
Mendapat serangan mendadak tepat di dua tempat berbeda dari Jane, membuat Damien tak mampu untuk menghindar. Dia hanya bisa pasrah memegang benda keramat yang belum digunakan selama hampir kepala empatnya.
Rasa nyeri menyebar, menjalar di setiap aliran darahnya. Telur naga seakan pecah karena kerasnya sentuhan lutut Jane. Damien hanya bisa membungkuk sambil memegang benda keramatnya, menikmati setiap rasa sakit yang tak tertahankan sebagai sarapan di pagi hari ini.
Dia menatap lekat wanita yang menganiaya melangkah semakin jauh dari jangkauannya. Bahkan tanpa menoleh untuk melihat kondisinya sedikit pun, hingga membuat Damien berteriak dengan keras. "Dasar wanita kejam!"
"Tapi aku suka." Tertatih Damien mulai melangkahkan kaki hingga kembali ke apartemennya sendiri.
_______________
Di sisi lain seorang pria paruh baya tengah memulai kegiatannya untuk mencari simpati rakyat. Jerry Morning kini membagikan sarapan pagi bagi para orang tua di panti jompo.
Dia juga membagikan sarapan untuk para pekerja yang membutuhkan, seperti pengangkut sampah, penyapu jalan, dan petugas kebersihan lainnya. Aktingnya sangat alami hingga membuat banyak orang terkesima melihat tindakannya dalam membantu warga.
Mereka merekam aksi sang kandidat Calon Presiden tersebut sebagai pujian. Jerry Morning sengaja tidak membawa para pengejar berita agar warga sendiri yang menyebarkan dan tidak dianggap pencitraan.
"Selamat makan," ujarnya sembari meletakkan sebuah lauk ke dalam ke dalam piring orang yang mengantre.
"Terima kasih, Tuan. Akan sangat membanggakan jika kami memiliki pemimpin yang baik hati seperti Anda." Seorang penyapu jalanan memuji Jerry hingga mencium punggung tangannya.
"Aku hanya sangat senang ketika melihat kalian hidup dalam kesejahteraan." Dalam hati Jerry menyumpah serapah orang yang berani mencium punggung tangannya tersebut.
Berapa banyak kuman dan bakteri yang akan menumpuk di tubuhku jika kalian terus menerus mencium punggung tanganku?
Namun, hanya ada senyuman palsu yang selalu terukir di wajah pria tersebut. Setidaknya banyak warga mengabadikan momen pagi ini yang akan membuat reputasinya kembali melejit.
Satu per satu warga yang mengantre dilayani oleh para jajaran partai, berusaha menunjukkan ketulusan dengan menolak ketika pihak katering mencoba mengambil alih.
"Bukankah menyenangkan jika kita memiliki pemimpin yang baik seperti Tuan Jerry."
"Iya, kelak aku akan memilihnya dalam pemilihan umum."
"Benar, aku dengar dia bahkan sering menggunakan harta pribadi untuk membantu para warga yang membutuhkan."
Suara orang-orang mulai berbicara tentang kebaikan Jerry Morning mulai menyebar. Tak sedikit orang yang mengunggah foto maupun video pagi ini ke media sosial masing-masing. Mereka menganggap pria tersebut adalah kandidat terbaik untuk pemilihan Presiden tahun depan. Meskipun, belum ada pemberitahuan siapa saja yang akan mencalonkan diri.
__ADS_1
Akan tetapi, banyak masyarakat yang berharap jika sosok seperti Jerry Morning akan mencalonkan diri sebagai Presiden di masa depan.
Sementara orang yang mereka bicarakan mengembangkan senyum puas di wajah tua itu. Usaha untuk menarik simpati rakyat tidak sia-sia kali ini.
___________________________
Hari ini cuaca begitu cerah, Jessi sudah mendapatkan modal dari sang suami untuk menghabiskan waktu dengan menghamburkan uang guna mengganti isi lemari.
Sebagai perempuan, Jessi mengajak Patricia yang memiliki selera feminim. Dia juga membawa Olivia dan Stella bersama mereka, tak lupa pula sang ibu mertua heboh berjiwa muda yang sudah menanti sejak pagi.
Jane? Jangan tanya! Dia menolak untuk menikmati hidup, sedangkan Maurer masih fokus untuk menjaga keluarganya yang perkembangan kondisinya sudah mulai membaik.
Kelima wanita tersebut bergerak menuju pusat perbelanjaan terbesar di Negara N. Jangan tanya mall tersebut milik siapa! Tentu saja keluarga Bannerick adalah pemilik saham utama di sana.
Entah berapa banyak perusahaan yang dimiliki keluarga Bannerick. Pastinya jika harta mereka lebih banyak dari anggaran dana negara itu sendiri. Namun, hal tersebut tidak membuat Michael dan keluarganya tamak. Makanya, mereka lebih memilih menikmati keindahan hidup daripada sibuk memikirkan kekuasaan.
