
Di sebuah markas dua bersaudara tengah duduk sambil meminum Whiskey. Mereka melihat barang-barang yang bertumpukan di depan. Benar apa yang dikatakan kakaknya, barang yang mereka terima tidak sama dengan seharusnya.
"Bagaimana? Benarkah tebakanku kemarin?" Brian bertanya sambil memutar gelas di tangannya.
"Iya, kau benar, Kak. Barang yang kita terima masih kurang 150 kemasan," ujar Johny.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Aku tak tahu!"
"Mungkinkah mereka mau menipumu?"
"Tidak mungkin dia berani melakukan hal itu." Johny menggelengkan kepala.
Dia memang belum lama bekerja sama dengan pihak pengirim, tetapi bisa dipastikan mereka selalu tepat dalam mengirim barang. Bahkan jumlah yang mereka kirim selalu meningkat setiap bulannya.
"Lalu kira-kira di mana kamu kehilangan barang itu?" Brian menghirup aroma Whiskey di gelasnya sambil meneguk secara perlahan.
"Entahlah!" Johny mengangkat bahunya karena dia sendiri bingung di mana mereka kehilangan barang itu.
"Apa kalian mengalami sesuatu ketika perjalanan?" Brian menyipitkan mata, kenapa adiknya ini ceroboh sekali jika mengerjakan sesuatu.
"Tidak ada hal yang mencurigakan, hanya saja saat itu kontainer kedua cukup lama dalam perjalanan. Ketika aku mengecek kembali, sopir sedang mengganti ban yang pecah."
"Kau ceroboh sekali."
"Apa aku harus mencurigai sopir itu? Bagaimana bisa mereka menukar barang?" Johny merasa heran dengan orang yang berani menipu mereka dengan kemasan palsu.
"Mungkin bukan sopir truk, tetapi orang lain!"
"Siapa yang berani bermain-main denganku? Kenapa kita sial sekali? Beberapa kali pengiriman selalu saja ada masalah. Membuat kerugianku semakin menggunung saja." Johny mendengus kesal. Belum ditemukan kelompok yang mengusik mereka sebelumnya, sudah ada lagi yang mengganggu bisnisnya.
"Cari tahulah sendiri masalahmu! Jangan selalu meminta bantuanku!"
Johny hanya mengangguk memang setiap kecerobohan yang dia lakukan selalu kakaknya yang membereskan.
"Jangan lupa laporkan sendiri pada pria tua itu!"
__ADS_1
"Cih ... bukankah dia ayahmu juga?"
"Kau pikir dia menganggap kita sebagai anak? Dia hanya memanfaatkan ayah dan kelompok ini sebagai anjing! Baginya tidak ada keluarga, ataupun orang yang dia percaya!"
"Kau benar. Tapi, sepertinya dia lebih menyukaimu dari pada ayah? Buktinya pria itu diam saja mengetahui kau yang membunuh bawahannya."
"Dia bukan mengukaiku, tetapi mewaspadaiku." Sebuah seringai jahat terukir jelas di bibir Brian. Dia begitu terlihat mengerikan ditambah dengan wajah datarnya. Bagaimana mungkin tidak ada yang akan waspada melihat sifat asli pria ini. Pria itu bahkan dengan tega membunuh ayahnya sendiri demi mencapai tujuan.
"Ngomong-ngomong, beberapa hari ini aku tidak melihat salah satu anak buahmu! Apakah menyuruhnya mengerjakan sesuatu?" Brian melihat dua orang yang biasa bersama Johny, tetapi kini hanya ada satu.
"Dia sedang aku kirim kepada sepupu kita. Emily bilang memerlukan bantuan untuk menyingkirkan seseorang."
"Bukankah dia pergi sudah cukup lama? Kenapa dia tak juga kembali?"
"Benar juga, aku malah tak memperhatikan hal itu. Sebentar!" Johny merogoh ponsel di saku. Dia mencoba untuk menghubungi anak buahnya, tetapi setelah beberapa kali mencoba tidak juga tersambung.
"Kemana dia?" Johny mencoba untuk menghubungi sepupunya Emily.
Emily memanglah sepupunya karena Kate Morning adalah adik kandung dari ayah angkat mereka, sedangkan ayah kandung Johny dan Brian—Marcopolo—sebenarnya adalah bawahan pria itu. Hal itulah yang menyebabkan mereka saling membantu kesulitan masing-masing.
