Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kedatangan Damien


__ADS_3

Malam itu jalanan kota cukup macet karena bertepatan dengan para pekerja yang pulang dari kantor atau tempat kerja lainnya. Damien sudah merasakan sesuatu yang tidak enak sejak tadi hingga pria tersebut menancap gas dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di desa.


Dia bahkan tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, meskipun hanya sekedar berganti pakaian atau beristirahat. Bagi pria yang kini dilanda rindu, bertemu adalah obat terbaik bagi kesehatan mentalnya saat ini.


Di sisi lain, wanita yang tengah di rindukan sedang asyik bergulat melawan seorang pria berkepala botak di bawah temaram lampu jalan desa. Dua orang manusia masih saling serang dengan kemampuan terbaik mereka demi menjatuhkan lawan.


Lary terkesiap mendengar penuturan korban yang mengejek secara terang-terangan. Bukan merasa takut, tetapi malah tersenyum menyeringai hingga membuatnya kembali menyerang karena merasa diremehkan.


Mereka beradu kekuatan fisik dan beladiri, meskipun perlawanan kali ini tidak seimbang karena Lary menggunakan senjata tajam, sedangkan Jane hanya berbekal tangan kosong. Namun, hal itu tak membuat pria tersebut dengan mudah mengalahkannya.


Tak henti-hentinya pria itu mengayunkan pisau di genggaman ke arah Jane. Dia menyerang dengan membabi buta, jika saja wanita biasa yang dihadapi, mungkin dengan mudah korban mati sejak tadi seperti para warga yang berani melawan juragan Broto sebelumnya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Jane pastinya.


Melihat serangan tajam terus menerus dan sangat cepat, membuat Jane tak henti melawan serta sesekali menghindar. Dia mencoba menyerang sambil menghindari pisau, hingga tak sengaja senjata tajam itu berhasil menggores baju yang dikenakan tepat di pinggangnya.


"Sialan!" Jane mengumpat kesal sambil memegang bekas perih sayatan benda tersebut. Tubuhnya yang luka hingga mengeluarkan darah membuat emosinya seketika meluap dengan hebat. Sorot tajam mengalahkan belati sambil mengepalkan salah tangan menciptakan aura yang berbeda salam diri Jane. Sisi Jerry Morning sang pendendam tanpa ampun mulai muncul dalam diri wanita tersebut. "Kau menguji kesabaranku, botak!"


Pertarungan terus berlanjut, mereka sama-sama kuat bertarung dengan serangan paling mematikan. Pria itu tak menyangka, jika wanita yang diincar Juragan Brpto tidak mudah dihadapi. Bahkan harus menyiapkan tenaga ekstra hanya untuk mengimbangi.


Wanita itu segera kembali berlari ke arah lawan, hingga Lary membelalakkan mata melihat aura mengerikan wanita di depannya. Jane melayang ke arahnya dengan lutut yang menekuk dan mendarat tepat di dada pria tersebut.


Lary pun seketika kembali terjatuh di jalan dengan tumpuan lutut Jane di atasnya. Dia hendak mengayunkan pisau di tangan ke arah dada wanita tersebut, tetapi Jane dengan kuat menahan tangan kekar itu.

__ADS_1


Seakan tak mau kalah, Lary menggunakan kedua tangannya untuk menekan benda tajam tersebut. "Pergilah kau ke neraka!" ucap Lary dengan kuat menekan tangan ke arah Jane.


Hampir saja pisau tersebut menancap di tubuh Jane, tiba-tiba saja cahaya silau sebuah mobil membuat pria tersebut panik karena takut jika itu adalah Juragan Broto.


Namun, sayang semua itu bukanlah keberuntungan. Pria yang keluar dari dalam mobil adalah Damien yang langsung berlari ke arah Jane. "Jane!"


Lary seketika panik dan berusaha menyingkirkan wanita itu dari atas tubuhnya. Namun, Jane dengan kuat menahan pria tersebut. "Damien, bantu aku menangkap botak ini!"


