
Jessi mendekatkan wajahnya kepada sang suami, semakin dekat hingga membuat jantung pria itu berdetak cepat karena tindakannya. Lelaki tersebut mengira istrinya akan meminta sesuatu yang membuatnya bahagianya. Namun kenyataan malah sebaliknya. Suara bisikan Jessi di telinganya berhasil membuat Nich membelalakkan mata ketika mendengarnya.
"Apa kau bilang, Sweety?" tanya Nich memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.
"Aku ingin bertemu Brian, Sayang!" Jessi mengerucutkan bibir di depan suaminya, salah satu jurus pamungkas agar apa yang dia inginkan segera terpenuhi. Namun, ternyata sang suami malah langsung membuang muka dan mendengus kesal begitu saja.
"Apa kau begitu merindukan mantan suamimu itu?" Tidak ada nada lembut yang keluar dari mulut Nich. Hawa iblis tengah cemburu terlihat jelas di wajahnya yang mulai berubah merah padam karena kobaran amarah semakin membuncah.
Darah panas seakan berkumpul naik di kepalanya, kemelut iri mengira Jessi merindukan sang mantan suami membuat tingkah Nich seperti anak kecil yang tak mendapatkan permen kapas.
Lava panas gunung meletus seakan bersiap keluar dari atas kepalanya. Kepulan asap cemburu menguar begitu saja di udara, membuat Jessi terlihat begitu gemas dengan tingkah suaminya saat ini. Bukannya terlihat mengerikan, tetapi malah tampak lucu di matanya.
"Bukan begitu, Sayang." Jessi langsung menangkupkan kedua tangannya di wajah sang suami agar kembali menatapnya, mata mereka saling bertemu hingga menciptakan debaran mengasyikkan meskipun sudah lama menjadi sepasang suami istri.
Dia mengecup bibir suaminya sekali, tak ada respons. Kembali dikecup untuk kedua kali, masih tidak ada perubahan. Jessi lantas mendaratkan puluhan kecupan di bibir Nicholas, membuat pria itu luluh seketika, sebuah senyum mengembang di wajah tampan pria tersebut.
Tanpa aba-aba, dia mengubah posisi agar sang istri berada di bawah kendalinya. "Apa ini sungguh permintaan, Baby?"
Secepat kilat Jessi mengangguk. " Bukankah kau sendiri yang bilang, Sayang. Jika tak dituruti akan membawa dampak buruk bagi Baby kita."
Senyum licik terukir indah di wajah Nicholas. "Baiklah, jika Daddy harus menuruti permintaan Baby, maka Mommy juga harus memenuhi permintaan Daddy."
Perkataan Nicholas sukses membuat Jessi mengernyitkan dahi. "Apa yang kau inginkan, Sayang? Jangan harap aku mengizinkan jika kau ingin menikah lagi!"
"Untuk apa menikah lagi. Kalau seluruh hatiku saja sudah diambil olehmu? Sekarang sebaiknya." Perlahan Nich membuka kancing baju yang dikenakan Jessi, membuat wanita itu paham apa yang diinginkan suaminya. Sudah lama dia berpuasa, wajar saja jika suaminya meminta haknya.
__ADS_1
"Biarkan aku yang melayanimu!" Baru satu kancing terbuka, Jessi langsung mengubah posisinya. Dia mengambil alih tugas Nich dan membuka baju suaminya dengan paksa hingga butang kemeja pria itu seketika berhamburan terlepas dari tempatnya.
Nich hanya bisa melebarkan mata sambil tersenyum indah melihat liar istrinya yang sudah lama tidak dia rasakan. Jessi sungguh mendominasi dengan gaya bar-barnya saat bersenggama.
Pria itu hanya bisa menikmati setiap sentuhan istrinya tanpa bisa menolak. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan Jessi menjadi sangat liar. Bahkan melebihi malam pertama mereka.
"Sweety pelan-pelan! Kasihan Baby bisa terguncang!" Berbagai gaya yang Jessi lakukan membuat Nich khawatir akan kondisi anak-anaknya. Dokter bilang jika ingin berhubungan haruslah hati-hati, tetapi ini malah istrinya yang terlihat lebih bersemangat.
