Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Akhir untuk Rossi


__ADS_3

Menjauh anak dari ayah tak menutup kemungkinan bagi keturunannya untuk ikut berbuat kejam. Bullying di sekitarnya membangkitkan jiwa Brian.


Dia adalah seorang penderita Alexithymia yaitu kondisi di mana seseorang sulit untuk memahami emosi atau mengungkapkan emosinya sendiri. Dia tidak tahu kapan harus tersenyum, tertawa, marah, takut, bahagia, sakit, sedih bahkan menangis. Dia hanya bisa menunjukkan ekspresi datar di wajah tampannya.


Penyakit ini menimbulkan rasa frustrasi bagi penderitanya. Darah lebih kental dari air, sifat ayah tetaplah menyatu dalam dirinya tanpa diminta.


Sejak kecil, dia sudah mulai membunuh hewan peliharaan milik teman-temannya di panti asuhan. Entah dengan racun atau dengan tangannya sendiri. Dia selalu pandai memanipulasi keadaan, membuatnya terlihat seperti anak yang tak berguna dan memberikan alasan bagi orang lain untuk menghinanya.


Akhirnya, orang yang membully selalu menjadi sarana percobaan untuk racun yang dia racik. Hingga dia membunuh ibunya sendiri karena menghalangi jalannya.


Suatu hari ketika remaja, seorang gadis berseragam membantu ketika dia mengalami bulliying di jalan.


"Kau tidak apa-apa, Kak?"


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Nah ... untukmu!" Dia memberikan sebuah permen karet dari saku seragam. "Jangan pedulikan omongan orang lain! Kebahagiaanmu adalah milikmu."


Sejak saat itu, Brian selalu mengawasi Jessi dari jauh. Obsesi untuk memiliki yang tinggi membuatnya menciptakan sosok yang disukai Jessi.


Dia berulang kali melihat dirinya di depan cermin. Mencoba berbagai ekspresi layaknya manusia demi mendekati gadisnya. Lima tahun digunakan untuk melihat dan membentuk lelaki sempurna, baik hati, penyayang dan miskin. Sesuai dengan kriteria gadis itu yang tidak suka pria kaya.


"Sempurna," ujarnya


Brian Dominic adalah hasil dari Alter Ego sebuah identitas atau sisi lain yang merupakan bentukan dari dalam dirinya secara sadar. Karakter tersebut merupakan gambaran ideal tentang dirinya yang tidak bisa direalisasikan. Dia menghidupkan sosok sempurna tersebut ke dalam dunia nyata.


Jiwa Dominic buatan ini, juga sebuah cara untuk menyembunyikan sisi Messis yang ingin dia sembunyikan dari orang lain. Namun, memiliki karakter lain ini tidak sama dengan kepribadian ganda.


Pasalnya, perubahan identitas pada orang yang memiliki Alter Ego terjadi dalam keadaan sadar dan masih dalam kendali diri, pemilik identitas asli.


Dengan kata lain, tidak terjadi lupa ingatan pada proses perubahan karakter padanya saat dia menjadi sosok Dominic. Selain itu, Messis juga masih memiliki wewenang penuh dalam tukar-menukar identitas serta dalam kesadaran yang utuh.


Namun, setelah berhasil menjadikan Jessi miliknya. Marcopolo menemukan dirinya dan membawa ke mafia Belzeebub. Ketika dia menjadi mafia, dia menggunakan alasan pembangunan cabang. Jadi, dia bisa kembali membunuh tanpa diketahui istrinya.

__ADS_1


Suatu hari Marcopolo terlalu ikut campur dengan urusannya dengan Jessi. Dia tidak puas dengan hal itu, lalu mencuci otak adikny—Johny Messis—dengan iming-iming harta dan tahta yang tidak dia inginkan. Mereka berdua membunuh Marcopolo dengan racun menyebabkan dia mati karena serangan jantung, lalu membantai Keluarga Peanut dan Keluarga Cheese.


Ketika sosok Messis muncul, dia membantu adiknya menyelesaikan masalah. Namun, untuk bersama Jessi dia menjadi Dominic yang sempurna begitu mencintai istrinya.


Untuk waktu yang cukup lama sosok Messis tidak dia munculkan, menyebabkan dirinya terbiasa dengan identitas Dominic. Namun, ternyata Alter Egonya itu terlalu baik hingga dapat dijebak oleh Rossi.


Kehilangan Jessi merupakan pukulan terberat bagi Dominic, dia sepenuhnya menghilang dalam tubuh itu dan hanya Brian Messis yang tersisa.


"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Brian.


