
Mario dan Maurer saling menatap bingung. Selama ini mereka bekerja sama hanya mengerti bahwa Jackson merupakan orang yang introvert. Jadi, dia tidak pernah membahas masalah pribadinya.
"Jackson sudah punya anak, Nona?"
"Iya, dan anaknya sekarang menghilang sudah lima hari!" Jessi memijit pelipisnya yang terasa pusing. Apa aku terlalu lelah?
Seorang pelayan memasuki ruangan mengantarkan kelapa muda yang dipesan Jessi. "Ini minumannya, Nona!"
Jessi mengangguk. "Kau! Siapkan kamar atas! Aku akan istirahat di sini malam ini!"
"Baik, Nona." Pelayan itu membungkuk, lantas meninggalkan ruangan, melaksanakan perintah Jessi.
"Apa rencana Anda, Nona?" tanya Mario.
"Maurer! Retas seluruh kamera pengawas di Sekolah Bahagia lima hari yang lalu!" Jessi merasa sangat lelah, kepalanya terasa berputar-putar untuk berpikir.
"Kita lanjutkan besok! Aku akan tidur dulu! Kau hubungi George besok dia harus ada di sini!" Jessi menunjuk Maurer lantas berjalan menuju ke luar ruangan, tetapi berhenti sebelum pintu keluar. "Mario! Belilah sebuah rumah mewah untuk Jackson dan keluarganya nanti!"
"Baik, Nona."
Jessi memang orang yang royal dengan anak buahnya. Mendengar Kate yang meremehkan Jackson, dia tidak akan tinggal diam. Baginya menghina anak buahnya itu sama seperti melemparkan kotoran kepada dirinya sendiri. Dia selalu mencoba memberikan fasilitas yang lebih dari layak untuk mereka. Dia menganggap mereka adalah keluarganya, saudaranya dan bukan hanya sekedar bawahan.
Jessi merebahkan dirinya di ranjang. Kepalanya terasa berputar-putar, firasatnya mengatakan hal buruk kali ini. Dia memejamkan matanya, lantas terlelap dalam mimpi. Beberapa saat kemudian, aroma maskulin seorang pria yang dia kenal menusuk hidungnya. Namun, matanya enggan untuk terbuka.
"Kau semakin cantik saja, Sayang," ujar lelaki itu. Lelaki itu hendak mencium Jessi. Namun, terdengar suara pintu akan di buka. Dia lantas pergi meninggalkan kamar Jessi begitu saja.
Badan Jessi terasa meremang mendengar suara pria itu. Namun, matanya sungguh tidak dapat di buka bahkan hanya untuk mengintip siapa yang mendatanginya.
Hingga saat pagi menjelang, Jessi mengerjapkan matanya. Terlihat Nich tertidur di sampingnya. Jessi terkejut melihat hal itu. Apakah pria semalam adalah Nich?
"Nich, kenapa kau di sini?" Jessi bertanya sambil melonggarkan pelukan Nich.
"Semalam mommy mengatakan kalau kau sedang dalam kondisi tidak baik! Jadi, aku mendatangimu kemari karena khawatir, apa terjadi sesuatu, Sweety?" Nich menyibakkan anak rambut Jessi ke belakang telinganya
"Apa kau di sini sejak semalam?" Nich mengangguk, memang benar Nich berada di sini sejak malam setelah kembali dari kantor.
"Apa terjadi sesuatu? Kau tidur sangat nyenyak semalam!"
__ADS_1
Jessi menggeleng, dia tidak yakin dengan hal itu. Namun, jelas semalam dia mencium aroma lelaki lain di sini, dan itu bukanlah Nich. Juga suara lelaki yang samar-samar dia dengar berbeda dengan suara bariton Nich.
"Sweety, apa kau sedang ada masalah?" Pertanyaan Nich membuyarkan lamunan Jessi. Apakah dia harus memberitahu Nich?
"Nich, aku merasa semalam ada orang lain di sini!" Jessi mencoba berkata jujur, tetapi Nich hanya memberikan senyum padanya.
"Sudahlah! Biarkan aku yang mencaritahu! Jangan terlalu banyak berpikir, Sweety! Lihatlah! Dahimu berlapis tiga." Nich mengelus dengan lembut kerutan di dahi Jessi untuk menggodanya.
"Kau menyebalkan! Aku masih harus memikirkan anak Jackson! Makanya banyak kerutan di dahiku." Jessi mencoba untuk berpikir lebih logis, ada yang lebih penting untuk dia tangangi dari pada hanya menerka-nerka.
"Apa kau butuh bantuanku?"
"Belum. Biarkan aku menanganinya sendiri dulu! Kau! Jangan mengganggu kesenanganku!" Jessi berdiri melangkah meninggalkan Nich menuju kamar mandi.
