Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Cacing


__ADS_3

Setelah cukup lama berpikir hanya ada satu hal yang bisa dia berikan sebagai jaminan untuk nyawanya. Meskipun, Dion tahu konsekuensi berkhianat dengan mafia Virgoun mungkin saja bisa kehilangan hidupnya kapan pun.


"Aku akan menjadi mata-matamu untuk seluruh kegiatan mafia Virgoun yang aku tahu," ujar Dion.


Jessi sejenak berpikir, memutar tubuhnya hingga kembali berhadapan dengan Dion. "Bagaimana kalau kau berkhianat dan malah berbalik melaporkanku padanya?"


Jarak wajah mereka cukup dekat, orang lain mungkin akan mengira Jessi berniat menciumnya. Namun, Dion jelas tahu, dari jarak sedekat ini jantungnya berpacu semakin kencang layaknya tabuhan genderang perang. Wajahnya mulai pucat pasi, dengan keringat bercucuran di dahi. "A–aku akan menuruti apa pun perintahmu."


Mendengar penuturan Dion, Jessi lantas berdiri tegap sambil menepuk telapak tangannya, dengan senyum mengembang indah di wajah cantik itu.


"Aku suka itu." Ekspresi centil dan menggoda dari Jessi membuat Dion dan George meremang. "Goerge ambilkan aku alat tato!"


"Baik, Nona." George melangkah pergi untuk menjalankan apa yang diperintahkan Jessi.


"Di mana kau ingin aku buatkan sebuah tato?" Jessi mengitari kursi tempat Dion duduk, menelisik di mana kiranya dia akan mengukir teratai di tubuh pria tersebut. Tubuhnya yang padat berisi dan berotot akan terlihat sangat lucu jika digambar bunga.


"Apa maksudmu?"


Jessi menggelengkan kepalanya. "Teratai tidak cocok untukmu." Dia menghiraukan pertanyaan Dion, dan tetap larut dalam pikirannya sendiri.


Sesaat kemudian, Jessi menjentikkan jari. "Aaa, naga sepertinya sangat cocok untukmu." Wanita itu masih larut dalam pikirannya membuat Dion semakin heran. Apa yang akan dilakukan Jessi padanya.


Tak perlu waktu lama, George datang membawa sebuah alat untuk menato tubuh Dion.


"Apa kau ingin menato tubuhku?" tanya Dion.


"Tentu saja, bukankah kau bilang akan menuruti apa pun perintahku?" Jessi mengenakan sarung tangan, lantas mengambil sesuatu di sakunya.


Dia mengambil sebuah pisau kecil dan menyayat sedikit lengan Dion. Pria itu mendesis menahan rasa sakit di tangannya melihat Jessi yang melukainya tanpa berkedip sedikit pun.


Sebuah benda yang sama seperti Gery dia masukkan ke dalam kulit Dion. Lalu, menjahitnya sedikit. "Apa yang kau tanam dalam tubuhku?"


"Sesuatu yang akan meledakkanmu dalam sekejap jika kau berani berkhianat." Suara dingin dan lirikan mata yang tajam membuat Dion menelan ludahnya sendiri.


Setelah sebuah benda tertanam di tubuhnya, wanita itu lantas mulai menggambar menggunakan alat yang dibawa oleh George tadi.


Jessi terlihat begitu serius dengan apa yamg dia lakukan, sedangkan Dion hanya bisa berdiam diri merasakan betapa sakit kulitnya. Meskipun, dia termasuk penjahat di dunia bawah, tetapi pria tersebut belum pernah membuat tato di tubuhnya.

__ADS_1


Cukup lama Jessi mengamati, mengernyitkan dahi, dan menghela napas. "Ternyata menggambar seekor naga sangat sulit." Dia mengerucutkan bibir sambil terus menggambar.


Dion yang penasaran mencoba untuk mengintip, tetapi dengan cepat Jessi menatapnya tajam. "Berani mengintip akan aku congkel kedua bola matamu!"


Sekita Dion membuang pandangannya, sedangkan George yang berada di belakang menahan tawa, perutnya seakan tergelitik melihat gambar Jessi yang sudah mulai terbentuk.


Jessie menatap tajam kearah George. "Apa kau sedang mengejekku?"


"Tidak, Nona. Saya tidak berani." George menutup mulut dengan kedua tangan, demi menahan rasa geli dalam perutnya.


Sementara Jessi kembali melanjutkan gambarnya dengan fokus. Dia kembali mengukir alat tato itu di atas kulit Dion, hingga beberapa saat kemudian, sebuah tato sudah terbentuk.


"Akhirnya selesai." Jessi menghela napas lega, sebuah gambar hewan sudah terlihat sempurna di lengan pria kekar berotot tersebut. Namun, bukan naga yang ditampilkan, melainkan hewan lain.


Berulang kali Jessi menatap lengan pria di depannya sambil memiringkan kepala. "Kenapa bukan naga yang jadi? Tapi malah cacing."



George yang tak tahan langsung tergelak begitu keras. Dia tidak mampu lagi menahan rasa menggelitik dalam perutnya ketika mendengar ocehan dan melihat gambar Jessi secara bersamaan.