"Apa maksudmu, Brian? Aku tidak melakukan apa pun," ujar Rossi.


"Kesalahanmu adalah masuk kedalam hidup kami yang sempurna. Kau! membuat semua usahaku menjadi sia-sia."


"Brian." Rossi memegang tangan pria itu. "Aku juga korban di sini. Apa kau lupa?"


Brian menghempaskan tangannya, mencengkeram dagu wanita itu sekuat tenaga. "Akan aku tunjukkan siapa diriku yang sebenarnya!"


Brian mengunci Rossi di sebuah ruang yang pengap selama kehamilannya. Dia menjadi sosok Brian Messis sepenuhnya dan hidup bersama adiknya.


"Dia bukan istriku! Dominic terlalu bodoh hingga membiarkan dia lari, bahkan menerima perceraian."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku akan menemukannya. Membawanya kembali bersamaku." Sorot mata pria itu menajam, obsesinya pada Jessi tak akan pernah berhenti sampai kapan pun.


Beberapa bulan kemudian, kandungan Rossi menginjak usia sembilan bulan.


"Apa kau bahagia di sini?"


"Kenapa kau melakukan ini padaku, Brian? Aku mengandung anakmu." Rossi dalam keadaan terikat selama lima bulan lamanya, dia menyesal menjebak Brian yang ternyata mengerikan.


"Waktumu sudah cukup. Aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasa Jessi pada saat itu." Brian mengambil belati lipatnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, hah?! Aku mohon lepaskan aku!" Rossi meronta-ronta, keringat dingin bercucuran di wajahnya yang tidak lagi cantik. Brian yang sekarang sangat mengerikan membuat dirinya ketakutan.


"Kau membuatku kehilangan bayi dalam perut Jessi. Maka aku akan membuat bayimu kehilangan ibunya ketika dia masih di dalam perut!" Brian membuka pakaian Rossi dengan dengan brutal.


"Jangan, Brian! Aku mohon maafkan aku!"


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia!" Brian membedah perut itu dengan belatinya.


"Aaaa!" Rossi berteriak kesakitan, tanpa obat bius tentu saja siapa yang mampu menahan rasa sakitnya.


Suara kesakitan terus menerus menggema di ruangan tidak membuat Brian mengehentikan aksinya, sedangkan penjaga di luar sudah merasakan kengeriannya.


"Sstttt ... tenanglah! Aku hanya membantumu melahirkan anak kita." Senyum dan kekehan iblis terukir di wajah pria itu.


Rossi tidak menyangka jika Brian yang asli adalah seorang iblis. Kalau saja dia menyadari lebih awal, pasti tidak akan mengusik kehidupan mereka.


Brian membedah perut sembari bersenandung lagu kematian, teriakan Rossi bagaikan alunan musik di telinganya. Dia bahkan mengoyak perut itu perlahan-lahan agar wanita ini merasakan sakit yang teramat sangat.


Rossi mencengkeram kuat tali yang mengikat tangannya, hidupnya sudah diambang batas, Air mata penyesalan sudah tidak lagi berguna. "Brian! Aku tak terima kau perlakukan seperti ini. Aku mengutukmu agar Jessi, orang yang kau cintai membunuhmu dengan cara yang lebih kejam!"


Rossi tidak kuat lagi berteriak, dia tewas karena pendarahan berat dan juga perut yang sudah berlubang. Bayi itu dikeluarkan oleh Brian dengan tangannya sendiri. Kematian wanita itu meninggalkan perasaan dendam yang mendalam.


"Aku akan bahagia bersama wanitaku. Kau tak perlu lagi mengkhawatirkanku!" Brian membawa bayi yang masih berdarah itu keluar.


"Bereskan mayat di dalam dan serahkan ini pada orang lain. Dia akan berguna suatu saat!" perintahnya bawahan yang berjaga di pintu.


Mereka bergindik ngeri dengan tubuh bergetar melihat kekejaman Brian. Benar kata wanita di dalam, dia bukanlah manusia. Anak buahnya membereskan mayat dengan keringat bercucuran, suasana ruangan yang mencekam dan teriakan wanita sebelum kematiannya masih terasa di telinga mereka.


Wanita itu melotot dengan mata yang memerah seakan semua urat keluar dari matanya. Melihat kekejaman Marcopolo pada musuhnya sudah hal biasa bagi mereka. Namun, ternyata anaknya bahkan lebih kejam lagi.


TBC.


Hallo temen-temen.

__ADS_1


Gimana menurut kalian?


Sudah adakah yang menebak ending seperti ini??


__ADS_2