Setelah Jessi hilang di balik pintu, ekspresi Nich langsung berubah. Dia tidak akan membiarkan Jessi dalam bahaya. Nich akan melindunginya apa pun yang terjadi. Dia lantas menghubungi seseorang.
"Cari tau apa yang terjadi semalam sebelum aku datang!"
"Baik, Tuan," jawab suara di seberang.
Nich percaya dengan kemampuan Jessi. Namun, bagaimana pun juga dia tetaplah seorang perempuan. Nich hanya ingin menjaga orang yang dia cintai, meski tanpa sepengetahuannya.
Kasino yang dia bangun, bukanlah hanya sekedar tempat untuk berjudi orang-orang kaya, tetapi juga menjadi sumber informasi dari berbagai penjuru, kalangan dunia atas maupun dunia bawah. Sudah ada Mario, Maurer, Jackson, dan George di sana, sedangkan Nich Jessi membiarkannya mengikutinya.
"Jangan mengacaukan permainanku!" ancam Jessi kepada Nich.
Nich terlihat santai dengan hal itu. Dia duduk di samping Jessi seperti seorang anak yang mengikuti ibunya.
"Langsung saja, George perusahaanmu sudah kusiapkan beserta tempat tinggalnya, tetapi aku ingin agar Jackson menjadi CEO-nya! Apa kau keberatan?" Jessi berbicara dengan tegas layaknya pemimpin wanita yang tangguh.
"Kalau saya boleh tau, apa alasannya, Nona?" George berkata dengan hati-hati. Dia tidak ingin menyinggung Jessi.
"Aku ingin kau bekerja sama dengan Jackson! Jakson hanya membutuhkan posisi itu, juga kerja sama kalian, dan kau membutuhkannya untuk menyembunyikan identidasmu dari Johny!" George menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Jessi.
"Baik, Nona."
"Tempat kalian akan aku ubah lagi, sementara kau dan anak buahmu tinggal dan berlatihlah di mansionku!" George menganggukkan kepalanya, dia akan mengikuti perintah Jessi.
__ADS_1
"Mario! Sudah kau siapkan yang aku minta!"
Mario menyerahkan tablet di tangannya. "Ada beberapa pilihan yang telah saya siapkan, Nona!"
Jessi menggeser layar di tablet itu. "Aku ingin yang ini!"
"Baik, Nona."
"Maurer!"
"Ya, Nona. Angelina bersekolah seperti biasa. Namun, ketika kembali penjaga sekolah sepertinya mengajaknya berbicara. Dia membawa Angelina menuju sebuah mobil. Dan mereka membawanya pergi!" lapor Maurer.
"Jackson! Kau tau di mana kesalahanmu?"
"Maafkan saya, Nona!"
"Kelak, kalau kalian memiliki masalah beritahu aku! Kita adalah keluarga, meskipun kita tak memiliki hubungan darah, aku sudah menganggap kalian seperti saudaraku. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi!"
Suara tegas Jessi membuat mereka terharu.
Bagaimana bisa ada orang yang memiliki segalanya memungut mereka di kala mereka kesusahan, dan masih menganggapnya sebagai keluarga. Bagi mereka Jessi adalah malaikat tak bersayap, sedangkan bagi musuh dia adalah malaikat kematian.
"Baik, Nona!" seru mereka serentak.
Nich merasa bangga dengan wanitanya. Meskipun Jessi arogan, tetapi hanya dengan musuhnya. Dia memimpin kelompoknya bahkan lebih baik dari para lelaki, yang hanya bisa menganggap bawahan mereka sebagai anjing pesuruh.
"George, tugas pertamamu cari tau orang yang menculik Angelina! Mario, lanjutkan yang aku minta! Maurer, cari tahu tentang keluarga Night se-detail mungkin! Jack, kau antar Patricia dan Ibunya ke bandara, sesuai jadwal."
Jessi meninggalkan ruangan itu, dengan Nich yang selalu mengekorinya. "Apa kau tidak bekerja, Nich?"
"Aku ingin sarapan denganmu terlebih dahulu, Sweety!" Nich mengerucutkan bibirnya layaknya kucing yang meminta makan.
"Isshh, kau ini merepotkan sekali! Apa kau keberatan makan di tepi jalan?" Jessi melihat lapak seorang pedagang makanan yang sudah tua di sebrang kasinonya.
"Bukan masalah! Asalkan bersamamu, aku bisa makan di mana saja."
Jessi lantas menggandeng tangan Nich menyebrangi jalan. Nich yang melihat inisiatif Jessi pertama kali menyunggingkan senyumnya. Baginya, keterbukaan Jessi akhir-akhir ini membuktikan bahwa dia bisa memasuki hati wanita perlahan-lahan.
__ADS_1
TBC.