Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pagi Damien


__ADS_3

Sinar mentari mulai masuk menyinari sudut ruang, hingga cahaya silaunya mampu membuat pria yang kini terbaring di ranjang mulai mengerjapkan mata. Perlahan Damien mencoba untuk duduk dari posisinya sambil meraih gelas air minum di atas nakas dengan kondisi masih belum sepenuhnya sadar.


Berulang kali pria tersebut menunduk dan memukul kepala karena rasa pening yang melanda. Hingga ketika kesadaran mulai berkumpul sepenuhnya, seketika pria tersebut membelalakkan mata melihat kondisi tubuhnya. "Apa yang terjadi?"


Dia terkejut mendapati dirinya sendiri tak mengenakan busana serta hanya menggunakan selimut tebal yang menutup tubuh. Kedua mata pria tersebut menatap, menyusuri setiap sudut ruangan dan sangat jelas ini bukanlah kamar miliknya. "Apa yang aku lakukan?"


Pria tersebut berulang kali memukul kepalanya agar kembali mengingatkan kejadian terakhir kali di saat dirinya mabuk. Namun, dia sungguh lupa apa yang sudah terjadi padanya. Bahkan bagaimana cara dia bisa sampai di sini pun tak tahu.


Kedua tangan Damien mengusap dengan kasar wajahnya, di saat melihat pakaian miliknya sudah berceceran di atas lantai. Rasa frustrasi tiba-tiba saja membuat pria tersebut mengumpat kesal berulangkali. "Sial! Sial! Sial!"


Pikiran Damien melayang entah ke mana memikirkan hal itu. Apa aku baru saja menjamah wanita lain tanpa sadar dalam kondisi mabuk? Tidak, tidak, tidak! Jangan sampai hal itu terjadi! Tapi, bagaimana aku bisa melupakannya? batin Damien.


"Argh!" Dia berteriak cukup keras hingga suaranya mampu membuat cicak di dinding terkejut karenanya. Sesaat kemudian, Damien memilih memikirkan hal itu nanti saja sebab alam sudah mulai memanggil namanya hingga membuat perutnya begejolak ingin segera mengunjungi kamar mandi.


Namun, ketika dia hendak turun dari ranjang, tiba-tiba saja kakinya menginjak sebuah tubuh di bawahnya. "Awh!" Suara bariton rintihan akibat pijakan berat

__ADS_1


beban tubuh Damien, membuat pria itu terkejut seketika dan segera memindahkan kaki ke atas lantai.


Kedua alis Damien saling bertaut hingga menampakkan beberapa garis keriput di dahi karena merasa heran melihat penampakan di depannya. "Nicholas!"


Damien seketika membelalakkan mata di saat melihat adik iparnya tidur di bawah dengan berselimut tebal juga. Dia pun bergegas menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangan di kala melihat Nicholas mulai bangun dari posisinya.


"Kau pikir siapa?" Suara parau Nicholas sambil menguap menahan rasa kantuk dengan memegang selimut di tubuh membuat Damien seketika menarik kain itu menutupi diri dengan selimut pula.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kita?" Pertanyaan Damien seketika membuat Nich menendang kaki pria di depannya.


"Lalu? Kenapa kau tak pakai baju? Aku pula?" Damien terlihat seperti orang bodoh saat ini. Alam seketika tak lagi memanggil karena melihat Nicholas bersamanya.


"Kau muntah di mana-mana tempat!" Nich menunjuk tumpukan pakaian kotor di sebuah sudut. "Lihat! Aku bahkan sampai harus kedinginan dan tak berselimutkan istriku karena mengurusmu!"


Nich langsung berdiri dari posisinya meninggalkan Damien yang masih tercengang dengan situasi saat ini. "Kalau masih cinta untuk apa membiarkannya pergi? Dasar pria bodoh!"

__ADS_1


Tanpa menghiraukan jawaban Damien, Nich langsung masuk ke dalam kamar mandi bergitu saja. Hingga beberapa saat kemudian Damien mulai tersadar dari situasinya. "Yak! Kenapa kau masuk duluan?" teriaknya sambil mendobrak pintu kamar mandi.


"Toilet ibarat dia. Siapa cepat dia dapat? Istriku sebentar lagi datang membawa pakaian ganti! Jangan lupa membuka pintu untuknya!" teriak Nicholas dari dalam kamar mandi.


"Sialan!" Damien hanya bisa mendengus kesal sambil menendang pintu kamar mandi tersebut.


Pukul tiga pagi Damien berulang kali menghubungi Jessi, menganggapnya seakan itu adalah Jane dan meluapkan segala kecemburuan ketika mengetahui wanita yang dicinta tengah bersama pria lain.


Alhasil Jessi pun meminta Nich untuk mengurus kakaknya karena dia sendiri tengah asik berjudi di kasino dari tengah malam hingga menjelang pagi. Lagi pula sejak awal sang asik sudah memeringatkan kakaknya, tetapi pria itu masih teguh dengan pendiriannya dan enggan mengejar cinta.


______________


Hari ini cukup di sini dulu ya teman-teman.


Othor sedang tepar.

__ADS_1


__ADS_2