Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Brian Vs Jessi


__ADS_3

Malam semakin dingin, semilir angin mampu membuat siapa saja merinding. Gelapnya penerangan dan sepi kediaman tak membuat Jessi mengendurkan niat untuk menemui Brian hari ini.


Kedua tangannya melingkar di leher suami yang kini menggendongnya ala bridal style sejak dari kamar. Senyum mengembang di wajah Jessi ketika melihat wajah datar Nicholas, pria itu terpaksa memenuhi keinginannya dengan rasa kobaran cemburu di dalam dadanya.


Namun, demi sang istri serta anak-anak, dia rela menyingkirkan ego dan menuruti Jessi yang mengidam. Entahlah, kenapa bisa istrinya meminta hal aneh seperti ini, menguras emosi Nich saja.


Tak lama kemudian, mereka tiba di markas tempat penyekapan. Terlihat para robot Terminator masih setia berjaga. "Sayang, turunkan aku!"


Perlahan Nich menurunkan istrinya, lalu wanita itu membuka pintu. "Sayang, kenapa anak buahmu yang menjaga tempat ini?" Jessi menoleh ke arah suaminya di samping, bukankah di sini juga ada anak buahnya sendiri. Mengapa harus repot repot menggunakan robot.


"Karena mereka tidak akan bisa disuap. Lagi pula, manusia bisa lelah, sedangkan mereka bisa berjaga dua puluh empat jam."


Wanita tersebut hanya bisa mengangguk, benar yang dikatakan suaminya. Jerry Morning adalah orang yang penuh dengan akal bulus, bisa bahaya kalau anak buahnya termakan kalimat pria itu dan berkhianat. Bisa-bisa dia akan mudah kabur dari tempat ini.


Setelah menyusuri markas, tibalah mereka di salah satu ruangan khusus yang baru dipakai sejak pembangunan tempat ini. Terlihat Brian terlelap dengan posisi tangan dan kaki yang dirantai menempel di ranjang besi tersebut.


Suara pintu dibuka membuat pria itu tersedar dari mimpinya, betapa bahagia dia ketika melihat Jessi datang menemuinya. Namun, senyum di wajahnya pudar di kala matanya menangkap sosok Nicholas mengikuti langkah Jessi di belakang.


"Hayoyo, sepertinya kau sangat menikmati tinggal di sini, Bri."

__ADS_1


Nich memicingkan mata menatap istrinya, guratan cemburu mendengar wanita tersebut memanggil Brian dengan sebutan 'Bri' membuat emosinya kembali bergelora. Sebuah panggilan yang dianggap terlalu romantis untuk menyebut nama bajingan seperti pria itu.


"Jessi kau datang kemari!" Tak memedulikan Nicholas, Brian terlihat begitu bersemangat melihat kehadiran Jessi.


Tubuh Brian sungguh sangat mengerikan karena berminggu-minggu terkurung di ruangan ini. Aroma infeksi dari perutnya yang dimakan tikus bahkan tercium dengan jelas menusuk hidung Jessi, membuatnya menelisik dari mana sumber bau menjijikkan itu.


"Sepertinya kau sangat senang melihat kehadiranku." Jessi mengambil sebuah kursi di dekat dinding dan meletakkan di depan Brian untuk dirinya duduk, sedangkan Nich hanya menunggu dan mengamati di ambang pintu, sambil bersedekap tangan di dada dengan tubuh bersandar di pintu tersebut.


"Sayang, apa kau datang kemari karena merindukanku? Syukurlah kau selamat."


Sebuah tawa menggelegar begitu keras keluar dari mulut Jessi. Cukup lama dia tergelak setelah mendengar perkataan Brian yang terasa menggelitik di perutnya.


Suara terpukan kedua tangan Jessi saling bersentuhan terdengar begitu jelas, sebuah seringai jahat terlukis indah di wajah wanita tersebut. Ekspresi mengerikan yang tak pernah Brian sangka selama ini.


"Itu semua karena dirimu sendiri! Seharusnya kau kembali padaku bukan malah menikah dengan bajingan sialan itu!" Tatapan Brian tak kalah tajamnya dengan Jessi, amarah dalam dadanya sungguh membuat pria itu kehilangan akal jika mengingat istri yang dulu dia cintai kini telah menjadi milik orang lain. "Seandainya saja kau kembali padaku, aku tidak akan meracunimu begitu saja! Apa kau sudah lupa dengan rumah tangga kita yang penuh cinta selama lima tahun itu?"


