
Jessi dan Maurer bergegas keluar dari kediaman Light dengan cepat. Gadis itu melajukan mobil sembari sesekali melihat ke arah Jessi di sampingnya yang tampak masih ribet dengan pakaian yang dia kenakan.
"Kita akan ke mana, Nyonya? Kenapa Anda menggunakan pakaian tebal dan malah menyuruh saya memakai pakaian terbuka," ujar Maurer menatap heran sang majikan yang tampak sangat aneh dengan penampilannya.
"Ini semua gara-gara suami kolot ku itu. Dia mengubah semua penampilan cantikku malam ini menjadi seperti kostum king kong ini. Menyebalkan sekali!" gerutu Jessi sambil terus melepaskan satu per satu pakaian di tubuhnya. "Kita ke restoran dulu. Nanti ajak Olivia sekalian. Jangan biarkan perawan tua bertebaran di kediaman Light."
"Baik, Nyonya." Maurer lantas mengubah arah kendaraan menuju Light Resto.
Selama Jane menyerahkan kembali usaha tempat makan tersebut, Jessi malah menyerahkan segala urusannya pada Olivia. Dia menjalankan restoran itu dengan bantuan anak buah lainnya jika wanita tersebut mengalami kesulitan.
Sesaat kemudian, mobil mulai memasuki pelataran Light Resto, di mana tampak lampu-lampu di sana sudah mulai padam karena memang hari sudah cukup malam. "Apa Olivia sudah pulang?" tanya Jessi yang mulai turun dari kendaraan tersebut.
"Sepertinya belum, Nyonya. Tadi saya belum melihatnya di rumah."
"Baiklah, ayo beri dia kejutan!"
__ADS_1
Keduanya pun sama-sama melangkah menuju Light Resto, sejenak Jessi mengernyitkan dahi melihat dua buah mobil masih terparkir di sisi lain. "Sepertinya kita yang akan mendapatkan kejutan malam ini. Ayo cepat! Jangan berisik!" bisik Jessi dan mereka pun lantas mengendap-endap masuk karena ternyata pintunya pun belum dikunci.
Jessi dan Maurer mulai melangkah dengan hati-hati. Bahkan Jessi sampai melepaskan alas kakinya agar suara mereka tak mengganggu ketenangan di sana. Keduanya mengedarkan pandangan ke segala arah di mana tak lagi terlihat adanya kegiatan manusia. Hingga sesaat kemudian, sayup-sayup terdengar suara dentingan benda-benda saling berbenturan dari arah dapur yang membuat Jessi semakin bersemangat. "Ayo kita ke sana!" bisiknya pada Maurer.
Setibanya di pintu dapur dengan posisi berjongkok sambil memerhatikan perut buncit yang membuatnya sedikit kesulitan, kemudian keduanya melebarkan mata dengan semburat bahagia layaknya baru saja mendapatkan jackpot. Sementara itu, Maurer langsung hendak mendekati kedua orang tersebut, tetapi dengan cepat ditahan oleh Jessi.
"Jangan kacaukan tontonan gratis!" bisiknya di telinga Maurer.
"Tapi, Nyonya."
Mau tak mau Maurer hanya bisa mengikuti perintah Jessi. Wanita itu duduk di lantai sambil menyaksikan tontonan di depannya dengan raut wajah bahagia, tetapi tidak dengan Maurer yang hanya bisa mendengus kesal di dalam hatinya. 'Sialan! Mengotori mata suciku saja.'
Tampak jelas di depan mereka di mana George dan Olivia tengah bercumbu di dapur dalam kondisi sama-sama tanpa sehelai benang pun. Berbagai gaya mereka lakukan layaknya koki penjelajah panci. Entah berapa barang yang harus berdentingan bergoyang seiring dengan gerakan mereka.
"George, sudah aku lelah," ujar Olivia yang duduk di atas meja stainless dapur tersebut layaknya ayam yang tengah diingkung oleh George.
__ADS_1
"Sebentar lagi, tanggung." Tanpa memerhatikan rintihan Olivia, George terus memacu tubuh wanita tersebut dengan berdiri. Entah berapa banyak buliran keringat membasahi tubuh keduanya, mungkin jumlahnya hampir sama dengan garam yang digunakan untuk memasak setiap harinya.
Melakukan hubungan terlarang karena sama-sama suka membuat keduanya menikmati waktu di sela pekerjaan. Olivia yang kini berstatus sebagai kekasih George semenjak saran dari Jessi hari itu membuat keduanya melewati batas.
Remang cahaya di ruangan tak menyulut semangat yang membawa dalam diri George, hingga sesaat kemudian. Keduanya pun mencapai pelepasan bersama.
"Ayo kita pergi!" bisik Jessi pada Maurer setelah dirasa tontonan sudah habis.
Keduanya pun melangkah keluar dengan hati-hati dan duduk di salah satu kursi pengunjung paling pojok sambil menyalakan sebuah lilin. Mereka menunggu sepasang kekasih itu selesai dengan urusannya tanpa berniat mengganggu.
Hingga sesaat kemudian, benar adanya George dan Olivia keluar dengan wajah terkejut melihat dua orang di pojokan. "Nyonya," seru keduanya bersamaan.
"Apa sudah selesai?" tanya Jessi dengan sebuah senyum di wajahnya, tetapi tampak mengerikan karena hanya disorot cahaya lilin.
To Be Continue
__ADS_1