
Setelah meninggalkan Brian dengan segala kata-kata Jessi yang menyakitkan, sepasang suami istri itu pun kembali ke kamar untuk mengistirahatkan diri karena hari sudah hampir pagi.
Jessi duduk di ranjang, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Nich yang melihatnya pun lantas mendekatkan diri ke arah istrinya dan bertanya dengan lembut. "Apa yang mengusik pikiranmu, Sweety?"
Pria tersebut merentangkan tangan di sandaran ranjang, membuat Jessi langsung meletakkan kepala di bahu suaminya. "Sayang, apa aku terlalu kejam dengan Brian?"
Sekejam-kejamnya manusia, mereka pasti akan merasakan suatu hal aneh mengganjal dalam hati, ketika melakukan sesuatu melebihi batas naluri kemanusiaannya. Begitu pula dengan Jessi, meskipun dia kejam, tetapi sejauh ini wanita tersebut selalu memberikan kesempatan kedua bagi orang-orang yang mengusiknya. Namun, mereka seakan tak tahu diri dan memilih untuk kembali mengusik daripada menjalani kehidupan yang lebih baik.
"Apa hal itu yang mengusik pikiranmu, Sweety?" Nich memeluk lembut tubuh sang istri di sampingnya, menyalurkan kehangatan dengan megusap bahu wanita tersebut setelah cukup lama berada di luar rumah.
Sementara itu, Jessi hanya bisa mengangguk kecil. "Entahlah, sisi lain dalam diriku mengatakan untuk memaafkannya. Tapi sisi lain memintaku menghukumnya dengan setimpal."
Kini Nich paham kegundahan yang dialami sang istri. Ya meskipun dia mampu mengendalikan para mafia, tetapi jiwanya tetaplah seorang wanita. "Apa kau pernah mendengar pepatah lama mengatakan 'apa yang kau tanam itu yang kau petik', Sweety?"
Jessi menoleh ke arah suaminya. Menatap lekat wajah pria yang kini hanya mengeluarkan senyum mempesona kepadanya. "Apa maksudnya, Sayang?"
Sebuah senyuman tak henti-hentinya terukir indah di wajah Nicholas. "Kita bukan Tuhan yang harus menghukum manusia. Dia punya aturannya sendiri untuk hal itu dan apa yang kau tanam, itulah hal yang harus bisa kau terima ketika memanennya."
"Tapi, aku juga bukan malaikat yang bisa memaafkannya begitu saja!" Jessi berbicara dengan nada ketus membuat sang suami mencubit gemas hidung wanita tersebut.
"Ada yang bilang 'Apa kebiasaanmu di dunia ini? Maka sepeti itulah kau akan mati'. Lakukan saja apa yang menurutmu benar, Sweety! Selama itu bisa membuatmu bahagia aku akan mendukungmu."
Wanita tersebut hanya mengangguk sambil mengusap hidungnya, mendengar penuturan suaminya terdengar cukup menenangkan baginya. Dia mengeratkan pelukan di tubuh suaminya dan membenamkan wajah di dada bidang pria tersebut. Benar kata sang suami, meskipun mereka kejam, tetapi manusia bukanlah penghukum yang adil. Biarlah karma menjalankan tugasnya tanpa harus diketahui.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana caramu menyembuhkan aku? Apa racun racikan Brian bisa kau takhlukkan?" Nich hanya menggelengkan kecil.
"Aku hampir gila melihatmu terbaring di atas ranjang tak berdaya seperti itu, Sweety. Apalagi kondisi mereka yang bisa dalam bahaya kapan pun karenanya," ujar Nich sembari mengelus perut sang istri dengan lembut. "Aku menemui Brian dan seperti yang kau lihat di perutnya tadi. Aku menyiksanya karena dia berani membuatmu tak kunjung membuka mata."
Sejenak Nich menghentikan kalimatnya. "Aku mencari penawaran di markas mereka, syukurlah ada beberapa botol cairan racikannya berhasil aku temukan."
"Terima kasih, Sayang." Jessi merasa semakin bahagia ketika bersama Nich. Mendengar pengakuan pria tersebut yang menyiksa Brian tanpa ditanya membuat wanita tersebut merasa dihargai olehnya.
