Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Malam Kelam Istimewa


__ADS_3

Damien membersihkan diri sambil menetralkan kembali perasaannya. Lembut dan manisnya bibir Jane terngiang selalu dalam pikirannya seakan meminta untuk kembali menyambar ranumnya benda kenyal itu.


Berulang kali dia membasahi kepala dengan guyuran air dingin yang mengalir dari shower. Setelah cukup lama berada dalam kamar mandi hingga kulitnya mengeriput barulah, Damien keluar untuk mengganti baju.


Setelah selesai dengan urusannya, Damien menatap sisa kotoran yang belum dia bersihkan. Perlahan pria tersebut membersihkan noda yang tertinggal di lantai dan mengepelnya. Selepas semua sudah dibersihkan Damien hendak menyelimuti tubuh wanita yang masih terlelap di atas ranjang. Namun, hal tak terduga kembali terjadi, pakaian Jane kotor oleh muntahannya sendiri.


Oh, God. Cobaan apa lagi ini?


Akan tetapi, tidak ada seorang pun di rumah ini selain mereka berdua. Berulang kali Damien mencoba membangunkan Jane untuk membersihkan diri. "Jane, bangunlah! Bersihkan tubuhmu!" Nihil, wanita itu sama sekali tak bergeming dari posisi tidurnya.


Damien menghela napas kasar sejenak. Haruskah aku yang mengganti pakaiannya?


Dia melangkah menuju lemari pakaian, mencari baju yang kira-kira bisa digunakan oleh Jane. Namun, hanya ada kemeja berjajar tergantung di dalamnya. Mau tak mau Damien mengambil salah satunya yang memiliki ukuran paling kecil.


Tubuh Damien yang lebar dan gagah tentu saja pakaiannya juga cukup besar jika digunakan untuk Jane. Akan tetapi, hanya ini yang dia punya. Damien melangkah kembali ke samping ranjang dan mengambil sebuah handuk basah, guna mengelap tubuh yang terkena muntahan.


"Bagaimana kalau dia bangun dan memarahiku?" Sejenak Damien berpikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi, jika tiba-tiba Jane bangun dari tidurnya.


Pria itu mengusap kasar tengkuk lehernya karena perasaan bimbang. "Masa bodoh lah! Aku hanya berniat mengganti pakaiannya saja, bukan ingin macam-macam."


Perlahan Damien membalikkan tubuh Jane, untuk membuka resleting pakaian yang berada di bagian belakang. Setelahnya, pria itu menurunkan gaun mini tersebut secara hati-hati sambil menutup sebelah matanya.


Tanpa disadari, jantungnya terasa berdegup begitu kencang seperti alunan genderang perang. Setelah berhasil menanggalkan pakaian Jane, dia mengelap tubuh wanita tersebut dengan handuk basah. Dirasa sudah cukup bersih dan tidak meninggalkan bau tak sedap, Damien lantas mengenakan kemejanya ke tubuh wanita di depannya.


Satu per satu kancing kemeja ditautkan. Entah apa yang ada di pikiran Damien kali ini, tetapi mengganti pakaian seorang wanita rasanya lebih menegangkan dibandingkan menonton sebuah pertandingan sepak bola.


Kancing kemeja bagian teratas berhasil ditautkan. Hal tersebut sontak membuat Damien bernapas lega. Dia hendak berbalik untuk meninggalkan ruangan kamar dan menetralkan kembali perasaannya. Namun, sebuah tangan kembali menariknya dari belakang.


"Apa kau ingin kabur?" Damien terkesiap mendengar suara tegas Jane di belakangnya.

__ADS_1


Akan tetapi, wanita itu malah menariknya, hingga bekas wadah pakaian kotor yang dia bawa terjatuh di lantai dan tubuh pria itu menindih Jane seketika. Tanpa menunggu waktu lama, wanita tersebut langsung menangkupkan tangan di wajah Damien dan menciumnya secara langsung.


Damian melebarkan mata, melihat tingkah Jane yang sangat mustahil untuk dilakukan ketika sadar. Pria tersebut meronta-ronta, berusaha melarikan diri dari cengkeraman tangan Jane. Namun, wanita itu malah menahan tubuhnya


"Kumohon! Biarkan kali ini saja!" Lirih suara Jane ketika berbicara, wanita itu memeluk leher Damien dengan erat seakan enggan untuk melepaskan.


"Jane, kau sedang mabuk."


Jane menggeleng. "Aku tidak mabuk. Biarkan aku menikmatinya kali ini saja!"


Sebuah kalimat ambigu yang keluar dari mulut Jane, berhasil membuat Damien berdebar kencang. Apa maksudnya menikmati?


Setelah dirasa Damien mulai rileks, Jane melonggarkan pelukan di leher dan kembali menciumnya dengan ganas. Sejenak pria tersebut tidak membalas, hanya menatap lekat mata Jane yang terpejam seakan menikmati suasana ini.