Tanpa membuang waktu, Damien segera meraih tangan Lary yang masih di pegang Jane dan membuang pisau genggam itu jauh-jauh. Keduanya segera membalikkan tubuh kekar itu hingga terlungkup di atas sepasang pria dan wanita tersebut. Damien pun segera melepas dasi di lehernya dengan satu tangan sambil mengambil alih lawan Jane dan mengikatnya dengan kuat.


"Hei! Lepaskan aku brengsek!" teriak Lary sambil m1¹eronta-ronta ketika dua tubuh berada di atasnya.


"Brisik!" Dengan kuat Damien memukul tengkuk pria itu hingga akhirnya pingsan dan tak lagi meronta-ronta. "Siapa dia, Jane?"


Wanita itu sejenak beristirahat untuk untuk menetralkan kembali emosi dan napasnya. Setelah dirasa pria itu tak berkutik dan Damien sudah mengikat dengan kuat. Dia lantas memeluk Jane seketika. "Maafkan aku yang datang terlambat."


Tanpa sadar Jane pun membalas pelukan Damien dengan erat sambil menghirup aroma maskulin pria yang seketika membuatnya tenang itu. "Bantu aku membalas mereka."


Damien hanya mengangguk kecil, dalam hatinya berbunga-bunga karena Jane tidak menolak dan mau meminta bantuannya. "Ayo!"


Pria itu lantas menyeret Lary dengan kasar dan meletakkan di bagian bagasi mobil serta mengikat kakinya dengan tali yang tersedia di sana. "Ke mana kita akan pergi?" tanya Damien sambil membantu Jane berdiri dari posisinya.

__ADS_1


Jane hendak berdiri, tetapi tiba-tiba saja kakinya terasa sangat lemas, sehingga tanpa membuang waktu Damien pun menggendong wanita tersebut dan meletakkannya di kursi sebelah kemudi. "Kita di rumah Pak Broto si bandot tua itu."


Damien mengiyakan permintaan Jane. Namun, sebelum itu pria itu terlebih dulu mengecup bibir Jane untuk sejenak. "Aku merindukanmu," ucapnya sambil menempelkan kening mereka sesaat.


Setelah itu, Damien langsung menutup pintu dan melangkah ke arah kemudi, melajukan mobil menyusuri jalan satu arah tersebut dengan hati-hati.


'Aku juga merindukanmu,' batin Jane sambil membuang wajah ke arah luar. Dalam hati wanita tersebut cukup bersyukur karena Damien datang di waktu yang tepat. Jika saja pria itu tidak ada tadi, mungkin pisau di genggaman Lary sudah menancap di tubuhnya.


Namun, perasaan adalah urusan belakangan karena ada hal yang lebih penting untuk di tangani, yaitu memberikan pelajaran pada bandot tua di Desa Rambutan Gundul.


"Di mana tempatnya?" Pertanyaan Damien membuyarkan Jane dari lamunannya. Dia sendiri tidak tahu di mana rumah pria itu berada.


"Nanti tanyakan pada warga desa di jalan!"


Tak lama kemudian, mereka pun berhenti di pondok tempat tiga orang teman Lary masih bermain kartu. Damien pun turun dan menanyakan rumah Juragan Broto kepada mereka. Tanpa merasa curiga karena menganggap pria itu hanya salah satu dari teman sang juragan, mereka lantas memberi tahu di mana rumah bandot itu berada.


"Tak jauh dari sini. Katanya rumah paling besar dan terang di desa ini," kata Damien kepada Jane setelah kembali memasuki mobil.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan desa, tetapi pria di belakang sepertinya sudah sadar dan meronta-ronta tak karuan. Namun, sayangnya mulut pria itu sudah di sumpal oleh Damien dengan kaos kaki yang dikenakannya tadi, sehingga hanya bisa meronta tanpa mengeluarkan suara.


To Be Continue...

__ADS_1


hay teman-temannya, kalau ada typo silakan di komentari di Paragrafnya ya. karena rissa lagi buru-buru kejar deadline.


terima kasih


__ADS_2