"Entah apa yang akan aku lakukan jika tak ada dirimu di sisiku, Sweety" ujar Nich sambil mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.
Keduanya saling menghangatkan tubuh masing-masing dalam dekapan. Lalu bersangsur dari posisinya hingga berbaring sempurna di atas ranjang dengan masih saling berpelukan. "Tidurlah, Sweety! Kau bisa memikirkan kegundahanmu setelah matahari terbit."
Sepasang suami istri itu lantas terlelap karena lelahnya. Pikiran mereka perlu diistirahatkan sejenak agar kembali dapat berpikir secara logis untuk masalah ke depannya.
______________________________
Mereka layaknya lalat hijau yang hinggap di makanan, hanya menumbuhkan belatung menjijikkan dan juga penyakit bagi masyarakat. Langkah Jessi begitu tegas memasuki area markas. Dia tersenyum ketika membuka pintu ruangan Jerry Morning.
Pria tersebut menatap dengan tatapan penuh kebencian, wajahnya rusak dan melepuh akibat ledakan kala itu. Jessi yang melihatnya langsung menutup mulut seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.
"Apa kau masih Tuan Jerry Morning yang berkuasa itu? Kenapa keadaanmu lebih buruk daripada seharusnya?" Jessi tersenyum dengan nada mengejek, lalu duduk di kursi yang disediakan Olivia.
"Mau apa kau kemari? Kenapa tak langsung membunuhku?" Sorot mata Jerry Morning memicing menatap Jessi di depannya.
__ADS_1
Perasaan terhina dia dapatkan oleh anak ingusan yang awalnya diremehkan. Sebuah kesalahan membuat Jerry Morning dalam kondisi seperti sekarang. Seandainya saja pria tersebut tidak gegabah dalam bertindak menghadapi Jessi, mungkin semua ini tak akan terjadi.
Jessi mengembuskan napas kasar, menatap Jerry dengan memutar bola matanya. "Kau pikir aku menginginkan kematianmu setelah apa yang kau lakukan?"
"Jadi, apa yang kau inginkan?"
"Menurutmu kematian seperti apa yang menyakitkan?" Jessi bertingkah seolah dia sedang berpikir dengan menopangkan tangan di wajahnya. "Ah, mungkin akan menyakitkan jika kau mati tapi tidak bisa bertemu Bibi Stephanie."
Kalimat Jessi sukses membuat Jerry Morning membelalakkan mata hingga membulat sepenuhnya. Tidak pernah ada orang yang berani menyebut nama istrinya setelah sekian lama. Bagaimana bisa wanita di depannya mengetahui hal itu?
"Bagaimana kau bisa tahu tentang wanita itu?" Jerry menekankan setiap kalimatnya dengan sorot mata menghunus ke arah Jessi seakan bersiap untuk menebasnya kapan pun.
Pria tersebut tidak pernah tahu atau pun mencari tahu kondisi istrinya setelah wanita itu meninggalkannya. Dia menganggap jika Stephanie memilih pergi bersama selingkuhannya, meninggalkan Jerry bersama kenangannya.
"Bodoh!" Satu kata keluar dari mulut Jessi dengan seringai iblis terlukis di wajah cantiknya.
Dalam hatinya menertawakan kebodohan Jerry yang menyia-nyiakan istri dan juga Jane. Pria di depannya sungguh hanya mengejar kekuasaan dan melampiaskan kebencian terhadap wanita dengan membenarkan pikirannya sendiri.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang wanita sialan itu!" Jerry berteriak meluapkan kekesalan di saat Jessi dengan berani menyebut dirinya bodoh dan juga memanggil nama istrinya seolah mereka adalah orang yang dekat.
Sebuah tawa hambar terdengar dari mulut Jessi ketika Jerry menyebut istrinya sendiri seperti itu. Dia mengusap sebulir air di ujung mata karena miris mengetahui betapa bodohnya pria di depannya.
"Entah apa yang akan putrimu lakukan jika dia mendengar perkataanmu barusan."
__ADS_1
Seketika Jerry menatap tak percaya sambil menggeleng kecil ke arah Jessi. Dia tidak menyangka wanita di depannya akan mengatakan hal yang mustahil baginya. "Tidak mungkin!"
To Be Continue...