"Nona, apa Anda tidak ikut pelajaran menggambar di taman kanak-kanak?" ujar Dion.


Wanita tersebut lantas mengerutkan bibir. Dia sendiri juga tidak menyangka gambarnya akan jadi sejelek ini di lengan Dion. "Sudahlah, anggap aku sedang berbaik hati. George, lepaskan Dion dan beri dia makan terlebih dahulu sebelum kembali!"


"Baik, Nona." George menghentikan sedikit tawanya, untuk menjawab Jessi.


Sementara Jessi hendak melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti sejenak. "Ingat, Dion! Aku sudah meletakkan sebuah chip yang bisa membunuhmu kapan saja! Jadi, berpikirlah dua kali sebelum mengkhianatiku!"


Tidak lagi terdengar ada jejak nada bercanda di setiap ucapannya. Semua terdengar seperti perjanjian di bawah kitab di hadapan Tuhan yang harus dia tepati seumur hidupnya.


"I–iya, Nona."


Jessi kembali melanjutkan langkahnya, menghilang entah ke mana. Sementara George yang masih belum puas kembali melanjutkan tawanya. Suara gelak bariton menggelar di seluruh ruang, bahkan hingga terdengar ke penjuru kediaman.


"Apa nonamu memang seperti ini?" tanya Dion.


"Percayalah! Kau beruntung masih hidup setelah berada di tangannya, dan sebaiknya kau nikmati waktumu baik-baik." George melepaskan rantai di tangan Dion. "Buanglah jauh-jauh jika kau ingin berkhianat! Karena Nona Jessi sebenarnya sangat baik kalau kau sudah mengenalnya."

__ADS_1


Dion menggerakkan kedua tangannya yang sakit akibat cukup lama diikat sebelumnya, bahkan hingga meninggalkan bekas merah melingkar di kulitnya.


"Apa kau sudah lama menjadi anak buahnya?" Dion mengikuti langkah George dari belakang, sedangkan pria yang ditanya hanya menggeleng.


"Aku belum lama mengenalnya." Sejenak George mengingat kembali awal pertemuan di Pulau Ceria. "Tapi, aku beruntung bisa dipertemukan dengannya. Percayalah di sangat mengerikan hanya kepada musuh-musuhnya!"


George lantas membawa Dion melangkah menuju ruang makan. Sepanjang perjalanan pria tersebut seakan dibuat takjub dengan apa yang mereka lewati. Hingga rasa penasaran akan hunian mewah ini membuatnya kembali ingin bertanya.


"Apa Nona Jessi keturunan dari keluarga kaya? Putri dari konglomerat mana dia?"


Pertanyaan Dion sukses membuat George menghentikan langkahnya, dan berbalik mencengkeram leher pria tersebut dengan kuat. "Percaya atau tidak! Semakin banyak engkau tahu, semakin pendek pula umurmu!"


George memperingatkan Dion dengan tegas, karena merasa mulut pria ini sangat penasaran dan banyak ingin tahu.


Dion menepuk tangan George yang berada di lehernya. "Baiklah, aku percaya!" Pasokan udara seakan menipis di paru-parunya, berulangkali dia terbatuk akibat kuatnya cengkeraman George, sedangkan pria tersebut tanpa rasa bersalah kembali melanjutkan langkahnya.


Mereka berjalan menuju ruang makan. Dion kembali dibuat takjub dengan bangunan mewah, megah, dan indah di dalamnya. Hingga tak lama kemudian, Jessi terlihat memasak di dapur dengan appron yang melekat di tubuhnya.


"Nona."


"George, kalian sudah datang. Tunggu sebentar!" Tak lama kemudian, wanita tersebut melepas appron di tubuhnya dan menuangkan nasi goreng yang dia masak sebelumnya ke atas dua piring yang tersedia di sampingnya.


George mengernyitkan dahinya menyaksikan hal itu. Dia belum pernah melihat Jessi memasak sendiri sebelumnya, sedangkan para pelayan bersembunyi sambil sedikit mengintip di balik dinding dapur.


"Duduklah!" Mereka mengikuti perintah Jessi. Beberapa saat kemudian, wanita tersebut menghampirinya dengan dua porsi nasi goreng yang terlihat begitu lezat.


Apa dia masih wanita yang sama dengan perempuan pengancam tadi? batin Dion.


"Apa yang kalian lihat? Ayo, cepat makan!"


George dan Dion terlihat begitu ragu-ragu saat ingin memakannya. Namun, tidak ada ekspresi mencurigakan di wajah Jessi. Sebagai seorang majikan yang mau memasak untuk anak buahnya tentu saja membuat mereka merasa enggan.


Perlahan Dion mulai mengambil sendok dan garpu dengan kedua tangannya. Aroma dari kepulan asap begitu sedap dan menggugah selera, air liur seakan meronta jika dia tidak segera memakannya. Tampilan cantik nasi goreng dicampur telur, udang dan sayuran terlihat begitu sempurna tersaji di atas piring.


Dion menyuapkan satu sendok makanan yang sudah membangkitkan seleranya sejak awal. Namun, baru satu suapan dia masukkan. Pria tersebut langsung menyemburkannya dengan keras, hingga membuatnya tersedak makanan.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2