Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mario dan Kim Dae Ho


__ADS_3

Nich dan Jessi masih berada di laboratorium robot terminator, membicarakan masalah racun yang bersarang di tubuh Mario dan Kim Dae Ho. Mereka dibawa kemari karena kondisinya yang sangat buruk jika hanya ditangani oleh pihak rumah sakit.


Selain itu, keadaan mereka juga bisa menambah catatan bagi Applepan untuk perkembangan dalam membuat obat penawar racun. Di dunia ini mengantisipasi kejadian tidak terduga juga diperlukan oleh Nich, mengingat sang istri pernah lengah akibat racun yang diekstraksi malam itu.


"Apakah kondisi mereka separah itu, Sayang?" Jessi terkejut mendengar penjelasan suaminya tentang kondisi Mario yang baru saja ia ketahui. Jika bukan bersama Nich, dia mungkin akan sulit mengetahui hal ini.


Kegagalan menyelamatkan anak buahnya menjadi pukulan tersendiri untuknya. Mereka sudah seperti keluarga yang menemani usahanya selama lebih dari dua tahun. Jessi merasa tidak berguna saat ini, perasaan sesak di dada membuatnya menundukkan kepala.


Nich yang mengetahui perasaan sedih istrinya memeluk tubuh ramping itu kembali. "Ini bukan salahmu, Sweety. Kita masih berusaha untuk mengeluarkan sisa racun yang bersarang di tubuh mereka. Meskipun, memerlukan waktu yang tidak sebentar, tetapi percayalah! Mario dan ayahnya pasti bisa sembuh!"


Jessi menganggukkan kepala di dada bidang suaminya, pelukan yang diberikan oleh Nich selalu membuat hatinya kembali tenang dan nyaman. "Ayo kita lihat mereka!" Wanita itu menarik tangan sang suami dengan senyum yang begitu indah.


Nicholas mengikuti permintaan sang istri, dengan saling menggenggam tangan mereka melangkah menyusuri lorong yang sepi menuju ruangan observasi.


Di sana terlihat Maurer hanya bisa menatap dari balik kaca pembatas, dengan wajah terlihat lesu tak berseri, serta kesedihan terpancar begitu jelas menggambarkan kondisinya yang tidak baik saat ini. Bagaimana bisa dia tersenyum ketika dua orang paling berharga, harus berjuang di antara hidup dan mati.


"Maurer." Jessi lantas mendekati gadis itu, memeluk dengan lembut membuat Maurer tidak tahan untuk langsung menangis di pelukan sang nona.


"Nona." Gadis itu terisak di rengkuhan Jessi, air mata yang dia tahan selama ini tumpah ruah di bahu sang nona. Satu-satunya orang yang menjadi tempat bersandar di kala Maurer dalam kesendirian.


"Sssttt, tenanglah! Semua akan baik-baik saja!" Dia mencoba untuk memberikan ketenangan kepada Maurer yang menangis di bahunya, mereka sudah Jessi dianggap sebagai adiknya sendiri. Meskipun, ia juga merasakan sedih, tetapi beban itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan seorang gadis yang ditinggal berjuang oleh kakak dan ayahnya.


Gadis itu mengangguk dan membalikkan badan, kembali menatap dua orang di balik ruangan kaca, terisolasi dengan hawa panas di dalamnya. Maurer hanya diperbolehkan untuk menjaga mereka dari luar dan hanya Applepan yang bisa masuk, itu pun dengan baju pelindung diri.


Mario dan Kim Dae Ho berada di ruang tersebut untuk melakukan detoksifikasi. Detoks adalah sebuah proses yang dilakukan secara alami oleh setiap tubuh manusia untuk membuang zat-zat yang tidak bermanfaat dan merugikan ke luar tubuh. Pengobatan ini dilakukan secara alami maupun pengembangan obat.


Mario mungkin akan sembuh dalam beberapa hari ke depan, tetapi tidak dengan Kim Dae Ho. Racun yang disuntikkan bertahun-tahun membuat pria itu lumpuh total. Jika dia sembuh pun, tetap tidak dapat kembali seperti sedia kala.


"Cara apa yang kalian gunakan itu, Nich?" Jessi menatap dua orang yang terbaring di balik kaca, yang hanya di tutupi oleh selembar kain hitam di tubuhnya.


"Proses detoksifikasi alami dan juga obat yang dikembangkan oleh Applepan. Terlalu banyak racun yang mengendap dalam diri mereka, hingga menyebabkan kerusakan organ tubuh dan fungsi otot lainnya. Oleh karena itulah, Mario tidak bisa bergerak dan ayahnya hanya bisa tertidur." Nich mencoba untuk menejelaskan kepada istrinya dengan istilah yang sederhana agar padat dipahami.

__ADS_1


Secara normal, manusia melakukan detoksifikasi alami secara optimal saat sedang tidur berkualitas. Oleh karena itu, Mario dan Kim Dae Ho masih terlelap dalam mimpi panjangnya. Ketika hal tersebut berlangsung tidak ada proses pencernaan yang terjadi sehingga racun di keluarkan melalui keringat serta tubuh dapat fokus melakukan perbaikan diri secara menyeluruh. Memeriksa kembali kondisi yang sakit, lalu memperbaiki menjadi sehat lagi.


