
Di sisi lain, setelah keluar dari ruang perawatan ibunya, sang karyawan mulai melangkah menuju halte bus seperti biasa. Bohong jika dia tidak merasa gugup ketika bahaya sudah berada di depan mata. Namun, sekuat hati pria tersebut mencoba untuk menutupinya dengan baik di saat membayangkan wajah ibunya yang cantik.
Senyum indah merekah di wajahnya ketika membayangkan ibunya bisa sehat kembali, hingga tak terasa bus sudah tiba di depannya. Seperti biasanya, pria tersebut melangkah masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangan, melihat di mana ada kursi kosong untuk duduk.
Ternyata hanya ada satu tempat dengan letak di sudut belakang bus tersebut, dia melangkah seperti biasa seolah tidak tahu apa-apa. Sementara itu, George dan Olivia mengamatinya dari kejauhan sambil mendengar dan melihat apa yang terjadi di sana melalui kaca mata pria tersebut.
Sejenak sang karyawan mengedarkan pandangannya setelah duduk di kursi agar orang di seberang bisa melihat situasi di dalam bus. Setelahnya, dia kembali menatap ke arah luar kaca sambil merenung seperti biasanya agar mereka tidak curiga.
Selang beberapa waktu, seseorang di sampingnya mulai mengajaknya berbicara. "Apa kau sudah menyiapkan segalanya?"
Seketika pria itu terkejut dan langsung menatap lelaki di sampingnya dengan tatapan heran. Setiap pertemuannya mereka selalu berganti orang, sehingga dia tidak bisa mengenali siapa orang yang mengincarnya.
Cukup lama pria itu mengamati, dan menelan salivanya sendiri. "Aku sudah menyiapkan segalanya. Apa kau bisa segera memberikan jantung untuk ibuku?" ujarnya seraya mengelus koper yang dibawa sebagai tanda bahwa semua uang ada di sana.
"Berikan padaku!" Pria tersebut berbicara sambil menatap ke arah lurus tanpa menoleh ke arahnya.
Perlahan dia mulai menyodorkan koper itu, tetapi menariknya kembali. "Be–benarkah kau akan mencarikan donor jantung untuk ibuku?" Pria di sampingnya mengangguk, dia lantas menyerahkan koper itu kepadanya.
Mereka saling terdiam untuk beberapa waktu perjalanan, hingga terdengar suara ponsel pria di sampingnya berdering. Dia mengangkat panggilan tersebut.
"Ya ... hmm ... baiklah." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya, dia lantas memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.
Namun, hal yang aneh mulai terjadi, bus melaju perlahan ketika akan tiba di salah satu halte, tidak seperti sebelumnya yang hanya berhenti di saat sang karyawan sudah sampai di tujuannya. Pria di sampingnya lantas menoleh tajam ke arah sang karyawan dan menusuk perutnya berulang kali menggunakan pisau.
"Argh." Rasa sakit di tubuh membuatnya ingin berteriak. Namun, suaranya tertahan karena mulut yang langsung dibekap dengan salah satu tangan pria di sampingnya dan tanpa ampun dia kembali mencabut, lalu menancapkan lagi pisau ke perut korban berulang kali, hingga darah segar keluar begitu deras bahkan sampai mengotori tangannya.
Korban hanya bisa menahan sakit dan luka di perut dengan tangannya sambil menatap tak percaya ke arah pria di sampingnya. Diedarkan pandangan ke segala penjuru, tetapi tidak ada satu pun orang berniat membantunya, menatap saja enggan. Benar apa yang dikatakan Jessi, nyawanya memang sedang dipertaruhkan kali ini.
"Semoga kau bisa menyusul ibumu dengan tenang!" Pria tersebut kembali mencabut pisau di perut, lalu menepuk pipinya perlahan dan mendekatkan diri ke arah telinganya untuk berbisik. "Terima kasih untuk uangnya!"
Dia lantas berdiri dari kursinya dan bus berhenti seketika. Satu per satu penumpang mulai turun dari bus tersebut meninggalkan sang korban yang terkapar di sudut kursi belakang. Pria tersebut hanya bisa menahan sakit di tubuhnya, sambil menahan buliran hangat di pelupuk mata sambil membayangkan wajah ibunya di sisa kesadaran.
Di kejauhan, George dan Olivia yang melihat hal itu mengumpat kesal. "****! Kita harus bergegas menyelamatkannya!"
__ADS_1
George langsung melajukan mobilnya ketika bus sudah mulai bergerak setelah menurunkan sekelompok mafia itu. Segera dia menghadang laju transportasi tersebut dengan menghentikan mobil tepat di depannya.
Olivia langsung turun dan menembak dua kali tepat kepala sopir bus tersebut dari samping, hingga dia tewas seketika.
"Cepat!" ujar Olivia.
Wanita itu berjaga di luar, sedangkan Goerge mulai melangkah memasuki bus. Terlihat korban terkapar di sudut kursi memegang perutnya yang sudah bersimbah, segera dia mengangkatnya untuk keluar dari bus tersebut.
Di sisa kesadaran lirih pria itu berbicara. "To–tolong selamatkan ibuku." Hanya sepenggal kalimat tak terjawab yang mampu diucapkan sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya.
"Kau harus selamat jika ingin menjaga ibumu!" George segera membopong pria tersebut menuju mobil.
