Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Bermain-main


__ADS_3

Malam itu, Jessi mengajak kedua anak buahnya untuk mengunjungi sebuah klub malam. Namun, bukan miliknya karena dia juga ingin mencari hiburan tanpa harus dipantau bawahan yang lainnya, apalagi Mario. Awalnya kedatangan Jessi ditolak karena perut buncitnya. Akan tetapi, di sanalah wanita tersebut mulai menggunakan kekuasaan uang, sehingga dengan mudah melewati penjaga di depan. 


Meskipun datang ke klub malam, bukan berarti Jessi akan bergoyang atau minum-minuman keras layaknya para wanita lainnya. Bisa-bisa dia melahirkan kalau sampai melakukan hal itu. Dia lebih memilih duduk manis sambil mengamati persekitaran, sedangkan Maurer dan Olivia pun sama. 


"Kalian tunggu di sini! Aku mau ke toilet dulu," ujar Jessi lantas melangkah pergi. Namun, ketika wanita tersebut melangkah menyusuri sebuah lorong, dia mendengar dua orang pria saling bercengkrama dengan batang rokok di tangan masing-masing.


“Apa kau sudah mendapatkannya?” tanya seorang pria bertubuh kekar sambil menghisap batang rokok di bibirnya. 


“Sudah, tinggal selangkah lagi, kau harus membayar kekalahanmu,” jawab pria lainnya di sana.


“Aku akan membayarmu dua kali lipat setelah berhasil menidurinya. Pelayan rendahan sepertinya, berani-beraninya menolakku yang memiliki segalanya.” Pria tersebut tampak geram ketika mengatakan hal itu. Sepertinya dia baru saja ditolak oleh seorang wanita, sehingga menjadikannya sebagai bahan taruhan bersama temannya tersebut.


“Malam ini aku pasti mendapatkannya. Besok akan aku perlihatkan darah perawannya padamu,” kata sang pria dengan senyum licik di wajahnya.

__ADS_1


“Berikan aku video panas kalian! Akan aku alihkan dua setengah persen saham  perusahaanku atas namamu.”


“Deal! kau sendiri yang bilang.” Keduanya tampak begitu bahagia membayangkan kehancuran seorang wanita sudah berada tepat di depan matanya.


Sejenak Jessi mengernyitkan dahi mendengar obrolan dua pria yang tampaknya berniat jahat tersebut, tetapi dia merasa hal itu bukanlah urusannya memilih kembali mencari kamar mandi karena rasanya sudah tak tahan lagi. Kehamilan yang semakin besar menyebabkan Jessi menjadi lebih sering berkemih.


Entah apa yang terjadi, sayangnya obrolan kedua pria tadi terus saja terngiang dalam benak Jessi. “Siapa orang yang mereka maksud,” ucap Jessi pada diri sendiri sambil mencuci tangan dan beberapa kali menatap pantulan dirinya di cermin. “Ah, sudahlah. Bukan urusanku juga.”


Dia pun melangkah keluar dan menghentikan langkah sejenak ketika kembali melihat salah seorang pria sebelumnya tengah mengungkung sosok wanita dengan seragam pelayan ingga bersandar di dinding. “Sayang, aku berjanji akan menikahimu dan membawamu keluar dari tempat ini. Jadi, kau tak perlu lagi bekerja sebagai pelayan di klub malam,” ucap pria tersebut penuh dengan rayuan dan tipu daya sambil menyibakkan anak rambut sang wanita dengan tangan mengelus pipinya. 


“Anggaplah kau sedang beruntung bertemu denganku,” ujar Jessi lirih, lalu melangkah mendekati keduanya yang hampir saja berciuman itu. 


“Sayang, apa yang kau lakukan di sini, hah?” teriak Jessi yang langsung menyingkirkan tubuh pria tersebut dari wanita di depannya. Hal itu sontak membuat kedua orang itu terkejut sekaligus bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Namun, tampaknya Jessi masih belum puas memisahkan keduanya. “Jadi ini yang kau lakukan di belakangku?”

__ADS_1


“Kau siapa, hah. Aku tidak mengenalmu,” sanggah pria tersebut sambil menepis tangan Jessi yang membuat wanita tersebut segera pura-pura terduduk di lantai layaknya wanita yang teraniaya. 


Jessi pun mulai mengeluarkan air mata buaya serta kemampuan berakting yang apik. “Tega kamu ya! Setelah membuatku bunting kau malah meninggalkanku.” Dia terisak sambil mengusap perut buncitnya yang membuat wanita di depannya seketika membelalakkan mata. “Padahal sebelumnya kau bilang akan menikahiku dan membelikanku sebuah rumah. Tapi apa yang kau lakukan? Itu hanyalah sebuah rumah sewa dan kau malah bermain dengannya di belakangku setelah sekian lama tak ada kabar kapan akan menikaiku!” Kemarahan dan rasa tertindas  bercampur menjadi satu dalam diri Jessi. Isakannya terdengar cukup memilukan bagi setiap wanita yang mendengar keluhannya.


“Jadi, kau hanya menganggapku mainanmu?” tanya wanita pelayan itu dengan tampak sangat kecewa pada pria yang kini terlihat bingung tersebut.


“Bu–bukan begitu, Sayang. Aku tak mengenalnya sungguh,” ucap pria tersebut membela diri sambil memegang kedua bahu sang wanita. 


“Bullshit! Perut buncitnya sudah cukup menjadi bukti kalau kau memang bajingan kelas ikan teri!” Wanita tersebut lantas mengayunkan lutut di antara kedua kaki pria tersebut dan mendarat tepat di kejantanannya. “Jangan pernah menghubungiku lagi! Tanpa bantuanmu aku bisa bekerja lebih baik setelah keluar dari tempat ini,” ujarnya dengan nada geram, tetapi tak menampakkan sedikitpun air mata di wajahnya.


Pria tersebut hanya bisa terduduk di lantai sambil meringis kesakitan memegang kejantanannya, sedangkan sang wanita sudah melangkah pergi entah ke mana. “Akh! Sial! Semua ini gara-gara—” Dia hendak melampiaskan amarahnya pada Jessi, sayangnya wanita hamil tersebut sudah tidak ada di sampingnya lagi. “Sialan! Berani-beraninya kau mengacaukan rencanaku!” teriak pria tersebut sambil meraung sejadi-jadinya.


To Be Continue...

__ADS_1


 


__ADS_2