Mereka diberikan makanan cair dari sayur dan buah yang telah diketahui memiliki komposisi nutrisi yang lengkap dan seimbang dibandingkan makanan dari sumber lainnya, untuk membantu meningkatkan kelancaran proses detoksifikasi.


Selain makronutrisi, juga terkandung mikronutrisi yang beragam. Ditambah lagi dengan phytochemical atau phytonutrisi yang telah diteliti oleh Applepan memberikan banyak manfaat untuk tubuh mereka dan dapat menjalankan semua sistem dengan lancar, termasuk proses detoksifikasi alami.


"Sejak awal mereka sudah ditargetkan untuk sulit disembuhkan," ujar Nich.


"Maksudmu, Sayang?"


"Racun yang ada dalam tubuh Mario dan Kim Dae Ho dapat menular ketika bersentuhan dengan kulit. Mereka ingin memastikan jika ada yang berani menyelamatkan kedua orang itu akan mengalami hal yang sama, hingga kematian tinggal menunggu waktu."


"Mereka berpikir Maurer pasti akan datang untuk kakaknya?"


Nich membenarkan ucapan Jessi. "Jika keturunan Kim Dae Ho meninggal semua, barulah mereka bisa mengambil alih aset kekayaan keluarga Kim, sedangkan orang-orang itu tidak tahu di mana Mario dan Maurer selama ini. Jadi, hanya dengan memancing kalian keluar, barulah rencananya bisa berjalan lancar."


Jessi dan Maurer yang terkejut mendengar penuturan Nicholas sontak melebarkan mata. Mereka tidak menyangka jika ketiga iblis itu merencanakan sejauh ini hanya untuk melenyapkan keluarga Kim Dae Ho.


"Mereka sungguh jelmaan iblis." Jessi yang merasa geram mengeluarkan sorot mata tajam. Seandainya, bukan karena racun yang mereka tanam di kediaman itu, bisa dipastikan dia sendiri yang akan menyiksanya dengan kejam. "Apa kau tidak punya penawar yang bisa langsung bekerja, Suamiku?"


Nicholas menggelengkan kepala. "Penelitian kami belum sampai ke sana, ini pun masih dalam tahap observasi. Karena itulah mereka masih harus berada di dalam sana untuk mengamati setiap perkembangan dari obat yang sudah diberikan Applepan."


Mereka hanya bisa melihat kondisi Mario dan Kim Dae Ho dari balik kaca tersebut dan mencoba berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Nich melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Tak terasa cukup lama mereka bermain di laboratorium.


"Sweety, apa kami tidak ingin kembali? Biarkan Maurer beristirahat!"


Jessi mengangguk. "Maurer, istirahatlah! Tenangkan pikiranmu dan yakinlah mereka bisa kembali seperti sedia kala. Aku pergi dulu."


"Terima kasih, Nona. Maaf karena kami tidak bisa bekerja sementara ini." Gadis itu menundukkan kepalanya, Jessi sudah banyak membantu dua bersaudara ini tanpa pamrih.


"Tenanglah, kalian sudah aku anggap seperti adik-adikku. Masalah kalian adalah urusanku juga."

__ADS_1


Perkataan Jessi sukses membuat gadis itu terharu, dianggap adik oleh orang yang begitu hebat seperti tentu saja membuatnya bahagia. "Terima kasih, Nona, Tuan."


"Istirahatlah! Jika membutuhkan sesuatu katakan pada Applepan atau anak buah yang lain."


"Baik, Tuan Nich."


Jessi kembali memeluk Maurer sejenak. "Jika terjadi sesuatu, jangan lupa untuk memberitahuku!"


"Baik, Nona."


Mereka berdua lantas bergerak meninggalkan ruang observasi tersebut. Meninggalkan Maurer sendiri menjaga Mario dan ayahnya. Jessi dan Nich berpamitan terlebih dahulu kepada Profesor Pineapple dan Applepan sebelum meninggalkan laboratorium.


"Sweety, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"


"Boleh."


"Kemana?"


"Pantai." Nich menautkan alisnya mendengar permintaan Jessi.


"Kau yakin, Sweety?"


"Iya, aku butuh hawa segar untuk menjernihkan pikiranku, Sayang."


"Baiklah." Nich mengangguk, mereka lantas bergerak meninggalkan laboratorium dengan memacu motor menuju pantai yang diinginkan sang istri.


Jessi memanglah perlu menjernihkan pikiran, dia baru selesai dengan kondisi Angelina dan Stella, kini sudah ditambah dengan racun di tubuh Mario. Belum lagi kehadiran Brian siang tadi, membawa firasat buruk baginya.


Entah apa yang akan terjadi di masa depan. Namun Jessi bisa merasakan jika hadirnya hanya akan membawakan sebuah bencana. Biarlah hal itu masih menjadi misteri, dia ingin merasakan kebahagiaan dengan suaminya sejenak.


Nich sudah selalu berada di sampingnya selama ini. Membuktikan cinta yang tulus dengan caranya sendiri. Jessi melingkarkan tangan di perut suaminya, memeluk dengan erat sambil melebarkan senyumnya.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2