Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Membuang Zigot


__ADS_3

Malam itu seperti biasa setelah menyelesaikan segala urusan pekerjaan, George dan OLivia akan menghabiskan waktu untuk berkencan layaknya pasangan pada umumnya di sana. Namun, hal yang tak diduga adalh, setelah keduanya selesai mencoba sensasi baru, tiba-tiba saja tampak Jessi dan Maurer sudah menunggu di sebuah meja sudut restoran gelap tersebut dengan sebuah cahaya lilin. “Sudah Selesai?” tanya Jessi dengan santai, tetapi berhasil membuat Olivia lemas seketika, bahkan hampir jatuh karena rasa terkejutnya jika saja George tak segera menahan tubuhnya.


“N—nyonnya,” ucapnya dengan terbata.


“Maurer, bawa Olivia ke atas!” ujar Jessi datar tak menampakkan ekspresi yang mampu dibaca siapapun saat ini. 


“Nyonya, ini bukan salah George. Kami sama-sama saling mencintai.” Olivia langsung berlutut di lantai karena merasa Jessi akan marah dengan apa yang mereka lakukan. 


“Sayang.” George pun ikut bersimpuh di samping kekasihnya. “Tidak, Nyonya ini semua salah saya yang tak bisa menahan hasrat ketika berada di sampingnya.”


Sebagai seorang pria dia tak mungkin membiarkan sang kekasih menanggung kesalahan sendirian. Namun, George juga tak mengelak jika mereka baru saja berbuat kesalahan sebagai orang yang bekerja dibawah pimpinan Jessi. 

__ADS_1


Sayangnya, Jessi tampak tak memedulikan alasan keduanya. "Cepat bawa dia ke atas!” ucap Jessi dengan nada sedikit tinggi dan membuat Maurer langsung melangkah mendekati Olivia.


“Ayo cepat!” ajak Maurer sambil memegang bahu Olivia agar segera berdiri. 


“Tapi—” Olivia masih enggan untuk beranjak, tetapi Maurer dengan cepat membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.


“Cepat sebelum Nyonya benar-benar marah dan memintamu memotong kejantanan kekasih tercintamu itu seperti Johny.


Ketika dua orang itu telah pergi Jessi lantas melirik tajam kepada George. "Duduklah!”


Dengan jantung yang berpacu tak karuan, George duduk di kursi tepat di depan Jessi. Kepala pria tersebut bahkan sampai menunduk karena merasa malu akan apa yang dia lakukan, apalagi di tempat kerja. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, rasanya sangat menyenangkan daripada di kamar dan memberikan sensasi penjelajah tersendiri, pikir pria itu. 

__ADS_1


Keduanya terdiam dalam keheningan untuk waktu yang cukup lama. Entah kapan Jessi berniat membuka mulutnya hingga membuat George semakin gugup saja karenanya. Wanita tersebut hanya mengetukkan jarinya di meja, sambil sesekali menatap heran ke arah George, dan sesaat kemudian dia langsung menggebrak meja cukup keras, sampai pria itu terlonjak kaget karenanya.


“Apa kalian sudah lama bersama?” bisik Jessi sambil mencondongkan wajahnya sedikit ke depan. 


“Em, itu.” George sedikit bingung menjawabnya. Dia hanya bisa menggaruk tengkuknya sendiri yang tak gatal karena merasa sulit untuk mengakuinya. “Sejak Anda mengatakan pada saya untuk bergerak cepat hari itu, Nyonya.”


“Bagus,” ucap Jessi sambil menjentikkan jarinya. “Setidaknya kau bukan pria kolot seperti suamiku atau pun Damien yang terlalu lama menyadari perasaannya.” Jessi menutup mulutnya dari samping seolah sedang  berbisik pada George. "Apa kau berhasil membuatnya hamil?" 


George seketika menyanggah hal tersebut. "Mana berani saya membuatnya hamil lebih dulu, Nyonya."


Mendengar hal itu amarah seketika menguar dalam diri Jessi hingga wanita hamil tersebut langsung berdiri dari posisinya. "Hei! Apa kau bodoh? Jangan bilang kau membuang zigot di luar? Kenapa tidak di dalam saja agar kalian segera mendapatkan keturunan untuk menemani anak-anakku kelak?" 

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2