Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Resmi Sepasang


__ADS_3

"Iya, apalagi namanya kalau bukan penguntit? Di saat kau terus-terusan menunggunya berbulan-bulan di kantor dengan tak tahu malu. Padahal dirimu tahu, Bos Mario sama sekali tak melirikmu." Anna mencebik melihat Rosa. "Cih, dasar tak tahu malu. Apa kau sudah tak laku sampai-sampai harus terus mengejar Bosku yang gantengnya paripurna ini?"


Tak tahan akan bibir kecil yang berkomat-kamit sejak tadi, Mario langsung melahap habis bibir tersebut hingga Anna hanya bisa menerima tanpa mampu menolaknya. Keduanya berciuman dengan begitu lama seolah rasa dahaga selama ini dibayar habis detik itu juga dan dunia serasa hanya milik berdua, sedangkan yang lainnya hanyalah sosok gaib yang tak terlihat.


Melihat keromantisan keduanya Rossa hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat sebab hatinya yang terasa terbakar tanpa ampun mendera jiwanya. Hingga sesaat kemudian, dia terhenyak karena Jessi yang menarik tangannya dan keduanya pun keluar ruangan meninggalkan sepasang kekasih yang baru saja memulai hubungan tersebut.


Jessi langsung merapatkan tubuh Rossa di dinding dan menghimpitnya dengan tatapan tajam. “Aku tidak tahu apa tujuanmu mengejar anak buahku. Tapi jika kau berani mengusik mereka, akan aku anggap kau menyia-nyiakan kesempatan kedua yang ku berikan karena berani menyentuh orang-orangku.”


Mendengar ancaman Jessi setelah sekian lama membuat Rossa hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak boleh mati muda, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menggantikan posisi Rossi. Sepertinya Rossa harus bersabar lebih jauh lagi sebelum melangkah. Dia hanya bisa mengangguk dengan cepat menanggapi ancaman Jessi yang hanya dari kalimatnya saja sudah terasa seperti nyawanya berada di ubun-ubun seketika. 


“Pergilah kalau kau paham!”


Tanpa membuang waktu sebelum dia kembali berurusan dengan para harimau Jessi yang mengerikan itu. Rossa segera berlari dengan terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang sambil mengumpat kesal dalam hatinya karena ternyata Jessi juga ikut campur jika berurusan dengan anak buahnya, gagal sudah rencananya mendapatkan Mario, sang konglomerat tersembunyi.


Sementara itu, di dalam kamar perawatan. Wajah Anna sudah merah padam karena di saat berciuman dia malah menahan napasnya. Mau tak mau Mario pun melepaskan pagutan mereka sebelum Anna mati kehabisan napas. “Bernapaslah! Apa kau bodoh? Kenapa menahan napasmu?” 


“Bos, sepertinya aku bukan hanya akan mati kehabisan oksigen,” ujar Anna sambil terengah-engah karena kewalahan melayani ciuman Mario.


“Kau ini berbicara apa? Jangan bicara sembarangan! Hidupmu masih lama lagi. Apa kau lupa masih harus bertanggung jawab padaku?” ucap Mario dengan kesal, hanya melihat Anna yang terdiam beberapa hari saja sudah membuat dadanya sesak apalagi kalau sampai harus ditinggalkan selamanya. Bisa-bisa runtuh sudah kepercayaannya akan cinta yang baru saja di bangun dengan begitu sulitnya.


“Maafkan aku, Bos. Sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertanggung jawab padaku." Sejenak Anna menghentikan kalimatnya untuk mengambil napas. "Jantungku rasanya sudah mau meledak sejak tadi, Bos. Apa ini yang namanya serangan jantung?" Anna dengan polosnya memegang dada kiri di mana debaran jantungnya berpacu dengan begitu cepat mengalahkan detik jam yang berputar. 


Mario hanya bisa tersenyum dan semakin gemas akan tingkah polos Anna ketika mengakui apa yang dia rasakan. 


“Bos, bisakah kau panggilkan aku dokter,” pinta anna dengan masih tak mengerti akan kondisinya.

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau merasa sakit?” Mario dengan panik memegang bahu Anna. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya, sayangnya ternyata antara dia dan Anna memiliki pemikiran yang lain tentang rasa sakit.


“Ya Tuhan. Karena kau menyentuhku sepertinya aku bukan hanya terkena serangan jantung, Bos. Tapi demam juga. Wajahku terasa panas, Bos. aku harus bagaimana ini, Bos? Apa aku akan mati hari ini?” ucap Anna lagi dengan polosnya dan tampak begitu panik. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada tubuhnya.


Namun, suara Jessi di depan pintu seketika membuat keduanya menoleh secara bersamaan. “Iya, kau akan mati hari ini kalau tidak segera menikahi Mario!”


“Apa? Benarkah itu, Nyonya," tanya Anna dengan kedua mata yang membola membulat sempurna. Jessi hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Anna.


“Kalau begitu tunggu apa lagi, Bos. Ayo menikah sekarang! Aku belum mau mati, Bos.” Tanpa membuang waktu, Anna langsung beranjak dari ranjang dan menarik paksa Mario untuk pergi menurutinya.


Sementara itu, Jessi hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya di mana Mario malah tampak kebingungan akan situasi saat ini. 


“Pergilah! Mereka sudah menyiapkan segala untuk kalian,” ujar jessi yang mengetahui kekhawatiran Mario, tentu saja dia sudah meminta anak buahnya yang lain untuk menyiapkan segalanya.


“Terima kasih, Nyonya.” Mario membungkukkan tubuh di mana dia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan Jessi yang  bahkan  melancarkan kisah cintanya, hingga dia bisa bertemu dengan Anna. Sosok yang mampu mencuri hati Mario dengan segala pesona kepolosannya.