Di luar Olivia sudah membuka pintu bagian belakang dan setelah mereka masuk, dia segera beranjak ke depan untuk duduk di kursi pengemudi. Tanpa membuang waktu, wanita tersebut langsung menancap pedal gas, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Bannerick Hospital sesuai dengan perintah Jessi.
Selama perjalanan, jas digunakan oleh George untuk menekan luka agar darah tidak terus menerus keluar, sambil memangku kepala pria tersebut. Namun, selang beberapa menit, terdengar suara lelaki itu terbatuk mengeluarkan seteguk darah yang memercik ke segala arah.
"Olivia, cepat!" Kondisi sang pria terlihat semakin parah, hingga membuat keduanya panik. Kini, kendaraan melaju dengan kecepatan maksimum agar segera tiba di rumah sakit.
Tak lupa George menghubungi Dokter Hendrick agar pria ini nantinya segera di tangani. Setibanya di rumah sakit, tim dokter langsung membawa pasien menggunakan brankar menuju ruang gawat darurat.
"Aku sudah mengabari Maurer. Jackson juga sudah di sini," ujar Olivia.
Kondisi yang parah membuat pria tersebut langsung dibawa ke ruang operasi dan hanya sebentar berada di ruang IGD. Beberapa saat kemudian, Jackson melangkah menghampiri keduanya.
"Bagaimana?" tanya Jackson. Keduanya hanya menggeleng, sebagai isyarat bahwa konsisi target sedang tidak baik-baik saja. "Kita tunggu, Nona."
Jantung berdebar begitu cepat di kala ketiganya menunggu di depan ruang operasi. Darah mulai mengering di pakaian George, tetapi belum ada tanda-tanda dokter akan selesai menjalankan tugasnya.
Suara langkah kaki di kejauhan membuat ketiganya menegakkan tubuh dari posisinya. Dua orang menghampiri mereka dengan wajah khawatir.
"Bagaimana?" Jessi bertanya, tetapi hanya gelengan kepala yang dia dapat dari anak buahnya. "Ibunya?"
"Ada di ruang perawatan."
__ADS_1
Wanita tersebut memanggut-manggut, hingga beberapa saat kemudian, suara pintu ruang operasi terbuka membuat mereka mengalihkan pandangan.
"Bagaimana?" Raut khawatir tergambar jelas di wajah Jessi, meskipun pria di dalam hanyalah seorang karyawan baginya. Namun, rasa kemanusiaan cukup untuk membuatnya memedulikan kondisi mereka.
"Sudah aman. Untungnya segera dibawa kemari." Masker di wajah dilepaskan oleh Dokter Hendrik sembari menjawab pertanyaan Jessi.
Rasa lega seketika mengangkat beban di dada setiap insan yang menunggu dengan khawatir di sana. Lutut Jessi seakan lemas karena hal ini, dia hampir saja limbung jika tidak ada Maurer yang menopangnya.
"Nona, sebaiknya Anda segera beristirahat! Biarkan kami yang bergantian menunggu di sini!" ujar Jackson.
Jessi hanya bisa mengangguk. Mereka masih butuh pengawasan ekstra agar para musuh yang mengincar bisa diantisipasi dengan baik. "Kalian tunggu di sini! Kabari aku jika terjadi sesuatu!"
Di kejauhan seorang pria berlari ke arah mereka dengan langkah tergesa-gesa. Kekhawatiran membuatnya langsung memeluk tubuh sang istri ketika tiba di hadapannya. "Sweety, kenapa kau selalu membuatku khawatir."
"Sayang, kenapa kamu di sini?" Sejenak dia melupakan jika suaminya adalah pemiliki dari rumah sakit yang mereka kunjungi saat ini. Namun, bukannya menjawab, Nicholas malah semakin mengeratkan pelukannya.
Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana pria tersebut langsung melesat ke rumah sakit setelah mendengar kabar istrinya berada di sini. Meskipun, dia masih belum tahu kondisi sesungguhnya, tetapi tetap saja hatinya tidak tenang jika belum melihat langsung wajah cantik kesayangannya.
Suara perut bergemuruh akibat sehari ini Jessi makan dengan tidak teratur memaksa Nich mengendurkan tangan secara perlahan. Wanita itu hanya terkekeh karena malu akan cacing yang protes tanpa diminta di saat mereka tengah mesra.
"Kamu lapar, Sweety?" Secara lembut tangan kekarnya membelai wajah cantik sang istri, senyum merekah indah setalah mengetahui jika wanita kesayangannya baik-baik saja.
Sementara itu, Jessi hanya bisa mengangguk sambil menatap lekat wajah sang suami yang terlihat sangat tampan di bawah cahaya lampu rumah sakit.
"Ingin makan di mana, hmm?"
Keromantisan tidak tahu tempat itu sukses membuat iri setiap insan yang menyaksikannya. Meskipun, sudah berulang kali mereka menebarkan pesona khas pengantin baru tetap saja membuat jiwa para lajang ingin segera mendapatkan pasangan.
"Aku ingin makan nasi goreng buatanmu, Sayang." Bibir mengerucut tepat di depannya membuat Nich merasa gemas dengan tingkah istrinya.
Perlahan tapi pasti mereka saling mendekatkan wajah hingga sebuah kecupan berhasil mendarat di bibir keduanya. Senyum merekah indah di wajah sepasang suami istri tersebut.
"Ayo kita pulang!" Tak ingin lebih lama menebarkan kemesraan Nicholas lantas menggenggam tangan istrinya melangkah keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
To Be Continue...