Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Lagi-lagi Obsesi


__ADS_3

Nata yang di tinggalkan seorang diri di tempatnya, hanya bisa terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ben. Namun, dia tidak bisa membiarkan pria itu pergi begitu saja dan terlihat niatnya yang tampak terlalu jelas.


"Akkh! Sialan!" umpat Nata sambil mengacak-acak rambutnya karena frustrasi dan langsung bergerak keluar Villa untuk mengejar Ben dan berusaha menjelaskan. Sepertinya dia terlalu gegabah tadi, sehingga citranya bisa terlihat buruk di mata Ben.


Sayangnya, setibanya di luar pemandangan tak mengenakkan kembali terjadi. Di mana sang pujaan hati tampak tengah mengobrol dengan seorang wanita yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Sekilas Nata mendengar di mana Ben memanggil nama wanita tersebut 'Maurer'.


Nata menghentikan langkah sambil berkacak pinggang dari jauh. "Jadi, itu yang namanya Maurer? Cih, sungguh melukai harga diriku kalau sampai Ben menolak ku demi gadis ingusan yang miskin sepertinya."


Dia langsung melangkah mendekati keduanya dengan amarah yang memuncak dalam dada.


Maurer hanya bisa mengernyitkan dahi melihat di mana Ben mengira dia adalah seorang petugas kebersihan. “Petugas kebersihan? Oh, itu—"


Belum sempat Maurer menjawab seorang wanita sudah memutus obrolan keduanya dengan berteriak. “Jadi ini yang namanya, Maurer?” ujar Nata dengan nada sinis serta memindai setiap inci tubuh gadis di sampingnya.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Maurer dengan sopan awalnya karena setiap tamu di sini adalah Raja, tetapi kalau Rajanya menginjak-injak rakyat. Jangan salahkan Maurer yang kejam.


"Kenalkan, Nata." Wanita tersebut mengulurkan tangan ke arah Maurer, tetapi ketika Maurer hendak membalas, dengan cepat Nata menarik tangan. "Ops, maaf. Tanganku terlalu bersih dan kau penuh dengan kuman juga kotoran dari sampah yang kau bersihkan!"


Mendapatkan serangan langsung ketika pertama kali bertemu. Maurer menutup mata untuk sejenak sambil menghirup napas dalam-dalam. "Tunggu, siapa nama Anda tadi? Nata? Ah ya, maaf aku tak mendengarnya dengan jelas karena aku pikir dirimu." Maurer menggerakkan tangannya seolah menggambar sebuah kotak. Dia menatap tajam ke arah Nata seakan mendapatkan mainan baru yang menyenangkan.


Raut wajah merah padam tampak jelas di rona kulit Nata. Wanita tersebut jelas menahan emosinya yang semakin meledak di kepala dengan susah payah melihat sebuah sunggingan senyum miring di bibir Maurer. Dia hanya berdecak, seolah wanita anggun yang mempesona dan tak mudah di provokasi. Nata lantas melingkarkan  tangannya di lengan Ben  dan seketika mendapatkan lirikan tajam dari pria tersebut, tetapi Nata seperti buta dengan mengabaikan peringatannya.


"Apa kau tidak mengenalku?" ucap Nata dengan nada di buat sehalus mungkin.

__ADS_1


"Tidak." Maurer hanya mengendikkan bahu, karena memang Nata tak seterkenal itu baginya. Bahkan mungkin lebih terkenal si robot kucing jika dibandingkan dengan wanita di hadapannya. "Apa Anda begitu terkenal, Nyonya?" tanya Maurer sambil menekankan setiap kalimatnya.


"Hei! Nyonya? Kau bilang Nyonya? Wah, apa kau tidak melihat aku yang masih semuda ini?" Setiap wanita yang selalu memperhatikan penampilan seperti Nata, paling anti jika di singgung soal usia. Meskipun benar adanya umur wanita tersebut sudah tak lagi muda. Akan tetapi, dia selalu melakukan perawatan agar usianya tampak jauh lebih muda di bandingkan seharusnya.


"Oh, maaf. Tapi, ada banyak kerutan di sudut matamu."


Nata tampak begitu geram sekaligus gelagapan dengan setiap kata yang keluar dari mulut iblis kecil di depannya sambil meraba bagian bawah matanya. "Sialan! Aku harus segera tanam benang setelah semua ini selesai nanti," batin Nata.


Dia mencoba menelisik mencari kelemahan Maurer demi melancarkan aksi serangan balik. Sangat tidak menyenangkan jika hanya dirinya yang berpendidikan kalah dengan gadis ingusan yang tampak miskin di depannya. Pakaian biasa yang hanya berupa kaos oblong dan celana Jeans membuat Nata sedikit mencebik. "Jadi, kau hanya seorang petugas kebersihan? Pantas saja berani merayu Ben. Apa kau ingin menaikkan derajatmu? Pasti kau mau panjat sosial secara instan 'kan? Bermimpilah! Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Nata!" teriak Ben spontan mendengar Nata yang tak tahu apa-apa tiba-tiba saja menghina Maurer dengan begitu kejamnya. Padahal Ben sendiri masih ragu jika Maurer adalah pekerja kasar. Apalagi menuduh sudah merayunya.


"Merayu?" Maurer menyela Ben yang hendak marah dengan begitu tenang. "Bisa Anda jelaskan di bagian mana saya merayu Tuan Ben?" Tantang Maurer tak kalah tingginya dengan suara Nata. Dia bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk. Jadi bagaimana bisa di tuduh seperti itu dalam kondisi sekarang. Kalau memang di anggap merayu, maka akan dia lakukan di depan wanita itu sekalian biar langsung kena mental.