Jessi pertama kali melangkah menuju toko pakaian dalam dan lingerie bersama ibu mertuanya. Para penjaga menyapa dengan senyum begitu ramahnya.
"Selamat datang, Nyonya. Silakan berbelanja! Ada yang bisa kamu bantu?" Seorang wanita menyapa mereka dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Sayang, kau yakin ingin membeli lingerie? Mommy ingat hari itu kau tidak mau memakai pakaian seperti itu." Laura sedikit mengernyitkan dahi melihat perubahan Jessi kali ini. Akan tetapi, dia menyukainya, rasanya seperti melihat versi mudanya sendiri.
"Hari itu meskipun aku tidak mengenakan sehelai benang pun, Nich pasti tetap tidak akan menyentuhku, Mom. Kau tahu sendiri prinsipnya, 'No married no ***'."
Laura membenarkan pendapat menantunya. "Dia memang kuno."
Jessi melihat-lihat banyaknya pakaian tidur seksi yang tersedia di sana, sedangkan ketika orang lainnya milih pergi ke toko sebelahnya sesuai dengan usia mereka.
Setelah beberapa saat kemudian, setelah cukup lama memilih serta mengelilingi banyak toko, kelima wanita beda usia tersebut berhasil menjinjing banyak paper bag berisikan pakaian, tas, sepatu, dan barang-barang lainnya. Jessi bahkan membelikan sebuah celana bokser seksi untuk oleh-oleh sang suami.
Mereka berkeliling ke banyak tempat, tetapi aktivitas berbelanja tersebut harus segera berakhir karena Jessi menyadari ada sosok yang mengikuti kegiatannya sejak tadi.
"Olivia."
"Iya, Nona."
__ADS_1
"Bisakah kau membawa Stella dan Mommy kembali terlebih dahulu." Jessi berbicaralah sambil melangkah dan bercanda layaknya orang yang asyik bercengkrama.
"Apa terjadi sesuatu, Nona?"
"Akan." Jessi memberikan kode kepada para wanita tersebut dan hanya Stella yang masih belum paham karena sebenarnya dia belum tahu jati diri Jessi yang sebenarnya.
Mendengar ucapan Jessi, Laura menolak untuk ikut bersama Olivia. "Sayang, Mommy ikut dengan kalian saja."
"Mommy, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya dan kita tidak membawa satu pun pengawal. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Mommy? Aku tidak ingin jika daddy menjadi duda terlalu cepat." Jessi memang mengkhawatirkan ibu mertuanya dan Stella karena mereka berdua bisa jadi ketakutan jika melihat adegan yang mengejutkan nanti.
Sementara Stella masih dalam tahap pemulihan. Jessi tidak mungkin membiarkan gadis manis itu kembali harus merasakan trauma nya.
"Apa kau meremehkan Mommymu ini, Sayang? Anggap saja sebagai hari untuk Mommy mengenang masa muda dulu." Laura masih berusaha untuk ikut bergabung bersama Jessi.
Jika dibandingkan dengan keselamatannya, dia lebih memilih untuk melindungi menantu kesayangannya ini. Meskipun, Jessi sudah memperingatkan, tetapi melihat sikap keras kepala ibunya membuat wanita itu menghela napas panjang.
"Baiklah, tapi Mommy harus berjanji untuk menjaga diri." Dia akhirnya mengalah dan membiarkan sang ibu mengikuti aksinya kali ini.
"Mommy janji." Dalam hati Laura bersorak ria, akhirnya dia bisa kembali melihat adegan mendebarkan menantunya nanti. Suatu kejadian langka yang sangat jarang bisa dia lihat setelah Michael pensiun dari usia mudanya.
Jessi tidak tahu berapa banyak musuh yang akan mereka hadapi kali ini. Dilihat dari banyaknya mata-mata, jelas bukan hanya satu atau dua orang saja.
Mereka masih berbelanja seakan tidak mengetahui apa-apa sambil merencanakan tindakannya. Mereka tidak akan mungkin menyerang di ruang publik yang ramai seperti ini.
"Jangan lupa kabarkan pada Jack dan George!"
"Baik, Nona." Olivia dan Stella melangkah pergi terlebih dahulu seakan mereka sudah selesai berbelanja. Hal ini dilakukan untuk mengetahui siapa yang sebenarnya diincar oleh orang-orang itu.
Jessi mengamati terlebih dahulu, adakah perbedaan setelah kepergian Olivia dan Stella. Jika ternyata mereka mengejar keduanya, maka dia dan yang lainnya akan segera menyusul.
Namun, ternyata tidak. Setelah kepergian keduanya, para mata-mata yang berpenampilan layaknya pengunjung itu masih saja mengikuti arah langkah Jessi, Laura, dan Patricia. Hal tersebut tentu membuatnya merasa lega, setidaknya Stella masih aman dalam masa pemulihan.
"Mom, Pat, are you ready?" Setelah beberapa saat, akhirnya Jessi memutuskan untuk memulai aksinya bersama kedua wanita di sampingnya.
"Of course. It's show time."
__ADS_1
To Be Continue...