Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Menuju Kota Strawberry


__ADS_3

Mentari telah menampakan sinarnya membuat semua orang memulai aktivitas seperti biasa. Jessi berjalan menuruni tangga, dia berencana untuk melihat kondisi wanita yang masih dirawat di rumah sakit. Namun, di bawah terlihat Maria sudah menunggunya.


"Ada perlu apa, Bibi?"


"Nona, bisakah kita bicara sebentar?"


Jessy mengangguk, mereka berjalan menuju ruang tamu, lantas duduk dengan saling berhadapan. Maria menatap sebuah pigura besar di ruangan itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Bibi?" tanya Jessi.


"Nona, siapakah yang ada di dalam pigura itu?"


"Apa kau mengenalnya, Bibi?" Jessi menatap pigura yang dimaksud Maria, mereka memang cukup lama tidak saling bertemu karena kesibukannya.


"Aku mengingatnya." Maria menunjuk ke arah pigura. "Pria itu adalah atasan Samuel ketika dia masih bekerja sebagai pegawai magang di Kejaksaan."


"Paman Samuel? Pegawai ayahku?" Jessi sedikit terkejut mendengar pernyataan Maria. "Bagaimana Bibi tahu dia adalah bawahan ayahku"


"Karena ketika kami menyelidiki kasus pembunuhan sebuah keluarga secara diam-diam, Samuel mengatakan jika itu adalah atasannya dulu saat menjadi pegawai magang." Maria mencoba untuk mengingat kejadian masa itu.


"Jadi maksud, Bibi. Paman Samuel dibunuh setelah mereka mengetahui dia menyelidiki kasus itu. Makanya, paman meminta kalian untuk tetap diam hingga saat ini?" Maria mengiyakan ucapan Jessi.


Jessi berpikir sejenak, lalu dia berdiri dan kembali berspekulasi. "Paman Samuel menyelidiki kasus ayahku, dibunuh oleh Tom Evening, kejadiannya ditutupi oleh Barron Night. Detektif yang disewa Paman Alex juga kecelakaan karena hal itu. Kau dinikahi Tom demi mengawasi dan mengontrolmu. Jadi, siapa yang membunuh keluargaku?"


"Aku tidak tahu, Nona."


"Apa yang kalian dapat dari penyelidikan saat itu?"


Maria menggelengkan kepalanya. "Kami hanya tahu sedikit, jika David Alexander menghilang secara misterius bersama keluarganya. Selain itu, semua disimpan sendiri oleh Samuel. Dia sangat berhati-hati saat itu."


"Menghilang secara misterius? Berarti, tidak ada yang tahu jasad ayah dan ibuku. Entah mereka masih hidup atau sudah tiada, begitu maksudmu?"


Maria mengangguk, mencoba mengatakan apa yang dia tahu kepada Jessi setelah melihat foto keluarga di ruangan itu.


Berdasarkan informasi dari Maria, Jessi harus lebih berhati-hati dalam menghadapi Barron. Pria itu sungguh kunci masalah yang mereka hadapi, perlahan tapi pasti dalang utama pasti akan muncul ketika terjadi sesuatu pada pria tua itu.


Seberkas titik mencerahkan sedikit pikiran Jessi, bahkan jika hanya secuil informasi. Baginya mengusut kejadian yang sudah berlangsung selama tiga puluh tahun tidaklah mudah. Apa lagi harus mencari petunjuk dari nol, tanpa adanya barang bukti dan saksi. Semua hanya menyisakan spekulasi. Apa yang disembunyikan begitu rapat, hingga membuat mereka begitu takut rahasia ini akan terbongkar?


Suara orang berlari membuyarkan lamunan Jessi. Maurer datang dengan begitu tergesa-gesa.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa kau berlari seperti ini? Bukankah kau tahu, itu tidak baik untuk kondisi jantungmu?" Jessi merasa cemas melihat napas Maurer yang mulai tak terkontrol.


"Nona, tolong kakakku!"


"Apa yang terjadi dengan Mario?"


"Dia lost contact." Napas Maurer masih terengah-engah karena berlari, raut wajah cemas jelas terlihat di wajah manisnya.


"Duduklah dulu!" Jessi lantas pergi ke dapur mengambilkan air putih untuk Maurer. "Minumlah! Kita pikirkan dengan kepala dingin. Jangan panik!"


Maurer menerima gelas di tangan Jessi dan meneguk perlahan. Wanita itu mengusap-usap bahunya membuat napasnya mulai kembali normal.