Tak lama kemudian, Damien membalas ciuman Jane. Mereka sama-sama terbuai dalam permainan bibir, pertama kali bagi keduanya. Sebagai orang dewasa yang tidak pernah merasakan rasa seperti ini, dua insan tersebut saling memejamkan mata, sambil menikmati dinginnya hembusan angin malam melalui celah yang ada.


Semakin lama ciuman mereka berubah menjadi ganas, tetapi tidak ada tanda-tanda Jane ingin melepaskan diri. Damien berusaha untuk mengontrol pikirannya, dia tidak mau wanita itu menyesal membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya.


Tidak ada jawaban keluar dari bibir Jane. Hanya sebuah sebuah senyum indah merekah di wajah yang membuat Damien merasakan jantungnya seakan ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya.


Wanita itu malah kembali mendekatkan diri dan mencium Damien. Semakin lama semakin panas, hingga terjadilah keduanya tak mampu lagi untuk mengontrol diri. Malam ini menjadi saksi Jane dan Damien, saling berbagi kehangatan.


"Jane, apa kau akan menyesal?" Damien kembali menanyakan sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Dia tidak ingin keesokan harinya wanita di bawah kungkungannya marah karena pergumulan panas mereka.


"Tidak, lakukanlah!" Sebuah senyum yang indah kembali merekah di wajahnya cantiknya. Cahaya remang lampu kamar menjadi saksi awal penjelajahan nirwana bagi keduanya.


Ketika Damien mencoba memasukkan rudal rusia ke dalam pintu neraka, dia merasakan sesuatu yang robek di sana. Damien terkesiap menghentikan aksinya sejenak, menatap lekat wajah Jane yang terpejam seakan menahan sakit. Kini, pria tersebut sadar, jika dia tengah mengambil sesuatu yang berharga dari seorang wanita.


"Sssttt, tenanglah! Rileks, aku akan pelan-pelan, Sayang." Dia mengusap lembut wajah Jane, membuat wanita itu kembali membuka mata. "Haruskah kita berhenti di sini?"

__ADS_1


Jane menggeleng. "Lanjutkan!"


"Kau yakin?" Dia mengangguk. "Salurkan rasa sakitmu denganku! Kau boleh mencakar tubuhku."


Wanita tersebut mengiyakan perkataan Damien, dan terjadilah pergumulan panas istimewa tak direncana antara keduanya. Mereka saling memuaskan hingga pagi menjelang.


Jika sudah terlanjur, untuk apa dihentikan? Lebih baik diteruskan, dan aku akan melupakan keesokan harinya.


Entah apa yang membuat pikiran Jane sekeras itu. Dia seakan menolak kenyataan, jika pria yang kini bersamanya sudah berhasil mengambil hatinya. Sebenarnya wanita tersebut sudah sadar ketika Damien keluar dari kamar mandi. Namun, dia malu ketika sadar sudah muntah di tubuh pria tersebut.


Akan tetapi, ternyata Damien malah membersihkan tubuh dan kekacauan yang dia buat. Tanpa sadar sebuah tindakan kecil yang berhasil membuat hatinya menghangat. Apa lagi Damien tidak memanfaatkan situasi atas ketidaksadaran dirinya.


Ya, Jane memanglah berniat melepaskan hal paling berharga sebagai wanita. Namun, bukan untuk berbagi cinta. Dia hanya ingin melampiaskan apa yang dirasa sebelumnya, ketika alkohol tak mampu membuatnya lupa akan akan semua yang telah terjadi.


Berulang kali mereka bergumul panas. Bahkan Jane tak malu untuk aktif dalam kegiatan tersebut. Hingga ketika tenaga keduanya sudah habis, mereka baru menghentikan semuanya. Jane tertidur dalam dekapan hangat tubuh Damien, dan kembali terlelap dalam mimpinya.


Sementara itu, Damien berharap bahwa ini bukanlah kesalahan semalam. Dia ingin Jane segera bersedia menikah dengannya. Bukan karena pria tersebut takut bibit unggul akan tumbuh di antara mereka. Namun, disebabkan hatinya sudah yakin akan wanita yang kini berada dalam dekapannya.


Namun, hal tak terduga kembali terjadi. Ketika pagi hari menjelang, Damien hanya menemukan dirinya sendiri di atas ranjang. Berulang kali dia mengerjapkan mata dengan kondisi tubuh yang hanya tertutup oleh selimut.


"Di mana, Jane?" Damien terbangun dari tidur mengambil celana boksernya, dan mencari di setiap sudut kamar kemungkinan Jane berada.


Di kamar mandi, tidak ada. Apa dia sudah pergi?


Damien mencoba mencari di setiap sudut apartemennya. Nihil, wanita itu sungguh tidak ada.


"Sial!" Dia mengumpat kesal, mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Apa dia baru saja di campakkan? Benarkah Jane meninggalkannya begitu saja?


"Tidak akan kubiarkan!"

__ADS_1


Damien bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Banyak beban yang bersarang dalam pikirannya. Dia kira dengan ini Jane mau membuka diri. Akan tetapi, nyatanya wanita itu malah melarikan diri.


To Be Continue...


__ADS_2