
Hari perayaan resepsi pernikahan Jessi telah tiba, semua orang terlihat bahagia dengan acara tersebut. Banyak tamu undangan mulai berlalu lalang memasuki kawasan pesta dengan menggunakan penampilan terbaiknya demi melihat pasangan pengantin fenomenal tahun ini.Namun, tidak untuk seorang pria yang sedari tadi berwajah masam karena melihat pujaan hatinya kembali bersama lelaki lain dari Negara X.
Mereka bahkan harus berdampingan untuk menjadi pendamping pengantin pria, membuatnya merasa sangat kesal karena hal itu. Damien berdiri di dekat sebuah pohon sambil mengamati setiap tamu undangan yang hadir dalam perayaan tersebut.
Dia segera bergerak ketika melihat Jane berjalan seorang diri menuju ruang ganti pengantin yang sudah disiapkan di sana. "Kita perlu bicara!" Tanpa menunggu persetujuan wanita tersebut, Damien bergegas membawa Jane ke balik pohon dan mengapit tubuhnya dengan tangan.
"Apa yang perlu dibicarakan?" ujar Jane dengan nada datar. Meskipun jantungnya berdetak sangat cepat ketika bersama Damien, tetapi wanita tersebut mencoba menetralkan perasaannya. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun yang mengharuskannya untuk senang berada di posisi seperti ini.
"Siapa dia?" Damien menatap lurus wanita di depannya dengan sorot mata tajam. Namun, sayangnya hal tersebut tak membuat Jane takut dan berusaha untuk menapik tangan pria itu.
"Bukan urusanmu!"
"Jane!" Damien langsung menarik tangan Jane yang hendak melangkah pergi dengan kuat hingga wajah wanita tersebut seketika mendarat di dada bidangnya.
"Lepaskan!" Jane mencoba untuk melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman kuat Damien, tetapi pria tersebut malah langsung memegang tengkuknya dan mencium wanita itu dengan paksa.
Jane mencoba untuk meronta-ronta, tetapi kondisinya yang masih belum pulih membuat tenaga wanita tersebut tak sekuat sebelumnya. Namun, suara pria berdeham di belakang mereka berhasil membuat Damien menghentikan aksi brutal pria tersebut.
"Jane, Jessi mencarimu," ujar Nicholas.
"Aku ke sana!" Wanita tersebut hanya mendengus kesal tanpa melihat sedikit pun ke arah Damien. Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau pungut sangat membutuhkan, lalu membuangku di saat kau bosan. Jane membatin sambil melangkah dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
Hal itu tentu saja dilihat oleh kedua pria di belakangnya. Damien mengusap kasar rambutnya sambil mengepalkan tangan dan meninju ke batang pohon dengan kuat demi meluapkan segala emosinya. "Sial! Apa yang baru saja aku lakukan!"
Nicholas menepuk bahu pria tersebut pelahan. "Kau terlalu menyakitinya."
__ADS_1
Kedua tangan Damien hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustrasi berulang kali. "Aku tahu. Tapi, aku tak tahu bagaimana memperbaikinya."
"Berusahalah lebih keras lagi! Wanita sebenarnya adalah sosok yang lembut di balik keras hatinya. Contohnya adikmu sendiri." Nicholas hendak melangkah pergi, tetapi menghentikan langkahnya untuk sesaat. "Jangan biarkan dirimu menyesal karena tak memiliki lagi kesempatan! Buang jauh-jauh egomu dan kejarlah kebahagiaan!"
Nicholas mengatakan hal itu karena dia dan Jessi tahu apa yang terjadi dengan Jane sebab sejak pertempuran hari itu dia surah memerintahkan R untuk mengawasinya. Jessi tidak mungkin tenang membiarkan Jane sendirian bepergian ke Negara lain sendirian, apalagi kondisi wanita tersebut pasti lah terguncang dengan situasi saat itu.
Namun, keduanya tetap akan diam selagi Jane tak memberitahu mereka dan tetap berusaha melindungi wanita tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya mencoba untuk menyadarkan Damien dari egonya karena mereka juga berhak bahagia serta mengesampingkan ego agar dapat kembali bersama.