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut kotor Brian membuat Jessi menghentikan tepuk tangannya dan mendongakkan kepala untuk beberapa saat. Wanita itu terkekeh kecil dengan kedua tangan berkacak pinggang, rasa sesak di dada mengingat kembali akan masa-masa dia dikhianati begitu kejam hingga menyebabkan sang jabang bayi gugur dari dalam perutnya membuat emosinya langsung menguar tanpa aba-aba.


"Penuh cinta kau bilang?" Wanita tersebut menghentikan kalimatnya untuk menahan emosi yang bergejolak di kepalanya. "Kau sendiri yang menghancukan kepercayaanku dengan membawa perempuan lain di saat aku sendiri tengah mengandung! Belum lagi cintamu itu hanyalah sebuah kepalsuan yang kau ciptakan untuk menjeratku demi obsesimu!"

__ADS_1


Wanita tersebut berdiri dari posisinya untuk mendekat ke arah Brian dan menunjukkan tangan tepat di hadapan pria itu. "Jadi, jangan pernah menyebut adanya cinta dalam rumah tangga kita! Aku bahkan menyesal menjadi mantan istri dari putra pria yang membantai keluargaku dengan kejam!" Dia menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya dengan deru napas naik turun terdengar begitu jelas.


Jessi mengeluarkan segala emosinya dengan tubuh yang bergetar, hingga membuat Nicholas bergegas mendekat. Namun, tangan sang istri malah menahannya, mengisyaratkan agar tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka.


"Itu bukan salahku, semua adalah ulah Jerry Morning dan Marcopolo sialan itu. Mereka bahkan berusaha memisahkan kita dengan berbagai cara, tetapi aku sudah membunuh ayahku dengan racikan racunku. Jadi, kau bisa tenang sekarang karena dendam keluargamu sudah aku balaskan." Brian tampak seperti orang gila yang dengan bangga mengakui telah membunuh ayahnya sendiri.


Hanya gelengan kepala yang bisa Jessi lakukan dalam situasi seperti ini. "Kau sungguh gila, Brian."


"Aku gila karenamu, Wanita Sialan! Kalau saja kau tidak meninggalkanku waktu kita pasti akan hidup bahagia hingga hari ini. Aku akan melakukan apa pun untukmu, bahkan jika harus membalaskan dendam keluargamu dengan membunuh Jerry Morning dan Marcopolo aku akan melakukannya." Suara Brian semakin lirih setelah gertakannya, dia sungguh berada di ambang batas kewarasan karena semua ini. "Aku bahkan sudah membunuh Rossi agar bisa kembali bersamamu. Tapi, mengapa? Mengapa kau malah memilih bajingan sialan itu?"


Dua orang yang pernah saling mengisi hati satu sama lain saling mengungkapkan apa yang terpendam di dalam benak keduanya setelah tiga tahun lamanya mereka tak bertemu. Bohong jika Jessi tidak merasa iba melihat kondisi Brian saat ini.


Setidaknya mereka pernah tinggal satu atap selama lima tahun. Namun, sayangnya Jessi tetap tak bisa mengenali jati diri Brian yang sesungguhnya hingga baru mengetahui setelah terbebas dari jerat pria itu.


Jessi menggelengkan kepalanya. "Seharusnya kau hidup dengan baik bersama Rossi dan buah hatimu, setelah aku meninggalkanmu. Bukan malah terjebak dalam jurang obsesi dan menjadi anjing Jerry Morning."


Seakan tak habis akal bahkan tak merasa berdosa Brian malah menggunakan Nicholas sebagai pengalihan agar pria itu semakin cemburu pada Jessi. "Hidup dengan baik kau bilang. Selama hidup ini aku hanya ingin memilikimu dan hidup bersamamu, seharusnya jika kau tidak menyukai wanita sundal itu bilang saja. Kenapa kau malah meninggalkanku begitu saja? Apa kau bahkan bisa melupakan malam pertama kita?"


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2