Perlahan Maurer melangkah mendekati Nata yang masih menempel layaknya lem lalat pada Ben. “Bagaimana caraku merayu Tuan Ben, Nyonya?” tanya Maurer dengan sorot tajam hingga Nata sektika mendelik dan melepaskan tangannya dari lengan Ben. 


“K–kau.” Nata terbata dengan selangkah mundur menghindari Maurer yang semakin dekat bahkan hampir menempel padanya.


“Apa seperti ini?” Namun, tanpa aba-aba Maurer langsung menarik kerah jas yang dikenakan Ben hingga pria tersebut terhuyung ke arahnya dan tidak membuang waktu Maurer berjinjit untuk menempelkan bibirnya mereka. Keduanya berciuman singkat, sedangkan Ben yang merasa seperti tersengat listrik ribuan volt hanya bisa terdiam dengan mata yang membulat sempurna. “Apa seperti ini?” tanya maurer pada Nata yang hanya terdiam dengan raut wajah merah padam serta amarah yang membara.


“Hei! Apa yang kau lakukan pada calon suamiku, hah?” teriak Nata hampir saja melayangkan tangan pada Maurer, tetapi langsung di cegah oleh Ben. 


"Cukup Nata!" Ben yang awalnya terdiam melihat perdebatan keduanya akhirnya menahan tangan Nata yang berniat menampar Maurer. Dia jelas malu atas tindakan Nata yang melampaui batas kali ini. Serta menatap heran ke arah Maurer di sampingnya yang tampak tenang dan seakan tak beralah telah menciumnya tanpa izin.

__ADS_1


"Tapi, Ben. Dia—" 


Maurer hanya bisa menyeringai di balik punggun Ben yang berusaha menghalangi Nata. “Maaf, Nyonya. Meskipun Anda tampak begitu tergila-gila dengan Tuan Ben. Tapi saya tidak tertarik dengan seorang Ayah yang meninggalkan putranya di rumah sakit demi bersama wanita ja lang sepertimu di sini. Jadi simpan baik-baik pria itu di bawah ketiakmu karena aku tidak  berniat meliriknya apalagi megambil darimu. Dan ciuman tadi, karena kau menuduhku merayunya. Maka aku benarkan kata-katamu. Permisi! Semoga kalian menikmati waktu berbulan madu di tempat ini."


Tanpa membuang waktu, Maurer langsung melangkah pergi meniggalkan keduanya sambil menggerutu dalam harinya meratapi nasib Rey yang malang. “Kasihan bocah itu. Harus memiliki Ayah yang tak bertanggung jawab sepertinya. Bodoh pula! Sialan, ciuman pertamaku, akh, menyebalkan!” gerutu Maurer berulang kali menggosok bibirnya yang baru saja ternoda karena berciuman dengan pria yang usianya bisa dibilang terpaut cukup jauh dengannya.


Sementara itu, Ben bersama dengan Nata hanya bisa tercengang menatap punggung gadis yang semakin menjuh dari jangkauannya tersebut. Rasa malu, marah segaligus senang bersatu dalam diri Bentley. Dia tersenyum kecil, mengingat bagaimana Maurer menciumnya, tetapi marah mengingat setiap kata yang ditontarkan seolah dia tak lagi memiliki pesona bagi Maurer. Juga malu, karena benar, kehadirannya di sini hanya membuang-buang waktu dengan sikap arogan Nata, padahal sang putra masih terbaring di rumah sakit.


“Ben.”


“Sebaiknya kau segera kembali! Aku terlalu lama di sini Rey pasti mencariku.” Tanpa menunggu reaksi Nata apalagi menoleh ke arahnya, Ben langsung saja bergerak menjauh menuju lokasi parkir dengan segunung pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.


Nata yang di tinggalkan seorang diri hanya bisa mengepakan kedua tangannya dengan kuat. Dia mengingat jelas setiap kalimat menohok yang keluar dari gadis itu dengan begitu kejamnya. “Maurer, lihat saja nanti Aku pasti akan membalasmu dan membuatmu di pecat! SIALAN!” 


Dia berulang kali mengentaakan kaki dan berbaik dengan kasar. Sayangnya Tuhan sudah lebih dulu membalasnya karena wanita tersebut kehilangan keseimbangan dan kesleo. “Akh!" teriaknya saat terjatuh di jalanan, tetapi tak ada satu pun orang di sana yang tampak berniat membantunya.


Hancur sudah harga diri Nata di saat melihat orang lain yang lewat hanya menatap iba ke arahnya. “Apa lihat-lihat!”


Dengan susah payah Nata mencoba bangkit dan berjalan terseok-seok menuju villa tempat tinggalnya. "Aku tidak akan tinggal diam, Ben. Bibi pasti akan menentang hubungan kalian dan memaksamu menikah denganku. Lihat saja nanti."


Obsesi dan cinta, dua hal yang tak bisa di bedakan batas kewajarannya. Kadang bukannya membawa bahagia, tetapi malah menyiksa jiwa hingga kewarasan menghilang sepenuhnya dalam diri manusia. Saat itu terjadi, barulah mereka yang terlalu mencintai baru sadar kalau apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah cara untuk tak menghargai diri sendiri.


Apalagi seorang wanita yang terlalu mematok tinggi standar pria idamannya tanpa memikirkan bagaimana ke depannya. Hanya membuang-buang waktu demi mengejar mimpi yang tak pasti. Padahal wanita juga bisa bahagia tanpa pria yang di cintai, dan hanya menunggu waktu agar ada yang mencintainya sepenuh hati.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2