"Pelan tidak enak, Sayang! Kata Baby, mereka ingin secepatnya dijenguk."
Mendengar alasan istrinya yang selalu membawa nama Baby atas segala keinginan membuat Nich hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Jessi terhadapnya. Lagi pula keduanya sama-sama menikmati kerinduan dalam berhubungan.
Setelah sekian lama akhirnya lava kental menyembur dengan hebat di dalam sana. Awalnya pria tersebut ingin membuangnya di luar, tetapi istrinya melarangnya. Padahal dokter bilang hal itu bisa saja membuat kandungan Jessi kontraksi karenanya.
Buliran keringat panas bercucuran di tubuh keduanya. Jessi langsung limbung di samping tubuh sang suami setelah semua kegiatan ini. Nich yang masih merasa was-was seketika menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Membersihkan diri, dokter bilang bibit kecebong bisa membuatmu kontraksi. Aku takut terjadi apa-apa dengan Baby," jelas Nich sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan keduanya tubuh keduanya yang masih tanpa sehelai benang pun.
"Tapi, aku malas mandi." Jessi mengerucutkan bibir, membuat suaminya langsung tersenyum melihatnya.
"Kali ini biarkan aku yang melayanimu Ibu Ratu." Mereka lantas mandi bersama dengan sang istri yang bermanja ria dan suami bahagia.
Rasa bahagia atas kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan membuat mereka semakin harmonis dan romantis. Setelah sekian lama akhirnya Sang Pencipta kembali memberikan keutuhan keluarga kecil tersebut, ditambah dengan bonusnya.
_____________________
__ADS_1
Jessi dan Nicholas tertidur hingga malam, tubuh mereka terasa lelah setelah seharian melakukan banyak aktivitas sepulang dari rumah sakit. Namun, dini hari wanita tersebut kembali terjaga karena keinginannya yang belum terpenuhi.
"Sayang." Jessi mengguncang tubuh sang suami yang memeluknya dengan erat dari belakang.
"Hmm." Pria itu hanya berdeham dan masih enggan membuka mata. Kedua tangannya malah semakin erat melingkar di dada istrinya.
"Sayang, kau sudah berjanji tadi." Segera Jessi memutar posisinya agar mereka saling berhadapan. "Sayang!"
Nicholas masih tak bergeming, awalnya dia sengaja membuat istrinya lelah agar Jessi melupakan keinginannya. Namun, ternyata sang istri malah teringat di tengah malam begini.
"Sweety, besok saja. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur lagi saja, ya!" Nich berusaha memeluk istrinya, tetapi wanita itu melebarkan mata hingga membulat sempurna sambil menahan dada bidangnya yang hendak mendekat.
"Pembohong!" Ekspresi mengerikan Jessi berubah dalam sekejap mata. Dia langsung menangis dengan keras sambil mengelus perutnya yang tak lagi rata. "Sayang, sepertinya Daddy sudah tidak menyanyangi kita. Oh, Tuhan, malangnya nasib anakku punya ayah yang tidak mau menuruti keinginan mereka ketika dalam kandungan."
Akting Jessi sukses membuat Nich mengembuskan napas kasar dan terpaksa terbangun dari tidurnya dengan malas. "Ya sudah, ayo!"
"Tidak usah, kau tidak ikhlas!" Jessi semakin menggoda suaminya yang terlihat malas memenuhi keinginannya.
Pria itu pun kembali memejamkan mata untuk sejenak sambil mengembuskan napas perlahan. Lalu, membuka mata sambil melengkungkan senyum terindah di wajahnya hingga menampakkan deretan gigi putih rapi dan tampak mempesona.
"Baiklah,Sweetyku, Sayangku, Istriku, Ratuku, Ibu dari anak-anakku yang tercinta dengan segala pesona kecantikannya. Ayo kita temui mantan suamimu itu!" Nich menekankan nada di akhir kalimatnya, hingga membuat sang istri terkekeh kecil melihat cara suaminya merayu.
"Gendong!" Jessi mengulurkan kedua tangan dengan ekspresi lucunya hingga membuat sebuah senyum tulus terlukis di wajah Nicholas melihat manjanya sang istri sekarang.
"Ayo!"
__ADS_1
To Be Continue...