Tak lama kemudian, suara seorang wanita terdengar di ujung panggilan.
"Di mana anak buahku? Apa kalian belum selesai?"
"Aku baru mau memberitahumu berita buruk!" Suara panik Emily terdengar begitu serius.
"Apa maksudmu?"
"Johny, anak buahmu tewas dibunuh wanita itu?"
Johny yang terkejut langsung berdiri dari posisi duduknya, raut wajahnya berang mencengkeram erat meja di sampingnya.
"Apa maksudmu? Siapa yang berani membunuh anak buahku?" Johny berteriak dengan keras, amarahnya sungguh memuncak karena masalah yang datang secara bersamaan.
"Itu, wanita yang bermarga Light!"
"Wanita bermarga Light?" Johny mengernyitkan dahinya, sedangkan Brian yang mendengar nama Light langsung menatap tajam adiknya.
__ADS_1
Sadar jika dia sudah salah membantu Emily kali ini, Johny mencoba untuk menanyakan kondisi orang yang berbiat disingkirkan sepupunya. "Bagaimana kondisi wanita itu sekarang?"
"Tentu saja dia sudah mati, setelah dia membunuh anak buahmu aku menabraknya hingga tewas!" Suara Emily berucap dengan bangga terdengar jelas hingga di telinga Brian.
Pria itu menggelap, meraih ponsel di tangan Johny. "Jika sampai wanita itu sungguh tewas. Kau siapkan nyawamu sebagai bayarannya!"
Brian meninggalkan markas dengan amarah yang menggebu. Dia harus mengetahui sendiri bagaimana kondisi wanitanya.
Sementara Johny yang masih memegang ponsel masih syok dengan apa yang baru saja dia dengar. "Benarkah orang yang kau singkirkan wanita bermarga Light?"
"Tentu saja, dia sudah berani menghalangi rencanaku. Ngomong-ngomong, siapa yang berani mengancamku tadi?"
"Dia orang paling berbahaya di Klan Virgoun. Kau sudah salah memilih lawan! Berdoalah wanita itu masih hidup! Jika dia sungguh sudah mati, seperti yang tadi dia ucapkan. Siapkan nyawamu sebagai bayaran!" Johny langsung menutup panggilan teleponnya.
Kakinya terasa lemas kali ini, Johny tidak menyangka jika wanita yang berusaha disingkirkan oleh Emily adalah milik kakaknya. Andai saja, dia mengetahui hal ini lebih awal, dia pasti tidak akan membantu sepupunya itu.
Kemarahan kakaknya, bisa berujung fatal bagi Klan Virgoun, terutama dirinya sebagai orang yang bekerjasama dengan Emily.
"Sial!" Johny melemparkan botol Whiskey di sampingnya hingga pecah berserakan di lantai.
★★★★★
Sementara Emily yang baru saja menerima panggilan dari Johny juga mengumpat kesal. Awalnya, dia ingin merayakan keberhasilan usahanya menyingkirkan saingan, tetapi sepupunya malah mengancam nyawanya kali ini.
"Apa istimewanya wanita itu, sampai-sampai Johny begitu marah?"
Emily sedang berada di sebuah hotel bersama seorang pria yang dia sewa. Lelaki itu mendekatkan ke arahnya, wanita itu duduk di ranjang dengan pakaian yang begitu menggoda.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya pria itu.
"Hanya kecoa yang sudah merusak suasana hatiku."
"Sudahlah! Jangan marah lagi! Sebaiknya, kita melakukan hal yang lebih menyenangkan. Aku jamin kau akan melayang dan melupakan amarahmu!" Pria itu berbisik di telinga Emily dengan nada yang sensual, membuat gairah dalam diri wanita itu naik seketika.
"Berikan aku servis terbaikmu!" Wanita itu langsung mendorong pria yang dia sewa ke atas ranjang, seringai penuh nafsu terlihat jelas di wajah liciknya.
Emily memang memiliki gen yang sama dengan ayahnya, mereka adalah keturunan hypers*x. Hanya saja wanita itu sedikit berbeda karena dia selalu membayangkan Nicholas Bannerick di setiap d*sahan napasnya.
__ADS_1
Dia juga tak sembarangan memilih pria sebagai teman ranjangnya. Emily selalu mencari lelaki yang mempunyai tubuh proporsi seperti Nich. Setiap dia berhasil melakukan sesuatu maka wanita itu akan merayakan dengan cara tak biasa seperti ini.
TBC.