Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Cacing Alaska


__ADS_3

Angin malam berembus cukup membuat suasana menjadi sejuk karena letak ranjang  yang terbuka langsung dengan hawa di luar dan bukan di dalam ruang tertutup. Homestay pribadi disiapkan khusus oleh Damien untuk sang istri, selain memberikan relaksasi, tetapi juga menambah kesan sunyi serta sepi karena memang tidak ada warga sekitar yang tinggal di dekat lokasi. 


Para pengurus homestay hanya datang sesekali atas perintah sang tuan rumah guna merapikan barang atau memersiapkan kebutuhan. Semua hal yang diatur malam ini, Damien persiapkan khusus hanya untuk Jane. Setelah apa yang mereka lalui sebelumnya, sekarang adalah waktu bagi keduanya memulai kehidupan baru. 


Damien mengangkat tubuh sang istri ke atas ranjang. Tak ada silau lampu penerangan karena memang sengaja tidak dinyalakan. Lokasi kamar yang langsung menembus alam memberikan kesan bebas, tetapi bukan berarti di alas. Hanya saja Damien ingin memberikan kesan terbaik untuk malam pertama mereka dalam menjalani bahtera rumah tangga. 


"Terima kasih sudah bersedia menjalani hidup bersamaku, Jane," ucap Damien ketika sang istri sudah berada di bawahnya. 


Jane hanya mengangguk sambil memegang kedua pipi pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu. "Terima kasih sudah bersedia menjadi suamiku, Damien."


Tanpa membuang waktu Jane melingkarkan tangan di leher sang suami. Lalu, bibir mereka saling berpagutan seiring semilir angin yang menerpa. Hawa dingin menusuk dari luar, tetapi tak membuat sepasang suami istri yang tengah memadu kasih itu kedinginan. Keduanya saling menghangatkan di bawah sehelai selimut tebal. 

__ADS_1


Helai demi helai kain yang menutup tubuh keduanya perlahan berhamburan entah ke mana. Hanya menyisakan kulit lembut yang terasa hangat dari diri Jane, sedangkan bulu halus di dada bidang Damien membuat Jane tak tahan untuk mencabutnya.


"Auwh," teriak Damien ketika merasa sakit di dadanya. "Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya Damien setelah melepaskan pagutannya. 


"Bukan apa-apa. Hanya saja dia melambai-lambai minta dipanen," ucap Jane dengan santai sambil tertawa kecil. 


"Menanam saja belum, sudah mau panen," ujar Damien sambil kembali menautkan bibir mereka. 


Telapak tangan kekar Damien dengan lembut menggenggam tangan Jane yang kecil. Jari-jari mereka saling bertaut seiring desir darah yang mulai mendidih. Hasrat dalam diri saling mereka lepaskan tanpa ragu seperti sebelumnya. Meskipun bukan pertama kali, tetapi keduanya saling memberikan pelayanan terbaik bagi pasangannya. 


"Apa sakit, Sayang? Maaf, maaf. Aku akan pelan-pelan," ucap Damien sambil mengelus rambut istrinya dan menghentikan aksi untuk sejenak. 

__ADS_1


"It's okay."


Tak lama kemudian, merasakan istrinya sudah bersiap, Damien pun kembali menanamkan cacing besar alaska di tanah subur sang istri agar segera membelah diri hingga menghasilkan bibit unggul berkualitas nantinya. 


Hawa panas seketika menyeruak dalam diri keduanya. Berpacu dengan keras mengobarkan semangat juang dalam permainan di atas ranjang. Jika pasangan lain mungkin melakukan malam pertama romantis diiringi alunan lagu klasik. Berbeda halnya dengan sepasang suami istri yang ditemani lolongan serigala dan sahutan burung hantu. Namun, hal itu malah menciptakan sensasi bersenggama di alam liar yang cukup memacu adrenalin. 


Entah berapa banyak buliran keringat panas yang kini membasahi keduanya. Namun, nyatanya mereka masih asyik melepaskan rindu dalam bercinta. 


To Be Continue….. 


Jeng jeng jeng. 

__ADS_1


Enggak ada hot hot an ya. Takut gak lolos lolos. Rissa lagi belajar pilihan kata erotis tapi gak membuat pembaca resah.


.Jangan kecewa!


__ADS_2