"Bibi Maria, bisa tolong panggilkan George dan Olivia?" Maria mengangguk, lalu pergi meninggalkan ruang tamu. "Ceritakan apa yang terjadi?"


"Semalam Mario masih mengabariku ketika sudah mendarat, lalu dia bilang akan menghubungi lagi ketika sudah bertemu ayah. Namun, aku malah kehilangan kontak dengannya kali ini. Ponselnya tidak bisa kuretas sama sekali, Nona."


"Tenanglah! Aku akan membantumu."


Tak lama kemudian, Olivia dan George memasuki kediaman itu.


"Nona."


"George hubungi Jackson, suruh dia mengurus segala keperluan di sini berasamamu. Untuk sementara waktu, aku, Maurer, dan Olivia akan pergi ke Negara K!"


"Baik, Nona."


"Olivia, kau ikut aku dan Maurer!" Wanita itu mengangguk, mengikuti apa pun yang diperintahkan oleh Jessi.


"Di mana nenek?"


"Nyonya, sedang pergi membeli bibit tanaman," ujar Maria.


"Bibi Maria, tolong sampaikan pada nenek aku pergi ke Negara K, jika dia sudah kembali." Maria mengangguk. "Aku titip nenek ya, Bibi!"


"Serahkan padaku! Aku akan menjaga nyonya dengan baik."


"Terima kasih." Jessi lantas melihat ke arah Maurer dan Olivia. "Kalian kemas apa yang akan dibawa. Kita berangkat lima belas menit lagi."


"Baik, Nona."

__ADS_1


Jessi lantas bergegas kembali ke kamarnya. Dia bukan mengemas pakaian, tetapi senjata api juga senjata tajam. Wanita itu lantas menghubungi Nich terlebih dahulu.


"Hallo, Sweety," terdengar suara Nicholas di ujung panggilan.


"Nich, bisakah kau pinjamkan pilotmu! Aku akan pergi ke Negara K sebentar lagi." Jessi berbicara sambil mengemas barangnya.


"Apa terjadi sesuatu? T bisa melakukannya, kau hanya harus memanggilnya maka dia akan datang."


"Benarkah? Apa dia juga bisa menerbangkan Jet?"


Jessi memang baru saja membeli sebuah Jet dan dan membangun landasan pribadi di kediaman untuk keperluan darurat. Mengingat banyak anak buahnya yang juga berada di Pulau Ceria. Dia hanya ingin memudahkan perjalanan mereka tanpa harus repot-repot mengantri di bandara. Namun, wanita itu belum sempat mengontrak Pilot beserta awaknya karena kesibukan akhir-akhir ini.


"Dia bisa melakukannya, kau juga bisa menyuruhnya seperti asisten."


"Benarkah! Terima kasih, Nich. Aku pergi dulu kalau begitu!"


"Berhati-hatilah, Sweety! Kabari aku jika kau sudah tiba."


Jessi hanya berdehem, lalu matikan sambungan panggilannya. Dia bergegas turun dari kamarnya. Terlihat Maurer dan Olivia sudah menunggu dengan tas punggung kecil di belakang mereka. Ternyata selera para wanita ini adalah sama, tidak suka membawa barang yang menurutnya tidak berguna.


"Maurer di mana tepatnya daerahmu?"


"Kami dari Kota Strowberry, Nona."


"T!" Jessi berteriak memanggil anak buah Nich. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap memasuki kediaman.


"Iya, Nyonya."


"Kau bisa menerbangkan Jet Pribadi, kan?" Pria itu mengangguk. "Bawa kami ke Kota Strowberry!"


Mereka bergegas menuju landasan pacu, terlihat seorang wanita tak dikenal mengikuti mereka.


"Nyonya, dia adalah R. Penjaga Anda selain saya, tolong izinkan dia ikut!" ujar T.


"Baiklah. Kau boleh ikut!" Jessi menatap kedua anak buah Nich yang memiliki keahlian bahkan melebihi manusia pada umumnya.


Jadi, apakah mereka sebenarnya? Bagaimana bisa Nich memiliki anak buah yang begitu hebat? Bukankah mereka masih punya meskipun hanya satu kelemahan?


Jessi hanya menggelengkan kepala. Dia akan mengetahui hal itu kelak. Sekarang uang harus dia pikirkan adalah Mario. Bagaimana bisa pria itu menghilang tanpa jejak? Apa yang terjadi padanya?

__ADS_1


Maurer duduk sambil terus mengotak-atik laptopnya. Dia mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya.


TBC.


__ADS_2