" lanjutnya dengan nada mengancam. 


"Benarkah? Kalau kalian mau ambil saja. Aku tidak butuh anak seperti dia. Terima kasih sudah mau menampungnya padahal aku berniat membuangnya. Silakan menikmati kebersamaan dengan putriku. Aku akan membuat lagi yang lebih manis dibandingkan dia." Jesslyn menutup teleponnya tanpa basa-basi. “Sudah kalian dapatkan?” tanya Jessi pada anak buahnya.


“Sudah, Nyonya.”


Sang anak buah tak hanya memerlihatkan posisi Jessica saat ini, tetapi juga video live dari kamera pengintai yang terpasang di tas ransel Jessica yang  memerlihatkan di mana mereka tampak tengah bersenang-senang dengan manusia yang tengah dipermainkan Jessi kecil tersebut.


Jesslyn lantas bernapas lega dan mengelus dadanya. Beruntungnya sang putri bukan bertemu sesuatu yang buruk saat ini. Jadi dia pasti bisa mengatasinya. “Beritahu George dan Mario apa yang terjadi dan jemput iblis kecil itu pulang setelah selesai bermain-main!” perintah Jessi pada anak buahnya sebelum pergi meninggalkan markas dengan perasaan yang lebih lega.


Begitulah Jesslyn Light. Ada untungnya juga memiliki anak badung seperti Jessica. Dia tidak perlu mengkhawatirkan masalah sekecil seperti ini karena bocah itu pasti bisa mengatasinya sendiri. Meskipun tampak membebaskan ketiga anaknya, Jessi tetap memberikan pengamanan dengan menyelipkan kamera tersembunyi, Gps, juga penyadap suara di setiap barang yang dibawa anak-anaknya. 


Sebagai orang tua, Jessi tidak tahu kapan anaknya akan berada dalam bahaya dan bahkan sampai terluka, tetapi setidaknya dia sudah mengantisipasi kondisi dan kemungkinan terburuk yang terjadi. Mengingat baik keluarga Light maupun Keluarga Bannerick semakin hari semakin bersinar, pastinya banyak pengusaha lain atau mafia yang mengincar kelemahan mereka.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2