Setelah mengatakan hal itu, Nicholas melangkah pergi meninggalkan Damien yang masih kalut dengan pikirannya sendiri. "Sial!" Pria tersebut mengembuskan napas kasar.
Mungkin benar apa yang dikatakan Nich serta adiknya. Seharusnya dia tak menyakiti Jane hanya karena penderitaannya sendiri. Sekarang Damien menyesali perbuatannya setelah kehilangan kebahagiaan.
Di sisi lain setelah meninggalkan Damien, Jane berulang kali mendengus kesal setibanya di ruang ganti Jessi.
"Kau kenapa, Jane?" Jessi mengernyitkan dahi melihat Jane berulang kali mengusap bibir dengan kasar hingga lipstik wanita tersebut belepotan tak karuan.
"Hei! Apa kau tuli, Jane!" Jessi yang merasa diabaikan berteriak dengan keras hingga membuat semua orang di ruangan tersebut terkejut karenanya, termasuk Jane.
"Cih, menyebalkan! Aku masih bisa mendengarmu lah!" ujar Jane dengan nada kesal dan meletakkan sepatu milik Jessi yang dibawanya tadi di atas meja. "Nah!"
"Apa yang membuatmu seperti itu?" Jessi memerhatikan setiap ekspresi Jane, hingga akhirnya pandangan wanita tersebut terhenti di kala melihat bibir sang kakak yang terlihat bengkak akibat dicium. "Ah, apa pengecut itu menciummu?"
"Jangan keras-keras!" Jane sontak membungkam mulut adiknya dengan telapak tangannya agar orang lain tak mendengar ucapannya. Hal itu tentu saja membuat Jessi hanya bisa semakin menggoda sepasang merpati yang saling menyiksa diri tersebut.
"Bagaimana rasa bibir kakakku? Apakah manis?"
__ADS_1
"Sialan kau!" Sebuah sentilan dari Jane berhasil mendarat di dahi Jessi hingga meninggalkan bekas merah di kulitnya.
"Jane, aku akan menjadi pengantin! Bisa tidak jangan rusak wajahku ini!" Jessi mengerucutkan bibirnya sambil mendekat ke arah kaca dan mengisyaratkan pada perias agar membenarkan kembali riasan wajahnya.
Jane hanya bisa menggeleng kecil sambil menatap Jessi yang terlihat sangat cantik hari ini. Sorot kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya di kala menatap sang adik menggunakan gaun hitam menjuntai panjang, dengan sepatu hak tinggi berwarna senada, dan mahkota berlian serupa.
Jika pengantin biasaya memakai gaun putih, wanita tersebut mengambil tema hitam untuk penampilannya kali ini. Dia sungguh ingin berperan sebagai tokoh Maleficent di pesta pernikahannya. Jadi, semua orang hanya bisa mengikuti keinginan sang ibu hamil. Lagi pula Jessi sudah pernah merasakan bagaimana menggunakan gaun putih.
Senyum adik kecilnya terasa seperti obat, langsung membuat hati yang tadinya panas menjadi dingin seketika karena rasa haru. Mungkinkah aku juga bisa merasakan kebahagiaan itu? batin Jane.
Dia mengusap buliran hangat di sudut matanya. "Aku akan cuci muka sebentar." Jane melangkah pergi untuk mencuci wajah dan membenarkan riasan sejenak.
Ketika dia masuk ke dalam toilet untuk berkemih tak sengaja mendengar langkah kaki dua orang masuk dengan tergesa-gesa. "Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya seorang pria.
"Sudah! Semua sudah sesuai dengan rencana," jawab suara wanita lainnya.
Jane mengernyitkan dahi di dalam toilet dan memilih untuk berhenti sejenak. Bukankah tempat ini sudah disewa sepenuhnya untuk pernikahan Nicholas dan Jessi. Apa seseorang kembali mencari masalah? Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi! batinnya dengan tangan yang mengepal kuat.
To Be Continue....
__ADS_1
Jeng jeng jeng, hayo coba tebak! Siapa yang cari masalah di hari pernikahan Jessi.
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya teman-teman.