Dia juga ingin Anna merasakan hal yang sama, walaupun seorang wanita tak berniat memberatkan prianya dengan segudang syarat demi pesta pernikahan mewah. Namun, apa salahnya jika Jessi sebagai orang yang mengalami semua itu lebih awal memberikan mereka hadiah kecil yang akan mereka ingat selama itu. Bahkan bisa menjadi sejarah yang akan diceritakan pada anak cucunya kelak.


Setelah beberapa jam berlalu dengan cepat. Semua penghuni kediaman Light sudah berpindah ke sebuah gereja yang menjadi saksi acara pernikahan sakral antara Mario dan Anna dilangsungkan.


Berbalut gaun putih yang indah dari butik Laura Anna tampak begitu mempesona. Riasan tipis dengan rambut yang di tata sedemikian rupa dan tertutup veil panjang yang serupa dengan gaun yang di kenakan Anna menambah kesan mengagumkan pada wanita tersebut.


Mario hanya bisa terdiam sambil menutup mata karena air mata yang tak tahan lagi dia bendung melihat betapa cantiknya Anna saat ini. Rasa bahagia lengkap dengan segela kondimennya menyatu begitu saja di hati pria tersebut sebelum janji suci mereka terucap.


Merasa bersalah karena sebelumnya Mariolah yang membunuh ayah Anna. Pria tersebut langsung memeluk calon istrinya dengan begitu erat. "Maafkan segala kesalahan ku, Anna. Aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku," bisik Mario di telinga Anna sambil terisak karena merasa sesak.

__ADS_1


Untuk sejenak para tamu yang hadir dari kediaman hanya bisa terdiam menyaksikan adegan sebelum inti acara itu di mulai. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bisa melihat seorang pria menangis haru di saat menatap pengantin wanitanya seperti itu.


Hingga sesaat kemudian, keduanya pun mulai mengucapkan ikrar janji suci dengan tatapan yang tak pernah beralih dari pasangannya.


“Aku Kim Mario berjanji untuk membantumu, Anna agar lebih mencintai hidup, menggenggammu dengan lembut penuh dengan kesabaran. Karena itulah yang dibutuhkan cinta juga mengatakan kata-kata indah jika dibutuhkan dan berdiam jika ternyata kata-kata tak dibutuhkan lagi di saat kamu marah, dan untuk hidup dikehangatan hatimu yang kini aku sebut rumah." Mario menghentikan kalimatnya untuk sejenak menetralkan debaran di dadanya karena tatapan Anna yang tidak beralih sejak tadi. "Dan aku akan menjadikanmu istri satu-satunya dalam hidupku, berjanji untuk setia kepadamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Aku mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup sampai maut memisahkan kita.”


Janji suci yang diucapkan Mario sukses membuat beberapa tamu menitihkan air mata karena pria yang selama ini terkenal dengan kalimat singkat, ternyata mampu mengucapkan janji pernikahan yang begitu panjang dan mengharukan.


“Gantian ini, Bos?" bisik Anna dengan sangat lirih di telinga Mario karena sesungguhnya dia sangat gugup saat ini.


Mario hanya mengangguk, Anna pun sedikit menelan ludahnya terlebih dahulu dengan susah payah. Bahkan bisa Mario rasakan tangan dingin wanita tersebut dalam genggamannya, memerlihatkan jika Anna memang benar-benar gugup dengan situasi saat ini. "Demi tidak mati jantungan hari ini," batin Anna sebelum mengucapkan janji sucinya.


"Aku, Anna berjanji membantumu Kim Mario untuk memenangkan banyak proyek di kemudian hari. Selalu menemani kamu kemana pun, termasuk saat kamu rapat. Tidak akan melarang kamu pergi asalkan aku ikut. Berjanji untuk tetap setia melayanimu, mengasihimu dalam keadaan suka maupun duka, susah ataupun senang, kurus maupun gendut. Dan aku akan menjadikanmu satu-satunya suamiku seumur hidup ini, sampai maut memisahkan kita."


Sampai di mana kedua janji suci dari sepasang pengantin baru itu terucap, suara tamu yang hadir terdengar semakin riuh dengan iringan tepuk tangan dan mereka yang terharu sekaligus menahan tawa secara bersamaan.


Sepasang pria dan wanita akhirnya meresmikan hubungan mereka dalam suatu pernikahan yang sakral. Meskipun acara hari ini di atur oleh Jessi, tetapi Mario juga sudah mengantongi cincin untuk sang istri sejak jauh-jauh hari. Sebuah berlian indah berwarna merah muda tersemat di jari manis lentik Anna yang kini resmi menjadi istrinya.


Mereka pun lantas melanjutkan acara dan berakhir dengan keluarnya pengantin dari gereja yang langsung menuju tempat bulan madu mereka sebagai hadiah tambahan dari Jessi.


"Apa kau tidak ingin seperti kakakmu?" Suara tepukan Jessi di punggung Maurer mengejutkan gadis yang kini harus bekerja lebih lama menggantikan kakaknya itu. Ada rasa kehilangan setelah sekian lama satu-satunya sosok yang menyayanginya sepenuh hati menemukan pendamping hidupnya. Namun, dia tidak boleh egois dan hanya mementingkan diri sendiri.


Maurer menoleh sambil tersenyum lebar pada Jessi. "Aku menunggu Jayden dewasa saja, Nyonya," goda Maurer pada Jesslyn.


"Hei! Bocah tengik! Semakin berani saja kau ya? Memangnya ke mana perginya pria yang kau bawa malam itu? Dasar gadis nakal," teriak Jessi menatap punggung Maurer yang semakin menjauh, tetapi hanya melambaikan tangan padanya seolah semua itu hanyalah angin lalu.

__ADS_1


To Be Continue...


  


__ADS_2